
Pagi itu, Heaven menghentikan mobilnya di parkiran sekolah. Zia masih diam di sampingnya, menatap salah satu tangan Heaven yang berada dalam genggamannya. Sejak mendengar ucapan Heaven yang sangat menyentuh hati kemarin, hubungan mereka menjadi sedikit lebih harmonis. Tidak banyak keributan yang biasa mereka lakukan sejak pulang dari rumah sakit.
"Sampai kapan lo mau liatin tangan gue terus, hm?" tanya Heaven. Bukannya keluar, Zia malah sibuk memainkan jari jemari Heaven yang entah untuk apa maksudnya.
"Kak tangan lo kok besar banget sih?" ucap Zia masih menatap tangan besar itu.
"Kalo kecil nanti nggak muat buat pegangnya, punya lo aja segede itu!" jawab Heaven terkekeh.
Zia mengernyit mendengar ucapan ambigu Heaven. "Apanya yang gede?"
"Anunya!"
"Anu apa ih, ambigu banget kalo ngomong!"
"Tangan lo lah, emang apa lagi yang lebih gede dari tangan lo ini." Heaven mengangkat tangan Zia ke atas, sambil tersenyum jenaka.
Pipi Zia memerah, entah mengapa ia merasa ada maksud tersembunyi dalam setiap kata yang Heaven ucapkan. "Ish Kak Heaven apaan sih!"
Heaven terkekeh kecil, lalu menggenggam tangan kecil Zia dengan erat. "Liat, tangan lo aja gedenya segini masa tangan gue kecil. Ntar nggak bisa lindungin tangan lo kayak gini dong!" ucapnya.
"Udah ah, gue mau masuk kelas!" Zia memilih mengalihkan pembicaraannya, sebelum ia semakin salah tingkah nantinya.
"Mau ngapain emang di kelas? Masih pagi juga!" ujar Heaven tanpa melepaskan genggamannya.
"Ya ngapain kek, daripada di sini. Ntar lo macem-macem lagi!" ucap Zia setengah menuduh.
"Macem-macem sama cewek sendiri nggak papa kali, itung-itung buat latihan!" ucap Heaven tanpa merasa bersalah.
"Latihan apa?" tanya Zia.
"Latihan sebelum nikah." Heaven menaik turunkan alisnya, "Ntar abis pulang sekolah kita nikah!"
"Nggak mau, gue masih mau sekolah!" tolak Zia cepat.
"Nikah sambil sekolah kan bisa sayang!" ucap Heaven.
"Mana bisa, nggak boleh lah!"
"Apa sih yang nggak bisa buat gue? Jangankan nikah, buntingin lo sekarang juga bisa!" cicit Heaven tanpa merasa bersalah.
Zia membulatkan matanya. "Kak Heaven!" pekiknya sambil memukul dada bidang Heaven.
"Apa sayang?" tanya Heaven sambil terkekeh kecil.
"Nggak boleh ngomong gitu!"
"Iya."
"Masih sekolah juga, udah mikir yang enggak-enggak. Nggak boleh tau!"
"Hm," ucap Heaven. "Tapi kalo lo mau coba juga gue siap kok!"
"KAK HEAVEN!" bentak Zia.
Heaven memejamkan mata, mengusap telinganya yang tiba-tiba berdengung. "Bercanda, nggak usah teriak-teriak gitu."
"Tau ah, males ngomong sama lo!" Zia meraih handle pintu mobil hendak keluar. Namun tidak jadi karena Heaven mencegahnya dengan mempertahankan tangan Zia dalam genggaman.
"Mau ke mana?" tanya Heaven.
__ADS_1
"Mau masuk kelas, Kak Heaven udah nggak waras!" ketus Zia.
Heaven tertawa kecil. "Oke oke, gue minta maaf ya. Nanti aja ke kelasnya."
"Nggak mau, mau ke kelas sekarang!" tolak Zia.
"Ya udah kita ke kelas, tapi peluk dulu." Heaven merentangkan tangannya.
"Nggak mau!" tolak Zia masih duduk di tempatnya.
"Na!" ucap Heaven dengan penuh peringatan.
"Nggak mau peluk," kukuh Zia masih tetap dalam pendirian.
"Terus mau apa? Cium?" Melihatnya yang tidak kunjung mendekat, terpaksa Heaven menarik Zia hingga membentur dadanya. "Gue cium sampe sesek napas baru tau rasa lo!" ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.
"Lepasin! Kak Heaven tuh kenapa sih, maksa banget jadi orang!" Zia mencoba mendorong tubuh Heaven agar menjauh, namun tetap saja tidak membuahkan hasil apa-apa.
"Gue nggak akan maksa kalo lo nurut!" Heaven semakin menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Zia, menghirup dalam aroma strawberry yang keluar dari tubuh gadis itu. "Kok lo bau wangi sih Na?"
Zia menelan salivanya dengan susah payah, hembusan nafas Heaven tepat mengenai lehernya memberikan sensasi tidak biasa dalam tubuhnya. "Ya kan kalo mandi pake sabun, bukan pake lumpur!" ucapnya.
"Pake sabun apa? Gue suka baunya!"
"Sabun strawberry, kenapa emangnya. Lo mau beli?"
"Ntar kalo abis gue beliin yang banyak," ucap Heaven masih dalam pelukan.
Zia mengerutkan keningnya, tanpa sadar tangannya terangkat menyugar rambut Heaven. "Buat apa banyak-banyak?"
"Biar lo makin wangi!"
"Apa! Lo satu kelompok sama Dio?" Heaven menatap instens Zia yang tengah berjalan di sampingnya. "Nggak boleh, lo cuma boleh satu kelompok sama Handa dan Icha. Tapi nggak sama Dio!"
"Lho kenapa? Kan cuma kerja kelompok doang!" Zia berjalan cepat, mengimbangi langkah Heaven di sampingnya.
"Gue bilang nggak boleh ya nggak boleh! Pokoknya lo harus ganti anggota kelompok lo, kalo nggak ...." Heaven menggantungkan ucapannya, menatap Zia semi mengancam.
"Kalo nggak apa?"
Heaven menghentikan langkahnya. "Lo nggak perlu ikut kerja kelompok nggak jelas itu!"
"Nggak jelas gimana? Itukan tugas kelompok dari Bu Guru, mana bisa seenaknya gitu!" protes Zia.
Heaven semakin kesal, tidak mengerti kah Zia kalau saat ini dirinya tengah menahan rasa cemburu. Bayangkan saja, cowok menyebalkan seperti Dio bisa dengan mudah masuk kelompok Zia. Sementara dirinya? Mana mungkin bisa belajar bersama dan saling bertukar pikiran dalam mengerjakan tugas bersama Zia. Argh kenapa juga Zia harus menjadi adik kelasnya, menyebalkan sekali.
"Ya tinggal ganti anggota kelompok, apa susahnya sih?" tanya Heaven sedikit kesal.
"Ya nggak bisa lah Kak! Itu semua kan Bu Guru yang ngatur!" ucap Zia memberitahu.
"Kalo gitu biar gue yang bicara sama guru lo, suruh ganti anggota kelompok lo. Siapa wali kelas lo, Bu Mega kan?" Masih dengan kesalnya, Heaven melangkahkan kembali kakinya menuju kelas milik Zia.
Zia tercengang mendengar apa yang dikatakan Heaven barusan, dengan cepat ia mengikuti langkah cowok itu dari belakang. "Ya nggak bisa gitu dong Kak, lagian kan cuma kerja kelompok. Lo kenapa sih, kok malah jadi marah-marah gini?"
"Gue kenapa?" Heaven menghentikan langkahnya sejenak. "Gue nggak suka liat lo kerja kelompok sama cowok nggak jelas itu."
"Nggak jelas?" monolog Zia lirih. Melihat Heaven semakin menjauh, Zia mengacak rambutnya frustasi. Begitu sulit baginya menghadapi cowok egois, dingin dan pemaksa itu, ia pun sampai tidak tahu lagi harus melakukan apa.
"Kak Heaven kenapa sih? Kalo emang nggak suka liat gue satu kelompok sama Dio, ya nggak usah dilihat lah. Apa susahnya sih!" ucap Zia mulai kesal.
__ADS_1
"Susah! Gue nggak bisa, asal lo tau aja. Satu jam nggak liat lo itu udah bisa buat gue pusing, apalagi kalo harus liat lo deket sama cowok lain!" Heaven menatap Zia intens. "Pokoknya gue nggak akan izinin kalo sampe lo satu kelompok sama cowok, entah itu Dio ataupun yang lainnya!" finalnya.
Heaven kembali melangkahkan kakinya, meninggalkan Zia yang masih mematung di tempatnya. Dari raut wajahnya, sangat jelas gadis itu masih tercengang mendengar kalimat yang diucapkan Heaven tadi. Entah mengapa ia merasa semakin lama setiap kata yang keluar dari bibir Heaven selalu berhasil membuat jantungnya tiba-tiba berpacu tak beraturan.
"Kak dengerin gue dulu!" Zia berjalan cepat menghampiri Heaven yang masih berjalan di depannya. "Kali ini aja ya, masa iya lo mau protes sama guru!"
"Kenapa enggak?" tanya Heaven tidak suka. Ucapan Zia seolah tengah meragukan dirinya.
"Ish emang nggak malu apa?" dengus Zia.
"Ngapain harus malu!" Heaven kembali melangkahkan kakinya, setelah sejenak menatap pada Zia yang tengah mencebikan bibir bawahnya.
Zia masih berdiri di tempatnya, menatap kesal punggung Heaven yang kian menjauh. Untung sayang, jika tidak, mungkin Zia sudah melemparnya ke laut lepas sekarang. "KAK, TUNGGUIN!"
Mendengar panggilan Zia, Heaven menoleh sambil menghentikan langkahnya. "Buruan, ntar keburu telat masuk kelas." Ia kembali membalikkan badannya, setelah melihat Zia sudah semakin dekat.
"Kak Heaven tu-"
Brukk
"Shiittthhh!"
Heaven terkejut saat tiba-tiba seseorang menabrak tubuhnya dari arah depan, ia segera menoleh ke belakang. Terlihat Zia sedang menutup wajahnya yang sempat membentur punggung Heaven dengan cukup keras tadi.
"Na, lo nggak papa?" tanya Heaven khawatir.
Zia masih terus menutupi wajahnya. Bukan karena sakit, hanya saja ia sedikit malu setelah membentur punggung Heaven dengan keras tadi. Sakitnya memang tidak seberapa, tapi malunya itu yang membuat Zia enggak memperlihatkan wajahnya.
"Gue nggak papa kok." Tidak ingin membuat Heaven semakin khawatir, perlahan Zia membuka wajahnya yang sedikit memerah.
"Aish sial!" Melihat wajah yang memerah itu, Heaven beralih menatap tajam seorang cowok yang tengah berjongkok di depannya. "Mata lo buta hah? Apa kaca mata lo kurang tebel?" bentaknya.
Zia menatap ke arah cowok yang sedang dimarahi oleh Heaven. Terlihat Dio tengah berjongkok, merapikan buku-bukunya yang tadi terjatuh setelah insiden tabrakan tadi.
"Dio!"
Zia reflek mendekat, mencoba membantu cowok itu merapikan buku-bukunya. Namun kacamata yang tergeletak di lantai mengalihkan atensi Zia. Gadis itu merasa aneh dengan Dio yang ternyata bisa membaca dan mengurutkan angka buku-buku tersebut tanpa mengenakan kacamata bulatnya.
Aneh!
Zia menatap intens wajah Dio yang tengah fokus mengurutkan buku, setelah dilihat-lihat, Zia seperti pernah melihat wajah itu sebelumnya. Tanpa sadar tangannya bergerak mengacak rambut Dio yang tertata rapi, barulah ia mengingat semuanya ketika Dio menatap ke arahnya.
"Lo ngapain bantuin dia!" Zia masih terdiam menatap wajah Dio, sampai ketika Heaven menarik tangannya dan membawanya pergi meninggalkan Dio yang masih sibuk dengan buku-bukunya.
"Kak, itu tadi ...." Zia menunjuk ke belakang dengan wajah bingung, ia masih ragu dengan apa yang dilihatnya tadi.
Apa iya Dio orangnya?
Zia mencoba mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu, tentang perkelahian saat di minimarket bersama Heaven dulu. Ia sangat yakin wajah cowok yang dilihatnya dulu sangat mirip dengan wajah Dio tanpa kacamata tadi. Namun ia masih ragu akan hal itu, mengingat selama ini Dio selalu bersikap introvert dan mudah dibully oleh semua orang di sekolah.
Heaven mengernyitkan dahi melihat Zia menggelengkan kepala. "Kenapa, ada yang salah?"
Zia menatap Heaven dengan bingung, haruskah ia memberitahu cowok itu tentang apa yang dilihatnya tadi. Tapi Zia sendiri saja masih ragu akan kebenaran itu. Jika mengatakannya pada Heaven, Zia khawatir dugaannya hanyalah kesalahpahaman yang justru akan mencelakakan Dio jika dirinya memberitahu pada Heaven sekarang.
"Nggak papa, bukan apa-apa kok!"
🎀🎀🎀
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...
__ADS_1