
Ponsel di atas nakas masih terus berdering, nomor tak dikenal tertera jelas di layar. Zia masih diam menatapnya, tidak tahu harus melakukan apa. Sudut matanya kini melirik pada gadis pemilik ponsel yang masih terlelap di atas ranjangnya. Sampai sekarang Zia masih sangat penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Icha. Akan tetapi, Icha belum berkenan mengatakan apapun padanya.
Setelah selesai mengobati beberapa luka ditubuhnya, Icha memang langsung tertidur tanpa mau menjelaskan apapun. Sementara Heaven memilih pulang untuk memberikan waktu bagi Zia dan Icha agar bisa berbicara dari hati ke hati. Heaven merasa keberadaannya di sana membuat Icha tidak nyaman untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun ternyata, tetap saja Zia tidak mendapatkan informasi apapun setelah kepergiannya.
"Cha?" Setelah cukup lama ponsel itu masih terus berdering, kini Zia mencoba membangunkan Icha dari tidurnya.
"Cha? Hp lo bunyi terus tuh!" ucap Zia, menggoyangkan bahu Icha seraya membangunkannya.
"Hm? Kenapa Zia?" Terlihat kini Icha menggeliat pelan, merasa terganggu dengan sentuhan tangan Zia pada bahunya.
"Hp lo bunyi terus, nggak tau siapa yang telfon," ucap Zia seraya menunjuk ke atas nakas.
Dengan wajah lesu, Icha beranjak mendudukkan diri. Salah satu tangannya terulur mengambil ponsel, masih dengan kelopak mata setengah tertutup. Zia hanya diam memperhatikan tingkah gadis itu, masih dengan rasa penasarannya. Pasalnya, ponsel yang digunakan Icha kali ini bukanlah ponsel yang biasanya gadis itu pakai.
"Siapa yang telfon?" tanya Zia, penasaran melihat Icha hanya diam memperhatikan layar ponsel.
"Nggak tau!" Icha menggeleng seraya mengingat-ingat, siapa pemilik nomor tersebut sebenarnya.
"Ya udah, kalo nggak kenal mending jangan diangkat. Masih inget pesen Kak Cakra kan?"
Icha mengangguk, namun kemudian, ia baru mengingat sesuatu. "Tapi Zia, kayaknya ini nomornya Kak Cakra yang baru. Kak Cakra kan baru beli tadi, sebelum ke sini!" lanjutnya masih bingung.
Seketika Zia menepuk keningnya, tidak habis pikir bagaimana cara otak Icha bekerja keras selama ini. "Aduh Cha, kalo itu emang nomor Kakak lo ya buruan diangkat dong. Ngapain bilang dulu ke gue?" ucapnya kesal.
"Hehe iya juga ya!" Icha menyengir lebar, kemudian menatap ponselnya yang ternyata sudah mati. "Tapi telfonnya udah mati!"
"Ya lo telfon balik lah Cha, gunanya lo punya hp buat apa. Buruan telfon, siapa tau penting!" jawab Zia menahan gemas.
__ADS_1
"Iya ish, Zia kok marah-marah sih. Icha kan nggak ngapa-ngapain!" Icha mengerucutkan bibirnya, sambil membuka ponsel hendak menelepon balik seseorang yang menelepon diri tadi.
"Gue nggak marah Icha, cuma gemes aja sama otak mini lo. Rasanya pengen gue cubit tuh otak saking gemesnya!" gemas Zia menahan kesal.
"Ya nggak bisa lah Zia, otak Icha kan di dalem kepala. Kepala Icha kan keras!" ucapnya seraya menempelkan ponsel ke telinga.
"Terserah lo!" sewot Zia malas meladeni. "Gue mau ke dapur dulu, ambil makanan buat lo, lo belum makan kan?" tanya Zia.
Icha hanya mengangguk, sedang menunggu panggilan telepon yang tak kunjung tersambung. Melihat Icha hendak menelepon Kakaknya, Zia memilih pergi meninggalkan kamar. Memberikan waktu dan tempat bagi gadis itu untuk mengobrol dengan kakaknya yang entah akan kembali kapan.
Sesampainya di dapur, Zia mengambil beberapa jenis sayuran di kulkasnya. Sambil menunggu Icha selesai menelepon, Zia ingin menghabiskan waktu untuk memasak. Sayur yang seharusnya ia masak untuk Heaven, kini justru akan berakhir di perut Icha karena kehadirannya. Zia terkekeh, mengingat betapa kesalnya Heaven ketika akan pergi tadi.
"AAAA KAK CAKRA!"
Zia tersentak kaget mendengar jeritan keras dari arah kamar. Pisau di tangannya bahkan sampai terjatuh ke lantai menyadari suara itu milik Icha. Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung berlari ke arah kamarnya. Meninggalkan sayuran yang akan ia masak sebelumnya.
"Kak Cakra, Zia. Kak Cakra!" Air mata mengalir deras membasahi pipi Icha, gadis itu benar-benar sedang sangat khawatir saat ini.
"Kak Cakra kenapa?" tanya Zia sembari menahan pergerakan Icha.
"Kak Cakra luka, banyak darah. Papa jahat!Lepasin Icha, Icha mau tolongin Kak Cakra!" Dengan kasar, Icha mendorong Zia hingga membentur tembok. Tanpa memedulikan keadaan sahabatnya, gadis yang masih menangis itu langsung berlari keluar apartemen.
"CHA, LO MAU KE MANA?" teriak Zia sambil memegangi bahunya yang terasa sakit.
"Aw sshhh!" Sambil menahan rasa sakitnya, Zia langsung berlari keluar, mengejar Icha sebelum ketinggalan jauh. Tidak mungkin juga ia membiarkan Icha pergi seorang diri dalam kondisi seperti ini.
"Cha, tungguin gue!" teriak Zia ketika melihat pintu lift hendak tertutup. Gadis itu berlari sekuatnya, namun sayangnya ia gagal menghentikan pintu lift yang hendak tertutup tersebut. "Arghh sial!"
__ADS_1
Beruntungnya, lift di sebelahnya langsung terbuka setelah beberapa detik. Dengan cepat Zia masuk, kemudian menekan tombol lantai nomor satu untuk mengejar Icha yang tampaknya akan pergi ke tempat Kakaknya berada. Tidak berselang lama, pintu lift terbuka. Zia melangkah cepat seraya mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Icha.
"Icha!" Zia membulatkan mata melihat di luar, Icha sedang menghentikan taksi di tengah jalan, tanpa memikirkan keselamatan. Tidak peduli dengan umpatan orang di sana, gadis itu langsung masuk ke dalam taksi. Zia yang tidak ingin ketinggalan pun segera berlari, kemudian masuk tanpa permisi.
"Cha, lo gila ya! Ngapain lo lari-lari gitu, bahaya bego!" omel Zia setelah masuk ke dalam taksi. Bukan hanya Zia, supir taksi yang kini mereka tumpangi pun masih mengomel di depan sana.
"Icha takut, Zia hiks. Kak Cakra dalam bahaya hiks, Icha harus tolongin Kak Cakra!" ucap Icha sambil menangis. "Pak taksi ayok jalan, cepetan! Icha buru-buru!" lanjutnya.
"Emang Kakak lo kenapa Cha?" tanya Zia.
"Papa hiks, Papa Icha jahat. Papa jahat sama Kak Cakra, Icha takut hiks!" Tangis Icha kembali pecah, rasa takut dan khawatir begitu menghantui dirinya saat ini. Setelah sebelumnya ia sempat melihat foto Kak Cakra sedang dalam keadaan babak belur, setelah disiksa habis-habisan oleh Papanya.
Zia hanya menatap Icha dalam bingung, penjelasan gadis itu sangat tidak mampu ia cerna. Dalam keadaan genting seperti ini, Zia paham bertanya pada Icha tidak akan mendapatkan informasi yang jelas. Karena itu, kini ia memilih diam mengikuti kemana Icha akan pergi. Mengusut tuntas permasalahan yang sebenarnya terjadi di keluarga Icha.
"Astaga, gue lupa bawa hp!" Zia menepuk jidatnya, mengingat ia tidak membawa ponsel atau bahkan uang sepeser pun. Padahal tadinya ia hendak menghubungi Heaven untuk memberitahukan kepergiannya bersama Icha sekarang.
"Cha, gue pinjem hp lo bentar ya?" pinta Zia. Tidak mungkin juga dirinya pergi tanpa memberitahu siapapun. Permasalahan kali ini ada sangkut pautnya dengan Rico, tentu saja Zia tidak mau mengambil resiko datang ke kandang serigala tanpa meminta bantuan siapapun.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Icha mengulurkan ponselnya yang ternyata sudah mati. Icha bahkan tidak sempat mengisi daya baterai ponselnya, setelah berbagai permasalahan yang menimpanya sejak kemarin. Jangankan mengisi baterai, untuk mengisi perutnya saja Icha tidak ada waktu. Sejak kemarin, Papa selalu meneror dirinya dan Kak Cakra. Mereka bahkan tidak jadi pergi ke luar negeri, karena ternyata Papa Rico sudah mengerahkan beberapa anak buahnya untuk berjaga di bandara.
"Hp lo mati, Cha?" tanya Zia setelah memeriksa ponsel Icha.
Masih dengan tangisnya, Icha hanya mampu mengangguk lemah. Saat ini yang ada dipikirannya hanya keselamatan kakaknya. Hanya Cakra lah yang Icha miliki sekarang, meskipun masih ada Papa di dunia ini. Namun, hanya Cakra lah yang selalu peduli padanya, menyayangi dirinya dengan sangat tulus.
🎀🎀🎀
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...
__ADS_1