
"Di mana kau sekarang? Cepat datang ke sini, ada tugas penting untuk kalian semua!"
Rico menyeringai, menatap tiga tawanan yang kini sudah terikat rapi di hadapannya. Tidak pernah ia menyangka akan berada di kesempatan menguntungkan seperti ini. Kesempatan dirinya untuk melancarkan balas dendam semakin besar, melihat adanya Cakra, Icha dan terutama Zia sudah berada dalam satu ruangan bersama.
"Aku akan membawa mereka pergi sejauh mungkin, setelah itu aku akan melenyapkannya!" Sesaat Rico terdiam, menyimak ucapan seseorang di seberang telepon. "Bagus, aku tunggu secepatnya!"
Dalam keadaan terikat, Zia beberapa kali mencoba untuk melepaskan diri. Sudut matanya melirik Icha dan Cakra. Karena kesal mendengar teriakan Icha, Rico sengaja mengunci mulut Icha menggunakan lakban. Saat ini pria itu masih saja berbicara dengan seseorang di seberang telepon. Setiap kali melirik, pandangan tajamnya berhasil membuat Zia, Icha dan Cakra sedikit merasa takut.
"Kenapa kalian berdua ke sini? Bukannya udah Kakak bilang kalian jangan pergi ke manapun!" ucap Cakra bertanya. Melihat kedua gadis yang duduk terikat di sampingnya membuatnya semakin merasa takut. Cakra tidak ingin terjadi sesuatu pada mereka.
"Sshjkeydbdkdvghskks," ucap Icha tidak jelas. Mulut gadis itu masih terkunci rapat, namun dari sorot matanya tampak menjelaskan kekhawatiran luar biasa pada Kakaknya.
"Kamu ngomong apa sih, Cha!" Cakra hanya menggeleng pasrah melihat keadaan Icha. Tidak mungkin juga ia membuka lakban di bibir adiknya itu, sementara tangannya masih terikat tali berukuran sedang.
"Nggak usah nangis!" peringat Cakra. Icha baru saja meneteskan air mata, kini gadis itu langsung menunduk setelah mendengar omelan kakaknya.
"HEY KALIAN BERTIGA! DIAMLAH!" teriak Rico dari kejauhan. Merasa terganggu dengan pembicaraan ketiga tahanannya.
"Dad, tolong Anna!" lirih Zia setelah cukup lama mereka terdiam. Sampai saat ini gadis itu masih mampu mengatasi rasa traumanya. Padahal dulu ia tidak mampu, meski sekuat apapun ia menahannya, meski semudah apapun masalah yang ia hadapi ketika itu.
"Maaf!" ucap Cakra tiba-tiba. Melihat keberadaan Zia yang terikat membuat pria itu merasa sangat bersalah. "Seandainya aku tidak menitipkan Icha tadi, mungkin kamu nggak akan mengalami hal seperti ini lagi."
"Lagi?" Zia mendongak, menatap Cakra dengan kening berkerut. Ucapnya tadi membuat Zia sedikit bertanya-tanya, Cakra seolah tahu apa yang sudah dialami Zia dulu. "Apa Kak Cakra tau siapa aku?" tanya Zia.
__ADS_1
"Sejak pertama kali bertemu dulu, sebenarnya aku sudah bisa mengenali siapa kamu. Karena itu, aku sempat melarang Icha berdekatan dengan mu. Aku tidak ingin kejadian dulu terulang lagi, tapi sayangnya, justru kebodohan ku sendiri yang membuat semua ini terjadi!" kata Cakra menyesal.
"Jadi, Kak Cakra sebenarnya ...." Zia tidak mampu melanjutkan ucapannya setelah melihat Cakra mengangguk. Awalnya Zia mengira Cakra dan Icha adalah anak kandung dari Rico. Namun ternyata diluar dugaan, sebenarnya Cakra adalah anak yang di kurung oleh Rico bersama Zia dulu. "Jadi, wanita itu ... Mamanya Kak Cakra sama Icha?" tanya Zia tidak percaya.
Sekali lagi, Cakra hanya mampu mengangguk. Mengingat kematian mengerikan Mama nya membuat tubuh Cakra kian melemas. Ketika penculikan itu terjadi, Cakra memang melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat-saat ketika Rico membunuh Mama nya secara sadis. Zia dan Cakra yang menyaksikan hal itu bahkan sampai menjerit histeris dan menangis sejadi-jadinya.
"Ssstttt jangan katakan apapun lagi," ucap Cakra menggeleng. Ia tidak ingin Icha mengetahui kenyataan tersebut. Sudah cukup banyak masalah yang mereka hadapi. Cakra hanya tidak ingin melihat Icha semakin menderita setelah mendengar cerita masa lalu kelam tersebut.
"Aku nggak tau apa yang akan terjadi kedepannya, tapi ... kalau ada kesempatan untuk kalian berdua kabur, maka pergilah. Jangan pedulikan siapapun, selamatkan diri kalian masing-masing."
"Tapi Kak, mana mungkin kita bisa melakukan itu. Gimanapun juga sekarang kita bersama, jadi sudah seharusnya kita keluar sama-sama," ucap Zia. Icha mengangguk, menyetujui apa yang dikatakan sahabatnya.
Cakra menatap ke arah Icha, kemudian beralih menatap Zia. Dalam keadaan seperti ini, ia harus memberikan pengertian. Setidaknya, akan ada yang selamat ketika ada kesempatan kabur nantinya. "Tidak, jangan katakan itu. Kalian berdua harus selamat. Kakak akan mencari cara agar kalian bisa pergi nanti."
"Akhirnya kalian semua datang juga! Kenapa lama sekali?!" Terdengar suara Rico dari kejauhan. Pria itu kini tengah menyambut kedatangan beberapa anak buahnya dengan perasaan dongkol.
"Tiga puluh menit bagi saya itu lama goblok! Bisa ketinggalan pesawat nanti!" bentak Rico kesal.
"Ehehe ya maap Bos!" Sahutnya menyengir bodoh.
"Ah sudahlah, cepat kalian bawa mereka bertiga ke mobil! Saya harus membawa mereka secepatnya!" titah Rico seraya menunjuk ke arah ketiga tahanannya.
"Siap Bos!"
__ADS_1
Sesuai perintah, kelima anak buah Rico langsung melakukan tugasnya. Menuntun Zia, Cakra dan Icha agar berdiri, kemudian membawanya menuju keluar.
"Hey kenapa mulutmu?" Sambil berjalan, salah satu anak buah Rico bertanya, melihat Icha yang tampaknya sedikit kesulitan karena bibirnya yang terkunci.
"LEPASIN! KALIAN MAU BAWA ICHA KE MANA, ICHA NGGAK MAU. ICHA NGGAK SUKA DIPEGANG SAMA ORANG JELEK, BANYAK BULUNYA LAGI IH ICHA NGGAK SUKA HUAAA!"
Seketika semua orang menutup telinga. Pekikan suara Icha benar-benar mampu menghancurkan gendang telinga mereka. Sebelumnya, salah satu anak buah Rico memang sedang iseng membuka penutup mulut gadis itu. Tidak disangka, hal itu justru membuat Icha berteriak dengan sangat kencang.
"Bodoh, kenapa dilepas?!" bentak Rico kesal.
"Anu Bos, ampun. Saya pikir energinya nggak sedahsyat ini." Salah satu temannya kembali mengambil lakban, kemudian menutup kembali mulut Icha. "Sialan, gue dibilang buluan!"
"Lah emang buluan, liat tuh tangan lo!" sahut temannya sambil menunjuk ke arah tangan. "Ck ck ck nggak sadar diri banget jadi orang!" lanjutnya sambil menggeleng.
"Makanya jangan main-main!"
"Sudah-sudah, kenapa kalian malah ngobrol!" bentak Rico dari kejauhan. Pria itu kini sudah sampai di depan pintu utama, hendak keluar. "Cepatlah!"
Sesuai perintah, semua orang kini kembali berjalan keluar. Zia mengedarkan pandangannya, mencari situasi menguntungkan agar ia bisa kabur bersama Icha dan Cakra.
"Kita akan pergi bersama Kak, bukan hanya aku atau Icha!" bisik Zia pada Cakra dengan penuh keyakinan. "Dad Zion pasti akan datang menolong kita!"
"Cepat jalan! Jangan harap kalian bisa kabur nanti!" Salah satu anak buah Rico yang mendengar ucapan Zia langsung memotong ucapan gadis itu. Sedikit kasar mereka mendorong ketiga tawanannya agar berjalan sedikit lebih cepat.
__ADS_1
🎀🎀🎀
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...