
"Yaahh... Kak Kenzo kok udah pulang sih! Jadi gagal deh bikin kejutannya!" ucap Vincie kecewa melihat Kenzo sudah datang bersama teman-temannya.
Di ruang tengah itu, suasana yang awalnya ramai dengan ocehan para anak gadis kini mendadak hening. Zia masih berdiri di tempatnya, tidak tahu apa yang akan dikatakan untuk beralasan. Rencana yang sudah di siapkan dengan susah payah, kini gagal sudah karena ternyata Kenzo sudah lebih dulu pulang. Dan yang lebih parahnya lagi Kenzo pulang membawa teman-temannya di saat masih ada Handa dan Zia. Sejak tadi Heaven masih menatap Zia dengan tajam penuh kesal, menyadari telah dibohongi oleh gadisnya itu.
"Kenzo, temen kamu mau main kok nggak bilang ke Mama dulu! Kalau gini kan Mama jadi nggak enak, maaf ya rumah Tante berantakan!" ucap Shena tersenyum canggung. Mencoba mencairkan ketegangan yang terjadi beberapa detik yang lalu, otaknya sembari berpikir cepat untuk mencari alasan yang tepat agar menyelamatkan Zia dan Handa.
"Emang biasanya harus bilang dulu ya Tan?" tanya Nanda bingung. Karena biasanya tanpa melapor pun Tante Shena tidak pernah mempermasalahkan kedatangan teman-teman Kenzo.
"Biasanya sih enggak, tapi Tante lagi bikin kejutan buat ulangtahun Kenzo!"
"Mama ngapain sih buat ginian segala. Kenzo udah gede Ma!" Merasa sudah dewasa, Kenzo sedikit malu dengan para sahabatnya.
"Ngapain lo di sini, hm?"
Heaven menyela, bertanya pada Zia yang masih berdiri dalam diam di samping Shena. Niatnya datang ke sini untuk menemani Kenzo yang sedang berulang tahun, tapi malah bertemu dengan gadis yang sebelumnya beralasan akan kerja kelompok bersama teman-temannya. Gadis yang kini sedang berdiri di hadapannya dengan membawa kue ulang tahun di tangannya.
"Ini yang katanya kerja kelompok?" Melihat Zia masih memakai seragam sekolah dengan wajah terolesi tepung membuat Heaven semakin kesal. Sudah dapat ditebak kalau gadisnya itu langsung ke rumah Kenzo tanpa pulang ke apartemen atau mengganti baju lebih dulu.
"Kalian saling kenal?" tanya Shena berpura-pura tidak tahu.
"Tante ada hubungan apa sama pacar saya?" tanya Heaven curiga. Melihat Shena dan Zia yang berdampingan seperti itu menurutnya terlihat begitu mirip, Heaven merasa keduanya seperti sepasang Ibu dan anak.
"Pacar kamu?" Terkejut mendengar ucapan Heaven, Shena menatap Zia dengan penuh pertanyaan dan kebingungan. Wanita itu memang belum tahu kalau Zia sudah memiliki pacar, tidak menduga juga dalam waktu beberapa minggu keponakannya itu sudah memiliki pacar. "Hebat juga kamu, baru pindah kemarin langsung dapet bujang premium!" bisik Shena sembari terkekeh kecil.
"Ish Tante, bukan waktunya bercanda!" bisik Zia kesal.
"Sayang sekali, Tante kira kamu belum punya pacar Zia. Kalau belum tadinya mau Tante jodohin sama anak Tante, Kenzo!" celetuk Shena tanpa merasa bersalah sama sekali. Wanita itu mengambil alih kue yang ada di tangan Zia lalu meletakkannya di atas meja.
"Ma jangan ngaco deh!" protes Kenzo. Mama nya ini suka bicara sembarangan, tidak tahu saja kalau Heaven tengah menahan kesal mendengar ucapan ngawurnya.
"Iya iya, kalau nggak bisa sama Zia, sama Handa juga boleh kok! Kamu mau kan Handa, jadi menantu Tante?" tanya Shena sambil terkekeh semakin membuat Kenzo kesal.
"Ma!" protes Kenzo.
"Boleh juga Tan idenya! Mumpung Handa masih jomblo!" jawab Handa membuat Kenzo dan yang lainnya melongo tak percaya.
Sementara Agam, cowok yang berdiri di belakang Kenzo itu tengah kebakaran jenggot mendengar ucapan Handa. Nanda yang berada di sebelahnya pun tengah menahan tawanya mati-matian, menyadari raut masam di wajah sahabatnya.
__ADS_1
"Ogah gue sama cewek barbar kayak lo!" tolak Kenzo. Cowok itu memang selalu bermusuhan dengan Handa, karena saat kecil dulu Handa selalu menang adu skill bela diri dengannya. Sehingga membuat Shena beberapa kali memuji Handa di hadapan Kenzo, dan itu sangat membuatnya terganggu. Tapi, untuk sekarang mungkin skill Kenzo sedikit lebih baik dari Handa.
"Ish jutek banget sih jadi cowok! Pantes aja nggak laku!" celetuk Handa seenaknya. Padahal kenyataannya Kenzo termasuk cowok yang ramah pada siapapun, selama orang itu baik maka Kenzo akan membalas dengan kebaikan yang serupa.
"Emang boleh ya Ma?" tanya Vincie dengan polosnya, "Zia sama Handa kan sepu emph...."
Ucapan Vincie terhenti saat tiba-tiba Vanes membekap mulutnya, Vanes memang sudah cukup memahami apa yang sedang terjadi. Karena Mama nya pernah mengatakan pada mereka berdua untuk merahasiakan identitasnya dari orang lain, hanya saja Vincie jauh lebih polos untuk menanggapi semuanya.
"Vincie nggak denger apa? Kalau Zia itu pacarnya Kak Heaven. Berarti emang nggak boleh sama Kak Kenzo!" ucap Vanes sengaja ingin membuat Vincie bingung. Sudah diduga, karena saat ini Vincie tengah menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sembari berpikir keras.
"Jadi Kak Heaven pacarnya Zia? Terus Vincie gimana, masa Vincie jadi janda?" ucap Vincie menatap Heaven dengan mata berkaca-kaca.
"HAH JANDA?"
Semua terkejut mendengar ucapan Vincie, hingga semua tatapan tertuju pada gadis kecil nan lucu itu. Bagaimana anak sekecil itu bisa mengenal kata janda. Kalau itu Nanda mungkin tidak akan ada yang heran, tapi ini Vincie. Bocah yang baru memasuki usia tujuh tahun sekitar dua bulan yang lalu.
"Sayang! Kamu ngomong apa sih?" Shena langsung menggendong Vincie, menenangkannya yang hendak menangis.
"Tanggung jawab lo Heav!" celetuk Nanda langsung mendapat pelototan tajam dari Heaven.
"Vincie kan suka sama Kak Heaven! Kata Kak Nanda kalau ditinggal sama orang yang disukai nanti jadi janda!" ucap Vincie dengan air mata yang sudah meleleh.
Sontak semua orang menatap tajam pada Nanda, sedangkan yang di tatap hanya mampu meneguk salivanya dengan kasar. Tidak menduga sebelumnya kalau Vincie akan mengingat ucapannya satu minggu lalu, itupun di luar konsep sebelumnya. "Nggak papa Vin, Jaman sekarang janda selalu di depan! Apalagi yang bohay!" ceplos Nanda tanpa rasa berdosa.
"Huaa... Vincie nggak mau jadi janda hiks!" teriak Vincie menangis.
"Sesat! Jangan percaya omongan Kak Nanda!" Kenzo melempar tatapan tajam pada Nanda, membuatnya langsung kicep.
Mulut siake, gue jual aja apa biar di ganti sama yang lebih bermanfaat?
Nanda menepuk mulutnya, lalu menunjukkan cengiran bodoh pada semua orang yang kini menatapnya. Untung saja tidak ada Om Kenzie di sini, kalau ada mungkin Nanda sudah menjadi temennya kue putu sekarang.
"Lo kalau ngajarin bayik yang beneran dikit napa!" bisik Agam.
"Setan, mana gue tau kalau dia nyantel nya begitu!" balas Nanda juga berbisik.
"Gal, sumbangin aja nih bocah satu. Siapa tahu berguna bagi orang yang membutuhkan!" saran Heaven yang terlanjur kesal.
__ADS_1
"Kampret, lo kira gue amplop sembako di sumbangin!" balas Nanda ikutan kesal.
"Boleh juga tuh Heav ide lo! Kemaren gue ke panti, katanya lagi butuh tukang cuci piring!" balas Gala.
"Lebih cepat lebih baik Gal!" sahut Kenzo.
Melihat keributan itu, Vincie yang masih menangis di gendongan Shena meminta turun. Gadis kecil itu mendekat pada Heaven yang tengah menatap kesal pada Nanda. "Kak Heaven jangan sama Zia ya, sama Vincie aja. Zia jelek tau, lebih cantikan juga Vincie!" ucapnya polos.
"Lah, gue yang kena!" beo Zia shock.
"Vin, bukannya kemaren lo sukanya sama Gala. Kenapa sekarang suka sama Heaven?" tanya Nanda dengan heran.
"Vincie suka Kak Gala tapi Vincie juga suka Kak Heaven! Gimana ya?" monolog Vincie sambil berpikir, "Ya udah deh Vincie ambil dua-duanya aja. Kalau bisa dapet dua-duanya kenapa harus satu!" Vincie tersenyum senang sembari menggandeng tangan Heaven dan Gala.
"Anjrit, serakah juga adek lo Ken!" celetuk Nanda terkekeh.
"Bibit unggul nya Nanda nih!" sambung Agam.
"Vincie nggak boleh kayak gitu! Kamu masih kecil, nggak boleh ngomong sembarangan!" ucap Kenzo beranjak menggendong Vincie.
"Boleh kok! kata Kak Nanda juga gitu kemaren!" Vincie masih mengingat ajaran sesat Nanda, saat mereka bermain ular tangga satu minggu yang lalu.
"Nanda lagi Nanda lagi!" ucap Agam yang mulai jengah.
"NANDA SIALAN!"
Kenzo mengusap wajahnya kasar, temannya satu ini memang tidak ada manfaatnya sama sekali. Cowok itu kembali menatap Nanda tajam, setajam silet. "Ngomong sembarangan lagi ke adek gue, gue cemplungin lo ke gunung merbabu!" ancamannya.
Nanda menunjukkan cengiran bodohnya. "Ampun bang jago!"
"Udah udah, mending kalian bantu Tante rayain ulang tahun Kenzo! Biar rame!" ucap Shena yang tidak mau ada keributan lagi.
Bersambung....
*********
Hari ini spesial tiga bab, mumpung Author lagi senggang hehe....
__ADS_1