Heavanna

Heavanna
65. KEKESALAN HANDA


__ADS_3

"Handa, tungguin gue!"


Mendengar namanya di panggil, Handa segera menghentikan langkahnya. Menoleh pada Zia yang masih berada jauh di belakang sana, tengah berlari ke arahnya lalu berhenti di hadapannya dengan nafas memburu. Handa mencoba bersikap senormal mungkin, tidak ingin membuat Zia mengkhawatirkan dirinya. Tidak bisa dipungkiri rasa sakit setelah mendengar bentakan Agam tadi masih terasa, dan itu berhasil membuat suasana hatinya turun secara drastis.


"Lo nggak papa kan?" tanya Zia sembari memeriksa bagian tubuh sepupunya.


"Gue nggak papa, maafin gue ya!" Handa menyentuh pipi kiri Zia yang masih memerah, "Lo nggak papa kan?"


"Gue nggak papa kok!"


"Syukur deh, gue takut aja trauma lo muncul lagi!"


Handa masih mengingat dengan jelas tamparan keras yang dilayangkan Angel tadi, pada saat itu dirinya sedang beradu kekuatan dengan Sarah. Sampai tidak fokus pada Angel yang diam-diam mendekat dan menyerang sepupunya. Handa tahu Zia tidak pandai dalam beradu kekuatan, karena itu dengan sekuat tenaga ia mendorong Sarah hingga membentur tembok. Dia tidak akan tinggal diam, membiarkan Angel dengan seenak jidat menyakiti sepupunya.


"Yang seharusnya dikhawatirin itu lo, gue nggak mau lo kenapa-kenapa gara-gara gue!" ungkap Zia.


"Gue nggak papa kok!" Handa menunjukkan senyum lebar, hanya untuk membuat Zia lebih tenang. "Kayaknya gue harus pergi dulu deh!" ucapnya melihat Heaven datang menghampiri.


"Ikut gue!" Heaven menggenggam tangan Zia, lalu membawanya pergi tanpa mengatakan apapun pada Handa.


Handa hanya menggeleng melihat kelakuan Heaven yang dengan seenaknya menarik Zia pergi, tanpa memedulikan dirinya yang sebelumnya sedang berbicara. Beberapa saat terdiam di tempatnya, Handa kembali berlari mengikuti arah kaki melangkah. Suara bentakan itu masih terngiang jelas di telinga membuat kegaduhan dalam benaknya, setidaknya ia harus mencari tempat untuk menjernihkan pikiran saat ini.


Handa membuka pintu terakhir, hingga sampailah ia di atas rooftop sekolah. Kakinya melangkah menerjang semilir angin yang berhembus pelan menerpa tubuhnya, rambut panjang yang di gerai indah beberapa kali tersingkap mengikuti arah mata angin berhembus. Menarik nafasnya dalam, Handa dapat melihat pemandangan gedung-gedung pencakar langit dari atas rooftop itu. Cairan bening sudah berkumpul di pelupuk matanya, gadis itu mendongak ke atas mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh.


"HAAAAAA... GUE BENCI SAMA LO SIALAN!" teriaknya menggebu.


"Lo pikir gue bakal cemburu?"


"Gue nggak cemburu asal lo tau!"


"Lo mau pacaran sama siapapun juga terserah, gue nggak peduli! Emang lo doang apa, yang bisa pacaran? Gue juga bisa kali!"


"DASAR COWOK NYEBELIN! NYESEL GUE PERNAH KENAL SAMA LO, AARGGHHH...."


Handa mencengkram erat tembok pembatas yang sejak tadi menjadi pegangannya, matanya menyorot tajam ke depan saking kesalnya. Deru nafasnya yang memburu sedang ia kendalikan, mencoba untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Untuk sementara waktu Handa ingin merasakan ketenangan, namun tetap saja suara Agam masih terngiang jelas di telinganya.


"Haaa... gue nggak bisa tenang. Kenapa lo belain dia?"


Handa memejamkan mata, merutuki dirinya yang tidak mampu melakukan apa-apa di hadapan Agam tadi. Berulang kali Handa membenturkan kepalanya ke tembok pembatas, hingga sebuah tangan besar berhasil menghalangi keningnya yang hendak beradu dengan tembok untuk kesekian kalinya. Handa mendongak menatap telapak tangan itu, lalu dengan perlahan menoleh untuk melihat siapa pemilik tangan tersebut.

__ADS_1


"Kak Gala?" Handa mengerutkan keningnya, melihat cowok dingin dan pendiam itu tengah berdiri di sampingnya.


Gala memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana, masih menatap Handa dengan wajah datar. "Nggak usah teriak-teriak, berisik!"


Handa mengalihkan pandangan, menutupi rasa malu setelah dengan bodohnya berteriak tidak jelas. Bagaimana bisa ia tidak menyadari ada Gala di sekitar rooftop itu, mungkinkah cowok itu mendengar segala kekesalannya tadi. "Kak Gala denger semua?" tanyanya pelan.


"Menurut lo?"


"Aah kayaknya denger!" ucap Handa menyengir kaku, "Kak Gala ngapain di sini?" tanyanya mencoba basa-basi.


"Mau cari ketenangan! Tapi lo malah berisik!"


"Oh maaf Kak!" ucap Handa. Entahlah, kecerewetannya tadi seketika menghilangkan melihat Gala ada di sana.


Gala hanya diam saja, menyandar pada tembok lalu memandang luasnya langit biru sambil menghela nafas panjang. Tangan kanannya bergerak merogoh saku baju, mengambil benda pipih berwarna putih tanpa casing atau pelindung apapun. Beberapa motif bunga berwarna gradasi pink dan putih terpampang cantik di layar yang sudah retak itu, Gala masih menatapnya tanpa henti.


"Lo suka bunga amarilis?" tanya Gala setelah diam beberapa saat.


Handa yang sedang menikmati semilir angin yang berhembus langsung menoleh, menatap ponsel yang Gala acungkan padanya. Itu adalah ponsel miliknya, yang layarnya sudah pecah akibat jatuh cukup keras di lantai karena berseteru dengan Agam. Sebenarnya sudah lama Handa ingin membeli ponsel yang baru, karena itu ia sengaja tidak memasang pelindung apapun pada ponselnya dengan harapan bisa cepat rusak. Namun kini ia menyesali keinginannya itu, karena ternyata yang membuat ponsel itu rusak bukan hanya dirinya sendiri.


"Kenapa? Nggak cocok ya?" Handa tersenyum kecut, menyadari sikapnya yang sejak dulu selalu barbar tidak secantik bunga amarilis.


"Hah?"


Gala menoleh masih dengan wajah datarnya, menatap sekilas Handa yang sedang mengerutkan keningnya. Sangat jelas terlihat bahwa gadis itu sempat mendengar gumamannya tadi. Sepertinya Gala telah salah karena meremehkan ketajaman pendengaran Handa sebelumnya. "Nggak usah dengerin omongan Agam tadi, dia cuma nggak pengen lo kenapa-kenapa!"


"Mending lo turun abis ini, dicariin sama guru!" Gala melenggang pergi, meninggalkan Handa yang sedang mengerutkan keningnya sedikit bingung. Telinga Handa masih cukup tajam untuk menangkap gumaman Gala tadi, cowok dingin itu baru saja mengatakan kalau dirinya cantik.


Apa gue salah denger ya?


*********


Sementara di sisi lain, Heaven masih menarik tangan Zia dengan mulut yang masih terkunci rapat. Zia hanya pasrah mengikuti langkah cowok itu pergi, hingga sampailah ia di taman sekolah yang berada di sebelah lapangan olahraga. Saat sudah sampai di tempat yang dituju, Heaven menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Zia yang sedang fokus melihat sekeliling taman, sampai menabrak cowok di hadapannya karena tidak fokus melihat jalan.


"Aduh, Kak Heaven kalau mau berhenti bilang dong!"


Zia menggerutu sembari memegang keningnya yang baru saja beradu dengan lengan keras Heaven. Matanya melirik sekilas Heaven yang ternyata masih memasang wajah datar, Zia paham saat ini cowok itu sedang tidak mood karena tidak kunjung mendapatkan penjelasan tentang sebab perkelahian dengan Angel tadi bisa terjadi. Zia sempat terkesiap saat tangan besar itu secara tiba-tiba memegang kedua bahunya.


"Duduk diem! Jangan pergi ke mana-mana!"

__ADS_1


Heaven mengarahkan Zia untuk duduk di kursi, sembari memperingatkannya untuk diam di tempat, kemudian berlalu pergi. Zia hanya diam menurut, meski sebenarnya ingin kabur saat ini juga. Kadang kala ia berpikir seandainya ada hari dimana tidak ada Heaven yang mengganggu, mungkin hari itu adalah hari yang paling menyenangkan untuknya. Tanpa memikirkan apapun dan bebas melakukan apapun, ah andai saja itu bisa terjadi.


Di bawah pohon rindang itu, Zia masih duduk menyandar menikmati kedamaian yang ada. Meski sedikitnya ia merasa heran karena tidak melihat satupun siswa yang datang ke taman itu, padahal biasanya taman itu menjadi tempat paling menyenangkan bagi para siswa untuk belajar atau sekedar beristirahat sejenak sambil menunggu jam istirahat selesai. Zia mencoba berpikir positif, mungkin saja semua ini ulah Heaven yang melarang semua anak datang ke tanan.


Selang beberapa menit berlalu, Heaven datang membawa minuman dan alat kompres yang nampaknya sudah terisi dengan es batu. "Sorry lama!" ucapnya.


Heaven mendudukkan diri sembari membuka penutup botol, lalu menyodorkannya pada gadis yang sejak tadi diam menatap kedatangannya. "Nih minum dulu!"


"Makasih." Zia mengambil minuman yang menggantung di hadapannya, lalu meminumnya satu kali tegukan.


"Sekarang jelasin, kenapa kalian berantem?" Heaven menempelkan alat kompres yang sudah dingin itu ke pipi Zia yang sejak tadi dibiarkan saja tanpa penanganan. Melihat pipi yang masih memerah itu membuatnya kembali penasaran. Mengapa bisa terjadi pertengkaran itu, padahal setahunya Zia tidak suka dengan yang namanya pertengkaran.


"Nggak kenapa-kenapa, pengen berantem aja!" ucap Zia tidak ingin menjelaskan.


"Anna!" Heaven menggeram, tidak puas mendengar jawaban tidak masuk akal itu.


"Kak dingin ih, jangan lama-lama nempel nya!" Zia memprotes, menjauhkan kompres yang sudah menempel terlalu lama di pipinya.


"Lain kali jangan berantem kayak gitu lagi, nggak baik!" Heaven meletakkan alat kompres itu di kursi, setelah di rasa pipi Zia sudah jauh lebih baik.


"Nggak kebalik tuh? Yang suka berantem kan Kak Heaven!"


"Gue beda Anna! Lo kan cewek, nggak baik kalau berantem kayak tadi. Nanti kalau lo kenapa-kenapa gimana?"


Sejenak suasana menjadi hening, tidak ada kata dan kalimat apapun yang mampu memecah keheningan itu. Heaven melirik Zia yang hanya diam saja, seperti sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri. "Kok diem?"


Karena tidak kunjung mendapat jawaban, Heaven dengan gemas mencubit salah satu pipi Zia yang masih salam keadaan baik-baik saja. Tentu saja hal itu membuat Zia tersadar, lalu melihat Heaven dengan malas. Masih tidak habis pikir, mengapa cowok itu suka sekali mencubit pipinya tanpa ampun.


"Iya iya ih, lepasin sakit!" Dengan kesal ia memukuli tangan Heaven yang masih menempel pipinya, bibirnya mengerucut setelah berhasil menyelamatkan pipinya dari cubitan tangan paling menyebalkan seantero jagat raya itu.


"Semua ini juga gara-gara lo!"


*********


Buat kapal Chagala, kayaknya perjuangannya bakal lebih susah. Kira-kira Icha dan Gala bisa bersatu nggak yah? 🤔


Mau ngingetin juga kalo hari ini hari senin, siapa tau ada yang mau nyumbang vote buat karya receh ini. Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😇


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2