Heavanna

Heavanna
118. BERBOHONG


__ADS_3

"KAK STOP, GUE MOHON!"


Air mata gadis itu meleleh, tidak tahu lagi harus melakukan apa. Heaven masih memukuli saudaranya tanpa ampun. Kekesalan, kemarahan serta rasa cemburu masih berkecamuk dalam benaknya.


"STOP BERENGSEK!" Tidak ada pilihan lain, Zia menahan tangan yang masih terkepal kuat itu saat hendak dilayangkan kembali.


Heaven menggantungkan kepalan tangannya di udara, ia menoleh dengan tatapan tajamnya mengarah pada Zia. Untuk pertama kalinya, ia mendengar gadis itu berbicara kasar padanya, dan itu pun hanya demi cowok yang tengah terkulai lemas di lantai itu.


"ULANGI KATA-KATA LO!" kata Heaven dengan penuh penekanan.


"BRENGSEK!" Tanpa rasa takut sedikitpun, Zia dengan berani membalas tatapan tajam Heaven.


Heaven semakin mengeratkan kepalan tangannya, hingga memperlihatkan dengan jelas otot-otot di permukaan kulitnya. Rahangnya mengeras, giginya saling menggemeretak mendengar jawaban gadis itu.


"Apa nggak ada cara lain selain berantem?" tekan Zia.


Gadis itu seakan tidak peduli dengan kemarahan Heaven saat ini, ia mendekati Azka hendak menolongnya. Namun belum sempat hal itu terjadi, sebuah tarikan tangan seketika menghentikan apa yang ingin dilakukannya. Zia menoleh sambil meringis, Heaven mencengkeram tangannya dengan sangat kuat.


"Kak lepasin, lo keterlaluan tau nggak!" pekik Zia mencoba melepaskan diri.


"Keterlaluan?" ujar Heaven masih menatap tajam Zia. "Gue bakal ajarin lo, arti keterlaluan yang sebenarnya!"


"Gal, urus cowok itu! Jangan biarin dia lepas gitu aja!" titah Heaven kemudian menarik Zia pergi.


"Lepasin!"


Zia memberontak, cengkraman tangan Heaven begitu kuat pada tangannya. Gadis itu sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, ia sadar Heaven begitu marah padanya kali ini. Langkah kaki cowok itu begitu cepat, Zia cukup kesulitan menyamai langkahnya menuju tempat parkir.


"Lepasin! Gue nggak mau ikut sama lo!" Sampai di tempat parkir, Zia menghempaskan tangan Heaven hingga terlepas.


"Ikut gue atau lo bakal nyesel!" tekan Heaven semi mengancam.


"Nggak peduli!" Zia membalikkan badannya hendak pergi, namun ucapan Heaven selanjutnya seketika menghentikan langkahnya.


"Sekali lagi lo melangkah, jangan harap cowok sialan itu bakal selamat!" ancam Heaven.


Zia mematung di tempat, terlihat Azka sedang dibawa oleh Gala dan teman-temannya masuk ke dalam mobil. Bahkan dalam situasi seperti ini, Kenzo tidak bisa berbuat apa-apa. Jika bukan untuk melindungi Azka, mungkin Kenzo atau bahkan Zia sudah mengatakan yang sejujurnya pada semua orang.


"Masih nggak mau juga?" tanya Heaven saat Zia menatap ke arahnya dengan mata berkaca-kaca. "Ok kalo itu yang lo mau!"


Heaven mengambil helm full face lalu menaiki motor milik Gala. Belum sempat ia memakai helm itu, Zia sudah lebih dulu mencegahnya yang hendak pergi. Zia menggeleng kecil dengan tatapan memohon pada cowok itu, menghentikannya yang mungkin saja akan mencelakai saudaranya.


"Naik!" titah Heaven dengan penuh penekanan.


"Tapi ...."


"Gue nggak bakal apa-apain tuh cowok, kalo lo nurut apa kata gue!" ucap Heaven menyadari kekhawatiran di permukaan wajah Zia pada Azka.


Zia menunduk, mau tidak mau ia harus menuruti apa kata Heaven. Tanpa banyak berfikir lagi, gadis itu langsung menaiki motor itu. Heaven tidak mengatakan apapun lagi. Secara tiba-tiba ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Zia tersentak kaget, spontan ia memeluk tubuh tegap di depannya, merubah pegangan yang awalnya hanya memegang jaket Heaven.

__ADS_1


*********


Lima belas menit berlalu, Heaven dan Zia sudah sampai di gedung apartemen tempat tinggal Zia. Heaven menarik dengan kasar gadis itu masuk ke dalam lift, tidak peduli sama sekali dengan pandangan aneh disertai sindiran beberapa orang di sana. Heaven menekan tombol lantai nomor delapan, membuat Zia mengerutkan keningnya bingung dan heran. Karena, kamar apartemen miliknya berada di lantai tujuh, bukan delapan. Namun Zia tidak berani memprotes, menyadari raut wajah Heaven yang begitu dingin di penuhi aura negatif.


"Kak, lo mau bawa gue ke mana?"


Akhirnya Zia memberanikan diri bertanya, setelah pintu lift terbuka. Bukannya apa, Zia hanya sedikit merasa takut. Saat ini Heaven benar-benar marah padanya. Bukan tidak mungkin cowok itu akan melakukan sesuatu padanya setelah ini.


Tidak ada jawaban dari Heaven, cowok itu hanya menarik Zia menuju apartemen miliknya. Tanpa Zia ketahui, Heaven memang memiliki apartemen sendiri di gedung ini. Heaven sengaja membawa Zia ke apartemen miliknya, agar gadis itu tidak bisa pergi semaunya sendiri.


Sesampainya di dalam kamar, Heaven mendorong Zia dengan kasar. Masih dengan tatapan tajamnya Heaven bertanya, "Jelasin ke gue, siapa cowok itu sebenarnya?"


Zia terhuyung ke belakang beberapa langkah, salah satu tangannya reflek memegang tangannya yang baru terlepas dari cengkeraman Heaven. Gadis itu terdiam, keselamatan Azka begitu penting baginya. Semakin sedikit orang yang tahu tentang identitasnya maka itu akan semakin baik bagi Azka dan dirinya. Itulah yang ada dipikiran Zia saat ini.


"Bukan siapa-siapa," jawab Zia akhirnya.


"Jujur Na, apa dia mantan pacar lo?"


"Kak Heaven tau dari mana kalo gue punya mantan?" tanya Zia penasaran.


"Apa itu penting?" tekan Heaven. "Bukan jawaban itu yang gue mau!" lanjutnya.


"Bukan, dia bukan mantan gue!" Zia menatap mata tajam itu, mencoba meyakinkan apa yang dikatakannya memang benar.


"Terus kenapa lo bisa sama dia?" cecar Heaven belum puas.


"Nggak sengaja lo bilang?!" Heaven menggeram mendengar jawaban gadis itu.


"Gue pergi ke restoran buat ketemu Handa tadi, tapi malah nggak sengaja ketemu Azka di sana!"


"JANGAN, SEBUT NAMA COWOK ITU!" bentak Heaven.


"Maaf," lirih Zia takut.


"Bohong!"


"Hah?"


"Lo boong sama gue!"


Zia menggelengkan kepalanya, meyakinkan. "Gue nggak boong."


"TERUS KENAPA LO NGGAK IZIN KE GUE!" bentak Heaven lagi. Tangannya masih terkepal kuat menahan amarah yang bergemuruh dalam dadanya.


Zia tersentak kaget mendengar bentakan itu. "Maafin gue!" lirihnya.


"Maaf? Semudah itu?" desis Heaven.


Sayup-sayup terdengar suara nada dering ponsel, Zia membuka tasnya mengambil benda pipih tersebut. Nama Handa tertera di layar, dalam panggilan masuk, Zia menelan salivanya dengan kasar menatap ponselnya yang masih berdering.

__ADS_1


"Siapa?"


"Bu-bukan siapa-siapa!" jawab Zia tersendat.


"Boong!" Heaven menggantungkan tangannya di depan Zia. "Sini hp lo!" ucapnya.


Zia terdiam menatap Heaven, tangannya masih mempertahankan ponsel miliknya. "Tap-tapi Kak."


"Gue bilang siniin hp lo!" ucap Heaven sambil merebut ponsel yang masih berdering itu.


Zia semakin merasa takut, bagaimana pun Handa sama sekali tidak ada sangkut pautnya dalam masalah ini. Tapi karena kebodohannya, ia membawa nama gadis itu sebagai alibi kebohongannya.


"Kak ...." Zia hendak mencegah, namun Heaven sudah lebih dulu mengangkat telepon tersebut. Pasrah, ia sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa jika Heaven sampai mengetahui kebohongannya.


Seandainya lo nggak ke sini Zian, gue nggak mau kalo sampe musuh Daddy terutama Om Rico tahu keberadaan lo di sini. Apalagi lo udah pernah ketemu sama Papanya Icha kemarin!


"Halo!"


Heaven terdiam beberapa saat, mendengar apa yang dikatakan Handa di seberang telepon. Zia hanya bisa menunggu dengan harap-harap cemas, berharap ada keajaiban hingga Handa tidak mengatakan yang sebenarnya pada Heaven. Tapi, hal itu terlalu tidak mungkin bisa terjadi.


"Lho, kok Kak Heaven yang jawab! Zia mana, gue udah nungguin di restoran nih. Lama banget sih!"


"Zia udah pulang sama gue! Lo tenang aja, nggak akan gue biarin dia keluar selangkah pun dari apartemen!" tekan Heaven sambil menatap tajam Zia yang masih diam di hadapannya.


"Hah?"


"Maksud Kak Heaven apa?"


"Zia kenapa?"


"Kak, Kak Heaven? Halo?"


Tut


Telepon diputuskan secara sepihak, Heaven sudah tidak ingin mencari kejujuran Zia melalui Handa. Awalnya ia memang masih tidak bisa percaya dengan apa yang dikatakan Zia. Namun sekarang ia mulai percaya, setelah mendengar apa yang dikatakan Handa tadi.


🎀🎀🎀


Hai pren! Ada rekomendasi karya keren milik temen ku, ceritanya nggak kalah seru lho. Jangan lupa mampir ya! 🥰


Judul : Terjerat Cinta Mafia Tampan


Napen : Reni t.


Adelia Fasha adalah seorang gadis matang berusia 25 tahun, sehari hari ia mencari nafkah dengan berjualan gorengan yang ia jajakan dengan cara berjalan keliling kampung. Suatu hari ia menemukan seorang laki laki dalam keadaan tak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka. Adelia pun menolongnya dan membawanya ke rumahnya, tanpa ia sadari, bahwa laki laki yang ia tolong adalah seorang mafia.



...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2