
"Kakkk...!" Untuk kesekian kalinya Zia merengek sambil menggoyangkan lengan Heaven yang sedang sibuk bermain game pada ponselnya, "Katanya mau jalan-jalan?"
Tidak ada jawaban dari Heaven, cowok itu masih kesal pada Zia yang secara diam-diam telah memakan es krim ketika dirinya sedang mandi tadi. Bisa-bisanya gadis itu memakan hampir dua cup es krim, tanpa memikirkan kondisinya yang baru saja sembuh. Tentu saja hal itu membuat Heaven marah, dan sengaja mendiami Zia sejak tadi.
"Kak, jangan diem gitu napa?" rengek Zia sembari menggoyangkan tangan Heaven lagi.
"Ck awas!" decak Heaven. Menarik tangannya hingga terlepas dari Zia, lalu menggeser duduknya masih pura-pura sibuk dengan gamenya.
"Aaaaa Kak Heaven maafin gue...." Zia kembali merengek, ikut menggeser duduknya mendekati Heaven. "Janji nggak bakal gitu lagi!" ucapnya sedih.
"Kak Heaven jangan diem aja, maafin gue!" Melihat Heaven yang masih sibuk dengan ponselnya, Zia langsung merebut ponsel itu lalu melemparnya dengan asal hingga jatuh ke lantai. Padahal niatnya tadi hanya sampai di ujung ranjang.
"NA, LO APA-APAAN SIH?"
Mendengar bentakan itu, Zia langsung menyembunyikan wajahnya dengan posisi tengkurap di atas ranjang. Sementara Heaven masih dengan rasa kesalnya langsung beranjak mengambil ponsel yang masih menyala di lantai. Cowok itu kembali memainkan game nya, mengabaikan Zia yang masih tengkurap sambil menangis di sampingnya.
Gadis itu masih saja menyembunyikan wajahnya, hingga lama kelamaan terdengar isakan darinya membuat Heaven menghentikan permainan gamenya. Mau bagaimana pun ia tetap tidak tega mendiamkan gadis itu lama-lama. "Makanya jangan egois! Lo tuh baru sembuh, ngapain makan es krim banyak-banyak?" kesal Heaven.
"Lo ngertiin gue nggak sih? Makan es krim seenak jidat, lo pikir gampang jagain lo tiap hari?" Isakan Zia makin terdengar jelas saat kepalanya menyembul, memperlihatkan air mata yang sudah membanjiri wajah dan sprei di bawahnya.
"Gue capek jagain lo!" ucap Heaven dengan suara meninggi, "Kalau lo nggak mau dengerin gue lagi ya udah, mending gue pulang aja sekarang!"
"Huaaa... nggak mau hiks, jangan pergi!" Zia langsung mendudukkan dirinya lalu memegang tangan Heaven dengan erat, "Kak Heaven maafin gue... janji nggak bakal gitu lagi."
"Boong!"
"Nggak boong!" tangis Zia sambil menggelengkan kepalanya.
"Tadi buktinya makan es krim diem-diem, mana banyak lagi?"
"Maaf, nggak bakal gitu lagi!"
"Mau dengerin kata gue nggak?"
Zia mengangguk dengan cepat, karena hanya Heaven orang yang ia percaya saat ini. Sampai sekarang bahkan anggota keluarganya belum ada yang datang berkunjung, lalu harus ke mana lagi Zia bersandar jika bukan pada Heaven.
"Janji?" Heaven masih menatap datar gadisnya.
"Janji hiks!"
"Ya udah diem, jangan nangis!" ucap Heaven. Membawa gadis yang masih menangis itu ke dalam pelukan, lalu mencium puncak kepalanya dengan sayang. "Gue tuh cuma nggak mau lo kenapa-kenapa Na!"
"Maaf hiks!" isak Zia. Menduselkan kepalanya pada dada bidang Heaven, lalu mengeratkan pelukannya sambil menangis.
"Ya udah diem, jangan nangis lagi!" Bukannya apa, Heaven hanya tidak ingin Zia yang baru sembuh setelah lima hari, malah harus kembali sakit karena terlalu banyak memakan es krim. Tidak tahu kah Zia, betapa bingung dan khawatirnya Heaven yang setiap hari harus melihatnya dalam kondisi sakit.
"Udah, jangan nangis terus! Nggak capek apa?" Heaven mengambil tisu di atas nakas, lalu memberikannya kepada Zia yang sejak tadi tengah berusaha menyedot ingusnya agar tidak keluar. "Buang tuh ingus!" titahnya.
__ADS_1
Zia mengambil beberapa lembar kertas tisu, mengusap wajahnya yang basah lalu membuang tisu itu dengan sembarangan. Tanpa melihat ekspresi wajah Heaven yang sedikit kesal melihat tingkahnya, ia mengambil lagi beberapa lembar tisu lalu mendekatkan pada hidungnya yang sudah tersumbat ingus.
Srooottttt...
Dalam satu kali hembusan, dapat Zia rasakan sebagian besar sumbatan sudah keluar. Sampai beberapa kali hembusan keras gadis itu lakukan, untuk menghilangkan sisa-sisa cairan kental yang masih bersarang di hidungnya. Heaven masih memperhatikan tingkah gadis itu dengan datar, tampak tidak ada rasa jijik sama sekali.
"Iya buang aja terus," ucap Heaven semi memperingatkan. Sedikit kesal melihat Zia sekali lagi hendak membuang tisu kotor ke sembarang arah, padahal sudah dengan susah payah dirinya membersikan kamar luas itu.
Zia terdiam dengan mata mengerjap polos, tangannya yang masih menggenggam tisu masih menggantung di udara. Sedang menunggu atau lebih tepatnya meminta penjelasan, karena belum paham dengan apa yang sedang dibicarakan Heaven.
"Ada tempat sampah Na, kenapa harus buang sampah sembarangan?" ucap Heaven tidak habis pikir, "Nambahin kerjaan aja!" sungutnya.
"Kenapa nggak bilang dari tadi?" Zia mencebikan bibir bawahnya, meraih tangan Heaven lalu memberikan tisu kotor itu tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Anjj-" Heaven memejamkan matanya, menghentikan umpatan yang akan keluar dari mulutnya. "Ya nggak gini juga Na, lo pikir gue tempat sampah?" kesalnya.
"Kata siapa Kak Heaven tempat sampah?" tanya Zia tampak tidak suka.
"Terus kenapa lo kasih tisunya ke gue?" tanya Heaven. Melempar tisu kotor itu ke tempat sampah dan hebatnya itu masuk tepat sasaran.
"Kak Heaven kan sampahnya!" Heaven terkejut ketika Zia justru menyamakan dirinya dengan sampah, dengan bibir menyengir lebar tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Lo itu bener-bener ya!" Dengan geram sekaligus gemas, Heaven mencubit kedua pipi Zia tanpa ampun. "Ngomong apa tadi, coba ulangi hm?"
"Enggak Kak, cuma bercanda kok. Sakit pipinya, jangan dicubit!" Heaven sama sekali tidak peduli dengan rengekan Zia, setelah puas mencubit, ia beralih menguyel-uyel kedua pipi itu hingga bibirnya mengerucut seperti bebek.
"Cimi bircindi jigi, siapa yang ngajarin begitu?" Heaven mengangkat kedua alisnya seraya mendelik, "Nggak ada sopan-sopannya lo sama orang tua!"
"Ish cuma beda satu tahun juga!" dengus Zia lalu menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Tetep aja gue lebih tua dari lo!"
Zia mengambil ponsel di atas nakas, tanpa ingin lagi menanggapi ucapan Heaven sebelumnya. Baru saja hendak menekan tombol power, ponsel itu sudah lebih dulu menyala dan bergetar. Memperlihatkan nama seseorang yang sedang Zia rindukan, namun di saat yang sama juga sedang Zia kesalkan atas ketidakhadiran nya di saat masa-masa sakitnya.
"Kenapa?" Heaven menautkan alisnya melihat Zia justru hanya diam saja menatap ponsel, padahal Daddy Zion sedang meneleponnya saat ini.
"Nggak papa!" jawab Zia. Meletakkan kembali ponselnya dengan posisi terbalik, meski dering telepon masih menyala sampai sekarang.
"Lo nggak mau ngomong sama bokap lo?"
Zia hanya diam saja, sampai sekarang ia masih sedikit kecewa pada keluarganya yang belum juga datang menjenguk dirinya. Entahlah, hatinya masih sangat sensitif terhadap hal-hal sekecil apapun. Padahal Zia sangat tahu apa yang membuat keluarganya tidak bisa datang sampai sekarang.
"Emang lo nggak kangen, hm?" Zia hanya menggelengkan kepalanya, membuat Heaven tergerak untuk menariknya masuk ke dalam pelukan. Cowok itu cukup tahu apa yang sedang Zia rasakan, perasaan kecewa juga akan ia rasakan jika berada dalam posisi Zia saat ini.
"Ya udah kalau nggak mau ngomong, nggak usah cemberut gitu. Jelek!" ucap Heaven seraya bercanda.
"Ish siapa yang jelek? Nggak liat muka gue cantik gini?"
__ADS_1
"Cantik dari mananya? Muka kayak boneka chucky gitu, lo bilang cantik!" cibir Heaven tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Ish kok kayak boneka chucky sih? Serem tau!" protes Zia.
"Terus maunya kayak apa?" Heaven menaikan kedua alisnya bertanya.
"Bukan kayak boneka mampang?" celetuk Zia. Gadis itu terkekeh lalu mencubit lengan Heaven yang juga sedang tertawa setelah mendengar ucapan ngawur dirinya.
"Sama aja!" ucap Heaven masih dengan tawa kecil di bibirnya.
"Abis Kak Heaven kalau ngomong suka sembarangan!" sungut Zia. Namun Heaven masih saja mentertawakan dirinya, membuat Zia refleks memukul lengannya karena kesal.
"Kak?"
"Hm?" jawab Heaven masih sedikit tertawa.
"Jangan ketawa mulu ih!" sungut Zia, "Jalan-jalan aja yuk?" ajaknya.
"Ogah, mending gue tidur!" ucap Heaven lalu merebahkan tubuhnya dan menutup matanya.
"Ish Kak Heaven kan udah janji tadi, mau ajak makan di luar!" ucap Zia sembari menggoyangkan tubuh Heaven.
"Siapa suruh lo bandel!" kata Heaven masih dengan mata terpejam.
"Tapi tadi kan udah minta maaf!" Zia mengerucutkan bibirnya, karena Heaven masih saja membahas masalah es krim.
"Itu hukuman buat lo, karena nggak mau dengerin apa kata gue!"
🎀🎀🎀🎀
Sambil menunggu up, mampir dulu yuk ke karya sahabat literasi Srn. Karyanya keren, seru dan bikin gregetan juga lho! Jangan lupa mampir ya 🥰
Judul: Tentang Bintang dan Galaksi
Karya : Chika Ssi
Blurb
“Kamu itu nggak pantas ikut lomba! Berkacalah! Lihat wajahmu yang buruk itu! Dipenuhi bercak putih nggak jelas! Aku rasa itu adalah alasan, kenapa kamu dicampakkan sama keluargamu sendiri!" ~ Bulan Purnama
"Jika bisa memilih, aku juga ingin memiliki wajah cantik sepertimu, Bulan. Mengenai lomba ini aku hanya mengikuti lomba baca puisi! Bukan lomba kecantikan! Apa orang sepertiku tidak pantas memiliki prestasi walau hanya secuil?" ~ Bintang Bellatrix
"Kamu itu tidak aneh, tapi unik! Nggak usah dengerin apa kata orang. Pura-pura tuli dan buta, terkadang bisa menjadi alternatif terbaik untuk menjaga hatimu sendiri. Setiap orang dilahirkan spesial, dan kamu adalah salah satunya!" ~ Galaksi Milkyway
(Kisah ini berdasarkan pengalaman pribadi author yang didramatisir)
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...
__ADS_1