Heavanna

Heavanna
94. ANAK BARU


__ADS_3

"Wih mantap! Punya gue yang mana nih?"


Nanda menelan salivanya dengan kasar, menatap beberapa mangkuk bakso dan makanan lainnya di hadapannya. Akhirnya setelah lama menunggu dengan perut keroncongan, makanan yang dipesannya melalui Agam datang juga.


"Yang banyak micinnya tuh yang paling ujung!" tunjuk Agam menjawab asal.


"Kenapa banyak micinnya njir? Lo pikir gue generasi micin?" sungut Nanda setengah kesal.


"Lah, bukannya lo suka yang banyak micin?" sahut Kenzo yang sudah mengambil makanannya sendiri.


"Kagak anjir, mana ada gue suka banyak micin!" sewot Nanda, "Kecuali kalo micintai Chindy, itu baru boleh banyak-banyak!" cengirannya.


Chindy yang merasa namanya disebut langsung menoleh, melempar tatapan sinis pada Nanda yang duduk berseberangan meja dengannya di kantin yang sudah ramai dipenuhi para siswa itu. Nanda mengerlingkan mata dengan senyum manis di bibirnya, membuat Chindy malah semakin jengah melihat kelakuannya.


"Ciahhh ditolak!" Agam tergelak melihat Chindy membuang muka dari Nanda, padahal Nanda belum selesai memperlihatkan rayuan mautnya.


Nanda memasang wajah masam, untuk kesekian kalinya ia mendapatkan penolakan dari gadis itu. "Diem lo, gue kuncir juga tuh mulut!" kesalnya pada Agam.


"Makanya tobat, biar Chindy mau terima lo! Secara lo kan playback, eh playboy maksudnya. Mana mungkin Chindy mau sama lo, di mana-mana cewek tuh maunya jadi yang pertama dan satu-satunya! Inget itu!" jelas Agam panjang lebar.


"Ah bacot lo, kayak nggak tau gue aja!" kesal Nanda tidak ingin membahas lagi.


"Yee dibilangin ngeyel, terserah lo! Mending gue makan, kenyang!" ucap Agam cuek. Sahabatnya yang satu ini memang paling sulit diberi nasihat, selalu maunya sendiri jika masalah perempuan.


"Btw Gala sama Heaven ke mana? Makanan udah nyampe kok belum nongol juga, tumben amat?" tanya Nanda sembari mengaduk satu mangkuk bakso miliknya.


"Tauk tuh, lagi pacaran mungkin!" cuek Agam tidak ingin memusingkannya.


"Permisi Kak, boleh gabung duduk di sini nggak? Tempat yang lain udah pada penuh semua!"


Rexie, gadis yang baru datang itu tengah kebingungan mencari tempat duduk. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri ketiga cowok itu, kerena memang hanya di tempat mereka yang masih kosong. Melihat gadis cantik itu, Nanda yang sedang meminum jus seketika melongo terpaku. Hingga tanpa sadar, jus yang masih bersarang di mulutnya kembali mengucur masuk ke dalam gelas.


"Ish jorok banget sih lo?" sewot Kenzo melihat kelakuan random Nanda.


"Tau tuh, pake bengong segala, kayak kucing berak!" sahut Agam sambil menyenggol lengan Nanda.


Seketika Nanda tersadar, mengambil tisu lalu mengusap area bibirnya yang basah. Ia kembali menatap gadis cantik di hadapannya. Selama hampir tiga tahun bersekolah, belum pernah sekalipun ia melihat gadis cantik nan imut itu.


"Ekhem... gue boleh duduk di sini nggak?" tanya Rexie meminta kepastian.


"Ah iya itu, maksudnya boleh kok, boleh!" jawab Nanda gelagapan tanpa pikir panjang.


Kenzo dan Agam yang mendengar jawaban itu langsung menoleh, menyenggol Nanda yang masih terperdaya oleh paras cantik gadis yang masih tersenyum manis di hadapannya. Masih tidak habis pikir juga, mengapa Nanda akan terlihat sangat bodoh ketika melihat gadis cantik.


"Kenapa lo izinin?" bisik Kenzo yang memang duduk di samping Nanda.


"Udah nggak papa, kasian kan cewek cantik nggak punya tempat duduk!" jawab Nanda ikut berbisik.

__ADS_1


"Kalo Heaven tau bisa melayang tuh nyawa lo, dia kan paling nggak suka duduk satu meja sama cewek lain selain Zia. Gala apalagi!" ujar Agam sedikit mengeraskan suaranya.


"Terus lo mau dia makan sambil berdiri gitu? Tega amat lo jadi cowok!" dengus Nanda.


"Eum gimana Kak? Jadi boleh nggak gue duduk di sini?" tanya Rexie yang sudah bosan mendengar perdebatan mereka.


"Boleh kok, boleh!" Nanda melotot pada kedua sahabatnya, lalu kembali menatap ke arah Rexie dengan senyuman. Hendak mempersilakannya untuk duduk. Karena gadis itu masih sedikit ragu melihat tingkah aneh tiga cowok di hadapannya. "Duduk aja samping gue! Tenang aja, gratis kok!" ucapnya sembari menggeser duduknya untuk gadis itu.


"Makasih Kak!" ucap Rexie lalu mendudukkan diri di samping Nanda.


"Lo anak baru ya?" tanya Nanda memulai pembicaraan.


"Iya Kak, baru masuk hari ini!" jawab Rexie ramah.


"Duhhh senyumnya, manis banget kayak Hello Kitty!" puji Nanda yang masih memandang indah senyum itu.


"Bullshit! Mana ada Hello Kitty punya mulut!" sahut Gala yang baru sampai di kantin. Dengan cuek mendudukkan diri di depan Agam, lalu mengambil makanan miliknya yang sudah dipesankan sebelumnya.


"Yee nih bocah dateng-dateng main nimbrung aja!" sewot Nanda merasa terganggu, "Eh tapi bener juga yak!" lanjutnya membenarkan.


"Bego emang!" sahut Agam.


"Diem lo, nyambung aja kayak kabel listrik!" sewot Nanda pada Agam. Ia kembali menatap pada gadis di sampingnya, yang tengah memasang air muka bingung mendengar perdebatan kakak kelas barunya. "Jadi lo anak baru? Pantes gue nggak pernah liat!"


"Btw nama lo siapa?" lanjutnya bertanya.


"Rexie Kak!"


"Santai aja, gue nggak bakal makan lo kok!" ucap Nanda menyadari cewek di sampingnya mulai merasa tidak nyaman.


"Heaven mana Gal, nggak nongol-nongol dari tadi. Keburu dingin nanti tuh makanannya!" ucap Agam menunjuk makanan milik Heaven yang belum tersentuh.


"Mana gue tau," jawab Gala mengendikan bahunya. Sebenarnya cowok itu tahu sedang apa Heaven saat ini, karena sebelumnya ia sempat melihat sepupunya sedang bertengkar dengan Zia di koridor. Namun, Gala yang tidak ingin ikut campur memilih untuk diam karena memang itu bukan urusannya.


"Tumben Handa sama Icha cuma berdua, biasanya bertiga kalo ke kantin!" ucap Nanda. Melihat Handa datang bersama Icha dan duduk di meja seberang, di tempat di mana Chindy sebelumnya duduk.


"Gue denger Kak!" sahut Handa yang sempat mendengar Nanda menyebut namanya. Bagaimana tidak? Tempat mereka memang bersebelahan, hanya saja mereka berada di meja yang berbeda.


"Eh tajem juga telinga lo, Nda!" Nanda menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sambil menyengir lebar melihat tatapan sinis Handa.


"Nah itu orangnya, fix abis pacaran kayaknya mereka!" Agam menunjuk ke arah pintu masuk, terlihat Heaven datang bersama Zia yang tengah memasang wajah cemberut. "Eh nggak nggak, kayaknya abis berantem!" koreksinya.


"Biasa, mereka kan emang suka berantem. Masalah es krim tadi pagi aja masih diributin! Childish!" ucap Gala sambil menggeleng kecil.


Nanda dan yang lainnya hanya terkekeh mengingat Heaven mengomel panjang lebar setelah mendapat hukuman tadi pagi, karena apa lagi kalau bukan Zia. Hanya karena makan es krim dua bungkus saja langsung membuat Heaven kesal setengah mati, wajar saja Heaven khawatir, karena Zia memang baru sembuh dari sakitnya.


"Kemana aja Bos, abis adu mekanik ya?" tanya Nanda ketika Heaven dan Zia sampai.

__ADS_1


"Iya, kenapa emang? Lo iri?" jawab Heaven bertanya.


"Wah anjir... nyambung berapa episode tuh?" tanya Nanda heboh, "Gimana Zi rasanya, ada hangat-hangatnya ya?" tanyanya penasaran.


Heaven langsung mendelik tajam, tidak suka melihat Nanda mengajak Zia membicarakan hal berbau dewasa. Enak saja, mana mungkin ia rela membiarkan otak polos gadisnya terkontaminasi bakteri yang bersemayam di dalam otak Nanda yang hanya secuil itu. "Nanya gitu lagi gue terbangin lo sekarang juga!" ancam Heaven.


Seketika Nanda menyengir lebar, ia lupa kalau Heaven sangat posesif pada pacarnya. "Ampun Bos, bercanda kok! Galak amat!" dengusnya.


Melihat tidak ada lagi yang berbicara, Rexie yang sejak tadi diam akhirnya mengeluarkan suaranya. "Eum Zia! Gue minta maaf ya buat masalah tadi, lo nggak salah paham kan?"


"Nggak masalah, gue udah tau kok Kak Heaven nggak sengaja!" jawab Zia dengan nada biasa.


"Emang abis ngapain lo bertiga?" tanya Nanda penasaran. Bukan hanya Nanda, semua teman-temannya pun ikut penasaran, namun tidak bagi Handa dan Icha yang sudah melihatnya tadi.


"Gue nggak sengaja nabrak dia tadi," jawab Heaven singkat tanpa mau menjelaskan kronologinya.


"Gue cuma nggak mau lo salah paham aja, soal kejadian dulu gue juga mau minta maaf! Gue tau lo suka sama dia udah sejak lama, tapi...."


Brakk


Menyadari Rexie hendak membahas masa lalu, Zia yang kesal refleks menggebrak meja sembari beranjak berdiri. Semua yang mendengar gebrakan itu pun sontak terkejut dengan apa yang dilakukan Zia.


"Nggak perlu lo ungkit masa lalu, itu semua udah nggak ada artinya buat gue. Dan buat lo! Mending mulai sekarang jauhin gue, karena gue nggak butuh temen sampah kayak lo!"


Semua orang di sana seketika melongo mendengar ucapan Zia yang terlalu kasar, bahkan Heaven pun tidak menyangka Zia akan dengan mudah mengucapkan kalimat itu. Lain halnya dengan Handa yang malah tersenyum puas melihat Zia yang kini mulai tegas dan berani menunjukkan kemarahannya di hadapan banyak orang.


"Sorry Kak, gue nggak laper. Kalian lanjut aja makannya, gue mau balik ke kelas dulu!" Zia langsung pergi meninggalkan teman-temannya, jika berlama-lama ia takut Rexie akan nekat membahas lagi masa lalunya. Ia belum siap melihat reaksi Heaven ketika mengetahui masa lalunya dan alasan kenapa ia pindah ke sekolah ini.


...🎀🎀🎀...


Hai pren! Sambil menunggu up, mampir dulu yuk ke karya keren temenku. Ceritanya seru lho, jangan lupa mampir ya! 🥰🥰🥰


Judul : MALENA


Napen : Khodijah Rahman


Blurb


"Pergi! Jangan sentuh aku! Pergi!


Malena, gadis yang mengalami trauma psikis akibat diperkosa saat usianya beru 10 tahun. Dia bagaikan mayat hidup selama hampir 3 tahun setelah kejadian itu. Hanya kata-kata itulah yang keluar dari mulutnya jika dia melihat orang asing terutama laki-laki.


Orang tua Malena berjuang sekuat tenaga untuk kesembuhan putrinya, hingga memutuskan pindah dari Napoli ke Firenze.


Akankah Malena sembuh total dari traumanya? Akankah Malena bertemu dengan laki-laki yang mampu menghilangkan traumanya?


__ADS_1


...🎀🎀🎀...


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2