Heavanna

Heavanna
124. BENDA PUSAKA


__ADS_3

"Kayaknya kita nggak bisa diem aja, gue yakin Zia mau bicara jujur ke Kak Heaven pas istirahat tadi. Momentnya kayak pas aja gitu, sepi nggak ada siapapun selain mereka berdua!"


Rexie berjalan melewati koridor sekolah yang cukup sepi itu, baru saja ia kembali dari toilet setelah menyelesaikan hajatnya. Jam pelajaran memang sedang berlangsung, waktu pun sudah semakin sore. Mungkin tidak ada setengah jam lagi, bel pulang sekolah akan berbunyi.


"Tapi ya balik lagi, itu terserah sama lo. Kan lo yang pengen misahin mereka, bukan gue!"


Ponsel bewarna pink miliknya masih menempel di telinga, gadis itu sedang menerima panggilan dari seseorang. Jika bukan karena sesuatu yang penting, Rexie sebenarnya malas mengangkat telepon tersebut sebelumnya.


"Bukannya lo juga pengen mereka pisah?"


"Gue nggak segila lo!" Terdengar kekehan dari seberang telepon, Rexie memutar bola matanya malas. "Apa yang gue ingin tentang Zia, itu bukan urusan lo!"


"Oke, oke! Lo tau dari mana emangnya, kalo Zia mau ngomong jujur ke Heaven? Secara lo kan jauh dari dia sekarang!"


"Gue nggak sengaja denger pembicaraan Zia sama Handa tadi pagi, tapi belum tentu juga. Gue cuma feeling aja sih, soalnya gue denger sendiri, kalo dia mau bicara jujur ke Kak Heaven!"


Memang benar, saat melewati ruang kelas Zia tadi pagi, Rexie tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka dari balik tembok. Semua pembicaraan bisa terdengar cukup jelas karena di sana terdapat jendela kaca yang sedikit terbuka. Apalagi beberapa kali Handa terdengar meninggikan suaranya, meski itu hanya mencapai berapa desibel saja.


Rexie sengaja menyandarkan tubuhnya di tembok untuk mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Namun tidak berselang lama, Icha datang melihat apa yang sedang dilakukannya. Rexie yakin, gadis polos itu sengaja berteriak heboh karena menyadari apa yang sedang dilakukannya. Apalagi Icha hanya membicarakan seekor burung yang sangat tidak ada manfaatnya sama sekali.


"Gue denger Zia juga punya misi rahasia, tapi sayang dia nggak jadi cerita. Karena temennya yang lain keburu dateng!"


"Misi rahasia? Misi apaan?"


"Ya mana gue tau!"


"Biarin aja dulu, gue mau lo terus fokus awasi dia!"


"Ya nggak bisa lah, lo pikir gue nggak ada kerjaan lain apa, disuruh ngawasin dia dua puluh emat jam?"


"Siapa juga yang nyuruh lo gitu? Gue cuma bilang awasi dia, setiap di sekolah. Tapi kalo lo bisa, dua puluh empat jam juga gak masalah!"


"Gue nggak ada waktu, udah ah gue mau masuk kelas!"


Rexie memutuskan panggilan, setelah sampai di depan kelasnya. Sebelum masuk ke dalam kelas, ia lebih dulu memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu merapikan penampilannya. Gadis itu hendak masuk, sebelum beberapa cowok yang datang melintas berhasil mengalihkan atensinya.


Kenapa mereka? Kok lari-lari gitu? Apa ada masalah?


Rexie membatin sambil terus menatap beberapa cowok yang tengah berlari kian menjauh. Ia tidak tahu siapa mereka, namun jika dilihat-lihat kembali, sepertinya mereka semua adalah kakak kelas dua belas.


Udahlah! Nggak kenal ini, ngapain juga gue pusing.


Rexie mengendikan bahunya cuek, kemudian masuk ke dalam kelasnya. Ia memang tidak kenal dengan para cowok itu, karena itu ia tidak ingin terlalu memusingkannya.


*********


"Zia, gue balik duluan ya sama Icha. Bye!" pamit Handa setelah selesai mengemasi barang-barang miliknya.


"Iya sana, bosen gue liat muka lo berdua mulu!" seloroh Zia terkekeh.


"Yee temen nggak ada adab lo emang!" sewot Handa dari kejauhan.


Zia terkekeh sambil menggelengkan kepalanya kecil. Tangannya melambai mengiringi kepergian kedua sahabatnya, sebelum akhirnya ia mengenakan tas miliknya. Di dalam kelas itu sudah tidak ada satu orang pun, semua siswa memang sudah pulang satu persatu dari sepuluh menit yang lalu.


"Tumben Kak Heaven belum sampai."


Di luar kelas, Zia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Heaven. Karena tidak kunjung melihat, ia memutuskan untuk menghampiri cowok itu di kelasnya. Sesampainya di kelas Heaven, ia justru dibuat bingung oleh suasana yang sudah sangat sepi. Tidak ada suara apapun di sana, dan dugaannya terkonfirmasi ketika ia mengintip ke dalam kelas. Heaven dan semua teman-temannya sudah tidak ada di kelas.


"Kak Heaven ke mana, kok nggak ada?" monolog Zia lalu mengedarkan pandangannya.

__ADS_1


Zia mengambil ponselnya di dalam saku, kemudian mendial nomor ponsel Heaven. Tidak ada jawaban, Zia memutuskan untuk duduk di depan kelas sejenak. Mencoba menghubungi nomor Heaven lagi, namun tetap saja tidak ada jawaban.


"Ck Kak Heaven ke mana sih?" gumam Zia mulai gusar. Menatap ponselnya yang belum juga tersambung.


Menyadari waktu sudah semakin sore, Zia memutuskan untuk pergi keluar. Sebentar lagi gerbang sekolah akan ditutup, jangan sampai ia terjebak di dalam sekolah seorang diri. Sambil berjalan, ia mencoba menelepon kembali nomor Heaven. Panggilan berdering, namun anehnya Heaven tidak kunjung mengangkatnya. Zia mulai curiga ada sesuatu yang terjadi pada cowok itu sekarang.


"Halo! Kak Heaven, lo di mana? Gue cariin juga!" Zia bertanya dengan nada kesal, sesaat ketika panggilan telepon tersambung.


"Halo Na! Lo masih di sekolah kan? Tungguin, gue masih ada urusan sebentar. Jangan ke mana-mana, nanti gue jemput lo! Ok?"


"Tap-tapi Kak Heaven ---"


Telepon diputuskan secara sepihak, Zia mengerutkan kening menatap ponsel yang sudah tidak tersambung. Belum sempat bertanya, Heaven sudah memutuskan panggilan. Aneh, Zia mulai merasa sedikit khawatir dengan cowok itu. Apalagi sebelumnya sempat terdengar suara beberapa orang di seberang telepon, tampaknya Heaven sedang bersama teman-temannya saat ini.


"Kak Heaven aneh banget!" ucap Zia.


Gadis itu mencoba berpikir positif. Mungkin memang benar, Heaven sedang ada urusan penting saat ini. Akan tetapi, sangat sulit baginya menghilangkan rasa penasaran itu. Zia ingin sekali mengetahui apa yang sedang Heaven lakukan saat ini. Namun keadaan sangat tidak memungkinkan baginya untuk mengetahui semua itu.


Di area sekolah itu suasana sudah sangat sepi, Zia memutuskan untuk menunggu Heaven di halte bus terdekat. Mau bagaimana lagi? Gerbang sekolah akan ditutup, karena sudah tidak ada lagi orang di sana. Tidak banyak kendaraan yang melintas, beberapa orang yang sebelumnya berada di halte, kini sudah pergi bersama bus terakhir yang masih beroperasi sore itu.


Sudah sekitar sepuluh menit Zia menunggu, namun Heaven belum juga datang. Hingga tiba-tiba seorang datang dan duduk di samping Zia, seketika gadis itu menggeser duduknya. Sedikit merasa was-was karena penampilan orang itu sangat tertutup, memakai masker berwarna hitam serta jaket dan topi yang senada warnanya.


"Lagi nungguin siapa Neng?" tanya orang tersebut. Terdengar tidak jelas karena tertutup masker.


Zia hanya menoleh tanpa menjawab, bagaimanapun ia tidak kenal siapa orang itu. Gadis itu mencoba menghubungi Heaven kembali, namun tetap saja tidak ada jawaban. Suasana hatinya mulai tidak tenang, Zia memutuskan untuk pergi sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Ayo kak angkat telfon gue!


Gadis itu masih menatap gusar ponselnya yang tidak kunjung tersambung. Semakin merasa gusar karena cowok misterius itu ternyata juga beranjak mengikuti dirinya.


"Mau ke mana? Biar gue anterin! Udah sore, nggak bagus cewek cantik pulang sendirian!" Cowok itu memegang bahu Zia, mencegahnya yang hendak pergi dari tempat itu.


Dia berjalan kembali, namun lagi-lagi cowok misterius itu menahan dirinya. "Udah sore, bahaya cewek cantik kayak yo pulang sendirian!" ucapnya lagi.


Tanpa permisi, cowok itu langsung meraih tangan Zia lalu menariknya. Tentu saja Zia tidak tinggal diam, gadis itu memberontak sekuat tenaga. Dari kejauhan, sebuah mobil berwarna hitam datang menghampiri. Zia menduga pengendara mobil itu satu komplotan dengan cowok yang masih mencoba menarik paksa dirinya saat ini.


"LEPASIN GUE BILANG!"


Zia berteriak kencang, sambil mencoba melepaskan pegangan tangan cowok itu. Ia teringat dengan kata-kata yang Handa ucapkan beberapa waktu lalu. Jika ada seorang cowok yang ingin menyakitimu, maka tendang saja benda pusaka kemerdekaan yang dimilikinya.


Benda pusaka? Pusaka yang mana lagi?


Zia bingung, benda pusaka seperti apa yang sebenarnya di maksud oleh Handa.


"Ikut gue ayok!" Cowok itu kembali menarik Zia mendekati mobil.


"Lepasin gue atau gue teriak sekarang juga!" ancam Zia.


"Teriak aja kalo berani, nggak ada siapapun yang bakal denger teriakan lo! Di sini nggak ada orang lain, selain kita!"


Zia masih berusaha melepaskan cengkraman cowok itu. "Gue nggak mau ikut cowok jelek kayak lo!"


"Anjing, lo ngatain gue jelek?" kesal cowok itu.


"Kalo lo ganteng mana mungkin pake masker? Lo pasti jelek banget kan, mukanya burik!" cibir Zia lagi masih berusaha melepaskan cengkraman sambil mengulur waktu.


"Gue ganteng sialan, lee min ho aja kalah!" balas cowok itu kesal.


"Nggak percaya, lo pasti jelek. Dasar jelek, gue nggak mau ikut sama lo!"

__ADS_1


"WOY KENAPA MALAH RIBUT, BURUAN BAWA DIA MASUK GOBLOK!" Suara seorang cowok yang masih ada di dalam mobil menghentikan berdebatan mereka berdua.


"Sabar anjing, nih cewek banyak bacot juga ternyata!" balas cowok yang masih memegang tangan Zia. "Buruan ikut gue, lo mau di sini sendirian? Cowok lo juga nggak akan dateng buat jemput!"


"Gue bilang nggak mau, maksa banget sih jadi orang. Lepasin, lo itu jelek. Gue alergi sama orang jelek, lo juga pasti nggak punya benda pusaka kemerdekaan kan?" ucap Zia masih mencoba melepaskan diri.


"Pusaka kemerdekaan?" Cowok itu mengernyitkan bingung, sedetik kemudian ia baru menyadari apa yang dimaksud gadis itu. "Anjing, mesum juga ternyata ceweknya Heaven!"


"Mesum?" gumam Zia bingung. "Lo punya nggak?" tanyanya lagi.


"Ya punya lah sialan, lo pikir gue cowok apaan. Semua cowok juga punya kali, tapi btw punya gue lebih besar kalo lo penasaran!" ucap cowok itu mulai terbawa suasana.


"Nggak penasaran, paling juga sama buriknya kayak muka lo!"


"Bangsat, mana ada. Punya gue glowing, mulus nggak ada bopeng sama sekali!" ucap cowok itu tidak terima.


"Nggak percaya!"


"Anjir, bodo amat lah, lo mau percaya atau enggak! Buruan ikut gue, udah sore ini!" Cowok itu kembali menarik tangan Zia.


"Nggak mau nanti alergi gue kambuh lagi! Coba tunjukin dulu makanya, benda pusaka lo!"


"Anjir, nggak beres nih ceweknya Heaven! Konslet otak lo?" Cowok itu menggeleng tidak habis pikir, namun anehnya ia tetap menunjukkan di mana letak benda pusaka miliknya melalui sudut matanya.


"Apa? Mata lo siwer?" tanya Zia bingung, tidak paham dengan isyarat tersebut.


"Bukan bego, katanya lo pengen liat benda pusaka!" Cowok itu kembali memberikan kode ke bawah, setelahnya, Zia baru menyadari dengan kode tersebut.


"Oh jadi itu yang namanya pusaka kemerdekaan?!" ujar Zia. Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu langsung melayangkan tendangan mautnya.


Bugh


"Arggghhhh... bangsat, benih gue!"


Cowok itu tersungkur ke bawah, merasakan sakit di bagian perut serta benda pusaka miliknya. Menyadari hal itu, Zia menggunakan kesempatan untuk segera kabur. Zia berlari meninggalkan cowok itu, sementara dua cowok di dalam mobil yang melihat hal itu segera keluar. Salah satu di antara mereka langsung mengejar Zia, sebelum pergi jauh.


"Bego lo, mau aja dikadalin sama cewek!"


"Mana gue tau sialan!" ucap cowok yang tengah memegangi perutnya yang terasa nyeri mules.


Sementara di sisi lain, Zia masih berlari menghindari kejaran cowok di belakangnya. Sayangnya kecepatan lari yang dimiliki gadis itu tidak sepadan dengan cowok di belakangnya, hingga tidak diduga sebuah pukulan mendarat di tengkuk leher gadis itu. Langkah lari gadis itu langsung terhenti, bersamaan dengan pandangannya yang mulai meremang merasakan sakit di lehernya. Hingga akhirnya, ia terjatuh pingsan di pinggir jalan.


"Sialan, belum apa-apa udah nyusahin. Untung cantik!"


🎀🎀🎀


Selamat berbuka puasa pren, tetap semangat ya puasanya 🥰


*********


Ada rekomendasi karya novel keren milik temanku, jangan lupa mampir ya 🥰


Judul : CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER


Napen : CovieVy


Reza Firto Adijaya adalah CEO muda, berusia 27 tahun. Seorang pria berlimpah akan harta, tahta, dan wanita. Bersiteru dengan Aurora Safitri, seorang mahasiswi miskin yang mendapat SISTEM KEKAYAAN: HACKER. Setiap misi yang diselesaikan, akan dibayar mahal oleh SISTEM. Misinya antara lain adalah Mengeksploitasi keamanan data pada perusahaan. Kebetulan Reza mendirikan perusahaan dalam bidang Online, membuat dia selalu menjadi bulan-bulanan misi dari NONA HACKER yang satu ini. Suatu saat Aura ditangkap oleh bandit suruhan Reza. Lalu terjadi hal yang tak terduga membuat Reza akhirnya tergila-gila pada gadis itu. Namun, Aura sedang mencintai pria masa sekolahnya. Bagaimana perjuangan Reza untuk mendapatkan hati Aura?


__ADS_1


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2