
"Kak Heaven gimana sih? Katanya pergi sebentar kok malah jadi lama banget!"
Zia mengedarkan pandangannya menatap ke sekeliling lapangan basket. Hanya ada dirinya di tempat itu. Padahal sebelumnya Heaven mengatakan akan ada pertandingan antar club basket yang di antara pesertanya ada Heaven dan teman-temannya nanti. Tapi sampai sekarang, belum ada penonton atau bahkan peserta yang datang di sana. Teman-teman Heaven pun belum ada yang datang sampai sekarang.
"Huft udah sendirian, mana panas lagi!" keluh Zia sambil mengusap bulir keringat di dahinya.
Langit di pagi hari ini begitu cerah, beberapa kali Zia mengibaskan tangannya di depan wajah untuk menstabilkan suhu tubuhnya. Tidak ingin menunggu terlalu lama lagi, Zia mengambil ponselnya hendak menghubungi Heaven. Tangannya kini masih berkutat dengan ponsel, Zia sampai tidak menyadari kedatangan seseorang karena saking fokusnya. Hingga seseorang itu tiba-tiba berdiri di hadapan Zia, menghalangi cahaya matahari yang masih menerpa tubuhnya.
Zia yang tengah fokus dengan ponselnya, tersadar ketika cahaya matahari tidak lagi menerpa kulitnya. Dengan heran ia mendongakkan kepalanya, mengira bahwa seseorang yang berdiri di hadapannya kini tidak lain adalah Heaven. Senyum yang sebelumnya ada di bibir gadis itu perlahan memudar, setelah melihat seorang laki-laki yang dibencinya tengah berdiri menatap dirinya.
"Kak Danis?" lirih Zia sambil beranjak dari duduknya.
"Hi, long time no see!" ucap Danis menyapa. Zia hanya memandang dalam diam, tidak mengerti bagaimana bisa ada Danis di tempat ini.
"Sorry!" kata Zia kemudian mengambil tasnya hendak pergi.
"Zia tunggu!" cegah Danis. Zia menoleh tanpa mengucapkan sepatah kata pun, menunggu apa yang ingin dikatakan cowok di hadapannya.
"Gue cuma mau tau kabar lo selama di sini," kata Danis. "Lo baik-baik aja kan?" lanjutnya.
"I'm fine."
Danis mengerutkan keningnya. "Just fine?"
"I'm great!" ralat Zia dengan penuh ketegasan.
"Tunggu Zi!" Melihat Zia hendak pergi, Danis dengan cepat meraih lengan tangannya.
"Ck apa lagi sih Kak? Lepasin tangan gue!" ucap Zia sambil menghempas tangan Danis.
"Please Zi, kasih gue waktu sebentar aja. Gue tau gue udah banyak salah sama lo, dan gue mau minta maaf atas semua yang udah gue lakuin sama lo dulu."
"Nggak ada Kak, nggak ada yang perlu dibicarain lagi. Semuanya udah selesai sejak lo lebih milih cewek lain daripada gue!" ucap Zia.
"Gue tau itu Zi, karena itu gue minta maaf sama lo sekarang. Please, kasih gue kesempatan lagi Zi. Gue janji bakal perbaiki semuanya." Danis meraih tangan Zia, berharap usahanya kali ini akan berhasil. Namun, dengan cepat Zia mampu menghindar, membuat cowok itu kembali mengurungkan niatnya.
"Kesempatan?" Zia terkekeh miris. "Nggak akan ada kesempatan buat cowok kayak lo, jadi tolong jangan pernah ganggu hidup gue lagi!" lanjutnya.
"Apa sebegitu bencinya lo sama gue sekarang?" tanya Danis menahan rasa sakit. "Sampai lo nggak mau kasih kesempatan kedua buat gue?"
Zia menggemeretakan giginya, cowok di hadapannya ini ternyata benar-benar tidak tahu malu. "Buat apa gue kasih kesempatan buat cowok kayak lo, sementara gue udah punya yang jauh lebih baik dari lo!" tekan Zia.
Danis termangu, baru ia mengingat bahwa saat ini Zia sudah memiliki pengganti dirinya. "Apa bener dia cowok yang ada di rumah sakit waktu itu?" tanyanya.
"Iya atau bukan, itu bukan urusan lo!" jawab Zia kemudian melangkahkan kakinya pergi.
"Itu urusan gue, Zi! Semua yang ada di lo itu urusan gue!" ucap Danis berhasil menghentikan langkah Zia. "Sampai kapanpun gue nggak akan pernah lepasin lo! Karena Zianna cuma terlahir buat Danis, bukan untuk orang lain!" ucapnya.
Zia terkekeh merasa jijik. "Bermimpilah sesuka hati lo, karena sampai kapanpun gue nggak akan pernah mau sama lo lagi. Cukup sekali gue terjebak di tempat yang sama, gue nggak sebodoh yang lo kira!"
Danis mengepalkan tangannya, tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Dia tidak ingin memaksa Zia saat ini, karena itu hanya akan membuat gadis itu merasa terganggu.
Gue bakal bikin lo jatuh cinta lagi sama gue, Zi. Mau dengan cara yang kasar atau lembut, itu tergantung sikap lo kedepannya!
Tanpa menoleh sedikitpun, Zia kembali melenggang pergi meninggalkan lapangan. Di sepanjang jalan, dalam hati Zia terus menggerutu. Masih tidak habis pikir, bagaimana Danis bisa sebegitu percaya diri mengatakan hal itu, setelah semua kesalahan yang telah dibuatnya sendiri.
__ADS_1
"Eh ada neng ...."
Sapaan Nanda terhenti ketika melihat Zia hanya melewati dirinya. Bukan hanya Nanda, Heaven dan yang lainnya pun terheran melihat tingkah Zia. Gadis itu berjalan cepat sambil menunduk, sampai tidak menyadari kehadiran Heaven di sana.
"Cewek lo kenapa Bos?" tanya Nanda bingung.
"Ngambek kali tuh? Lo sih Heav pake ditinggal segala," sahut Agam.
Melihat Zia berjalan semakin menjauh, Heaven dengan cepat langsung mengejar. Tidak peduli dengan pertanyaan Nanda sebelumnya. Heaven hanya tidak ingin kehilangan jejak Zia nantinya.
"Mau kemana Na?" tanya Heaven sambil mengejar.
"Anna!"
Tidak ada jawaban dari Zia, gadis itu masih berjalan cepat tanpa memedulikan sekelilingnya. Heaven yang mulai tidak sabar dengan cepat meraih tangan Zia, menariknya hingga membuat kening gadis itu membentur dadanya.
"Aw sshhh." Memegangi keningnya sambil meringis. Zia hendak mengomel, namun terurung ketika melihat siapa cowok di hadapannya.
"Kamu mau ke mana hm?" Heaven menangkup wajah Zia, memeriksa kening yang baru saja membentur dadanya.
"Kak Heaven dari mana aja sih?" omel Zia mencebikan bibir bawahnya.
"Sorry, tadi ada urusan sebentar. Motornya Nanda bocor, jadi harus benerin dulu," ucap Heaven menjelaskan.
"Lama! Mau pulang!" kata Zia sambil menyembunyikan wajahnya pada dada Heaven.
"Kamu kenapa hm?" tanya Heaven mengusap surai rambut Zia.
"Nggak papa."
"Nggak!" Zia menggelengkan kepala. "Mau pulang!" ucapnya lagi.
"Tadi katanya mau nonton pertandingan? Kenapa sekarang minta pulang?" tanya Heaven mencoba sabar. "Bener nggak ada yang ganggu kamu?"
"Lama, udah nunggu dari tadi masih sepi! Panas tauk!" omel Zia mencebikan bibir bawahnya.
Heaven mengusap kening Zia yang sedikit berkeringat. "Namanya juga di lapangan, siapa yang tadi ngeyel mau ikut?"
"Tapi kan harusnya jangan ditinggal lama-lama," omel Zia tidak terima.
"Iya, iya. Maaf!" ucap Heaven mengalah. "Sekarang pertandingannya mau mulai, masih mau pulang juga?"
Zia mengangguk, ia tidak ingin bertemu dengan Danis lagi di sana. "Mau pulang sekarang!"
"Ya udah, bentar aku telfon supir dulu!"
"Kenapa telfon supir?" Zia menghentikan tangan Heaven yang hendak mengambil ponsel di dalam celana olahraga nya.
"Tadi katanya mau pulang?"
"Kenapa bukan Kak Heaven yang anterin?"
"Nggak bisa Na, bentar lagi aku mau tanding. Kalo aku anterin kamu dulu yang ada nanti nggak bisa ikutan," ucap Heaven memberi pengertian.
"Jadi Kak Heaven nggak mau nganterin?" Zia memicingkan matanya, kulit putih Heaven yang terkena cahaya matahari begitu menyilaukan mata.
__ADS_1
"Bukan nggak mau sayang, tapi sekarang bukan waktunya. Aku nggak mungkin ninggalin mereka sekarang, gimanapun juga mereka udah percayain semuanya sama aku." Melihat Zia sedikit kepanasan, Heaven menariknya ke tempat yang lebih teduh.
Zia melihat ke sekeliling, ternyata sudah banyak para penonton yang datang. Sebagian besar di penuhi oleh para perempuan cantik, Zia jadi ragu untuk meninggalkan Heaven sekarang. Para perempuan itu pasti akan meneriaki Heaven saat pertandingan nanti, mencari perhatian dari Heaven.
"Jadi gimana? Masih tetep mau pulang?" tanya Heaven memastikan.
"Apa lo liat-liat? Baru liat orang pacaran ya?" Bukannya menjawab pertanyaan Heaven, Zia justru menegur sambil melototi dua orang perempuan yang tengah melintas di sana. Bukan karena apa, perempuan itu dengan terang-terangan curi-curi pandang pada Heaven. Tentu saja Zia tidak suka itu.
"Anna, jangan kayak gitu. Nggak sopan!" tegur Heaven pelan.
"Punya gue kenapa? Iri ya nggak punya cowok ganteng?" Tidak peduli dengan ucapan Heaven, Zia kembali mengomel sambil memeluk cowok itu. Melindunginya dari tatapan haus para perempuan du sana. Dua orang perempuan yang melihat tingkah kekanakan Zia tadi hanya mengernyit heran, kemudian meninggalkan tempat itu sebelum terjadi keributan.
"Kamu kenapa sih hm?" tanya Heaven sambil terkekeh.
"Nggak usah ketawa, Kak Heaven suka kan diliatin kayak gitu sama cewek-cewek!" omel Zia kesal.
"Lho, kenapa jadi aku?"
"Buktinya Kak Heaven ketawa!" Mencebikan bibir bawahnya, Zia masih enggan melepaskan pelukannya. Seolah tengah menegaskan pada semua orang di sana, bahwa Heaven hanya miliknya.
"Enggak sayang!" Heaven dengan gemas menjewer kedua pipi Zia. "Jadi gimana, masih mau tetep pulang atau gimana?"
"Nggak, nggak mau. Nggak jadi pulang, nanti Kak Heaven genit lagi sama cewek!" dengus Zia kesal.
"Nah itu tau!"
"Tuh kan Kak Heaven ngeselin!"
"Nggak, bercanda. Ya udah ayok ke lapangan, nanti jangan lupa teriakin nama aku! Tapi sebelum itu, mau ini dulu!" Heaven menunjukkan pipinya, sambil tersenyum sumringah.
"Apa? Kenapa pipinya, sakit?" Zia menusuk-nusuk pipi itu dengan jari telunjuknya, pura-pura tidak tahu.
"Ck bukan gitu Na, cium!" ucap Heaven menjelaskan.
"Nggak mau, malu banyak orang. Liat tuh banyak anak kecil di sini, nggak boleh tau."
Heaven melihat ke arah yang ditunjuk Zia, memang benar masih ada banyak anak kecil di sana. Mau tidak mau hari ini ia harus mengalah, tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Ok, sekarang nggak dapet nggak papa. Bisa minta lain kali," kata Heaven sedikit tidak rela.
"Ya udah ayok, katanya mau tanding!"
Zia menarik tangan Heaven menuju lapangan basket. Gadis itu sudah tidak peduli dengan keberadaan Danis di sana, karena bagaimanapun Heaven harus tahu tentang masa lalunya. Zia melangkah sambil berharap semoga tidak ada keributan saat pertandingan nanti. Kalau perlu, Zia berharap Danis sudah pergi dari tempat ini sekarang.
🎀🎀🎀
Hai pren, pembaca setia Heavanna. Author mau umumin, kebetulan Author udah punya grup chat nih. Siapa tahu ada dari kalian yang mau ikut gabung meramaikan grup chat ini. Sudah ada 36 peserta di grup ini. Yang belum gabung yuk gabung sekarang dan ramaikan grup.
Buat sesama Author juga boleh lho, siapa tahu kalian ingin mempromosikan karya kalian di sini juga boleh.
Sambil menunggu Heavanna up, yuk mampir dulu ke karya keren di bawah ini. Lagi gencar-gencarnya crazy up nih, di jamin nggak akan lama nunggunya.
__ADS_1
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...