
"Kok rame?"
Icha yang sedang mengobrol dengan Zia bingung sendiri melihat para sahabat Heaven datang beramai-ramai memasuki ruangan satu persatu. Sangat aneh sekali melihat kedatangan mereka, mulai dari yang paling tengil sampai yang paling kalem pun ada. Tanpa permisi mereka langsung masuk dan mendudukkan diri memenuhi semua sofa di ruangan itu.
"Iya Cha, kita ke sini mau jenguk lo. Cepet sembuh ya!" ucap Nanda sembari meletakkan dua bungkus keresek putih besar di atas meja. Setelah pulang sekolah, Nanda dan beberapa teman lainnya memang langsung menuju rumah sakit, mengetahui kedua sahabatnya juga sedang menemani Icha.
"Makasih Kak Nanda!" ucap Icha seraya tersenyum senang. Nanda hanya menganggukkan kepalanya, lalu satu persatu mulai mengambil isi di dalam bungkusan itu yang tidak lain adalah cemilan.
"Ngapain kalian ke sini, bawa masa lagi. Lo semua mau tawuran apa mau jenguk orang sakit?" tanya Heaven mulai merasa tidak nyaman karena duduknya kini berhimpitan dengan yang lain.
"Ya jenguk orang sakit lah, kita kan anak baik. Ya nggak Gal?" Agam menaik turunkan alisnya, menatap Gala yang sejak tadi hanya diam saja memasang wajah datar.
"Berisik, ganggu!" ucap Gala singkat.
"Buangnya jangan sembarangan bego!" ucap Kenzo menabok tangan Nanda yang baru saja membuang kulit kacang di lantai, "Kalau lo mau bersihin sih nggak papa, biar gue bantuin!"
"Tumben banget lo mau bantuin gue!" ucap Nanda setengah menyindir. Karena, tidak biasanya teman laknat yang satu ini mau membantu dirinya ketika sedang susah.
"Bantu kotorin maksudnya!" sahut Agam tertawa ngakak, diikuti Kenzo yang duduk di samping Nanda dan juga yang lainnya.
"Kampret! Emang temen laknat lo semua!" kesal Nanda tapi tetap saja sibuk dengan makanannya.
Zia hanya diam melihat kelakuan kakak kelasnya, masih tidak habis pikir kenapa mereka selalu datang bersamaan. Datang-datang temannya Heaven yang super petakilan itu langsung membuat keributan, membawa makanan banyak-banyak hanya untuk disantap sendiri. Padahal awalnya Zia mengira bingkisan itu untuk Icha yang sedang sakit. Tapi ternyata... ah sudahlah, anak Clopster memang beda.
"Lo nggak makan?" tanya Heaven yang sejak tadi menatap Zia yang sedang duduk di samping brankar.
"Nggak laper!" Bagaimana Zia mau lapar, melihat teman-teman Heaven yang sedang asik mengemil saja sudah membuatnya merasa kenyang sendiri.
"Gue nggak ditawarin Heav?" tanya Gala yang memang belum memakan apapun.
"Nggak!" jawab Heaven singkat padat dan jelas.
"Kasian banget sih ayang mbeb! Sini aku suapin!" ledek Nanda seraya memberikan kulit kacang pada Gala.
"Jijik nyet! Ngomong gitu lagi gue jahit mulut lo!" ancam Gala.
"Ampun Suhu!" Nanda menyatukan kedua tangan di depan dada, dengan mulut menyengir lebar.
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka, Handa masuk setelah selesai berbicara dengan adiknya. Tidak terkejut melihat banyak orang di dalam ruangan, karena di luar tadi ia sempat melihat kedatangan mereka. Handa memasang wajah kesal, adiknya menelepon hanya untuk membicarakan hal yang tidak penting. Kalau bisa di restart Handa ingin sekali merubah adik laknatnya itu agar menjadi seperti yang diinginkan, sebelum akhirnya resmi di publikasikan.
"Kenapa Nda? Asem banget muka lo?" tanya Zia pada Handa yang sudah duduk di samping Icha.
"Jolie katanya nggak suka makan nasi, lagian aneh-aneh aja tuh bocah kalau ngasih makan! Tau gitu gue titipin Jolie ke Bibik aja!" Sebenarnya Handa ingin menitipkan Jolie pada Bundanya, tapi ternyata Bunda sedang berada di mansion Zielinski sekarang. Akhirnya ia menitipkan pada adiknya yang begajulan itu, alhasil Jolie saat ini mungkin sedang disiksa olehnya.
"Jolie siapa Nda?" tanya Nanda sedikit bersemangat mendengar nama cewek. Jiwa playboy nya meronta, menyadari semua cewek yang dekat dengan Handa tidak ada yang jelek.
"Ikan peliharaan gue! Kenapa, mau lo embat juga?" jawab Handa sedikit ketus.
"Hahaha... makan tuh ikan!" ucap Agam tertawa ngakak diikuti yang lainnya. Nanda hanya menunjukkan raut wajah kecewa, gagal sudah mendekati Jolie yang dikira seorang cewek.
"Gue pikir cewek, kalau iya mau gue jodohin sama Agam biar nggak jomblo terus!" ucap Nanda membalas tawa ejekan Agam.
"Kenapa jadi bawa-bawa gue?" tanya Agam cengo. Nanda hanya mengendikan bahu cuek, posisinya kini sudah impas satu banding satu dengan Agam.
"Ngomong-ngomong gue juga punya Ikan peliharaan, cowok lagi! Gimana kalau kita jodohin aja?" tawar Nanda.
"Nggak sudi gue! Pemiliknya aja kayak lo apalagi ikannya!" tolak Handa cepat.
"Ck tetep aja nggak bisa! Si Mayang kan ikan arwana, punya Handa itu ikan koki! Nggak muat goblok!" ucap Agam yang memang tahu ikan milik Handa dan Nanda.
"Anjrit nggak kebayang ikan arwana sama ikan koki! Gimana konsepnya tuh?" sahut Kenzo ngakak.
"Ah lo berdua mah nggak tau, ikan arwana gue itu cewek. Maksudnya gue mau jodohin sama Juan, ikan koi cowok yang baru gue beli kemaren! Siapa tahu bisa dijodohin sama ikan koki, jadi perkawinan silang gitu!" ujar Nanda menggebu.
"Nggak makes sense banget!" ucap Kenzo menggeleng.
"Yakan siapa tahu jadi, ntar keturunannya bisa blasteran. Kayak Agam gitu, icikiwir." Nanda manggut-manggut bersemangat, sepertinya meledek Agam kali ini sangat menarik baginya.
"Kok jadi bawa-bawa gue?" kesal Agam.
"Ya elah Gam, di sini kan yang blasteran cuma lo doang!" ujar Nanda.
"Kak Nanda mau coba perkawinan silang? Sama wulan peliharaan Icha aja mau nggak?" tanya Icha dengan semangat. Kapan lagi kan ada hewan peliharaan yang dijodoh-jodohkan seperti siti nurbaya.
"Lo pelihara ikan juga, Cha?" tanya Nanda.
__ADS_1
"Bukan!"
"Terus?"
"Burung kenari!" jawab Icha polos. Membuat Zia dan yang lainnya ingin tertawa detik itu juga. Itu lebih tidak nyambung dari sebelumnya.
"Aduh Cha, gue cuma peliharaan ikan. Kalau burung nggak bisa, burung gue lain daripada yang lain!" Nanda menggaruk kepalanya kasar, sesulit itu berbicara dengan Icha yang polos kelewat bego.
"Kak Nanda punya burung apa emangnya?" tanya Icha lagi dengan mata melebar penuh penasaran.
"Buwung apa nggak tuh?" sahut Kenzo heboh, "Buwung apa Nan?" tanyanya.
"Buwung puyuh!" jawab Agam tertawa ngakak diikuti Kenzo dan yang lainnya.
"Kalau menurut mata batin gue sih burungnya Nanda itu burung tekukur hahaha...!" sahut Aldi tertawa.
"Bhahaha... Tekukur yang bunyinya cuma dua kali doang, waktu pagi hari sama pas lihat setan!" balas yang lainnya membuat ruangan riuh dengan gelak tawa. Kecuali Gala, Heaven dan para cewek yang masih waras, sementara Icha ikutan tertawa karena tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan.
Nanda hanya diam saja, malu juga kali membicarakan burungnya di hadapan para cewek. Meskipun terkenal playboy, Nanda masih waras untuk tidak bermain burung-burungan apalagi untuk memamerkannya. Tapi tidak tahu juga bagaimana kedepannya, namanya juga manusia.
"Lo punya temen gini amat sih Heav?" sindir Gala tidak habis pikir.
"Sorry, nggak kenal gue sama mereka!" jawab Heaven berpura-pura jijik.
"Parah banget lo berdua, ah nggak asik!" cibir Agam.
"Jadi yang bener Kak Nanda punya burung apa?" tanya Icha lagi.
"Perkutut Cha, udah kecil nggak berguna lagi. Ciahhh...!" jawab Agam langsung mendapat jempol dari Kenzo dan yang lainnya.
"Oh Jadi-"
"Udah Cha! Jangan nanya lagi!" cegah Zia yang sudah mendapatkan sinyal bahwa Icha akan kembali mengundang jiwa absurd para sahabat Heaven. Sementara Handa langsung menutup mulut Icha, kalau keterusan bisa bahaya. Semua cowok itu nggak ada yang waras, membahas pasukan burung di hadapan para cewek. Kan jadi traveling sendiri, pembahasan itu telah menodai jiwa polos mereka.
*********
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😇
__ADS_1