
"Kak Heaven mau langsung pulang?"
Pertanyaan Zia memecah keheningan, Heaven menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Zia. Saat di mobil tadi, Heaven memang sempat membaca pesan dari Gala untuk segera datang ke markas. Tidak tahu apa yang sedang terjadi, namun sepertinya itu sesuatu yang penting.
"Iya, gue ada urusan penting. Udah masuk sana, kalo ada apa-apa hubungi gue!" ucap Heaven sembari mendorong Zia masuk ke dalam apartemen.
"Awas, jangan macem-macem di belakang gue!" lanjut Heaven memperingatkan.
"Iya iya, emangnya mau ngapain coba!" jawab Zia mendengus. Lagi pula mana mungkin Zia berani bermacam-macam seperti yang di ucapkan Heaven tadi.
"Bisa aja kan lo pergi tanpa bilang apapun ke gue?" Heaven menatap penuh curiga.
"Iya enggak, curigaan mulu jadi orang. Kayak detektif aja!" sindir gadis itu mencebikan bibir bawahnya.
"Buruan masuk, ntar keburu ada jenglot dateng!" titah Heaven.
"Mana ada jenglot siang-siang gini?" protes Zia, "Kak Heaven mau ngapain emang? Buru-buru banget!"
"Pasti mau berantem lagi ya?" lanjutnya menuduh.
"Nggak usah banyak nanya, kepo banget sih!" Heaven tidak berniat untuk menjawab, karena tebakan Zia kali ini mungkin ada benarnya.
"Tuh kan keliatan mukanya boong?" Zia memicingkan mata, sekilas ia sempat melihat raut wajah Heaven yang menunjukkan kebohongan. "Udah dibilangin jangan suka berantem juga!" sungutnya tidak suka.
Sudah berkali-kali Zia melarang Heaven berkelahi dengan musuh-musuhnya, namun tetap saja cowok itu tidak mendengarkan sama sekali.
"Gue nggak akan berantem!" jawab Heaven meyakinkan, "Kalau mereka nggak mulai duluan!" lanjutnya.
"Tuh kan mau berantem, nggak boleh!" kata Zia langsung memegang tangan Heaven.
"Ck, gue nggak berantem. Udah dibilangin nggak berantem ya nggak berantem!"
"Boong!" balas Zia cepat
Heaven berdecak kesal, beginilah risikonya jika Zia tahu dirinya akan pergi menemui geng musuh. Ini bukan kali pertama Zia berhasil menggagalkan rencana yang telah disusunnya bersama teman-temannya. Bahkan kemarin saja Heaven tidak bisa berbuat apa-apa ketika Zia melarangnya untuk pergi kemanapun.
"Pokoknya nggak boleh pergi!" ucap Zia sambil menarik tangan Heaven agar masuk ke dalam apartemen. Namun kekuatannya tidak berarti apa-apa, Heaven tetap berada di tempatnya.
"Mau masuk sekarang atau gue cium lo sampe sesek napas!" ancam Heaven mengandung keseriusan.
Zia menelan salivanya dengan kasar. Meskipun sedikit takut, ia tetap mencoba memberanikan diri. "Oke kalo gitu! Sampe Kak Heaven beneran pergi buat berantem, jangan harap bisa masuk ke apart gue lagi!"
"Lo ngancem gue?" Heaven memasang wajah kesal, tidak suka dengan ancaman Zia.
"Kenapa enggak?" seru Zia menantang, "Pergi aja sana, gue nggak peduli!"
Brakk
Zia menutup pintu apartemennya dengan keras, tidak ingin berdebat lagi dengan cowok keras kepala itu. Heaven yang belum selesai bicara seketika melongo melihat apa yang dilakukan Zia. "Sial!" umpatnya sambil mengepalkan tangan.
__ADS_1
Ting
Heaven mengambil ponselnya yang tiba-tiba berbunyi, terlihat nama Zia tertera di layar. Heaven segera membuka pesan singkat yang baru saja dikirimkan gadis itu. Seketika ia mencengkram ponselnya setelah membaca isi pesan tersebut.
"ARGHHH SIALAN, UDAH BERANI LO NGANCEM GUE?"
"NA, BUKA PINTUNYA ATAU GUE HANCURIN NIH PINTU!"
**********
"Gue udah bilang, gue nggak tau siapa orangnya sialan!"
Sudah sepuluh menit berlalu Heaven menyiksa cowok yang duduk dalam kondisi terikat di hadapannya, yang tidak lain adalah salah satu anggota Gorized. Namun, cowok itu masih belum juga menjawab pertanyaan darinya. Heaven yang sudah terlanjur marah, tanpa ampun kembali memukul wajahnya yang sudah babak belur.
"Mau sampe kapan lo bakal diem hah? Lo pikir kita bodoh, sampe ngira bakal ketipu sama kebohongan lo?" kata Heaven masih menatap tajam.
"Stop Heav, lo emang gila!" Cowok itu mendesis, menghentikan Heaven yang akan kembali melayangkan bogem mentah padanya.
"Gue cuma tau kalo Regha diancam sama seseorang, tapi gue nggak tau siapa orangnya! Bahkan Regha pun nggak tau siapa orangnya!" jawab cowok itu jujur, "Dia terlalu pinter bersembunyi, bahkan gue pun nggak bisa lacak nomornya!"
"Lo pikir gue bakal percaya gitu aja?" geram Heaven tidak percaya.
"Udahlah Heav, kayaknya dia udah jujur. Mau sampe mati pun dia nggak akan bisa jawab!" kata Gala menengahi. Ia rasa sudah cukup menyiksa cowok itu, mengetahui ujung-ujungnya tidak ada apapun yang akan didapatkan setelah ini.
"Tapi Gal...."
"Heav!" Gala menatap datar sepupunya, selama ini ia cukup sabar menghadapi Heaven yang terkadang bertindak gegabah. Gala sudah sangat hafal dengan sikap sepupunya yang sukanya seenaknya sendiri, tanpa memikirkan orang lain.
Pikirannya sedang sangat kacau. Sebelumnya ia sedang bertengkar dengan Zia karena lebih memilih tetap pergi dan mengabaikan ancaman gadis itu. Ditambah lagi sekarang ia tidak mendapatkan jawaban apapun atas masalahnya. Heaven semakin bingung, bahkan sampai sekarang ponsel Zia pun belum aktif juga.
"Arrgghhh... kenapa jadi begini sih!" Baru satu jam berlalu saja sudah membuat Heaven kelimpungan sendiri. Lalu bagaimana jadinya jika Zia justru tidak mau berbicara padanya lagi? Argh, Heaven benar-benar dilanda kegalauan luar biasa.
"Lo kenapa sih Heav, kusut banget tuh muka?" tanya Kenzo yang duduk di sofa seberang.
"Bener, dari tadi gue liatin kayak orang tertekan. Lagi ada masalah lo?" sahut Nanda bertanya.
"Lagi ada masalah pala lo pangkat dua!" sahut Agam nyolot. "Kita kan emang lagi banyak masalah! Gak guna banget pertanyaan!" sungutnya.
"Ck bukan gitu maksud gue bego, ah elah lo mah kagak bakalan paham!" kesal Nanda jengah.
"Emang lo lagi ada masalah apa sih Heav?" tanya Kenzo lagi.
Heaven menatap semua sahabatnya yang ada di markas itu, tampaknya mereka semua sedang menunggu jawaban darinya. "Gue berantem sama Anna!" jawabannya dengan wajah muram.
"Anjir kok bisa? Abis lo apain emang dia, lo marahin dia?"
Kenzo meninggikan suaranya, tampak jelas semburat kemarahan di permukaan wajahnya saat ini. Mendengar Heaven sedang bertengkar dengan Zia membuatnya seketika hilang kendali, ia sangat tidak ingin Zia terluka apalagi menangis. Menyadari Heaven suka berlaku kasar pada orang lain, sangat besar kemungkinan cowok itu juga melakukan hal yang sama pada Zia.
"Lo kenapa Zo, aneh banget? Heaven yang berantem kenapa jadi lo yang heboh?" tanya Nanda mewakili semua orang di sana.
__ADS_1
Kenzo tersadar dengan reaksinya yang terlalu berlebih, ia kembali duduk menyadari semua orang kini menatap aneh padanya. "Sorry, gue cuma kaget aja tadi. Jarang-jarang kan liat Heaven galau cuma gara-gara cewek!" ucapnya beralasan.
"Terus gue harus gimana sekarang?" tanya Heaven menyela. Meminta pendapat dari teman-temannya yang sudah berpengalaman dalam urusan perempuan.
"Lo udah minta maaf sama dia?" tanya Nanda.
"Ngapain gue minta maaf, gue nggak salah apa-apa!" kilah Heaven.
Nanda memutar bola matanya, begini risikonya memiliki sahabat yang masih awam dalam urusan percintaan. "Kalo lo emang nggak salah, mana mungkin Zia marah!" kesalnya.
"Gue udah jawab jujur ke dia kalau gue mau berantem, eh dianya marah. Sampai sekarang nomor gue masih di blokir, hpnya juga mati. Gue mau masuk ke apartnya nggak bisa, password nya udah diganti!" terang Heaven panjang lebar.
Nanda seketika cekikikan mendengar keluhan Heaven tentang apa yang Zia lakukan. Wajah cowok itu sudah begitu masam, padahal baru beberapa jam mereka bertengkar saling diam.
"Dia marah karena nggak mau lo berantem terus, bisa jadi dia nggak pengen lo kenapa-kenapa!" sahut Gala ikut nimbrung.
"Ya lo kan tau sendiri gimana posisi gue, Gal! Mana bisa gue nurutin kemauannya dia yang satu ini!" timpal Heaven kembali pusing memikirkan Zia.
"Udah, mending lo samperin dia sekarang. Bawain apa kek buat ngebujuk dia, siapa tau abis itu nggak marah lagi!" ucap Nanda memberi solusi.
"Bener tuh, cewek kan paling suka dikasih sesuatu!" tambah Agam yang memang pernah mengalaminya dulu.
"Gue nggak yakin!" kata Heaven ragu. Zia bahkan masih mematikan ponselnya, entah berapa banyak pesan dan panggilan yang sudah Heaven kirimkan tadi. Namun, belum ada tanda-tanda Zia akan membuka ponselnya.
Heaven beranjak berdiri, ia sadar harus membujuk gadisnya yang sedang marah itu. "Ya udah, gue cabut dulu!" ucapnya.
"Good luck!"
🎀🎀🎀
Sambil menunggu Heavanna up, mampir dulu yuk ke karya keren temenku. Ceritanya seru lho, jangan lupa mampir ya! 🥰
Napen : Emy
Judul : It's me
Alice pernah mengalami kecelakaan, hingga membuat sebagian wajahnya terluka.
Semenjak itu, dia harus menerima cacian dan hinaan dari semua orang. Bahkan sang kekasih pun akhirnya memutuskan hubungan secara sepihak karena wajah buruknya.
Namun, diam-diam ada pria yang selalu membantu Alice.
Bagaimanakah percintaan Alice selanjutnya?
Apakah pria itu akan menampakan diri dan membantu Alice mengubah takdirnya?
🎀🎀🎀
__ADS_1
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...