Heavanna

Heavanna
89. BESOK SEKOLAH


__ADS_3

"Kak, kita ke taman ya. Eh kita makan dulu deh, abis itu jalan-jalan ke taman!" ajak Zia dengan antusias setelah masuk ke dalam mobil.


"Nggak boleh!" tolak Heaven cepat.


"Ish pelit banget sih," dengus Zia. "Kalau gitu kita ke tempat karoke aja ya, Handa sama yang lain juga lagi di sana katanya!"


"Enggak Anna, kita pulang sekarang!" Heaven mulai menjalankan mobilnya, meski tahu saat ini Zia tengah menatapnya dengan kesal.


"Kak Heaven kenapa sih, nanggung tau. Katanya mau ajak jalan-jalan?"


Heaven menatap sekilas pada Zia yang tengah cemberut, lalu meraih dan menggenggam tangannya seperti biasa. "Lo nggak denger apa kata dokter tadi, hm?"


Yaps, mereka memang baru saja datang ke rumah sakit. Untuk memeriksakan keadaan Zia, karena Dokter Felio saat ini sedang sangat sibuk dengan pasien lainnya. Beruntung kali ini Zia hanya bersama Heaven, jika bersama Tuan Zion, mungkin tidak akan semudah itu untuk memintanya datang ke rumah sakit. Bahkan dapat dipastikan Dokter Felio sendiri yang akan mendatangi apartemen atas perintah tuannya, seperti hari-hari sebelumnya.


"Kata Dokter udah sembuh, jadi udah boleh sekolah sama jalan-jalan dong. Emang Kak Heaven nggak dengerin apa?" Zia menyandarkan tubuhnya, mengerucutkan bibirnya menatap ke depan.


"Lo itu baru sembuh, masih harus banyak istirahat. Kalau sekarang kecapean yang ada nggak bisa berangkat ke sekolah besok!" ucap Heaven memberi pengertian.


"Katanya lo kangen, pengen berangkat sekolah?" lanjutnya.


"Cuma bentar aja Kak, gue bosen di apartemen mulu!" Zia menunjukkan dengan puppy eyes nya, "Ya, boleh ya?"


"Mentang-mentang udah sembuh!" Zia memberingsut mundur, melihat Heaven mengangkat tangannya seakan hendak memukul.


"Ayolah Kak, cuma bentar doang!" bujuk Zia lagi.


"Nggak!" jawab Heaven dengan malas, "Lo tuh belum boleh banyak kena angin, nanti sakit lagi!"


"Kena angin?" Zia menatap Heaven dengan air muka syok sekaligus tidak habis pikir, padahal saat ini dirinya tengah mengenakan jaket tebal bin besar milik cowok itu. "Nggak salah denger gue?"


Heaven hanya melirik sekilas Zia dengan muka santainya, lalu kembali fokus dengan setirnya. "Kenapa? Emang bener kan, lo lupa kata dokter tadi?" tanyanya santai.


"Kak Heaven!" pekik Zia kesal, "Nggak liat apa badan gue udah ketutup semua?"


Heaven memejamkan matanya, mengusap telinganya yang terasa akan pecah setelah mendengar pekikan Zia yang sengaja di dekatkan ke telinganya. "Berisik Na, kayak bagus aja suara lo!"


"Mau ngapain lo?" tanya Heaven melihat Zia tengah berusaha membuka jaket yang dipakainya.


"Mau gue buang jaketnya!" jawab Zia sekenanya.


"Berani lo buka, jangan harap bisa berangkat sekolah besok!" Zia menghentikan pergerakannya setelah mendengar ancaman itu, lalu melirik pada Heaven yang secara tiba-tiba menghentikan mobilnya di tepi jalan.


"Kenapa diem? Coba buka?" tantang Heaven dengan air muka datarnya.


"Ish iya-iya nggak jadi!" Dengan berat hati Zia kembali memakai jaketnya, "Galak banget sih!"


"Panas tau pake jaket siang bolong gini!" gerutunya lagi.


Sayup-sayup terdengar suara getaran ponsel di samping pengemudi, Heaven segera mengambil dan melihat siapa gerangan yang menghubungi dirinya. Tampak dengan jelas nomor Mama nya tertera di layar, dengan sedikit ragu Heaven menggeser icon hijau yang tertera di bawahnya.


"Halo Ma?"


"HEAVEN!" Baru saja ponsel itu menempel di telinga, Heaven secara refleks menjauhkannya ketika mendengar pekikan keras dari seberang telepon.


"Kenapa Ma? Nggak usah teriak-teriak gitu napah, Heaven nggak budek kok!"


"Di mana kamu sekarang, lagi ngapain kamu?"


"Di jalan Ma, lagi proses bikin debay!" ucap Heaven asal. Langsung mendapat senggolan keras dari Zia, karena telah berbicara sembarangan pada Mama nya.


"Hust kalau ngomong jangan sembarangan, masih sekolah udah mikirin anak!"


"Ya lagian siapa suruh Mama nggak ngasih adek sampai sekarang, makanya biar aku aja yang kasih cucu buat Mama!" celetuk Heaven.


"Emang kamu udah hamilin anak orang?" tanya Mama haboh. "Jangan sembarangan kamu, Heaven. Mama nggak suka ya!"


"Enggak kok Ma, cuma lagi proses aja!"


"Emang kamu udah punya pacar?" tanya Mama meremehkan, "Pacar aja nggak punya kok, gimana mau bikin debay!"

__ADS_1


"Mama ngeremehin anak Mama yang ganteng ini?" ucap Heaven sambil menyugar rambutnya ke belakang.


"Ah sudahlah, kenapa jadi ngomongin bayi? Kamu di mana sekarang, sudah berapa hari nggak pulang?"


"Enam hari Ma!" jawab Heaven sedikit malas.


"Pulang sayang, Mama kangen. Masa kamu tega tinggalin Mama sendirian?"


"Di rumah kan ada Papa, aku belum bisa pulang sekarang!"


"Emang kamu lagi ngapain sih, sibuk ngapain? Gala yang sibuk aja masih bisa ngunjungin Mama. Ini sebenarnya yang anak Mama, kamu atau Gala?"


"Iya, iya Ma besok aku pulang!"


"Lho kok besok, sekarang dong sayang!"


"Sekarang nggak bisa Ma, Heaven masih ada urusan!"


"Pokoknya nggak mau tau, kamu harus pulang sekarang. Kalau enggak, jangan harap kamu bisa ketemu sama Mama lagi!"


"Tapi Ma-"


Tut


Belum sempat Heaven menyelesaikan ucapannya, panggilan telepon sudah lebih dulu terputus. Cowok itu hanya mampu menatap layar yang sudah mati itu dengan bingung. Memikirkan bagaimana meninggalkan Zia yang baru sembuh, sementara sang Ibu Negara sudah memberikan peringatan mengandung ancaman.


"Kak Heaven kalau mau pulang ya udah, pulang aja nggak papa!" ucap Zia pelan. Waktu yang ia lalui bersama Heaven sudah terlalu panjang, entah mengapa sedikit berat baginya ketika mengatakan hal itu. Namun, mau bagaimana pun Heaven tidak boleh berlama-lama menemani dirinya, layaknya pasangan suami-istri yang bisa tinggal dalam satu atap selamanya.


"Lo nggak papa?" Heaven mengusap surai rambut Zia, sedikit tidak rela jika harus meninggalkannya yang baru saja sembuh.


"Nggak papa, nanti bisa minta tolong Handa buat nemenin!"


Heaven mengalihkan pandangannya sambil mendengus, sebenarnya ia tidak terlalu bisa mempercayai Handa. Mengingat terakhir kali ketika Zia sakit, malah dibawa pergi menonton bioskop, ah mengingat hal itu malah membuatnya sedikit kesal. Jika bukan karena keadaan penting, mana mungkin Heaven mengiyakan Zia yang akan mengajak Handa untuk menginap malam ini.


"Berarti kita ke tempat karoke kan?" tanya Zia bersemangat.


Heaven menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, mana mungkin ia menuruti permintaan Zia yang tengah mencari kesempatan agar bisa berpergian dengan mudah. "Nggak boleh!"


"Gue pulang bukan berarti lo bisa seenaknya pergi gitu aja, Anna!" ucap Heaven dengan penuh penekanan.


"Terus nanti gue sama siapa di apart? Handa kan lagi main sama temen-temen!" ucap Zia kesal.


"Sendiri!" jawab Heaven sekenanya.


"Ayolah Kak, gue pengen main. Bentar... aja!" bujuk Zia lagi.


"Nggak Anna, lo itu baru sembuh!" ucap Heaven yang sudah mulai jengah mendengar rengekan Zia. "Dari tadi ngomong mulu, gue cium juga lama-lama!"


"Apa, mau ngebantah lagi?" Heaven mendelik, melihat Zia hendak kembali menjawab dirinya. "Bisa nggak sih, sekali aja lo dengerin gue?"


"Pusing lama-lama ngomong sama lo, susah banget dibilangin!" lanjutnya.


"Ya udah nggak usah ngomong!" Zia mengerucutkan bibirnya, melipat kedua tangannya lalu menyandarkan tubuhnya dengan perasaan kesal. Membiarkan Heaven menjalankan mobilnya dengan tenang, tanpa ingin mengganggunya lagi.


Selama beberapa menit suasana tampak hening, hanya ada suara deruan mobil yang terdengar di telinga keduanya. Zia yang masih dalam mode kesal, merogoh saku jaketnya untuk mengambil ponsel. Lebih baik ia bermain ponsel untuk menghilangkan kebosanan, karena memang suasana hatinya sedang tidak menentu.


Belum sempat Zia menekan tombol power, ponsel itu sudah lebih dulu direbut oleh Heaven. Gadis itu hanya mampu melongo menatap ponselnya yang baru di masukkan ke dalam saku baju milik Heaven.


"Kak Heaven kenapa sih, dari tadi ngeselin mulu?" tanya Zia dengan kesalnya.


"Gue udah pernah bilang ke lo, jangan main hp kalau lagi sama gue!" ucap Heaven dengan nada datar. Ia meraih tangan Zia, lalu menggenggamnya dengan erat.


Zia yang sudah lelah berdebat, akhirnya memilih mengalah. Percuma juga berdebat dengan Heaven yang maunya selalu menang sendiri.


"Kenapa sih lo gemesin banget, jadi makin sayang gue!" ucap Heaven lalu mencium punggung tangan Zia yang masih berada dalam genggamannya.


Zia sontak melotot mendengar ucapan jujur Heaven, ditambah dengan apa yang dilakukan cowok itu tadi membuat pipinya tiba-tiba terasa memanas. Gadis itu membuang muka, menyembunyikan rasa malu yang tiba-tiba datang dan membuatnya harus menahan senyum yang cukup sulit dikendalikan.


"KAK HEAVEN AWAS ADA MOTOR!" pekik Zia.

__ADS_1


Ciiiittttt...


Brakk


Motor yang baru saja oleng itu terjatuh di depan sana, padahal Heaven merasa tidak menabraknya sama sekali. Kedua orang di dalam mobil itu mengintip ke depan, tampak cowok yang mengendarai motor tadi sudah berdiri dengan sempoyongan. Meski bagian tubuhnya terlihat baik-baik saja, memakai outfit lengkap ala anak motor tanpa goresan sedikitpun.


Heaven dan Zia segera turun dari mobil untuk memeriksa keadaan cowok yang tengah berusaha mengangkat motornya agar berdiri. Dapat dilihat memang motor itu jatuh sendiri akibat menabrak pembatas jalan, bahkan posisinya pun sedikit jauh dari tempat mobil Heaven terhenti.


"Lo nggak papa Bro?" tanya Heaven. Setelah melihat motor dan helm full face yang di pakai cowok itu dari dekat, ia baru menyadari bahwa pengendara motor itu adalah orang yang pernah menolongnya beberapa waktu lalu.


"Danis?" tebak Heaven.


Cowok yang masih berusaha untuk fokus itu segera melepaskan helm full face nya, lalu tersenyum ringan menyambut kedatangan Heaven. "It's okay! Sorry gue udah ganggu perjalanan lo!"


Zia terpaku di tempatnya, pegangan tangannya semakin mengerat memegang tangan Heaven, sesaat setelah melihat Danis membuka helmnya. Antara terkejut dan takut dengan posisinya saat ini. Ia mencoba mengalihkan pandangannya, menghindar dari tatapan Danis yang mungkin saja akan tertuju padanya.


"Kayaknya lo kurang fokus, lain kali kalau abis minum mending istirahat aja dulu!" Melihat Danis dalam kondisi sempoyongan dan kliyengan kobam, Heaven dapat menebak kalau cowok itu baru saja minum-minuman.


"Ah ya, gue terlalu nekat tadi!" jawab Danis sambil tersenyum bodoh. Cowok itu mencoba memfokuskan pandangan pada dua orang di hadapannya, ia merasa sangat familier dengan postur tubuh gadis yang sejak tadi diam di samping Heaven.


"Zia? Ini beneran kamu?" tanyanya. Tebakannya terjawab ketika Zia menunjukkan wajahnya, lalu beralih menatap Heaven.


"Kak kita pulang aja yuk!" Tanpa menjawab pertanyaan dari Danis, Zia langsung menarik Heaven untuk kembali masuk ke dalam mobil. Bahkan untuk bertatap muka dengan Danis saja ia sudah tidak berniat sama sekali, apalagi menjawab pertanyaan itu.


"Zia, tunggu Zi. Dengerin penjelasan aku dulu!" Danis tidak ingin menyerah, ia berlari mengejar dan meraih tangan gadis yang sudah beberapa bulan ini dirindukannya.


"Lepasin tangan gue!" pekik Zia dengan suara meninggi.


"Zia please dengerin penjelasan aku!"


"Lo kenal sama dia?" Heaven yang mulai terpancing emosi langsung menepis tangan Danis, lalu menyembunyikan Zia di belakang tubuhnya. Berani-beraninya cowok itu memegang tangan Zia seenaknya.


"Gue... gue nggak kenal siapa dia!" jawab Zia yang sudah bersembunyi di belakang Heaven dengan rasa takutnya.


"Zia maafin aku! Nggak seharusnya aku percaya sama cewek nggak jelas itu dan ninggalin kamu!" bujuk Danis.


"Na, mending lo masuk mobil sekarang!" titah Heaven tanpa mengalihkan pandangan dari Danis.


"Jangan pergi Zi, aku minta maaf. Tolong dengerin penjelasan aku dulu!" Melihatnya yang hendak pergi, Danis segera mengejarnya. Namun, langkahnya terhenti oleh Heaven yang menahan pergerakannya.


"Jaga sikap lo, bangsat!"


Bugh


Danis tersungkur di aspal jalan dengan sudut bibir yang mulai membiru, akibat pukulan yang dilayangkan Heaven sebelumnya. Cowok yang masih diselimuti kabut emosi itu menarik dan mencengkram baju Danis, hendak memberinya peringatan. Sejak tadi ia sudah mencoba sabar mengingat Danis pernah menolong dirinya, namun jika sudah menyangkut Zia, maka tidak ada lagi toleransi untuk cowok yang masih mabuk itu.


"Jangan pernah macem-macem sama cewek gue, karena gue nggak akan segan sama orang yang lagi kobam sekalipun!" ucap Heaven dengan penuh penekanan. Ia melepaskan cengkeramannya dengan kasar, lalu pergi meninggalkan Danis sendirian.


"Gue bersumpah bakal nemuin lo dan bikin lo balik lagi sama gue, Zia!" Danis mengepalkan tangannya melihat kepergian mobil Heaven. Ia sangat yakin bahwa gadis yang dilihatnya tadi adalah Zia. Namun, secercah keraguan tiba-tiba muncul, ketika mengingat bahwa dirinya saat ini sedang dalam pengaruh alkohol.


🎀🎀🎀


Hai Pren!


Sambil menunggu Heavanna up, mampir dulu yuk ke karya keren milik sahabat literasi Srn. Dari judulnya aja udah kebanyang 'kan, gimana seru dan bikin gregetan ceritanya? Jangan lupa mampir ya! 🥰


Judul karya : DENDAM


Napen : nazwa talita


Setelah disiksa, dikhianati dan dibuang di suatu tempat dalam keadaan hampir tak bernyawa, Gendis bertekad Mengubah takdir demi membalas dendam pada Arga Demian, pria tampan berhati iblis yang pernah menjadi kekasih rahasianya.


Akankah Gendis berhasil membalaskan dendam dan sakit hati pada pria yang selama ini terus bersemayam di hatinya? Ataukah dia justru kembali terjebak dan terjerat pada pesona Arga Demian dan kembali menjatuhkan hatinya pada pria itu.


🎀🎀🎀


...Oh iya dari kemaren othor kelupaan terus mau kasih info. Alhamdulillah tanggal 02 Maret kemarin karya Heavanna berhasil keluar jadi juara favorit juri di event YMYB. Terimakasih buat kalian semua yang udah mau baca dan mau kasih feedback yang baik buat karya ku ini. Karya ini nggak akan ada artinya tanpa kalian yang udah tetep stay sampai detik ini, big thanks and big love untuk kalian semua. Jangan bosen-bosen ya sama ceritanya 😘...


...Maaf ga bisa spill fotonya, entun lagi agak sensitif sama foto. Dari kemarin mau up foto ga muncul-muncul, kalo mau liat cari aja di event author dengan tema 'Yang Muda Yang Bercinta'. 😅...

__ADS_1


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2