
Paman Jo Apa perlu kami bantu Nona? Sepertinya keadaan semakin tidak mendukung!
^^^Zianna Azkia Nggak perlu Paman, biar Kak Heaven sama yang lainnya aja yang urus. Kali ini ada baiknya Paman Jo jangan ikut campur dulu.^^^
Zia yang masih bersembunyi di balik pohon bersama Icha kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku, beberapa kali kepalanya menyembul untuk memeriksa keadaan di depan markas Gorized. Terlihat dari kejauhan, suasana semakin menegang ketika Handa keluar dengan tangan terikat tali. Zia menajamkan pendengarannya, penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan sejak tadi. Sementara di sampingnya, Icha dengan serius masih memegangi lengan Zia karena merasa sedikit takut.
"Zia, Icha takut. Lihat tuh musuhnya Kak Heaven serem-serem semua, mana jelek-jelek lagi!" lirih Icha bergidik ngeri melihat pasukan Gorized yang cukup banyak.
"Sssttt... jangan berisik! Lo tenang aja, kita aman di sini kok!" Zia mencoba menenangkan gadis penakut di sampingnya, dengan sorot mata yang masih mengawasi percakapan sengit antar orang-orang di depan sana.
Hingga beberapa menit berlalu, percakapan mereka malah berujung membuat Zia terkejut. Pasalnya dari kejauhan ia melihat seorang cowok menarik paksa Handa, sembari mendekatkan pisau lipat ke arah lehernya. Zia yang tidak ingin melihat sepupunya terluka, tanpa pikir panjang langsung berlari keluar dari tempat persembunyiannya. Sementara Icha yang tidak ingin ketinggalan, segera berlari mengikuti Zia yang sudah sampai di dekat Heaven dan teman-temannya berada.
"Handa!" Zia menghentikan langkah larinya, menatap sepupunya dengan raut wajah penuh kekhawatiran luar biasa.
Heaven dan teman-temannya sontak terkejut melihat kedatangan Zia dan Icha yang tiba-tiba, di saat suasana semakin tidak terkendali. Dengan cepat Heaven menarik Zia, membawa gadis itu untuk bersembunyi di belakang tubuhnya. Begitu juga dengan Icha yang baru sampai, langsung ditarik oleh Gala untuk mendekat. Sementara Handa yang masih terdesak, hanya mampu menggeleng kecil untuk memperingatkan Zia agar tidak gegabah lagi dalam bertindak.
"Lo ngapain keluar?" Heaven menggeram tertahan, dalam keadaan seperti ini ia sudah merasa akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Terlihat Regha menyeringai melihat kedatangan dua orang perempuan cantik itu, seakan tidak menyangka sebelumnya jika Heaven akan membawa seorang perempuan dalam keadaan genting seperti ini. Tapi baginya itu tidak masalah, karena hal ini malah akan memberikan banyak peluang untuk melancarkan rencana yang sudah disusunnya.
"Wow gue nggak nyangka lo bakal bawa cewek cantik ke markas Gorized!" Regha tersenyum tipis pada Zia yang masih berada di belakang Heaven, "Cukup menarik!" ucapnya.
__ADS_1
"Jangan macem-macem, atau gue bakal bikin lo menyesal nantinya!" geram Heaven memperingatkan.
"Bukan macam-macam, kita cuma minta satu macam. Akui perbuatan lo yang udah buat Hara koma di kantor polisi!" ucap Hugo yang masih menyandra Handa dengan sebuah pisau yang hampir menempel pada lehernya. "Atau... gue bakal habisin nih cewek!"
"Coba aja kalau bisa!" sahut Handa.
Dengan cepat gadis itu menahan tangan yang masih menodongkan pisau pada lehernya, kemudian tangan satunya lagi menyikut perut Hugo dengan sekuat tenaga hingga membuat pisau itu terlepas dan jatuh ke tanah. Hugo tertunduk merasakan sakit luar biasa pada ulu hatinya. Dan secara tiba-tiba tubuhnya terasa melayang lalu terbanting keras di tanah, membuatnya semakin memekik kesakitan.
Semua orang terperangah melihat kemampuan bela diri Handa, yang dalam sekejap mampu melumpuhkan Hugo. Membanting tubuh itu dengan begitu mudah, lalu melintir tangannya tanpa ragu-ragu. Mereka juga tidak menduga kalau sejak tadi Handa hanya berpura-pura jika kedua tangannya masih terikat tali. Padahal Handa sudah berhasil melepas tali itu saat tertinggal di dalam markas seorang diri sebelumnya.
Serangan mendadak Handa tadi sekaligus sebagai pertanda perkelahian antar dua geng itu dimulai. Dengan cepat Heaven dan teman-temannya maju, menyerang semua anggota Gorized untuk membantu Handa. Sebelum itu Gala sudah lebih dulu menarik Zia dan Icha untuk menjauh, karena sudah dipastikan itu akan sangat berbahaya untuk keduanya. Semua orang di sana mulai baku hantam tidak terkendali, termasuk Handa yang dengan hebatnya mampu mengalahkan lawan.
Zia terduduk merasakan sesak yang datang secara tiba-tiba, ketika melihat perkelahian itu. Semua bayang-bayang masa lalu kembali berdatangan, membuat lehernya terasa sakit luar biasa. Bahkan untuk berteriak saja Zia sudah tidak mampu, air mata kini sudah membanjiri wajahnya. Tubuhnya bergetar hebat menyaksikan perkelahian semua orang di depan sana, termasuk kedua sepupunya. Sementara Icha dengan ketakutannya malah meringkuk sambil menutupi matanya, agar tidak melihat perkelahian yang menurutnya menakutkan itu.
"Handa awas!"
Kenzo dengan cepat berlari ke arah cowok yang hendak menyerang Handa menggunakan pisau lipat dari belakang, pada saat gadis itu sedang sibuk menghalau serangan demi serangan yang Hugo berikan. Kenzo dengan cepat menendang tangan cowok yang masih memegang pisau, hingga membuat pisau itu terpelanting jauh entah kemana. Cowok yang tidak lain adalah Amrul itu seketika memekik kesakitan saat mendapat serangan mendadak dari Kenzo, hingga membuatnya terkapar lemah di tanah sambil memegang dadanya yang terasa nyeri.
"Mending lo jagain Zia!" titah Kenzo pada Handa yang baru saja menumbangkan Hugo untuk yang kedua kalinya.
"Zia?" Handa yang teringat pada sepupunya segera berlari mendekat, kemudian memeluk tubuh lemah gadis itu sambil mencoba meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
Heaven masih terus memberikan serangan demi serangan pada Regha, mengincar titik lemah untuk melumpuhkan cowok itu. Namun hebatnya beberapa serangan itu mampu Regha tepis dengan mudah, membuat Heaven harus menambah kecepatan serangannya untuk mencapai titik lemah. Hingga pada akhirnya Regha tumbang, saat dengan tidak sengaja Heaven menendang biji kelengkeng nya. Padahal saat itu Heaven berencana menendang perut Regha yang baru saja membuatnya tersungkur di tanah, namun ternyata tendangan itu melesat karena Regha terlalu tergesa-gesa hendak menyerang dirinya.
"Anjir, main curang lo!" geram Regha sambil memegang bagian bawah yang terasa nyeri-nyeri sedap.
"Nggak ada yang namanya curang, siapa suruh biji lo nangkring di situ!" ucap Heaven sembari menunjukkan seringainya.
"Sialan lo!"
Bugh
Sebuah pukuan keras mendarat di pipi Regha membuatnya terkapar di tanah dengan darah segar kembali mengalir di sudut bibirnya. Tidak menunggu lama, lagi-lagi Heaven mendapat serangan dari anak Gorized lainnya. Perbedaan jumlah anggota yang cukup banyak membuat Heaven dan teman-temannya harus extra hati-hati, apalagi musuh bebuyutannya kali ini cukup sulit untuk dilumpuhkan. Kemampuan bela diri mereka semakin bertambah bagus saja, setelah keluar dari rumah sakit waktu itu.
Di saat semua orang tengah sibuk dengan lawannya masing-masing, Amrul yang sudah tumbang diam-diam mendekati Handa yang sedang fokus menenangkan Zia. Langkahnya tertatih bergerak pelan menuju dua gadis itu, sambil membawa benda tajam miliknya yang sudah ditemukan. Masih ada dendam di hatinya karena Handa telah membuat kedua sahabatnya dipenjara. Meskipun ia sendiri belum mengetahui kebenarannya, namun ia sangat yakin bahwa Handa lah orang yang telah menangkap kedua sahabatnya.
"HANDA AWAS!" teriak Nanda dari kejauhan.
Semua anak Clopster begitu terkejut saat melihat Amrul sudah berada dekat dibelakang Handa, bahkan pisau di tangannya sudah bersiap melukai gadis itu dari belakang. Gala yang posisinya cukup dekat langsung berlari untuk menarik Handa, hingga tanpa diduga tarikan itu malah membuat Handa melepaskan pelukannya pada Zia yang masih terduduk lemas. Namun siapa sangka, Agam yang juga hendak menyelamatkan Handa malah berdiri tepat di hadapan Amrul. Menghalangi gerakan pisau yang hendak menuju Zia yang masih terduduk.
"AGAM!"
Semua orang terkejut melihatnya, termasuk Zia yang posisinya masih tepat berada di belakang Agam. Gadis itu semakin tidak mampu menahan rasa sakit yang berulang kali menghantam pertahanannya, saat melihat dengan mata kepalanya sendiri beberapa tetesan darah jatuh di antara kaki Agam. Darah segar itu mengingatkan Zia pada kejadian pembunuhan saat dirinya diculik dulu, membuat pikirannya semakin kacau dengan pandangan kian meremang. Hingga akhirnya gadis itu terkulai tidak sadarkan diri di belakang Agam yang masih menahan rasa sakitnya.
__ADS_1
*********
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...