Heavanna

Heavanna
90. KABAR KEDATANGAN REXIE


__ADS_3

Sudah dua hari ini Zia kembali disibukkan oleh tugasnya sebagai seorang siswa, setelah dokter Felio mengizinkannya untuk sekolah sekitar tiga hari yang lalu. Zia masuk ke dalam kelas setelah beberapa saat yang lalu Heaven berpamitan padanya. Tampak semua siswa sudah berada di tempatnya masing-masing, ada juga yang sedang mengobrol dan bermain di meja guru.


Zia berjalan menuju kurisnya, di sana sudah ada Handa dan Icha yang tengah menunggu kedatangannya. Sambutan dari keduanya begitu hangat dengan senyum manis di bibir masing-masing. Gadis itu cukup terharu setelah mendapatkan perhatian berlebih dari kedua sahabatnya sejak kemarin. Padahal Zia sudah menolak dengan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Zi, gimana keadaan lo? Udah mendingan?" tanya Handa ketika Zia sudah duduk di tempatnya.


"Gue udah nggak papa kok!" Kemarin setelah pulang sekolah, Zia memang sempat terlihat sedikit kelelahan. Wajahnya yang sedikit pucat berhasil membuat Heaven dan Handa merasa khawatir. Namun, setelah istirahat beberapa jam di apartemen, kondisi gadis itu sudah kembali membaik.


"Syukur deh, gue takut aja lo kumat lagi!" ucap Handa seraya terkekeh.


"Emang Handa pikir Zia kena rematik, suka kumat-kumatan?" sahut Icha.


"Kenapa lo jadi bahas rematik?" Handa mengernyit heran, "Lo kena rematik Cha?" tanyanya heboh.


"Ya ampun, kasian mana masih muda!" celetuknya lagi.


"Bukan ih, mana ada Icha rematik. Icha tuh sehat tauk!" sewot Icha tidak terima. "Bukan Icha, tapi Bi Inah tuh yang suka rematiknya kumat kalau lagi kerja!"


"Kalau Zia kena rematik juga, kata Bi Inah suruh minum obat kuat, eh!" Icha mengetukkan telunjuknya ke dagu, "Maksudnya jamu kuat ala Bi Inah!" lanjutnya.


"Aduuhhh udah ya Cha, masih pagi nih. Jangan bikin gue emosi dengerin cerita lo yang ga guna itu!" Handa mencomot bibir Icha dengan gemas, "Gue comot juga tuh bibir!"


"Ish jorok banget sih! Tangan Handa bau tau, bau sampah!" hina Icha karena merasa tidak suka.


"Yee tangan gue bersih, nggak liat nih!" Handa menunjukkan tangannya yang dasarnya putih bersih, "Sabun nya aja mahal, satu M asal lo tau!"


"Ish pamer, satu mangkuk doang Icha juga punya! Dua mangkuk malahan!" sombong Icha.


"Anjir kenapa jadi mangkuk, lo kira bakso?" kesal Handa.


"Lah tadi katanya satu m?"


"M itu bukan mangkuk Cha. Maksud gue tuh...." Handa menjambak rambutnya frustasi, "Arghhh... serah lo deh!" ucapnya yang tidak ingin menjelaskan lagi.


"Udah-udah, kenapa malah jadi berantem?" lerai Zia yang mulai merasakan sinyal permusuhan antar keduanya menguat.


"Tau tuh Handa! Ngeselin!" sungut Icha.


"Lo yang ngeselin!" timpal Handa. Ia kembali menatap pada Zia yang duduk di belakang, sedang menggelengkan kepalanya heran melihat perdebatan dirinya dengan Icha. Karena sibuk beradu mulut, ia jadi lupa menyampaikan berita penting pada Zia.


"Zi, gue mau kasih tau lo sesuatu. Tapi, lo jangan kaget ya!" ucap Handa pelan. Sebenarnya ia sedikit ragu untuk mengatakannya, namun mau bagaimana pun juga Zia harus mengetahuinya lebih dulu.


"Guys, guys, guys. Gue punya kabar baru tercetar membahana buat kalian!!"


Suara heboh seorang gadis yang baru memasuki kelas berhasil menginterupsi semua siswa di sana. Beberapa siswa dan siswi yang penasaran langsung berkumpul menjadi satu, mengerubungi gadis cantik bernama Riri itu. Handa yang hendak menyampaikan berita pada Zia pun tidak jadi, karena Zia dan teman-teman lainnya malah lebih penasaran dengan berita yang dibawakan oleh Riri.


"Gue liat tadi ada anak murid baru di kelas sebelah, cakep banget! Suer dah, gue nggak bohong!" ucap Riri dengan hebohnya.

__ADS_1


"Serius Ri, kok gue ketinggalan berita ya?"


"Di kelas mana, cewek atau cowok?"


"Cewek! Kalau nggak salah di kelas IPS deh, gue juga belum tau pasti!" jawab Riri.


"Wah gue juga sempet liat sih tadi, emang cakep banget!" tambah salah satu siswa yang sempat melihat murid baru tadi.


"Cantiknya kayak mantan gue nggak ya?"


"Beuh bukan lagi, mantan lo aja kalah saing sama dia! Cakepan tuh anak baru ke mana-mana!"


"Emang lo udah liat mukanya?" tanya Riri.


"Eh, belum sih!" Cowok itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menyengir lebar, ia memang tidak sempat melihat wajah anak baru itu sebelumnya.


"Ya elah Dit, terus ngapa lo bilang cantik kalau belum liat mukanya?" kesal Riri menggeleng kecil.


"Tapi gue liat dia dari belakang tadi, cakep banget. Badannya emang agak pendek, tapi sumpah ideal banget. Tipe gue banget tuh, kecil-kecil bikin gemes!" terangnya menggebu.


Sementara Zia, Handa dan Icha hanya mengernyit bingung, mendengar pembicaraan mereka yang tidak ketiganya pahami. Zia melirik pada Handa yang tampaknya sedikit paham dengan pembicaraan mereka. "Lo tau Nda, siapa tuh anak baru?" tanya Zia.


Handa menganggukkan kepalanya, karena sebelumnya memang sempat berpapasan dengan anak baru itu di koridor. "Gue udah liat tadi, tapi lo jangan kaget ya! Tenang aja, ada gue di samping lo kok!"


"Handa kenal sama anak baru yang dibicarain sama mereka?" tanya Icha penasaran.


"Siapa emangnya?" tanya Zia dan Icha bersamaan.


"Rexie!" jawab Handa singkat.


Zia tertegun sejenak, mendengar nama itu membuatnya kembali mengingat masa lalu. Belum selesai pikirannya dihantui oleh munculnya Danis sejak kemarin, sekarang harus ditambah lagi dengan kehadiran Rexie di sekolah yang sama. Lalu bagaimana ia bisa hidup dan bersekolah dengan tenang, tanpa adanya gangguan dari mereka? Ah memikirkan hal itu malah membuatnya bingung sendiri.


"Siapa Rexie?" Icha mengernyit tidak mengerti, karena memang baru kali ini ia mendengar nama itu.


"Anak baru lah Cha, kan gue udah bilang tadi!" jawab Handa tanpa ingin banyak menjelaskan.


"Zia? Ciah dia malah bengong!" Handa menggeleng heran lalu menepuk tangan Zia yang masih berseteru dengan pikirannya, "Zia, lo nggak papa kan?"


"Tenang aja, gue selalu ada buat lo kok!" lanjutnya menenangkan.


"Gue nggak papa, cuma bingung aja. Kemaren gue ketemu sama Kak Danis di jalan!" jawab Zia dengan lesu. Beruntung saat itu Heaven tidak mencecar dirinya setelah meninggal Danis di jalan, jika iya, mungkin Zia tidak akan mampu menjawabnya dengan benar.


"Apa Zi? Lo ketemu sama Danis?" tanya Handa terkejut. "Kapan? Di mana?" lanjutnya.


"Udahlah, nggak usah dipikirin. Ada Bu Mega tuh?"


Zia menunjuk ke depan menggunakan dagunya, terlihat Bu Mega masuk ke dalam kelas dengan perutnya yang sedikit lebih buncit. Semua murid yang masih ada di luar sudah mulai memasuki kelas, begitu juga murid yang masih sibuk bermain dan merumpi, kini mulai duduk tenang di tempatnya masing-masing.

__ADS_1


"SELAMAT PAGI ANAK-ANAK?" sapa Bu Mega.


"PAGI BU!" sahut semua siswa di dalam kelas itu.


"Udah pada siap mulai pelajaran Ibu?" tanya Bu Mega dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.


"Siap dong Bu! Jadi suaminya Zia aja gue siap lahir batin Bu!" celetuk cowok yang duduk tidak jauh di sebelah Zia. "Ya nggak Zi?" lanjutnya sambil berkedip.


Zia hanya diam saja, walau dalam hati sedikit merasa jijik sekaligus heran. Mana mungkin juga ia mau dengan cowok playboy cap upil, yang sukanya nemplok di mana-mana tanpa pandang bulu.


"Emang berani lo, pawangnya Heaven kalau lo lupa!" ucap cowok di sampingnya.


"Minta digantung di tiang tuh anak kayaknya!" timpal Alam yang duduk di depan. "Ngeri ah, kagak mau ikutan gue."


"Sudah-sudah, kenapa malah pada ngelantur pembicaraannya!" lerai Bu Mega.


"Bu, kemarin Ibu ngasih PR lho!" ucap salah satu siswa membuat semua orang terkejut, termasuk Zia.


"Eh demi apa lo!" sahut Alam yang langsung membuka bukunya dengan terburu-buru. "Eh iya lho, fiuuhhh untung aja gue udah ngerjain semalem!" lanjutnya bernafas lega.


"Baiklah anak-anak, kalau begitu kumpulkan tugasnya di meja!" titah Bu Mega.


Sementara di pojok belakang sana, Zia tengah kebingungan sendiri melihat lembar jawaban di bukunya masih kosong. Gadis itu merutuki dirinya sendiri dalam hati, bagaimana bisa ia melupakan tugas rumahnya semalam.


"Zi, kok lo diem aja?" tanya Handa terheran. Melihat Zia hanya diam saja, memandangi bukunya dengan air muka bingung.


"Gue lupa ngerjain PR!" jawab Zia menyengir lebar.


"Hah, kok bisa sih?" tanya Handa dengan suara lirih.


Zia hanya menggelengkan kepalanya. Semalam memang dirinya tidak belajar sama sekali, dan malah sibuk bermain bersama Jaka setelah Heaven pulang. Sejak sembuh dari sakitnya kemarin, entah mengapa ia merasa sangat malas untuk melakukan apapun. Jangankan untuk belajar, untuk mandi saja Zia malas melakukannya. Jika bukan karena paksaan dan dorongan dari Heaven, mungkin sampai saat ini Zia belum mandi juga.


"Bukunya kurang satu, siapa yang tidak mengerjakan tugas dari saya?" tanya Bu Mega. Setelah menghitung semua buku tugas yang ada, ternyata jumlahnya tidak sesuai dengan jumlah siswa yang ada di kelas itu.


"Saya Bu!" Zia yang sudah pasrah pun dengan santai berdiri dari duduknya, ia akui ini memang kesalahannya yang tidak mau belajar sejak kemarin.


"Zia, Kenapa kamu tidak mengerjakan tugas dari saya?" tanya Bu Mega tidak percaya.


"Saya lupa Bu!"


"KELUAR DAN BERDIRI DI LAPANGAN SEKARANG!"


🎀🎀🎀


Duh ada yang di hukum nih 😅


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2