
"Kak Gala apaan sih, lepasin. Sakit tangan Icha!"
Entah sudah untuk ke berapa kalinya Icha terus memberontak minta dilepaskan, tangannya masih berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Gala. Namun tetap saja, semua usahanya tidak membuahkan hasil. Mungkin sampai bibirnya berbusa pun Gala juga tidak akan melepaskan cengkeramannya.
Gala masih saja diam membisu. Langkah kakinya begitu lebar membuat Icha sedikit kesulitan untuk menyamakan derap langkahnya. Dengan tangan yang masih menggenggam pergelangan tangan Icha, Gala menghentikan langkahnya di depan ruang UKS. Ia membuka pintu dengan kasar hingga terdengar bunyi benturan yang cukup keras, mengagetkan beberapa siswa yang sedang mengistirahatkan diri di atas ranjang di dalam ruangan itu.
"KELUAR!" bentak Gala menyorot tajam para siswi yang tengah terkejut melihat kedatangannya.
Seketika ketiga siswi yang sebelumnya sedang bergosip itu bergegas mengambil barang-barang mereka, kemudian dengan ketakutannya pergi meninggalkan ruangan. Salah satu siswi yang sedang sakit tadi, seketika sembuh setelah mendengar bentakan cowok dingin itu. Gala kembali melangkahkan kakinya menarik Icha mendekati ranjang, setelah memastikan tidak ada siapapun di dalam ruangan.
"Kak Gala kenapa sih? Kenapa mereka diusir?" Icha masih tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan Gala, "Mereka kan juga lagi-"
"Duduk!" Gala menyela, mendorong Icha untuk duduk di atas ranjang.
Icha masih menatap heran cowok yang sedang berjongkok mencari sesuatu di dalam laci meja, di samping ranjang tempatnya duduk. Andai belum ada kata lelah dan menyerah yang tersimpan di hatinya, mungkin sekarang Icha akan berbunga-bunga mendapat perhatian ini. Kemana saja Gala selama ini, Icha bahkan masih mengingat jelas kata-kata menyakitkan yang pernah terlontar dari bibir cowok itu dua bulan yang lalu.
Gala membuka semua laci yang ada di meja itu, mencari di mana keberadaan kotak p3k. Karena tidak kunjung menemukan apa yang sedang dicari di dalam laci, Gala melirik ke arah lemari yang ada di pojok ruangan. Setelah menemukan apa yang dicari di dalam lemari berukuran sedang itu, Gala kembali mendekati Icha yang tengah menatap heran dirinya.
"Nggak perlu, Icha nggak papa kok!" Icha menepis tangan Gala yang terulur hendak menyentuh rambutnya tanpa izin. Tidak ada kata apapun yang keluar dari bibir Gala, mungkin cowok bermaksud mengobati lukanya. Namun sayangnya Icha tidak mau. Dengan wajah datar ia beranjak hendak meninggalkan ruang UKS.
"Duduk!" ucap Gala dengan penuh penekanan.
"Nggak mau, Icha mau ke kelas!" Tanpa mau menatap Gala, Icha melangkahkan kakinya lagi hendak meninggalkan ruangan. Namun belum sampai dua langkah, pergelangan tangannya sudah disambut oleh cengkraman yang cukup kuat dari tangan Gala yang ukurannya dua kali lebih besar dari tangannya.
"Gue bilang duduk, Icha!" titahnya dengan geram.
"Kak Gala mau apa, Icha nggak akh ssshhh...." Icha memejamkan mata sambil meringis kesakitan, pergelangan tangannya terasa kian menyempit akibat cengkraman tangan Gala yang semakin erat.
"Duduk!" ucap Gala masih menyorot tajam Icha yang sangat sulit diatur.
Mau tidak mau Icha menuruti perintah Gala, mendudukkan diri dengan bola mata yang mulai tergenang. Seluruh tubuhnya sudah begitu nyeri, ditambah cengkraman tangan Gala yang rasa sakitnya masih membekas di salah satu pergelangan tangannya. Icha ingin menangis, pertahanan tubuhnya tidak sekuat itu untuk menahan rasa sakit yang menjalar dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tubuhnya sudah sangat ringkih. Luka operasinya saja belum kering namun sekarang harus mendapatkan beberapa luka baru di tubuhnya.
__ADS_1
Icha lelah.
"Nggak usah nangis!" ucap Gala memperingatkan. Melihat raut wajah Icha yang sedang menahan tangis saja sudah membuatnya tidak nyaman, apalagi harus melihatnya menangis sesenggukan seperti yang terjadi saat di rumah sakit waktu itu. Entahlah, Gala sendiri tidak mengerti apa yang sedang dirasakan olehnya saat ini.
Icha mengerucutkan bibirnya, menundukkan kepala tidak ingin melihat sorot mata tajam Gala. Jika dulu ia sangat menyukainya, sekarang yang tersisa hanya rasa takut untuknya. Icha takut kembali pada masa-masa dimana semua orang di sekolah membully habis-habisan dirinya yang secara terang-terangan mengejar Gala. Padahal jelas-jelas cowok itu sudah menolak dengan berbagai cara. Dari cara yang halus hingga cara yang kasar dan memalukan pernah Gala lakukan pada Icha.
Gala menyingkirkan helaian rambut Icha yang menutupi luka di kepalanya, lalu dengan telaten mengobati luka yang cukup besar itu. "Kenapa bisa luka gini?" tanyanya dengan nada sedikit melembut.
Tidak ada jawaban apapun yang terucap dari bibir Icha. Untuk pertama kalinya Gala bersikap seperti ini, membuat gadis itu tidak bisa berkata-kata. Kenapa Gala baru melakukannya sekarang, sementara sudah tidak ada lagi rasa yang mampu membuat Icha senang walau hanya dengan menatap Gala dari jarak jauh seperti dulu. Icha memang masih menyukai Gala, tapi rasa trauma membuatnya tidak ingin lagi berurusan dengan cowok itu.
"Kok diem?" Gala menaikan satu alisnya, melihat Icha yang sedang menatap dengan pandangan kosong, entah memikirkan apa.
"Bukan urusan Kak Gala!" jawabnya sedikit jutek. Icha mengambil ponsel di dalam saku hendak menyibukkan diri, membiarkan Gala mengobati luka di kepalanya.
"Kenapa lo senyum-senyum gitu?" Gala menghentikan pergerakannya, melihat Icha tengah tersenyum sambil menatap layar ponsel yang menyala. Nama seseorang tertera di sana, seseorang yang Gala sendiri tidak tahu seperti apa orangnya.
"Bukan urusan Kak Gala!"
*********
"Lo kenapa senyam-senyum gitu? Abis diapain lo sama Kak Gala?" Handa bertanya penuh selidik, ketika Icha sudah duduk manis di sampingnya.
"Eum nggak abis di apa-apain!" jawab Icha masih mengulum senyumnya.
"Kak Gala bawa lo ke mana tadi, Cha?" tanya Zia.
"Di bawa ke UKS, luka Icha juga udah diobatin tadi!" jawab Icha cemberut mengingat sikap Gala yang aneh.
Mengingat Gala bukannya membuatnya senang, yang ada malah membuatnya tidak bersemangat. Selesai diobati tadi Icha langsung kembali ke kelas, tidak lupa juga ia mengucapkan terima kasih sebelum pergi. Suasana di ruang UKS tadi sangat hening. Tidak ada suara yang terdengar sama sekali. Icha sangat enggan berbicara dengan Gala selama di sana. Sementara Gala yang basicnya memang pendiam, sama sekali tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.
"Terus kenapa senyum-senyum gitu dari tadi? Lo... masih waras kan?" Handa menyentuh kening Icha, memeriksa suhu tubuhnya. Barangkali setelah tadi dibawa kabur oleh Gala, Icha langsung diberi sesuatu yang tidak terduga hingga membuatnya bertingkah aneh seperti sekarang.
__ADS_1
"Ish Handa apaan sih, ya masih lah!" Icha menepis tangan yang masih bertengger di keningnya, lalu menunjukkan sesuatu di layar ponselnya yang menyala. "Handa liat deh, Icha punya temen baru tau!"
"Temen baru?" tanya Handa mengerutkan keningnya.
"Iya! Kemaren Icha bosen di rumah sendirian, jadi Icha iseng buka aplikasi pencarian jodoh. Terus Icha ketemu sama cowok, namanya Azka. Orangnya baik banget, terus suka ngelawak lagi." Icha menunjuk sebuah gambar anime seorang cowok yang tengah menggunakan masker berwarna hitam. Itu adalah foto yang digunakan cowok bernama Azka sebagai profil akun miliknya. "Liat deh fotonya, bagus banget kan?" tunjuknya sembari senyum-senyum tidak jelas.
"Bagus apaan, itu kan bukan foto orang Icha. Gimana sih, jelek gitu dibilang bagus! Emang lo pernah ketemu sama dia?" tanya Handa langsung mendapat gelengan kepala dari Icha sebagai jawaban.
"Belum sih, tapi ini bagus tau gambarnya!" cicit Icha menatap gambar yang terpampang indah di layar ponselnya, "Icha yakin Azka orang baik kok!"
"Cuma gambar doang belum bisa nentuin orang itu baik atau enggak Cha!" ucap Handa dengan geram.
"Cha, lo nggak boleh berhubungan sama orang yang nggak dikenal. Ntar kalau dia orang jahat gimana? Siapa tadi namanya, Azka?" tanya Zia seraya menasehati yang langsung mendapat anggukan setuju dari Handa. Ia tidak suka jika Icha berhubungan dengan seseorang yang sama sekali belum di kenal, bahkan melihat wajahnya saja belum pernah. Mengingat Icha yang begitu polos, Zia sedikit takut orang yang tidak dikenal itu akan memanfaatkan cewek polos yang duduk di samping Handa itu.
"Tapi menurut Icha, dia baik kok orangnya!" jawab Icha sembari mengerucutkan bibirnya. Ia pikir Handa dan Zia akan suka jika dirinya memiliki teman baru, meski belum pernah sekalipun ia bertemu dengan orangnya.
"Kita nggak tau dia kayak gimana orangnya. Gue saranin lo jangan berhubungan lagi deh sama dia, ntar kalau dia orang jahat atau orang udah bangkotan gimana?" saran Handa menambahi.
"Yah gimana ya?" Icha mengetukkan telunjuknya ke dagu seraya berpikir keras.
"Yee lama lo, udah deh nggak usah lo chatting lagi sama tuh orang. Lagian lo aja belum tau kan gimana mukanya, ntar kalau orangnya jelek gimana?" tanya Handa seraya menakuti Icha yang dasarnya penakut.
"Ish Handa jangan gitu dong, ya udah deh nanti Icha pikirin lagi!" jawab Icha.
"Hadeh pake dipikirin lagi, orang tinggal lo block aja juga kelar urusan." Handa menggelengkan kepalanya, "Lagian aneh-aneh aja lo, pake aplikasi pencarian jodoh segala. Buat apaan coba?" tanyanya heran.
"Icha kan cuma iseng, siapa tahu jodoh Icha nyangkut di sana. Icha juga pengen kali ngerasain punya pacar kayak Zia!"
"Emang lo udah move on dari Kak Gala?" tanya Handa.
"Eum belum sih!" Icha menggelengkan kepalanya, merasa sangat bodoh karena sampai sekarang masih saja menyukai Gala yang jelas-jelas tidak menyukai dirinya.
__ADS_1
**********
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...