Heavanna

Heavanna
144. STORY


__ADS_3

"Kak, aku mau mandi dulu ya. Gerah banget, keringatnya banyak!" Zia mengibaskan tangan ke arah wajah, sekali lagi ia mengusap bulir keringat yang keluar di keningnya.


"Ya udah sana, biar aku bawa belanjaannya ke dapur dulu! Jangan lama-lama!"


"Emang kalo lama kenapa?"


"Udah laper, kalo kelamaan yang ada kamu yang bakal aku makan nanti!" jawab Heaven.


"Nggak mau ih, kanibal!" sahut Zia cepat.


"Tapi suka," ucap Heaven sembari menutup pintu apartemennya.


"Kata siapa? Aku enggak!"


"Nggak apa?" Heaven mulai menatap Zia menantang.


"Nggak suka wlee," jawab Zia menjulurkan lidahnya.


"Nggak suka sedikit, tapi banyak!" ucap Heaven sembari membawa barang belanjaannya masuk.


"Enggak ih! Kata siapa?"


"Kalo nggak suka, terus ngapain pegang-pegang?" Heaven menghentikan langkahnya, melirik pada tangan Zia yang sejak tadi masih memegangi lengan tangannya.


"Ish cuma pegang doang juga, pelit." Zia mendengus, dengan terpaksa ia melepas lengan tangan Heaven yang memang sejak tadi dipeganginya.


"Kamu bilang nggak suka?"


"Iya nggak suka, makanya mau cari yang baru aja! Yang baik hati dan tidak songong!" ucap Zia seraya membentak.


"Mulut lo!" Heaven menjatuhkan barang belanjaannya, menatap tajam Zia kemudian menarik tubuhnya hingga menempel padanya. "Nggak usah macem-macem lo, Na!" ucapnya.


"Kak sakit ih, jangan gitu pegangnya!" Zia mencebikan bibir bawahnya, memegangi satu tangan Heaven yang kini menempel sangat erat di pinggangnya.


"Ngomong apa lo tadi? Coba ulangi?!" ulang Heaven menantang.


"Jangan gitu pegangnya."


"Sebelum itu!


"Sakit?" tanya Zia seraya mengingat-ingat.


"Ck sebelum itu Na!" geram Heaven.


"Aku bilang sakit kok!" jawab Zia. Heaven semakin geram, matanya menatap tajam Zia penuh dengan kilatan amarah.


"Eum mau cari yang baru!" ucap Zia akhirnya mengalah.

__ADS_1


"Mau cari yang baru?" Heaven menatap tajam Zia. "Ok kalo itu yang lo mau!"


"Kak Heaven mau apa?" Zia mulai merasa was-was, melihat tatapan Heaven yang penuh dengan ancaman.


"Mau kurung lo di kamar, mau gue jadiin emak-emak sekalian biar nggak bisa macem-macem!" Heaven hendak menggendong paksa Zia, namun terurung ketika gadis itu menahan pergerakannya dengan cepat.


"Mau dijadiin emak-emak?" Zia mengerutkan keningnya, bingung.


"Iya, mau gue anuin lo biar bunting anak gue!" celetuk Heaven yang sudah terlanjur kesal.


"Aaaa enggak, nggak mau! Nggak kok nggak jadi nyari, cuma bercanda tadi. Kak Heaven jangan marah lagi, nggak mau bunting dulu!" Zia merengek sembari menepuk-nepuk kecil kedua pipi Heaven, menunjukkan tatapan puppy eyes nya, berharap cowok itu akan berhenti marah padanya. "Maaf ya!" lanjutnya menunjukkan dua jari.


"Pake sayang!"


"Maaf ya sayang!" ulang Zia memohon dengan lembut. Beberapa detik berlalu Heaven masih diam saja, Zia yang penasaran langsung menatap intens wajah cowok di hadapannya. "Kak Heaven kok diem? Masih marah?" tanyanya.


"Bangsat gue baper!" Setengah mati Heaven menahan rasa bahagianya mendengar Zia memanggil dirinya sayang. Dengan cepat ia melepaskan pelukannya lalu membalikkan badannya, menyembunyikan wajahnya yang sudah sangat panas. "Anjing, pipi gue panas!" ucapnya menahan senyum.


"Aarrggghhh kenapa sih lo gemesin banget?" Heaven kembali melingkarkan tangannya ke pinggang Zia, bedanya kali ini ia menggunakan kedua tangannya. "Cium!" ucapnya.


"Apanya yang cium?" Zia mengerutkan keningnya, bingung sendiri melihat tingkah laku Heaven yang tidak biasa sejak tadi.


"Ck cium gue dulu Na!" ulang Heaven memaksa.


"Nggak mau!" Seketika Zia menutup mulutnya rapat-rapat.


"Nggak mau ih!" tolak Zia cepat.


"Makanya buruan cium!"


"Ya udah cium, tapi janji bentar aja ya," tawar Zia.


"Yang lama, buruan!"


"Aaaa nggak mau, nggak mau lama-lama. Kak Heaven kalo nyium suka nggak kira-kira, pipi aku aja sampe merah waktu itu," tolak Zia sembari merengek.


"Nggak peduli, buruan cium. Atau lo mau gue cium sampe sesek napas?" ancam Heaven lagi.


Mau tidak mau Zia menjinjitkan kedua kakinya, lalu dengan cepat mencium sekilas bibir tebal Heaven. Cowok itu masih saja mengunci pergerakan Zia, menahan pinggangnya agar tidak bisa pergi ke mana-mana.


"Udah kan? Ya udah lepas!"


"Kurang Na, kurang! Ah elah bentar banget, kerasa juga enggak!"


"Nggak kerasa gimana eumph-"


Suara Zia terhenti, bola matanya membulat sempurna ketika merasakan benda kenyal kembali menempel di bibirnya. Tanpa aba-aba, Heaven dengan cepat mencium bibir manis Zia tadi. Cukup lama Heaven bermain di sana, hingga akhirnya cowok itu menghentikan perbuatannya sebelum semua semakin dalam.

__ADS_1


"Gini kan enak!" ucap Heaven setelah puas menatap wajah malu-malu Zia saat ini.


"Pemaksaan!" Zia mencebikan bibir bawahnya, kemudian menyembunyikan wajahnya di dada Heaven.


Heaven langsung terkekeh, membenarkan posisinya agar lebih nyaman memeluk Zia. "Tapi suka kan, hm?"


Zia mendongakkan kepalanya, menatap wajah Heaven masih dengan posisi yang sama. "Kata siapa suka?"


"Kata aku lah," jawab Heaven percaya diri. Mengayunkan pelukannya ke kanan dan ke kiri secara perlahan, kemudian mencium kening Zia sekilas. Cukup lama keduanya terdiam, menikmati kenyamanan pada posisi mereka masing-masing.


"Kak?"


"Hm?"


"Aku gerah, mau mandi dulu!" ucap Zia.


"Nanti aja mandinya!"


"Maunya sekarang! Badan udah lengket semua, bau matahari!" Zia mencoba melepaskan pelukannya, tapi Heaven belum memberi dirinya izin. "Kak ih, aku mau mandi bentar doang!"


"Ck ya udah sana!" Mau tidak mau Heaven melepaskan pelukannya, lalu mengambil kembali barang belanjaannya. "Bawa sekalian nih, baju yang kamu beli tadi."


Heaven menyerahkan salah satu paper bag yang ada di antara barang belanjaan lain di tangan kanannya. Setelah pulang dari bermain basket tadi, ia memang sempat mengajak Zia belanja lebih dahulu ke pusat perbelanjaan terdekat.


"Jangan lama-lama mandinya!"


Zia mengangguk, kemudian melenggang pergi menuju kamar apartemennya. Membiarkan Heaven membawa barang belanjaan yang baru saja dibelinya di pusat perbelanjaan tadi.


Setelah memastikan Zia sudah masuk ke dalam kamar, Heaven yang masih menenteng tas belanjaan kini langsung menuju dapur. Membantu Zia merapikan semua barang-barang yang telah dibeli, agar tidak terlalu membebani gadis itu.


Cukup lama berkutat di dalam dapur, kini Heaven bisa bernafas lega setelah memasukkan barang-barang nya ke tempat masing-masing. Setelah merasa puas, Heaven beralih mengambil minuman, kemudian membawanya ke ruang tamu.


Belum selesai juga? Astaga, lagi mandi apa nginep di kamar mandi sih dia, lama banget?


Heaven menggelengkan kepala, kemudian merebahkan diri di atas sofa. Karena bosan hanya berdiam diri di sana, Heaven mulai berselancar di dalam ponselnya. Sembari menunggu Zia yang entah sampai kapan selesainya.


"F*CK, APA-APAAN NIH?" Terkejut, Heaven menatap ponselnya dengan raut wajah tidak terima. Cowok itu marah, layar ponsel yang masih menyala dengan begitu terangnya, kini tengah memperlihatkan foto seksi pacarnya. Zia baru saja mengupload foto dirinya di dalam kamar, menggunakan pakaian yang baru saja dibelinya tadi.



"ANJING, BIKIN PERKARA MULU LO, NA! NGAPAIN PAMER DADA GITU? BAJU LO KURANG BAHAN SIALAN, AARRGGGHHH!"


🎀🎀🎀


Maaf pren baru sempet update. Selamat hari raya Idul Fitri, Smiling27 and family mengucapkan minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2