Heavanna

Heavanna
123. GAGAL


__ADS_3

"Lo yakin Zi, sama apa yang lo bilang kemarin? Kok gue agak nggak percaya ya, masa sih Dio bisa ngelakuin itu?"


Handa berbisik, sesekali sudut matanya melirik ke arah tempat duduk Dio yang berseberangan dengan tempat duduk Zia. Kemarin Zia memang sudah menceritakan semua pada Handa tentang Dio, namun mereka belum bisa berbuat apa-apa, karena keterbatasan bukti yang Zia miliki. Zia sendiri bahkan masih ragu akan ingatannya.


"Gue juga belum bisa memastikan, makanya gue mau selidiki dia dulu. Kalo emang bener, nanti gue baru kasih tau Kak Heaven!" jawab Zia berbisik. Di dalam ruang kelas itu, beberapa siswa belum meninggalkan kelas. Karena itu Zia dan Handa tidak bisa berbicara sesuka hati, apalagi topik pembicaraan mereka adalah sesuatu yang sangat penting.


"Ayo Nda ikutin, kayaknya dia mau ke perpustakaan!" Zia beranjak dari duduknya, menarik tangan Handa untuk segera mengikuti Dio secara diam-diam.


"Tapi Zi, ntar kalo Icha nyariin gimana?" tanya Handa sambil mengikuti langkah Zia. Icha memang sedang pergi membantu Bu Mega membawakan buku-buku tugas yang dikumpulkan tadi, salah sendiri gadis itu mengerjakan tugas dengan sangat lelet hingga akhirnya mengumpulkan tugas paling akhir. Dalam kondisinya yang tengah hamil, Bu Mega memang sering kali meminta bantuan dari para anak didiknya.


"Kenapa emangnya? Icha kan udah gede. Dia bisa kali nyari kita nanti, lagian kita juga nggak pergi ke mana-mana!"


Handa dan Zia terus mengikuti Dio secara diam-diam. Mereka melakukannya dengan sangat halus, sampai semua siswa yang berada di koridor sekolah pun tidak menyadarinya. Sampai di dalam perpustakaan mereka berjalan mengendap-endap di balik rak buku, sembari memperhatikan Dio yang tengah mencari buku yang ingin dia baca.


Cukup lama mereka mengawasi, Handa mulai bosan karena tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan sedikitpun. "Ah udahlah Zi, paling juga lo salah orang. Lagian nggak ada yang mencurigakan dari tuh cowok, dari tadi juga cuma muter-muter doang cari buku!"


"Sssttt... sabar dulu kek, belum juga apa-apa. Kali aja nanti dia telfonan sama siapa gitu, atau mungkin dia mau ngelakuin sesuatu gitu." Zia meletakkan kembali buku yang tadi di ambilnya ke sembarang tempat, kemudian berjalan sambil mengawasi Dio yang tampaknya akan menuju tempat duduk.


"Tapi gue laper Zi, lagian juga bentar lagi istirahat selesai. Gue nggak mau kalo sampe cacing perut gue demo!" ucap Handa masih mengikuti langkah Zia.


Awalnya, Dio tidak merasa curiga sedikitpun. Cowok itu tetep berjalan sambil menunduk, seperti yang biasa ia lakukan. Namun ketika hendak menuju meja di pojok perpustakaan, barulah ia menyadari ada sesuatu yang mencurigakan. Dio menoleh ke belakang dengan cepat, tapi ternyata ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan sedikitpun. Cowok itu pun kembali melakukan aktivitasnya.


"Lo sih Nda, berisik mulu. Untung nggak ketahuan!" tegur Zia masih bersembunyi di belakang rak.


"Kenapa lo jadi nyalahin gue?" kata Handa tidak merasa bersalah.


"Ya iya lah, lo banyak omong. Ntar kalo ketahuan sama Dio gimana?" ujar Zia.


"Kita sikat aja langsung!" jawab Handa santai.


"Lo kira gampang? Main sikat-sikat aja!" sewot Zia. "Emang lo pikir daki, bisa disikat?"


"Mana ada daki disikat anjir, lo jangan bikin gue bengek deh. Daki itu digosok, kalo disikat yang ada bukan cuma dakinya yang ke angkat, tapi kulit lo juga!" ucap Handa terkekeh kecil. Jika tidak mengingat saat ini sedang berada di perpustakaan, mungkin Handa sudah tertawa sepuasnya.


"Udah diem, kapan kita mulainya kalo lo bercanda mulu!" ucap Zia menghentikan.


Zia dan Handa kembali membalikkan badannya, masih bersembunyi di bersembunyi di belakang rak buku. Mereka hendak kembali mengintai apa yang akan dilakukan Dio di pojok perpustakaan itu. Namun saat akan mengintip, pandangan keduanya justru tertutup oleh tubuh tegap yang tertutup kain putih di hadapannya. Serentak mereka mendongak, barulah mereka menyadari pemilik tubuh tersebut adalah .....


"Kak Heaven?" ucap kedua gadis itu terkejut. Ternyata dada bidang yang menutupi pandang kedua pasang mata mereka adalah milik Heaven.


"Ngapain lo berdua ngendap-endap kayak maling?" Masih dengan wajah dinginnya, Heaven menatap gadisnya yang masih sedikit membungkuk di depan dadanya. Saat akan menjemput Zia di kelas tadi, dirinya justru melihat apa yang dilakukan Zia, hingga akhirnya ia mengikuti gadis itu sampai di perpustakaan.


"Hehe kita ... nggak ngapa-ngapain kok!" jawab Zia menyengir lebar.


"Boong!" Heaven meraih tangan Zia. "Ikut gue!"


Zia hanya mampu memasang wajah bingung ketika Heaven menariknya pergi meninggalkan Handa. Sementara Handa, gadis itu kini tengah melongo seorang diri. Karena, lagi-lagi Heaven selalu bertindak semaunya tanpa memikirkan orang lain.

__ADS_1


"Ya elah, gue ditinggal lagi! Gini amat nasib jomblo!"


*********


"Kak Heaven ngapain ngajakin ke sini?"


Zia mengerutkan keningnya, melihat tidak ada siapapun di taman samping sekolah itu. Memang tempat ini cukup jarang di kunjungi para siswa, berbeda dengan taman yang berada di samping lapangan. Karena di sana tempatnya memang cukup strategis, lebih dekat dengan kelas para siswa.


"Biar nggak ada yang ganggu!" jawab Heaven.


Zia mendudukkan diri di samping Heaven, tampak hanya ada beberapa tanaman bunga di taman ini. Seperti bunga bougenville dan bunga soka jawa, sisanya ada pohon cemara kipas yang tumbuh di dekat tembok pembatas sekolahan. Selain itu terdapat tanaman pagar boxwood yang sudah terbentuk kotak memanjang di setiap sisi jalan.


"Kak!"


"Hm?"


Zia menatap Heaven dengan bimbang, ia benar-benar ingin mengatakan sejujurnya pada cowok itu saat ini. Agar kedepannya ia tidak perlu lagi melakukan kebohongan yang pada cowok itu. Untuk sesaat, Zia mencoba mengumpulkan keberanian, bagaimanapun juga ia sudah banyak sekali melakukan kebohongan pada cowok di sampingnya ini. Tidak dapat dipungkiri, bisa saja Heaven menjadi marah setelah ini.


"Kak!"


"Hm, iya kenapa?" Heaven masih menatap intens gadis itu, dapat terlihat ada keraguan di mata itu. Ia tau Zia hendak mengatakan sesuatu, namun anehnya gadis itu kembali terdiam tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kenapa Na, bilang aja?" Merasa sedikit geram sekaligus gemas, Heaven menarik tubuh Zia dengan cepat hingga menempel padanya.


"Ih Kak Heaven!" pekik Zia terkejut.


"Lo laper? Perut lo sakit? Atau apa?" tanyanya lagi.


"Bukan, bukan itu!" ucap Zia masih ragu.


"Terus mau apa, tinggal bilang aja susah amat. Gue bakal usahain buat turutin permintaan lo, tapi tergantung lo mintanya apaan. Kalo lo minta bulan, jelas gue nggak bisa lah. Terlalu jauh!" celetuk Heaven bercanda.


"Ish siapa juga yang mau bulan, emang pernah gue minta yang aneh-aneh?" dengus Zia.


"Ya makanya bilang aja, lo mau apa?" tanya Heaven sekali lagi.


"Tapi ... Kak Heaven janji ya jangan marah!" ucap Zia masih belum berani mengatakannya.


"Ya tergantung, apa dulu yang lo mau bilang!" kata Heaven.


"Eum sebenarnya gue ...." Zia kembali menggantungkan ucapannya.


"Apa sih Na, ngomong yang jelas!" ujar Heaven mulai penasaran. "Lo mau gue peluk, mau cium, mau pukul?"


"Ih kok pukul sih? Jahat banget! Makanya diem dulu, gue mau ngomong dengerin!" kesal Zia.


"Iya iya gue dengerin!" Heaven menyandarkan tubuhnya pada kursi, masih dengan tangan merangkul bahu Zia.

__ADS_1


"Sebenarnya gue sama Az-"


"ZIA, KAK HEAVEN!"


Terdengar suara seorang perempuan memanggil namanya, Zia menghentikan ucapannya kemudian menoleh. Tampak Rexie sedang berjalan menghampiri bersama seorang perempuan, tidak jauh dari tempat Zia berada. Zia dan Heaven tampak mengerutkan keningnya heran, untuk apa Rexie tiba-tiba memanggil nama mereka.


"Sorry, bukan maksud kita buat ganggu kalian. Eum ini temen baru gue, namanya Siska!" Rexie menunjukkan teman barunya, sambil tersenyum canggung pada Zia dan Heaven.


Bodo amat anjir!


Heaven mengumpat dalam hati, untuk apa Rexie memperkenalkan perempuan yang sangat tidak penting baginya itu. Berbeda halnya dengan Zia yang masih diam, setidaknya ia masih mencoba ramah, meskipun ia sendiri malas menanggapinya.


"Lalu? Apa pentingnya?" tanya Zia. Heaven memilih diam sambil memainkan rambut Zia dari belakang, ia malas melihat pemandangan dua perempuan itu.


"Jadi gini, temen gue itu suka gambar. Sebelumnya kita udah janjian mau lukis bareng di taman ini, karena spotnya cukup bagus. Kalian kalo mau tetap di sini juga nggak papa, tapi maaf ya kalo kegiatan kita malah ganggu kalian berdua." Rexie menunjukkan peralatan lukis yang sudah ia bawa, dengan ukuran yang lebih kecil dari biasanya.


"Tapi kalo Kak Heaven mau, aku juga bisa kok bikin lukisan buat Kak Heaven!" sambung Siska sambil tersenyum manis.


Heaven sama sekali tidak menanggapi, ia justru meraih dagu Zia lalu membuat gadis itu menoleh kepadanya. "Kita pergi yuk, lo belum makan kan?" ajaknya bertanya.


"Ya udah!" Mau tidak mau Zia mengangguk, tentu saja gadis itu tidak ingin tetap berada di sana. Sebenarnya ia cukup kesal mendengar ucapan Siska sebelumnya, tapi Zia mencoba bersikap biasa aja.


Heaven meraih tangan Zia, mengajaknya pergi dari tempat itu. Padahal, awalnya ia hanya ingin berduaan bersama gadisnya, tapi apa boleh buat, bagaimana pun juga taman itu adalah tempat umum. Mana mungkin juga dirinya melarang seseorang yang ingin memakainya. Kecuali jika memegang berada di situasi genting, barulah Heaven akan dengan berani melakukannya.


"Lo kenapa sih Xie, maksa banget pengen ngelukis di sini. Padahal kan gue nggak bisa gambar, apa jangan-jangan lo cuma alesan ya biar bisa gangguin mereka?" tanya Siska sambil melihat kepergian Heaven dan Zia.


"Menurut lo?" tanya Rexie tersenyum penuh arti. Siska hanya menggelengkan tidak habis pikir, tapi setidaknya dengan itu ia tidak perlu melihat idolnya terlalu sering berdekatan dengan Zia. Karena itulah Siska menyukai Rexie, sejak melihat perdebatannya di kantin bersama Zia, beberapa waktu lalu.


Sambil menghela nafas lega, Rexie masih memandang ke tempat terakhir kali Zia dan Heaven terlihat.


Untung aja Zia nggak jadi ngomong jujur ke Kak Heaven, bisa kacau rencananya nanti kalo sampe itu terjadi!


🎀🎀🎀


Maaf pren, telat update 🤭


Sambil menunggu Heavanna up lagi, mampir dulu yuk ke karya keren temen othor satu ini. Jangan lupa mampir ya 🥰


Judul : Akulah Malaikat Penolongmu


Napen : ummi asya


Alisa adalah gadis biasa yang berwajah jelek dan cacat. Dia juga mempunyai saudara kembar bernama Alena yang rupa dan wataknya berbeda dengan Alisa. Karena suatu kejadian sewaktu masih kecil, wajah Alisa jadi cacat dan jelek. Semua teman kampusnya tidak ada yang mau berteman dengannya, namun Alisa selalu percaya diri meski berwajah jelek, meski perlakuan ibunya selalu berbeda jauh padanya di banding kembarannya yang berwajah cantik. Apakah Alisa bisa merubah dirinya menjadi cantik, setelah dia bertemu dengan Richard sang bintang kampus? Bagaimanakah jadinya jika Alisa benar-benar berubah jadi cantik



...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2