
"Kok bisa sih Nda, lo betah sekolah di sini? Penghuninya nggak waras semua!" gerutu Zia yang sedang berjalan menuju kelas. Sebenarnya ingin ke kantin, tapi jam istirahat sebentar lagi akan selesai. Jadi mau tidak mau Zia, Handa dan Icha harus kembali ke kelas, bersiap-siap untuk pelajaran berikutnya.
"Termasuk lo!" Handa terkekeh melihat Zia mencebikan bibir bawahnya, setelah mendengar ucapannya.
"Ya gimana nggak betah, orang di sini ada Kak Agam!" celetuk Icha.
"Diem lo Cha, mending lo makan permen aja deh! Daripada berisik!" balas Handa tidak suka.
"Gimana mau makan permen, orang udah jatoh tadi. Padahal itu tinggal satu-satunya!" Icha mencebikan bibirnya, merasa sayang membayangkan nasib permennya yang jatuh akibat terlalu terpukau dengan aura Heaven tadi.
"Gue serius, lo bedua malah bahas permen!" gerutu Zia lagi.
"Ya mau gimana lagi, emang gitu semua orangnya!" jawab Handa pasrah. Jika boleh di katakan, Handa juga menyesal memilih satu sekolah dengan mereka.
"Au ah gelap!" Zia hendak masuk ke dalam kelas, namun belum sempat mencapai pintu, tangannya sudah lebih dulu di tarik oleh seseorang.
"Eh eh, mau di bawa kemana temen gue?" Handa mencegah Heaven yang secara tiba-tiba menarik Zia, hendak membawanya pergi.
"Kantin!" Heaven kembali menarik Zia tanpa memedulikan siapapun, ia hanya tidak ingin Zia kelaparan saat pelajaran nanti.
"Tap-tapi-"
"Udah, ikut aja. Gue juga laper!" Icha memotong ucapan Handa, kemudian menariknya untuk mengikuti Heaven dan Zia.
Zia berjalan dengan terburu-buru, langkah Heaven yang lebar membuatnya sedikit kesulitan. "Kak ngapain ke kantin, jam istirahat udah mau selesai!" Zia memberontak, tapi Heaven hanya diam saja menulikan pendengaran.
"Kak, pelan-pelan dong jalannya. Buru-buru banget!" Zia menghentikan langkahnya, sambil mengumpat kesal di dalam hati.
Membalikkan badan, Heaven menatap Zia dari atas sampai bawah. "Ah ya, gue lupa kalo lo pendek!"
Sontak hal itu membuat Zia yang marah menjadi semakin darah tinggi. Tapi mau bagaimana lagi, yang di katakan Heaven memang benar. Tinggi tubuhnya hanya sebatas pundak Heaven, tapi meskipun begitu tubuh Zia cukup tinggi sebagai seorang perempuan. Salahkan Heaven saja yang pertumbuhannya terlalu cepat.
"Sabar Zia, orang sabar kuburannya lebar!" monolog Zia pada diri sendiri.
"Lucu!" Heaven terkekeh kecil, kemudian kembali berjalan dengan tangan yang masih menggenggam tangan Zia. Kali ini Heaven sedikit mengurangi kecepatan langkahnya, agar Zia lebih mudah berjalan mengikutinya.
"Duduk!"
Heaven mengiring Zia untuk duduk di kursi kantin, kemudian pergi menuju warung. Bersamaan dengan itu Handa datang dengan Icha yang langsung menuju warung.
"Gimana rasanya?" tanya Handa.
Zia menatap cewek yang sedang duduk di hadapannya dengan malas. "Rasa apa?" tanyanya tidak mengerti.
"Rasanya punya pacar kayak Kak Heaven lah!" jawab Handa.
__ADS_1
"Nggak ada enaknya!" balas Zia asal.
"Tapi Kak Heaven lebih baik kan dari mantan lo?" tanya Handa setengah menebak.
Mendengar kata mantan, pandangan Zia berubah kosong. Ada sedikit rasa sakit yang masih tersisa di sana, ayolah Zia tidak ingin mengingatnya lagi.
Handa segera menutup mulutnya, menyadari telah berbicara sembarangan. "Sorry ya Zia, maksud gue bukan itu!" Handa memukul mulutnya yang sudah berbicara sembarangan, ia tahu kalau sepupunya itu belum bisa melupakan mantan pacarnya yang brengsek itu.
"Nggak usah bahas dia lagi, nggak penting!" ucap Zia datar.
Tidak berapa lama Heaven datang, membawa satu piring nasi berserta lauk pauk dan juga dua botol air putih di tangan kirinya. Menyusul dari belakang, Icha tengah membawa dua mangkuk rawon dengan dua gelas jus jeruk super bikin ngiler di atas nampan.
"Makan!" Heaven meletakan piring dan minuman di hadapan Zia.
"Makasih!" Zia memegang sendok, namun tidak juga menyendok makanannya.
"Kenapa? Lo nggak suka makanannya?" tanya Heaven. Melihat Zia hanya diam saja, sambil menatap ke arahnya dengan kening berkerut.
"Lo... nggak makan?" tanya Zia.
"Gue nggak laper!" jawab Heaven.
"Gue curiga lo kasih racun di makanan ini!" Zia memasukkan satu suapan kedalam mulut, membuat Heaven, Handa dan Icha menggeleng tidak percaya.
"Kalo curiga kenapa lo makan?" Heaven menaikkan satu alisnya.
Heaven hanya diam, menatap Zia yang sedang makan membuatnya merasa kenyang sendiri. Menyadari sedang di perhatikan, Zia hanya diam seolah tidak tahu.
"Nih hp lo!" Heaven meletakkan ponsel Zia di atas meja, disusul Zia yang langsung memberikan ponsel pada Heaven.
"Gitu kek dari tadi!" celetuk Zia. Mengambil ponselnya lalu memasukan ke dalam saku seragam.
"Cepet makannya, bentar lagi masuk!" ucap Heaven memperingatkan.
"Jangan cepet-cepet nanti kegigit!" cegah Handa cepat.
"Akhh...." Zia menutup mulutnya dengan tangan, keningnya berkerut merasakan sakit di mulutnya.
"Kenapa?" Heaven cemas, melihat Zia menutup mulut dengan mata terpejam seperti menahan sakit.
"Nah kan, apa gue bilang! Bandel sih lo!" Handa membuka botol minum lalu menyerahkannya pada Zia, "Nih minum dulu!"
"Zia kenapa?" tanya Icha.
"Sakit!" Zia memegangi pipi sebelah kiri, mencebikan bibir bawahnya dengan raut wajah memelas.
__ADS_1
"Pipi kirinya ke gigit?" tebak Handa langsung mendapat anggukan dari Zia.
"Kok bisa sih?" tanya Heaven.
"Makannya kalo makan pelan-pelan! Ih jadi gemes gue!" Handa mencubit pipi kanan Zia, gemas. Sejak kecil jika Zia makan terburu-buru, pasti akan berakibat seperti ini. Entah bibir, lidah atau pipi bagian dalam pasti akan tergigit.
Heaven mendelik, tidak suka melihat Handa mencubit pipi Zia. Sementara Handa hanya cengengesan, menyadari kalau sekarang Zia sudah ada pawangnya.
"Coba liat!" Heaven memegang tangan Zia yang masih menutupi mulutnya, ingin melihat seberapa besar lukanya. Tapi Zia menggeleng cepat, tentu saja gadis itu malu memperlihatkan rongga mulutnya pada orang lain.
"Anna!" delik Heaven memaksa.
"Zia ih bukan Anna!"
"Buka mulutnya!"
"Nggak mau!"
"BUKA MULUTNYA, ANNA!" titah Heaven dengan suara setengah meninggi.
Mau tak mau Zia membuka mulutnya, membiarkan Heaven melihat luka di pipi kirinya. Zia hanya diam saat cowok itu memegang pipinya, mau menolak pun tidak akan bisa. Heaven menelisik rongga mulut Zia tanpa rasa jijik sama sekali, dengan tangan yang masih memegang rahang cewek itu.
"Nggak papa, lukanya kecil kok!" ucap Heaven, "Abisin makanannya!"
"Gak mau!" Zia langsung pergi meninggalkan kantin.
"Udah biarin aja!" cegah Handa saat Heaven hendak mengejar. "Dia udah nggak ada mood buat makan kalo udah kek gitu!"
"Kok lo tahu?" tanya Heaven menyelidik. Pasalnya sejak tadi Handa berlaku seakan tahu semuanya tentang Zia, padahal mereka baru mulai pertemanan beberapa minggu ini.
Mendengar pertanyaan itu, Handa jadi gelagapan sendiri. "Soalnya... gue juga sering kayak gitu!" jawabnya beralasan.
"Masa sih, kok gue nggak pernah liat?" ujar Icha.
"Gue pernah Icha!" Handa merutuk dalam hati, kenapa di saat-saat seperti ini otak Icha begitu encer.
"Nggak pernah liat ih!" sangkal Icha lagi.
"Pernah Icha, lo lupa kali!" ucap Handa sedikit geram.
"HANDA SAKIT IH! KAKI GUE JANGAN DI INJEK!"
********
...Baru bisa up nih, jangan lupa tinggalkan jejak ya. Berikan like, love, vote dan komentar kalian....
__ADS_1
...Terima kasih udah mampir....