
Handa Rista Cha, gue mau ke apartemen Zia. Lo mau ikut ga?
^^^Chandra Putri Mau ikut, tapi jemput ya. Motor Icha lagi di bengkel!^^^
Handa Rista Belum bener juga motor lo?
Perasaan udah lama lho!
^^^Chandra Putri Iya, rusaknya parah. Kayak abis dipukulin warga pencak silat 😂^^^
Handa Rista Ada-ada aja lo, ya udah gue jemput. Buruan siap-siap!
NGGAK PAKE LAMA!
Icha tersenyum tipis menatap pesan chat nya bersama Handa, lalu memasukkan ponsel ke dalam saku seragamnya. Pandangannya beralih menatap burung kecil yang sedang makan dengan lahap, di dalam sangkar berukuran sedang yang diletakkan di atas lantai.
"Haduh Wulan, makanya jangan berantakan gini dong. Icha capek tau bersihinnya!" Gadis itu cemberut, melihat burung kenari kesayangannya makan berceceran ke mana-mana.
"Tuh kan tumpah-tumpah airnya, Wulan bandel ih! Tauk ah, Icha sebel sama Wulan!" Melipat kedua tangannya sambil cemberut, Icha masih menatap burung itu dengan pandangan tidak suka.
"Lagi ngapain kamu?"
Suara berat seseorang mengagetkan Icha yang sedang menatap kesal Wulan, dengan cepat gadis itu menoleh ke sumber suara. Terlihat seorang pria dewasa sedang melipat kedua tangannya sambil menatap penuh penasaran padanya. "Kak Cakra kok udah pulang?" tanya Icha mengernyit.
"Kamu nggak suka kalau Kakak pulang?"
"Bukan gitu, Icha suka kok Kakak pulang!" Dengan senangnya gadis itu berlari mendekat, lalu memeluk tubuh Kakaknya yang sudah sangat ia rindukan. "Icha kangen tau!"
"Kakak juga kangen sama kamu!" ucap Cakra membalas pelukan adiknya sambil tersenyum.
Gadis itu melepaskan pelukannya, lalu menatap sang kakak dengan senyum ceria di bibirnya. "Papa juga udah pulang?"
"Eum... Papa bentar lagi juga pulang! Kamu belum ganti baju kok udah main sama Wulan?" Cakra mencoba mengalihkan pembicaraan, "Kenapa belum ganti baju?"
Icha menepuk kepalanya secara tiba-tiba, lalu menyengir lebar menyadari kalau dirinya belum mengganti seragam setelah pulang dari sekolah setengah jam yang lalu. "Aduh kok Icha bisa lupa sih!"
"Ya udah Kak, Icha ke kamar dulu ya!" Gadis itu langsung berlari menuju kamarnya, setelah melihat anggukan dari Kakaknya. Cakra yang melihat hal itu hanya mampu menggeleng sambil tersenyum kecil, menyadari sampai sekarang adiknya masih saja polos seperti anak kecil.
Maafin Kakak, Cha!
Di dalam kamar mandi, Icha sedang sibuk membersihkan diri. Setelah beberapa menit berlalu ia keluar dengan tubuh yang lebih segar. Gadis itu langsung menuju lemari baju, mencari outfit yang cocok dipakai olehnya untuk pergi ke apartemen Zia nanti.
Harus cantik, biar Kak Gala suka! Eh... maksudnya biar nggak jelek, kayak burungnya Kak Nanda!
__ADS_1
Icha menghentikan pergerakannya, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari berpikir keras.
Tapi Icha kan belum pernah liat burungnya Kak Nanda, siapa tahu burungnya ganteng kayak Kak Gala! Ish... Icha mikirin apa sih?!
Gadis itu menepuk jidat lalu menggelengkan kepalanya, kemudian mengambil baju kesukaannya mencoba melupakan apa yang dipikirkannya tadi. Karena tidak ingin melihat Handa marah-marah, dengan terburu-buru Icha memakai bajunya, lalu merapikan tampilannya di depan cermin besar yang ada di kamar. Tidak lupa gadis itu memakai lipgloss tipis, agar membantu menambah warna pink pada bibirnya yang sedikit pucat.
Setelah merasa siap dengan tampilannya, gadis itu melangkah keluar masih dengan senyum manis di bibirnya. Tampak di ruang tamu Kak Cakra sedang duduk seorang diri, dengan laptop menyala di pangkuannya. Icha yang tidak berniat meminta izin, langsung berjalan cepat sambil menundukkan kepalanya agar tidak ketahuan oleh Kakaknya.
"Mau ke mana kamu?"
Suara berat Cakra seketika menghentikan langkahnya, Icha memejamkan matanya sejenak kemudian dengan perlahan membalikkan tubuhnya menghadap sang Kakak. "Ih Kak Cakra, Icha kan mau pura-pura nggak liat!" ucapnya mengelak.
"Oh jadi ceritanya kamu mau cuekin Kakak gitu?" tanya Cakra dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Iya, jadi gagal deh!" Ia mengerucutkan bibirnya sambil melipat kedua tangannya, ngambek.
"Nggak usah ngalihin pembicaraan! Mau ke mana kamu, kok rapi banget?" tanya Cakra sembari mendekat.
"Eum Icha mau... pergi sama Handa!" jawab Icha pelan dengan kepala perlahan menunduk.
"Ke mana?" tanya Cakra menyelidik. Sedikit curiga melihat adiknya tiba-tiba bersikap tidak biasa, seperti tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Icha mau... jalan-jalan, iya cuma mau jalan aja sama Handa!" jawab Icha sedikit kebingungan.
Gadis yang masih menunduk itu kini mendongakkan kepala, mata bulatnya menatap Cakra dengan sedikit rasa takut. "Icha mau... pergi sama Handa. Mau jengukin Zia!" jawabnya ragu-ragu.
Mendengar hal itu, Cakra membulatkan matanya tidak percaya. "Kamu masih berteman dengannya?" tanya Cakra dengan nada setengah meninggi.
Mendengar nada bicara yang sangat tidak biasa itu membuat Icha tersentak kaget, kepalanya kembali menunduk sambil menautkan kedua tangannya takut. "Eum Icha...."
Cakra memejamkan mata, menahan nafas dengan tangan terkepal erat. Menyadari Icha yang mulai ketakutan, ia mencoba untuk mengontrol emosinya. "Kakak sudah bilang sama kamu, jauhin Zia. Kenapa kamu nggak dengerin kata Kakak?"
"Emangnya kenapa Kak?" Icha kembali menatap Kakaknya meminta penjelasan, sejak kejadian pasca operasi dulu Kakaknya selalu meminta dirinya untuk menjauhi Zia tanpa alasan yang jelas. Tentu dalam posisi Icha itu adalah sebuah tanda tanya besar, karena setahunya Zia adalah anak yang baik dan penyayang. "Kenapa Kakak selalu larang Icha beteman sama Zia?"
"Jangan banyak tanya, dengerin kata Kakak! Kembali ke kamar sekarang!" titah Chakra sembari menunjuk ke kamar adiknya.
"Nggak mau, Kak Cakra kenapa sih? Apa salahnya Zia, dia baik kok!"
"Belum waktunya kamu tahu! Lebih baik kamu jauhin dia mulai dari sekarang, kalau memang kamu sayang sama Kakak!" titah Cakra tanpa mau dibantah.
"Icha sayang sama Kak Cakra, tapi sampai kapan Kak? Sampai kapan Kak Cakra baru mau kasih tau alasannya?" tanya Icha balik menatap Cakra tak kalah tajam, "Icha nggak ngerti kenapa Icha nggak boleh temenan sama Zia!"
"Jangan macam-macam Cha! Kamu mau Papa tahu? Kamu mau Papa marah-marah lagi?"
__ADS_1
"Nggak peduli! Icha mau pergi dulu, Handa udah nunggu di depan!" Gadis itu mulai melangkahkan kakinya, tidak peduli lagi jika papanya tahu tentang apa yang dilakukannya. Namun baru beberapa langkah berjalan, tangannya sudah lebih dulu dicengkeram oleh Cakra dengan kuat.
"Dengerin apa kata Kakak, Cha. Masuk ke kamar sekarang!" titah Cakra dengan penuh penekanan.
Iche meringis merasakan sakit di pergelangan tangannya. "Sakit Kak, Icha cuma mau jengukin Zia doang kok!" ucapnya memohon.
"NGAPAIN KALIAN BERDUA?"
Suara bariton seorang pria tiba-tiba mengejutkan dua orang yang sedang bertengkar itu, terlihat Rico dengan wajah garangnya menghampiri kedua anaknya. Cakra dengan segera melepaskan cengkeramannya, berdiri di hadapan Papanya begitu juga dengan Icha yang kini tertunduk takut.
"Kenapa kalian bertengkar?" tanya Rico menatap tajam kedua anakanya.
"Kita nggak bertengkar kok," jawab Cakra mencoba bersikap senormal mungkin.
"Kamu bilang mau ke kamar kan, Cha. Ya udah sana." Cakra mengusap rambut adiknya dengan sayang, lalu memberikan kode untuk segera masuk ke kamar.
"Eum... Icha ke kamar dulu Pah, Kak!" pamit Icha kemudian berlari menuju kamar.
"Kapan adikmu yang bodoh itu akan berguna?" sini Rico sebelum meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.
Cakra hanya mengumpat dalam diam, menatap kepergian Papa-nya dengan sumpah serapah dalam hatinya. Tangannya terkepal erat, tidak terima dengan apa yang baru saja dikatakan pria yang berstatus sebagai Papa-nya.
Sementara Icha yang belum sempat masuk ke dalam kamar, sejenak menghentikan langkahnya. Air mata mendadak meluncur bebas mendengar apa yang dikatakan Papanya. Memang bukan hal yang baru, namun tetap saja masih ada rasa sakit yang kembali menggores lukanya yang sudah menganga.
Kapan Papa sayang sama Icha?
Gadis itu mengusap wajahnya yang basah dengan kasar, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Ia terduduk di belakang pintu dengan air mata yang kembali menetes. Setelah lama menangis dalam diam, kini suasana hatinya sudah mulai tenang. Gadis itu teringat pada Handa yang sedang menunggu dirinya di liar, dengan segera ia mengambil ponsel untuk menghubungi gadis itu.
Handa Rista Lo lagi ngapain sih di dalem?
Cha buruan woy, gue capek nunggu nih.
Ah kelamaan, gue tinggal nih!
Cha? Ah elah jangan bilang lo tidur lagi!
^^^Chandra Putri Mbb, Icha nggak bisa ikut Nda 😌^^^
Handa Rista Lho! Kenapa emangnya?
^^^Chandra Putri Wulan ngambek, nggak mau makan gara-gara nggak jadi dijodohin sama burungnya Kak Nanda!^^^
**********
__ADS_1
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...