
Melihat Agam terluka, Handa dengan segera menghampiri setelah menepis tangan Gala yang masih memegang pergelangan tangannya. Pikirannya begitu kacau, mendapati Zia pingsan dan juga Agam yang dengan rela terluka hanya untuk menolong dirinya dan Zia. Tanpa basa-basi gadis itu langsung menendang Amrul yang masih berdiri di hadapan Agam, dengan kekuatan penuh karena saking marahnya.
"Sialan lo!" geram Handa. Memegang kerah baju Amrul dengan erat lalu memukuli wajahnya tanpa ampun.
"Lo yang lebih sialan! Karena lo temen gue di penjara!" ucap Amrul yang mulai kesulitan mengatur nafasnya.
"Itu kesalahan temen lo sendiri sialan!" geram Handa lalu kembali menyerang Amrul tanpa ampun.
Agam yang melihat hal itu segera membuang pisau yang masih berada dalam genggamannya, lalu menghampiri Handa yang masih memukuli Amrul secara membabi buta. Begitu marahnya dia, sampai tidak peduli lagi dengan keadaan Amrul yang sudah dipenuhi luka lebam akibat berbagai serangan pukulan darinya. Semua yang melihatnya pun seketika tercengang, melihat sisi lain dari Handa yang bisa berubah lebih menyeramkan dari biasanya.
"Stop Handa!" titah Agam. Tangan kirinya yang tidak terluka langsung meraih tangan Handa, mencegahnya yang hendak memberikan pukulan untuk kesekian kalinya pada Amrul yang sudah terkulai lemah.
Handa menghentikan pergerakannya, menatap sendu wajah dan tangan Agam yang terluka secara bergantian. "Kak, tangan lo luka!"
"Gue nggak papa!" ucap Agam. Dengan cepat menarik tangan Handa, membawanya masuk ke dalam pelukan. "Lo nggak papa kan? Gue nggak mau lo kenapa-kenapa!"
Handa sempat tersentak dengan apa yang dilakukan Agam, namun tidak menunggu lama ia langsung membalas pelukan cowok itu. "Gue nggak papa!"
Sementara Heaven yang sudah selesai menumbangkan lawannya, langsung berlari kencang menghampiri Zia yang sudah tidak sadarkan diri. Tangannya yang terluka akibat perkelahian tadi bahkan sudah tidak dihiraukan lagi. Melihat Zia terkulai tidak berdaya membuat pikirannya begitu kacau, Heaven sangat tidak ingin gadisnya kenapa-kenapa. Matanya membelalak melihat leher Zia yang memerah, nampak sangat jelas jika gadis itu telah mencekik lehernya sendiri sebelumnya. Wajahnya yang pucat dengan keringat dingin yang membasahi kening, membuat Heaven semakin merasa khawatir.
"Anna bangun!"
Heaven menepuk pipi gadis itu berulang-kali, berharap tepukan pelan itu mampu membangunkan Zia dari pingsannya. Namun ternyata nihil, yang ada Zia tidak kunjung membuka matanya dan berujung membuat kekhawatiran Heaven semakin menjadi. Kenzo dan Nanda yang telah selesai melumpuhkan semua musuhnya pun segera mendekat, untuk melihat kondisi Zia dan Agam. Sementara Icha masih menelungkupkan wajah di sela-sela lututnya, sedang merasa ketakutan setelah melihat perkelahian hebat yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Heav, lo bawa hp nggak? Kita harus bawa Zia ke rumah sakit secepatnya!" Kenzo meraba semua saku yang menempel di bajunya, namun tidak menemukan ponsel yang dicari miliknya. Ia baru teringat ponselnya tertinggal di tas, begitu juga dengan Heaven yang hanya mampu menggeleng masih mengkhawatirkan keadaan Zia.
Kenzo melihat ke arah Nanda yang ternyata sedang membalut luka di tangan Agam, menggunakan sobekan kain seragam miliknya untuk sementara waktu. "Nan, panggil ambulance cepet!"
"Gue nggak bawa hp!" jawab Nanda di sela kegugupannya melihat darah yang masih keluar dari telapak tangan Agam.
"Diem Nda, diem. Gue makin susah ngiketnya kalau lo nangis terus!" gerutunya pada Handa yang masih sesenggukan. Disusul oleh suara Icha yang telah menyadari keadaan sekitar, membuat Nanda semakin kebingungan tidak tahu bagaimana caranya mengikat perban itu.
Pletak
"Anjing, sakit bego!" Nanda mengelus kepalanya yang baru saja dijitak oleh Agam, lalu menatap kesal cowok yang di saat terluka seperti ini masih saja mampu menganiaya dirinya.
__ADS_1
Agam masih menatap tajam, tidak terima mendengar Nanda memarahi Handa yang sedang menangis karena mengkhawatirkan dirinya dan juga Zia. "Makanya kalau ngomong itu dijaga, nggak lihat dia lagi khawatir!?"
"Nyenyenye masih sempet-sempetnya lo belain dia. Lihat tangan luka, harusnya lo tuh belain gue. Masih untung gue baik, kasih seragam gue buat nahan darah lo!" cibir Nanda kesal. Cowok itu menabok tangan Agam yang baru saja selesai di perban olehnya, membuat si empunya tangan meringis menahan sakit.
"Anjir, seragam secuil aja dihitung-hitung. Emang temen siake lo!" balas Agam tidak kalah kesal.
"Lo berdua bisa diem gak sih, atau nggak cari mobil kek. Biar kita bisa bawa Zia ke rumah sakit secepatnya!" geram Kenzo. Bukannya membantu mencarikan solusi, kedua sahabatnya malah sibuk mendebatkan sesuatu yang tidak penting. Cowok itu kembali terdiam, sedang menunggu kepastian dari Gala yang nampaknya sedang menghubungi pihak medis untuk segera datang ke tempat mereka berada saat ini.
"Gimana Gal?" tanya Heaven yang sudah di selimuti rasa khawatir sejak tadi. Tangan Zia terasa begitu dingin, beberapa kali Heaven memeriksa denyut jantung di pergelangan tangan gadis itu untuk memastikan bahwa tidak akan terjadi hal buruk pada Zia.
"Udah, mungkin beberapa menit lagi mereka dateng!" jawab Gala sembari memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
"Kak mobil gue?" Handa menunjuk pada mobilnya yang terparkir di depan markas Gorized.
"Kenapa nggak bilang dari tadi kalau lo bawa mobil?" tanya Kenzo sedikit geram.
"Tapi gue nggak tau kuncinya ada di mana!" ucap Handa bingung. Karena memang sebelumnya kunci mobil berada di tangan salah satu anak Gorized yang telah membawa dirinya dengan paksa.
Kenzo menepuk jidatnya, sedikit gemas sekaligus geram dengan keadaan. Mengapa di saat-saat seperti masih saja ada kendala yang mempersulit. "Aishh ada-ada aja kendala!"
"Kak, bawa Zia ke mobil!" titah Handa yang masih sesenggukan.
"Lo yakin?" tanya Heaven memastikan. Pria yang keluar dari mobil itu sangat mencurigakan menurutnya, Heaven tidak mungkin membawa Zia masuk ke dalam lubang bahaya untuk yang kedua kalinya.
"Itu mobil suruhan gue!" jawab Handa sekenanya. Saat ini yang lebih penting baginya adalah keselamatan Zia, ia tidak peduli lagi dengan identitas dirinya yang mungkin saja akan terbongkar setelah ini. "Cepet kak!" desaknya.
Tanpa banyak berpikir lagi Heaven segera mengangkat tubuh Zia, membawanya masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah terbuka lebar itu. Handa mengusap wajahnya kemudian menarik Agam untuk segera masuk ke dalam mobil, bagaimanapun cowok itu juga harus mendapat penanganan secepatnya dari dokter. Sementara Gala langsung menghampiri Icha, menariknya untuk ikut masuk sebelum tertinggal oleh kedua sahabatnya.
"Kak Gala nggak ikut?" tanya Icha setelah duduk di samping pengemudi.
"Gue masih ada urusan, nanti gue nyusul bareng Kenzo sama Nanda!" ucap Gala kemudian menutup pintu mobil.
Nanda dan Kenzo yang melihatnya hanya mengernyit heran. Mereka kira Gala akan ikut satu mobil bersama Heaven dan yang lainnya. Namun ternyata Gala memilih untuk tidak ikut, dan membantu mereka menyelesaikan masalah dengan anak Gorized yang belum terselesaikan. Yaps mereka harus mencari bukti kejahatan Regha yang mungkin saja masih ada, agar bisa melepaskan Heaven dari fitnah tidak masuk akal yang menjadi akar permasalahan ini.
"Nan, coba lo cari di dalem. Biar gue periksa hp mereka satu-persatu, siapa tahu ada dari mereka yang masih menyimpan bukti rekaman atau apapun itu!" ucap Gala mengarahkan.
__ADS_1
"Ok!" Nanda berjalan hendak masuk, namun langkahnya tiba-tiba terhenti setelah menyadari sesuatu, "Kenzo!" teriaknya memanggil.
"Apaan?" balas Kenzo yang tengah sibuk memeriksa ponsel milik salah satu anggota Gorized yang sudah tidak sadarkan diri.
"Temenin gue nyet, ngeri aja kalau ada jebakan di dalem. Bisa aja kan wajah ganteng gue yang jadi korban nanti, kan sayang. Aset berharga nih!" ucap Nanda menggebu.
"Ya elah Nan, tinggal masuk aja ribet lo!" ucap Kenzo kesal. Namun tetap saja cowok itu datang menghampiri, menemani Nanda yang sepertinya sedang merasa sedikit takut. Karena memang ini adalah pertama kalinya ia masuk ke dalam markas Gorized, setelah sekian lama mereka bermusuhan.
"Wahnjir berantakan banget," heboh Nanda setelah beberapa saat memasuki markas, "Buset, ini markas apa gudang ikan asin? Mana bau lagi!"
"Berisik, kayak kamar lo bersih aja!" tegur Kenzo yang sedang memeriksa semua jaket milik anak Gorized.
"Enak aja, jangan salah! Kamar gue bahkan lebih bersih dari ini markas!" elak Nanda tidak terima kamarnya dikatakan kotor.
"Banyak omong lo, buruan nyari!" sungut Kenzo yang sudah mulai jengah mendengar ocehan Nanda.
"Siap Bos, jangan marah-marah mulu napah!" jawab Nanda yang mulai memeriksa isi lemari di sana. Baru saja membuka lemari tersebut, Nanda langsung dikejutkan oleh bau tidak sedap yang sangat menyengat. Dengan cepat ia kembali menutup lemari hingga mengeluarkan bunyi yang cukup keras.
"Buset bau banget!" ucap Nanda sambil menutup hidung, "Bau bang*ke anjir!"
"Lo kenapa sih Nan bacot banget dari tadi?" Kenzo yang penasaran langsung mendekati Nanda yang tengah menutup hidungnya sambil mengipasi area sekitarnya.
"Ini lemari nggak pernah dibersihin kayaknya deh, bau banget sumpah!" ucap Nanda sambil geleng-geleng.
"Coba gue liat, penasaran sama isinya!" Kenzo mengulurkan tangannya, dengan perlahan membuka lemari yang tampak tidak terawat itu. Seketika bau sedap kembali menyeruak masuk ke dalam hidung kedua cowok itu. "Ah nggak jadi, nggak kuat gue sama baunya!"
"Yee gimana sih lo!" Nanda mendengus melihat Kenzo malah memilih pergi tanpa menutup lemari lebih dulu. Karena sangat penasaran dengan isinya, Nanda pun dengan perlahan memeriksa ke dalam lemari sambil menutup hidungnya.
"Anjrit ternyata kolor ijo biang keroknya!"
**********
Mau ingetin kalo hari ini hari senin, siapa tahu masih ada sisa vote yang mau disumbangkan ke karya receh ini. 😁
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...
__ADS_1