Heavanna

Heavanna
47. SAKIT TAPI TAK BERDARAH


__ADS_3

Zia sudah rapi dengan seragam sekolahnya, pagi ini ia memutuskan untuk mengucir kuda rambutnya agar tidak risih saat pelajaran olahraga nanti. Setelah memastikan tidak ada yang kurang, Zia menyambar tasnya kemudian pergi keluar apartemen dengan semangat. Setidaknya pagi ini tidak ada Heaven yang mengganggunya, dan saat di sekolah nanti ia berencana akan menghindar agar hidupnya jauh lebih tenang.


"Aaah... kodok!" Saat membuka pintu Zia berteriak terkejut melihat Heaven sudah berdiri di depan pintu apartemennya, "Kak Heaven ngagetin ih, ngapain berdiri di sini?!" kesal Zia sembari mengelus dadanya yang berdegup kencang.


"Lama, lo dandan apa nyulam?" Heaven kesal lantaran sudah menunggu di depan pintu sejak pagi tadi, tapi yang ditunggu malah tidak juga kunjung keluar.


"Lagian siapa suruh nunggu di sini!"


"Lo mau gue masuk?"


"Bukan gitu, maksud gue kenapa nggak nunggu di mobil aja!"


"Biar lo bisa kabur kalau gue panggil gitu?" Heaven tahu apa saja yang bisa direncanakan Zia tanpa sepengetahuannya, gadisnya ini memang sedikit berbeda dengan cewek lainnya.


"Ish siapa juga yang mau kabur, nuduh mulu jadi orang!"


Heaven memperhatikan Zia yang pagi ini terlihat sedikit berbeda, rasanya seperti ada yang aneh. Pandangannya berhenti di leher putih bersih yang terpampang jelas di depan mata, hingga akhirnya menyadari Zia saat ini sedang menguncir tinggi rambutnya.


"Paan nih! Ngapain di kuncir gitu?" Heaven menunjuk kunciran rambut Zia yang terlalu tinggi, itu sangat mengganggu penglihatannya. Tidak tahan dengan itu, Heaven langsung membuka kunciran tanpa permisi.


"Eh kok dibuka sih, Kak Heaven ih!" Zia menatap nyalang cowok yang tengah menata rambut miliknya agar terlihat rapi, belum juga apa-apa cowok menyebalkan itu sudah berhasil membuatnya kesal.


"Diem! Lo jelek kalau di kuncir!" ucap Heaven sekenanya. Sebenarnya bukan karena jelek, Heaven hanya tidak suka melihat Zia memperlihatkan leher jenjangnya pada orang selain dirinya. Terlalu banyak lelaki di luaran sana yang mungkin saja akan menikmati kecantikan Zia, akan lebih baik Heaven mencegah kemungkinan yang akan terjadi lebih dulu daripada harus menahan marah nantinya.


"Ish, biarin jelek! Balikin kuncir rambut gue!" Zia menengadahkan tangan meminta kembali kuncirnya.


"Nggak!" Heaven memasukkan kuncir berwarna hitam itu ke dalam saku seragam putih miliknya, masih tetap berada dalam pendiriannya.


"Kak ih, ntar gue gerah!"


"Kalau gerah ya tinggal kipasan, apa susahnya sih?"


"Lo yang susah, ribet banget jadi cowok!" Zia menggerutu kesal, "Balikin ih, nanti mau olahraga!"


"Gue bilang enggak ya enggak!" final Heaven.


Zia mendengus sebal, menatap Heaven dengan penuh permusuhan. "KAK HEAVEN NYEBELIN!" semprotnya langsung pergi meninggalkan cowok menyebalkan itu.


"Kik Hiivin nyibilin!" cibir Heaven mengikuti ucapan Zia lalu terkekeh. Tidak ingin ketinggalan jauh, Heaven segera melangkahkan kaki mengikuti Zia yang sedang memasuki lift.


"Nggak usah pegang pegang, nggak lagi nyeberang!" Zia yang masih kesal segera menepis tangan Heaven yang hampir menggenggam tangannya.

__ADS_1


Oke kali ini Heaven mengalah dan memilih diam, menyadari Zia masih marah soal kuncir. Tapi diamnya Heaven hanya untuk sementara, karena setelah lift terbuka Heaven langsung menarik tangan Zia tanpa persetujuan. Tidak bisa di pungkiri Zia bisa saja kabur, karena di parkiran tadi Heaven sempat melihat supir yang biasa mengantar jemput Zia sudah standby.


Tidak peduli dengan orang-orang di sekitar sana, Heaven terus menggenggam tangan Zia menuju mobilnya. Tidak lupa juga Heaven meminta supir untuk pulang, karena hari ini ia yang akan mengantar jemput Zia. Masa bodo dengan Zia yang masih mengomel, bahkan sampai di depan mobil pun Zia masih saja menggerutu.


"Kak-"


"Masuk!" Heaven menyela ucapan Zia, menyuruhnya masuk setelah membukakan pintu mobil.


Melihat tatapan Heaven yang sedikit menajam, mau tidak mau Zia segera masuk dengan masih menahan kesal. Setelah memastikan Zia duduk diam, Heaven berjalan memutari mobil untuk ikut masuk dan duduk di belakang kemudi. Tanpa ingin berlama-lama cowok itu langsung tancap gas menuju sekolah.


Di dalam perjalanan mereka hanya diam saja, Heaven sibuk dengan setirnya sementara Zia sibuk menggerutu dalam hati. Begitu sampai di sekolah, Zia langsung keluar dari mobil tanpa bicara sepatah kata pun. Heaven yang tidak ingin ketinggalan segera keluar untuk mengejar Zia yang sudah melenggang lebih dulu.


Kehebohan mulai terjadi setelah beberapa siswa melihat Heaven datang ke sekolah bersama Zia. Bisikan demi bisikan mulai bersahutan membicarakan nama Zia, karena setahu mereka selama ini Heaven tidak pernah dekat dengan cewek manapun. Jangankan dekat, didekati saja Heaven pasti marah. Itu tandanya berita yang masih simpang siur itu memang benar adanya. Sejak kemarin memang beredar kabar bahwa Heaven telah memiliki hubungan dengan Zia si anak baru. Mungkin berita itu benar-benar akan menjadi trending topik setelah ini.


"Jadi beneran berita kemarin? Kak Heaven pacaran sama anak baru itu?" bisik seorang cewek pada temannya.


"Menurut lo?" jawab cewek di sebelahnya sedikit kesal, "Potek dah hati gue!"


"Cocok sih, tapi...." Seorang cewek menatap Heaven dan Zia dengan sendu, nampak tidak ikhlas melihat cowok yang disukainya tengah berjalan bersama cewek lain. Bukan hanya para cewek, para cowok pun nampak iri melihat Heaven yang bisa bersama Zia.


Dengan cepat berita menghebohkan itu beredar, Zia hanya mampu mensugesti dirinya dengan kata 'sabar'. Semua penggemar Heaven kini mulai menatap sinis padanya, termasuk tiga cewek kakak kelas yang menyukai Heaven. Tidak lain adalah Angel dan kedua sahabatnya.


"Apa lihat-lihat!" Heaven melotot tajam pada beberapa cowok yang terlihat sedang membicarakan kedatangannya bersama Zia, tentu saja bentakan itu membuat mereka langsung kicep.


"Itu resikonya punya pacar ganteng. Makanya harus hati-hati, biar nggak direbut cewek lain!"


Zia memutar bola matanya jengah mendengar ucapan Heaven yang terlalu percaya diri tingkat iblis. "Gue bakal sujud syukur kalau sampe ada yang bisa rebut lo dari gue!" cicitnya menggebu.


Jleb


Ada yang sakit tapi tidak berdarah, Heaven memaksakan senyumnya mendengar ucapan Zia. Sebegitu benci kah Zia padanya? Di saat cewek lain berlomba-lomba untuk mendapatkan dirinya, justru Zia malah ingin jauh jauh darinya. Tapi tidak masalah, menurut Heaven itu lebih baik daripada melihat gadisnya bersama orang lain.


"Ya udah sana masuk kelas." Heaven langsung pergi setelah mengantar sampai di depan kelas, meninggalkan Zia yang masih berdiri di tempat.


"Apa gue udah keterlaluan ya?" monolog Zia masih melihat punggung Heaven yang bergerak kian menjauh.


Pandangan Zia beralih menatap cowok yang sedang berjalan ke arahnya sambil menundukkan kepala. Bukan berjalan ke arahnya sih, lebih tepatnya menuju ke kelas. Setelah beberapa hari tidak masuk karena dirawat di rumah sakit, akhirnya Dio masuk sekolah dengan luka-lukanya yang sudah membaik. Seperti biasa, cowok berkacamata bulat itu selalu terlihat pendiam dan berjalan cepat tanpa mau menyapa teman-temannya.


"Dio!" panggil Zia ramah menginterupsi Dio yang sedang sibuk berjalan dengan kepala menunduk. "Lo udah sembuh?" tanyanya ramah.


"Iya Zia, aku mau minta maaf ya soal kemaren!" ucap Dio, "Aku tahu itu salah, harusnya aku nggak lakuin itu!" lanjutnya dengan penuh penyesalan.

__ADS_1


"Gak papa kok, gue tahu lo terlanjur kesel sama perlakuan Kak Nanda kemaren!" balas Zia memaklumi.


"Ya udah gue masuk kelas dulu!" Dio melenggang memasuki kelas, begitu juga dengan Zia.


*********


Jam pelajaran sedang berlangsung, di saat semua murid sibuk mengerjakan soal dari guru matematika, Zia malah sibuk dengan lamunannya. Bukannya Zia malas, tapi memang dua puluh soal itu sudah ia selesaikan dalam waktu yang cukup singkat. Maklum saja, Zia memang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Biasanya Zia selalu memeriksa kembali jawabannya, tapi tidak untuk saat ini karena suasana hatinya sedang tidak menentu. Pikirannya masih merasa bersalah mengingat ucapannya pada Heaven tadi pagi.


"Handa, gue mau nanya dong!" ucap Zia sedikit ragu. Suasana kelas yang hening mengharuskan Zia memelankan suara, meskipun guru mata pelajaran sedang tidak ada di kelas saat ini.


"Lo mah kebiasaan, kalau mau nanya ya udah nanya aja!" ucap Handa masih sibuk memeriksa jawabannya. Mereka memang duduk bersebelahan, selagi Icha belum masuk sekolah.


"Eum nggak jadi deh." Zia mengurungkan niatnya karena setelah dipikir-pikir rasanya tidak enak juga menanyakan hal itu pada Handa, nanti sepupunya ini malah berpikiran yang tidak-tidak tentangnya.


"Kenapa sih Zi?" Handa mengalihkan pandangan sedikit penasaran, namun hanya di jawab gelengan kepala oleh Zia.


Seorang cowok datang ke meja kedua gadis itu, membawa buku sembari menunjukkan senyum manisnya. "Handa!" panggil cowok itu.


"Apa?" Dengan tak minat Handa menoleh sambil membalas panggilan itu.


"Lo kan pinter nih. Udah pinter, cantik, baik la-"


"Bacot, cepet mau ngomong apa!" sela Handa yang sudah jengah pada si ketua kelas di hadapannya kini. Handa menebak hanya ada dua kemungkinan, kalau bukan minta contekan paling ketua kelasnya ini datang untuk meminjam sesuatu.


"Hehe sans dong, lo kan paling pinter nih di kelas. Bagi contekan dong!"


Handa memutar bola matanya jengah, benar bukan apa yang dipikirkannya tadi. "Ogah!" jawabnya singkat.


"Jangan pelit dong! Nenek moyang gue bilang kalau pelit kuburannya sempit!"


"Bilangin ke nenek moyang lo, kalau kuburannya sempit minta lebarin! Kalau perlu lo kasih nafas buatan aja, takut sesak nafas di dalem kuburan!" balas Handa kesal. Sekali dua kali Handa masih bisa menoleransi, tapi ini sudah kesekian kalinya Alam meminta contekan padanya.


"Dih parah lo, Nda. Mana ada tengkorak sesak nafas! Awas digentayangin lo!"


"Bodo amat! Lagian lo kalau ngomong nggak makes sense banget, kesel gue!"


"Ayolah Nda, katanya lo anak baik!" bujuk Alam sekali lagi. Berharap cewek di hadapannya kini mau memberikan contekan padanya, "Nggak semua kok, cuma minta dua soal doang, nomor dua sama tujuh ya please!"


"Ck lo parah banget sih! Jabatan ketua kelas udah nggak ada harga dirinya cuma gara-gara lo. Bukannya kasih contoh yang baik buat yang lain, ini malah ngajarin kesesatan!" kesal Handa.


"Ah bodo amat lah, pokoknya gue mau nyontek." Alam mengambil paksa buku Handa, dalam hitungan ke tiga cowok itu sudah berlari sembari membawa buku itu.

__ADS_1


"ALAM BALIKIN! GUE LAPORIN LO KE GURU!" teriak Handa mengancam.


"BENTAR DOANG HANDA CANTIK!"


__ADS_2