
"Lho Kak, Jaka mau dibawa ke mana?"
Baru saja selesai mencuci jaket milik Heaven, Zia sudah dibuat bingung dengan tingkah cowok itu. Tidak salah lagi, tampaknya Heaven masih berniat ingin menghukum Jaka.
"Kak, jangan dihukum kasian!" Zia berjalan cepat menyamai langkah Heaven menuju ruang tengah.
"Diem, jangan ikut-ikutan. Ini masalah cowok, Joko harus terima konsekuensinya! Enak aja main kencingin jaket gue!"
Sesampainya di ruang tengah, Heaven berhenti di depan sofa yang tertata rapi di tengah ruangan. Sorot mata tajam cowok itu masih tertuju pada Jaka yang sudah diletakkan di lantai.
"Apa lo, nggak usah sok imut! Jangan karena lo kucingnya cewek gue, terus lo bisa seenaknya kencingin jaket gue. Nggak semudah itu gue bakal maafin lo, pantat kebo!" Heaven mendelik, tidak peduli dengan raut wajah Jaka yang begitu ketakutan.
"Kak, udahlah jangan dihukum gitu, kasian dia. Tinggal maafin aja kenapa sih!" Melihat Jaka yang sedang dalam bahaya, Zia kembali mencoba membujuk Heaven agar menghentikan apa yang ingin dia lakukan.
"Maaf? Enak aja, kucing sialan kayak Joko itu udah seharusnya dapet hukuman, biar sadar!" ucap Heaven.
"Jaka udah sadar kok kalo dia salah, nggak perlu dihukum lagi!" bela Zia. "Liat tuh, Jaka lagi minta maaf sama Kak Heaven."
Zia menunjuk ke arah kucingnya. Entah apa yang sedang dilakukan Jaka. Jika dilihat dari gerakan tangannya, sepertinya Jaka sedang mencoba meminta maaf pada Heaven.
"Apa lo hah? Mau minta maaf? Dah terlambat, gue udah terlanjur kesel sama lo!"
Gara-gara Jaka, Heaven tidak jadi menerima jatah keduanya tadi. Padahal ia sedang kangen-kangennya pada Zia. Ditambah lagi, kucing itu sudah mengotori jaketnya. Menyebalkan memang.
"Nggak ada kata maaf buat lo!"
*********
"KAK HEAVEN!" Zia berteriak kesal. "Mau sampe kapan Jaka dihukum kayak gitu? Udah mau satu jam lo dia kejepit kek gitu, kasian!"
"Biarin aja, biar kapok, siapa suruh kencingin jaket gue. Masih untung nggak gue goreng tuh kucing sialan!" Kali ini Heaven benar-benar kesal, beraninya kucing itu mengotori jaket Clopster kesayangannya.
"Kakkkk... udahan dong hukumnya. Kasian nanti kalo dia sesek napas terus mati gimana?"
"Bagus kalo gitu, sujud syukur gue kalo dia beneran mati!" Dengan entengnya Heaven menjawab, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
"HUUAAAA KAK HEAVEN JAHAT, NGGAK SAYANG LAGI SAMA JAKA!" rengek Zia menangis. Sungguh, ia merasa kasian melihat nasib Jaka kali ini. Sejak sekitar satu jam yang lalu, tubuh kecil Jaka masih terjepit di antara dua sofa. Siapa lagi yang melakukan kalo bukan Heaven. Cowok itu bilang, semua itu sebagai hukuman untuk Jaka.
"Emang sejak kapan gue sayang sama Jaka?" Heaven bertanya dengan enteng.
"Jadi Kak Heaven nggak sayang sama Jaka?" tanya Zia dengan mata berkaca. "Berarti Kak Heaven nggak sayang dong sama aku?"
"Nggak ada hubungannya, anj-" Heaven menahan umpatannya, kemudian menurunkan emosinya. "Gue sayang sama lo, tapi nggak buat Jaka!"
"Kok gitu?"
"Kenapa nggak boleh gitu?"
__ADS_1
"Kaakkk?!" Zia tidak habis pikir.
"Hm?"
"Kak udah lah, capek tau berantem mulu! Udahan aja hukumannya kasian Jaka nggak bisa gerak itu, please!" ucap Zia memohon.
"Oke, aku bakal udahin hukumannya. Tapi cium dulu!" Heaven menepuk pahanya, meminta Zia untuk mendekat dan duduk di pangkuan.
"Nggak mau!" tolak Zia cepat.
"Ya udah kalo gitu, nggak akan aku lepasin tuh kucing sampe lebaran haji!" ancam Heaven.
"Kak, jangan bercanda deh." Zia mencebik kesal.
"Aku nggak bercanda," kata Heaven. "Ck lama!"
Melihat Zia yang tidak kunjung mendekat, Heaven dengan cepat meraih tangan gadis itu dan menariknya. Dalam sekejap, Zia sudah berada di atas pangkuan cowok itu. Sementara Zia? Tentu saja ia terkejut dengan tindakan Heaven yang terlalu cepat.
"Ngagetin aja ih!" Dengan keras Zia memukul dada Heaven.
"Mau peluk, Na! Gue kangen banget sama lo!" Heaven mengeratkan pelukannya, menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Zia.
"Kak Heaven kenapa?" Aneh, Zia merasa sikap Heaven sedikit berbeda dari biasanya.
"Aiswaishdvegsisnskdhf," ucap Heaven tidak jelas.
"Hah?"
"Aku sayang banget sama kamu, Anna!"
Heaven kembali menyembunyikan wajahnya. Ia merasa ada ketenangan ketika memeluk tubuh gadisnya. Seolah tidak ingin terlepas sedikitpun, Heaven semakin erat memeluk tubuh Zia. Menyandarkan tubuhnya yang berat pada gadis itu. Zia yang tidak mampu menahannya justru semakin memberingsut dan jatuh ke belakang.
"Kak, berat ih! Yang bener peluknya!" protes Zia. Tidak mampu menahan berat badan Heaven yang berada di atasnya.
"Sebentar sayang, aku masih kangen."
"Tapi berat, nanti kalo aku sesek napas gimana?"
"Nanti aku kasih nafas buatan yang banyak!" Heaven memejamkan mata, menikmati elusan tangan Zia pada rambutnya.
"Ya nggak gitu juga!"
Heaven tidak lagi menanggapi, hingga cukup lama keduanya terdiam menikmati suasana.
"Kak?"
"Hm?"
"Udahan ya pelukannya, panas tau!" Zia mencebikkan bibir. Pakaian keduanya yang cukup tebal membuat Zia sedikit kepanasan.
__ADS_1
"Padahal gue mau yang lebih panas!" lirih Heaven.
"Hah?"
"Bentar lagi, sayang!" ucap Heaven.
"Tapi aku haus, tenggorokan aku kering kerontang! Kayaknya makan eskrim enak," ucap Zia.
"Ck ah elah, baru juga bentar!" kesal Heaven. Mau tidak mau ia melepaskan pelukannya. Bagaimanapun juga ia tidak ingin melihat Zia kehausan seperti ini.
"Kak Heaven mau eskrim juga nggak?" tanya Zia.
"Nggak!"
"Ya udah, aku abisin sendiri aja kalo gitu."
Zia beranjak menuju dapur, mengambil eskrim rasa stroberi kesukaannya. Tidak berselang lama, gadis itu sudah kembali. Terlihat, kini Heaven sedang sibuk bermain dengan ponselnya.
"Eummm... enak, manis, eum seger baget!" kata Zia setelah memasukan satu sendok es krim ke dalam mulut untuk ke sekian kalinya.
"Kak Heaven mau nggak?" tanya Zia. Namun Heaven tidak merespon.
Zia sedikit mengintip ke arah ponsel Heaven yang masih menyala. "Lagi chatting sama siapa sih?" tanyanya.
Lagi dan lagi, Heaven tidak merespon. Zia berinisiatif ingin berbagi es krim dengan Heaven. Satu sendok es krim kini terulur tepat di depan Heaven. Namun bukannya menerima, Heaven justru menepis tangan Zia tanpa sadar. Sontak hal itu membuat Zia terdiam, menatap Heaven dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Sadar telah membuat kesalahan, Heaven seketika menatap Zia yang masih diam di tempat. Heaven menggeser duduknya agar lebih dekat, ia merasa Zia sudah marah dengan apa yang ia lakukan tadi.
"Maaf yang, nggak sengaja!" kata Heaven.
Cowok itu hendak meraih tangan Zia. Namun, gadis itu sudah lebih dulu menepisnya. Marah, Zia masih diam tanpa mau didekati oleh Heaven. Bisa-bisanya cowok itu menepis tangannya dengan kasar seperti itu.
"Yang, nggak sengaja sumpah!"
Heaven mengulangi kata-katanya, namun sekali lagi Zia sudah terlanjur kesal. Gadis itu pura-pura sibuk memakan es krim, hingga sampai belepotan di area bibir. Menyadari hal itu, Heaven langsung membersihkan bibir Zia dengan jempol tangannya, lalu menghisap jempolnya sendiri.
Mendapat perlakuan tersebut, Zia justru kembali menepis tangan Heaven dan menatap dengan raut wajah kesal. Tanpa mengatakan apapun, Zia beranjak pergi menuju kamar. Ia kesal, hanya karena sebuah ponsel, Heaven telah mengabaikan dirinya. Entah apa yang sedang dilakukan Heaven dengan ponselnya sejak tadi.
"Na, mau ke mana?" Heaven bertanya, seraya mengikuti Zia dari belakang. Melihat gadisnya sedang marah, sudah seharusnya bagi Heaven untuk membujuk.
Tidak ada jawaban dari gadis itu. Zia memilih masuk ke dalam kamar. Ia ingin menyendiri. Namun ketika hendak menutup pintu, Heaven sudah lebih dulu menahan dengan kakinya.
"Na, jangan diemin aku kayak gini. Maafin aku ya, please?" ucap Heaven memohon.
Zia menatap datar, tatapan yang berhasil membuat Heaven langsung kicep. Tidak semudah itu Zia dapat memaafkan. Dengan kasar, Zia menendang kaki Heaven yang masih menghalangi pintu. Setelahnya, Zia menutup pintu dengan keras lalu menguncinya rapat-rapat.
"Na, buka pintunya! Aku minta maaf, nggak sengaja tadi!" pinta Heaven seraya menggedor pintu.
🎀🎀🎀
...Sampai bertemu di Ex part Heavanna selanjutnya 👋🏻...
__ADS_1