Heavanna

Heavanna
99. MENOLONG ICHA


__ADS_3

"Zia, tolongin Icha. Icha takut hiks!"


Suara isak tangis Icha terdengar pilu di seberang telepon, Zia yang tengah menunggu kedatangan Handa di depan gedung apartemen merasa bingung sendiri. Sebelumnya ada nomor asing yang terus menerus menghubunginya, hingga terpaksa ia mengangkat panggilan yang ternyata dari Icha.


"Lo kenapa Cha, ada yang gangguin lo? Lo di mana sekarang, lo pake nomor siapa?"


"Icha takut, tolongin... hiks. Ini Icha pake nomor lama, hp nya disita sama Papa semalem. Sakit Zia, tolongin huaaa...."


"Pelan-pelan Cha ngomongnya, lo tenang. Kasih tau gue dimana lo sekarang?"


"Tolongin hiks, Icha dikunci di dalem kamar sama Papa dari semalem. Icha takut Zia, kaki sama perut Icha sakit banget tolongin Icha... hiks!" Gadis itu mendesis seperti sedang merasakan sakit, Zia yang mendengarnya menjadi bingung sendiri harus melakukan apa.


"Oke lo tenang, tungguin gue. Gue otw ke rumah lo sekarang ya!" Zia langsung berlari menghampiri mobil Handa yang baru saja sampai.


"Lo kenapa Zi?" tanya Handa bingung melihat Zia masuk ke dalam mobil dengan terburu-buru.


"Iya Zia, cepetan ya. Kaki Icha sakit, Icha lemes belum makan dari kemaren!"


"Apa! Emangnya lo nggak dikasih makan sama Bokap lo?" tanya Zia terkejut. Ia memberikan isyarat dengan gerakan tangan, menyuruh Handa agar segera menjalankan mobilnya.


Icha menggelengkan kepalanya sambil menangis, tapi mana mungkin juga Zia tahu sementara dirinya sedang berada di seberang telepon. "Belum, kemarin Papa marah-marah sama Icha. Sampe sekarang belum dibukain pintu, Icha nggak tau lagi harus ngapain kalo nggak telepon Zia hiks!"


"Oke Cha, lo tenang. Gue ke sana sekarang, lo jaga diri baik-baik! Kalo ada apa-apa langsung kabarin gue!"


"Iya, Zia hati-hati ya. Cepetan ke sini, Icha takut!"


Zia memutuskan panggilan setelah selesai berbicara dengan Icha. "Nda, buruan ke rumah Icha!"


"Icha kenapa emangnya?" tanya Handa penasaran.


"Gue nggak tau, dia bilang lagi ada masalah sama Papanya! Hpnya disita!"


"Pantes gue nggak bisa hubungi dia tadi!" kata Handa.


"Gue takut dia kenapa-napa Nda, lo tau sendiri kan gimana kejamnya Papanya Icha?"


Kali ini Zia benar-benar merasa khawatir, pikirannya kembali teringat saat penculikan yang terjadi padanya dulu. Kekejaman Rico sangat tidak manusiawi, Zia takut terjadi sesuatu pada Icha. Walaupun sedikit merasa aneh, bagaimana mungkin seorang Ayah akan tega menyiksa anak perempuannya.


"Lo serius mau ke sana? Kalo lo sampe ketemu Papa-nya Icha gimana? Lo tau sendiri Papanya Icha itu masih ngincer lo, gue nggak mau dia bikin lo trauma lagi. Gue yakin seratus persen dia masih inget sama wajah lo!" kata Handa mengingatkan.


"Terus lo mau diem aja gitu, Icha tadi ketakutan Nda. Dia bilang dikunci di dalem kamar dari kemaren, dan belum dikasih makan sama Papanya sampe sekarang. Bukan cuma itu, dia juga bilang kakinya sakit, kalo sampai dia disiksa sama Papanya gimana? Lo mau diem aja?" tanya Siapa juga lebar.


"Terus lo percaya gitu aja? Emang lo nggak curiga gitu, gimana kalo Icha cuma berniat jebak lo atas perintah Papa-nya? Lagian lo pikir deh, mana ada sih Ayah yang bakal tega nyakitin anaknya?" tanya Handa mencoba menerka-nerka.

__ADS_1


"Ada Handa, banyak! Lo emang nggak kasian sama Icha, dia nangis kejer tadi?"


Handa menghentikan mobilnya dipinggir jalan, menghela nafas sejenak mempertimbangkan ucapan Zia. "Bukan karena gue nggak kasihan Zi, gue cuma nggak mau bawa lo ke sana. Kita nggak tau apa yang bakal terjadi kalo lo beneran ke sana, lo tahu sendiri Paman Jo lagi di Jerman. Sekarang lo sendiri Zia, nggak ada yang awasin lo setiap harinya termasuk gue!"


"Terus lo maunya gimana? Lo bakal diem aja meski Icha dalam bahaya sekalipun?" tanya Zia bingung.


"Lo pikirin deh, kenapa tiba-tiba Icha telfon nomor lo? Padahal dia kan bisa telfon gue, gue sahabatnya dari awal Zi!" kata Handa menggebu. "Bisa aja kan Papanya Icha udah tau ada lo di sini, secara lo bilang Kak Cakra juga pernah liat lo waktu disekap dulu!"


Zia terdiam sejenak, memang benar apa yang dikatakan Handa. Tapi tetap saja ia masih belum tenang, karena belum tentu juga apa yang dikatakan Handa itu benar. "Terus mau lo gimana?"


Handa kembali menghadap ke arah depan, diam sejenak mempertimbangkan keputusannya. "Biar gue aja yang ke sana sendiri!" ucapnya tanpa menatap Zia.


"Nggak bisa! Lo gila ya, kalo lo kenapa-kenapa gimana?" Zia melototkan mata tidak setuju, mana mungkin ia akan membiarkan Handa pergi seorang diri.


"Udahlah Nda, mending kita bareng aja ke sana. Biar kita bisa saling melindungi! Sekarang lo pindah, biar gue aja yang nyetir!"


*********


Lima belas menit berlalu, mobil yang dikendarai oleh Zia sudah sampai di dekat area rumah Icha. Jarak perjalanan yang seharusnya menghabiskan waktu sekitar tiga puluh menit, kini malah hanya membutuhkan waktu lima belas menit ketika mobil di kendarai oleh Zia. Gadis itu melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, hingga beberapa kali Handa mengomel karena Zia selalu menyalip mobil yang ada di depannya.


"Anjir, spot jantung gue! Nggak kira-kira lo kalo bawa mobil, untung aja jantung gue kuat!" omel Handa ketika Zia sudah menghentikan mobilnya.


Zia hanya menyengir lebar, tidak menyangka kemampuan balap masih ada dalam dirinya, setelah cukup lama tidak mengendarai mobil. Awalnya memang sedikit canggung, namun lama-kelamaan Zia mulai kembali bisa menguasai mobil milik Handa.


"Emang bener kata Satya, kalo naik mobil sama lo tuh berasa lagi ngeprank malaikat maut tau gak! Nggak lagi deh pokoknya!" omel Handa lagi. Mengingat ucapan Satya, adik Zia yang sangat menggemaskan menurutnya, namun memiliki sifat pendiam dan dingin seperti Gala. Berbanding terbalik dengan saudara kembar Zia yang sangat usil, jahil dan banyak bicara ketika berkumpul bersama keluarga.


"Kita ngapain sekarang? Langsung masuk aja?" balas Handa yang juga tidak tahu. "Nanti kalo ketemu Papa-nya Icha gimana?"


Tidak bisa dipungkiri, Handa sebenarnya sedang merasakan takut. Ia sadar betul apa yang dilakukannya ini hanya akan membawa Zia dalam masalah lagi. Namun Handa tidak bisa berbuat apa-apa karena itu adalah keputusan Zia.


Zia masih terdiam sejenak, memikirkan langkah seperti apa yang akan ia ambil untuk masuk ke dalam rumah Icha. "Kayaknya kita mending diem-diem masuk deh, lewat jendela kamarnya Icha!"


"Ah ya udahlah, kita langsung ke sana aja. Biar nanti kita pikirin pas liat posisinya!" kata Handa final.


Zia mengangguk setuju. Namun, saat akan turun, sudut matanya menangkap siluet seorang cowok yang baru saja keluar dari rumah milik Icha.


"Kak Danis?" gumam Zia lirih. "Handa stop, jangan turun dulu!" ucapnya segera menghentikan Handa yang sudah membuka pintu mobil.


"Kenapa?" tanya Handa sambil menutup pintunya kembali.


"Ada Kak Danis di depan rumah Icha!" jawab Zia menunjuk ke tempat Danis berada.


Handa melihat ke arah yang ditunjuk Zia, masih merasa asing karena baru kali ini ia melihat Danis secara langsung. "Danis mantan pacar lo?" tanya Handa.

__ADS_1


Zia menganggukkan kepala, pandangannya masih memperhatikan Danis yang sepertinya tengah mengecek mobil. Ia tidak merasa heran kenapa ada Danis di rumah Icha, karena memang dari awal ia sudah mengetahui latar belakang keluarga Danis setelah mereka resmi putus. Itulah sebabnya ia tidak bisa lagi mendekati cowok yang menjadi cinta pertamanya itu.


"Kok bisa dia ada di rumah Icha?" tanya Handa yang memang belum tahu.


"Dia anaknya Om Rico!" Sebenarnya Zia juga tidak menyangka hal ini akan terjadi, tapi memang itulah kenyataannya. Pahit memang, ketika dirinya harus mencintai seseorang yang ternyata adalah anak dari seorang laki-laki yang telah membuat hidupnya kacau berantakan.


"Apa? Kok bisa?" tanya Handa terkejut.


"Gue juga nggak tahu awalnya, Daddy yang bilang waktu gue udah pindah ke sini dulu!" jawab Zia merasa bodoh.


"Eh mereka mau pergi kayaknya! ucap Handa melihat Danis dan Om Rico memasuki mobil bersamaan.


"Bagus kalo mereka pergi, kita jadi ada kesempatan buat masuk ke dalam diem-diem!"


🎀🎀🎀


Hai pren! Sambil menunggu Heavanna up, mampir dulu yuk ke karya keren temenku. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya! 👋🏻


MASA LALU SANG PRESDIR


(21+)


By : Enis Sudrajat


"Aaaaaah ... kamu bikin aku cemas aja sayang!" Richard memeluk Annet dan menyelusupkan wajahnya ke dada Annet yang terbuka.


"Rich sakit! pelan dong bulu di muka kamu baru tumbuh itu." Annet membuka kancing kaos berkerah yang dikenakan Richard.


Richard malah terkekeh, menarik tali pita baju Annet yang tak bertangan lalu membuka melempar pakaiannya sendiri.


"Aku nggak tahan sayang, aku ingat kamu sejak di tempat gym tadi, entah kenapa jagoan ku ini nggak bisa kompromi sama sekali!" Richard menunjuk ke bawah perutnya.


"Memang kenapa?" Annet berlaga pilon.


"Coba lihat buka sendiri!"


Annet turun dari pangkuan Richard dan membuka celana panjang Rich, membuka pelindung terakhirnya yang sudah kelihatan mengembung karena terdorong sesuatu dari dalam.


"Wow ... maksimal banget Rich!" Annet mengelusnya perlahan.


"Habis ikut nge-gym begitu kelakuannya, kamu harus bertanggungjawab, pakaikan sarung pelindungnya, sudah nggak tahan jagoan ku mencari tempat berendam." Annet tersenyum mengambilkan balon pembungkus senjata kesayangan Richard.


__ADS_1


🎀🎀🎀


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2