
Heaven Arsenio. Di mana? Kok nggak ada di Apart?
^^^Lagi kerja kelompok.^^^
Sama?
^^^Temen^^^
Temen kamu banyak, siapa aja?
^^^Handa, Icha sama Alam^^^
Siapa Alam?
^^^Temen aku^^^
Kamu satu kelompok sama cowok?!
^^^Iya π₯°^^^
Shitth...
Siapa yang bolehin?!
Sarelock!
^^^Aku.^^^
^^^Mau ngapain? Ga mau!^^^
Jemput lo, buruan sharelock!
Kenapa ga bilang kalo mau kerja kelompok?
^^^Kak Heaven juga ga bilang kalo mau tawuran!^^^
Tau dari mana aku abis tawuran?
Nanda yang bilang?
^^^Kak Gala.^^^
Gala siake!
Jangan percaya!
Itu boong, sayang!
^^^KAK HEAVEN KOK KASAR SIH NGOMONGNYA?! MANA MUNGKIN KAK GALA BOONG, BUKTI FOTONYA AJA ADA KOK!^^^
Nggak usah capslock!
Kita nggak sengaja berantem tadi tadi.
^^^BOONG! MANA ADA BERANTEM NGGAK SENGAJA?!^^^
Emang nggak sengaja sayang, udah jangan dibahas lagi. Sekarang kamu di mana, biar aku jemput.
^^^GA MAU IH! AKU MASIH MARAH, KAK HEAVEN TUKANG BOONG! KATANYA NGGAK MAU BERANTEM LAGI, BUKTINYA KAK HEAVEN ABIS TAWURAN KAN?!^^^
Gue nggak tawuran, Anna! Mereka dulu yang mulai!
^^^SAMA AJA!^^^
...πPanggilan suara tak terjawab...
Arrgghhhh....
Angkat tlfn gue!
^^^NGGAK MAU! NANTI KAK HEAVEN MARAH-MARAH!^^^
__ADS_1
Jangan capslock!
Angkat telfon gue, kalo nggak mau Jaka kenapa-kenapa!
...π Panggilan suara tak terjawab...
^^^Jaka kenapa dimasukin kardus?^^^
Mau gue kirim ke Antartika!
^^^JANGAN! KASIAN NANTI NGGAK PUNYA KELUARGA DI SANA!^^^
Bodo amat!
Mau pulang sekarang, atau gue buang Jaka biar jadi gelandangan?!
^^^JANGAN IH, KASIAN NANTI JAKA JADI YATIM PIATU!^^^
Ya uda kamu pulang sekarang!
^^^GA MAU, AKU MASIH KESEL SAMA KAK HEAVEN!^^^
Ya uda biar nanti gue suruh Nanda buat buang Jaka ke Selandia baru!
^^^JANGAN IH! IYA AKU PULANG SEKARANG!^^^
Aku jemput!
^^^Nggak perlu, aku pulang sama Handa.^^^
Y udah, buru!
Heaven menyeringai, menatap ponselnya yang sudah mati dengan penuh kemenangan.
*********
"Jaka mana?" Bukannya menjawab, Zia justru menanyakan keberadaan Jaka seraya menengok kanan kiri.
"Udah gue jadiin kucing guling buat sembako!" jawab Heaven asal. Ia kesal melihat Zia justru lebih mementingkan kucing sialan itu.
"Hah?"
"Ck, abis ngapain aja tadi?"
Melihat Zia yang tidak kunjung merespon pertanyaannya, Heaven dengan cepat menarik tangan gadis itu dan memeluknya. "Kamu denger aku ngomong nggak sih?!" tanyanya dengan nada tinggi.
"Kak Heaven ih, lepasin! Nggak mau peluk, nggak suka!" Zia memberontak, mencoba mendorong Heaven agar terlepas dari pelukannya.
"Tapi gue suka!" sahut Heaven tanpa melepaskan pelukan.
"Kak Heaven nyebelin!"
"Tapi ngangenin!" tambah Heaven percaya diri.
"Kata siapa? Pede banget!" ucap Zia kesal. "Awas ih, aku masih marah sama Kak Heaven!"
"Marah kenapa lagi sih, hm?" Heaven bertanya lembut, menatap wajah gadisnya tanpa melepaskan pelukannya sedikitpun.
"Kak Heaven udah janji nggak mau berantem lagi, tapi buktinya? Kak Heaven berantem tadi di jalanan, cuma gara-gara cewek lagi!" omel Zia.
"Gala sialan! Awas aja lo nanti!" umpat Heaven lirih.
"Jadi penasaran, secantik apa sih tuh cewek? Sampe Kak Heaven bela-belain berantem cuma gara-gara dia? Kak Heaven udah nggak sayang lagi sama aku?" tanya Zia marah. "Kalo udah nggak sayang, bilang! Biar nanti aku emph...."
Ucapan Zia terhenti, bibir ranum gadis itu tiba-tiba tertahan oleh hangat dan kenyalnya bibir Heaven yang menempel tanpa izin. Bukan untuk sesaat seperti biasanya, Heaven masih ingin bermain menjelajahi bibir manis gadis itu. Zia hanya terpaku ketika Heaven mulai menunjukkan skillnya, mata yang awalnya membulat sempurna, kini mulai terpejam menikmati permainan tersebut.
"EKHEMMM... LAIN KALI KALO MAU ADU MEKANIK ITU LIAT SIKON! MATA LO BEDUA BUTA? NGGAK LIAT ADA GUE DI SINI?!"
Pekikan Handa terdengar menggema, seketika membuat Heaven terpaksa menghentikan aksinya. Dalam sekejap, suasana di dalam apartemen itu hening. Zia memilih menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Heaven. Sungguh, ia malu karena Handa telah memergoki dirinya sedang bermesraan dengan Heaven.
__ADS_1
"Ngapain lo di sini?" tanya Heaven kesal. "Ganggu banget anjir!"
"Kalo gue nggak di sini terus gimana caranya cewek lo bisa sampe di sini hah?!" Handa geram, raut wajah Heaven seolah tidak menunjukkan rasa malu sama sekali. "Enak banget lo ya, asal cium sepupu gue!"
"Enak lah, makanya pacaran. Jomblo mulu, nggak kering tuh bibir?!" ejek Heaven.
"Pacaran doang, nikahin kagak! Dosa aja bangga!" dumel Handa. "Nih buku lo ketinggalan!"
Dengan kesal, Handa menyerahkan buku milik Zia yang sebelumnya ketinggalan di mobil. Seandainya buku tersebut tidak penting, mungkin Handa tidak akan capek-capek mengembalikannya. Dan sialnya, ia justru harus melihat pemandangan delapan belas plus antara Zia dan Heaven. Menyebalkan sekali bukan?
"Punya masalah hidup apa sih lo? Hidup lo kering? Kalo mau cowok bilang aja ke gue!" ucap Heaven.
"Kenapa? Lo mau cariin?" tanya Handa.
"Mau gue ketawain, ppffttt kasian banget sih lo!" Heaven menahan tawanya, tidak mungkinkan ia harus kelepasan menertawakan Handa.
"Udah sih Kak, kasian tau!" tegur Zia seraya memukul dada Heaven.
"Tuh kan, cewek gue aja bilang lo kasian." Heaven memasang wajah menyebalkan, menurut Handa.
"Emang anak anj," Handa menahan ucapannya. "Udah ah, gue mau pulang! Capek gue liat lo bedua, nyosor mulu kayak itik!"
Tanpa menunggu lama, Handa langsung pergi meninggalkan Zia dan Heaven. Melihat keduanya yang masih dalam posisi berpelukan membuat matanya semakin panas, perih dan terasa kering.
"Kalo mau cowok bilang aja, temen gue banyak tuh yang jomblo!" pekik Heaven kemudian tertawa. Entah sejak kapan ia mulai tertarik untuk menggoda dan mengejek Handa. Membuat Handa kesal seperti memberikan kebahagiaan tersendiri untuk Heaven. Bukannya apa, belakangan ini dirinya selalu dibuat pusing oleh tingkah Handa yang selalu mencoba mempengaruhi gadisnya.
"OGAH! TEMEN LO NGGAK WARAS SEMUA!" sahut Handa dari luar.
"Kak, udah ih! Jangan diladenin terus!" Melihat Heaven hendak menjawab ucapan Handa, Zia dengan cepat menghentikan cowok itu. "Seneng banget godain Handa!" kesalnya.
"Kamu cemburu?" Heaven menangkup kedua pipi Zia, bibir gadis itu masih mengerut seperti bebek.
"Enggak ih, awas tangannya!" Zia mencoba menepis tangan Heaven, namun tidak semudah itu Heaven melepaskannya.
"Kamu kenapa sih, hm? Marah-marah mulu dari tadi?" Heaven bertanya, kedua tangannya kembali melingkar di pinggang Zia.
"Aku nggak akan marah kalo Kak Heaven nggak mulai duluan! Awas ih, lepasin!"
"Nggak mau, cium dulu!" Zia membulatkan mata mendengar permintaan cowok itu.
"Bukannya tadi udah?"
Heaven menggeleng pelan. "Kurang sayang! Cium lagi ya?" pintanya.
"Nggak mau!" tolak Zia.
"Nggak mau bentar, maunya lama." Cowok itu menyeringai.
"Aaaa nggak mau, Kak Heaven bau!"
"Hah? Kamu ngatain aku bau?" Heaven syok.
"Iya Kak Heaven bau! Nggak nyadar apa? Bau banget ta ... ih nggak mau jangan digigit pipinya!" Zia memekik terkejut ketika Heaven mencium pipinya dengan sedikit gigitan.
"ANJING! KUCING SIALAN, NGAPAIN LO KENCING DI JAKET GUE!"
Melihat jaka buang air di atas jaketnya, seketika Heaven melepaskan pelukan kemudian berlari menghampiri kucing tersebut.
"AARRGGGHHH... JAKET GUE TERNODAI, ANJING!
Dengan cepat, Heaven maraih Jaka sebelum kabur, kemudian membawanya menuju kamar mandi. Untuk apa lagi kalau bukan menghukum kucing tersebut.
"Berani lo kencingin jaket gue! Bosen idup lo, hah?" Heaven menunjuk wajah Jaka yang memasang wajah polos. "Nggak usah sok polos lo, berdiri!" titahnya.
Hebatnya, dengan patuh kucing itu langsung menurut. Tanpa mengetahui letak kesalahannya, Jaka berdiri di atas closed dengan wajah takut.
"Berdiri di sini dan jangan pergi ke mana-mana. Lo harus terima konsekuensinya!"
πππ
__ADS_1
...Sampai bertemu di Ex part Heavanna selanjutnya ππ»...