
Heaven masih setia bergumul dengan selimutnya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Tidak ada yang mau membangunkan bahkan Mama nya sekalipun. Jika hari libur seperti ini Mama memang sengaja membiarkan Heaven beristirahat, mengetahui putranya yang sering begadang. Bahkan semalam saja Heaven baru tidur saat menjelang pagi.
Drt... Drt... Drt...
Bunyi ponsel di atas nakas yang entah sudah untuk ke berapa kalinya, namun belum juga mampu menarik Heaven dari dunia mimpi. Mulai merasa terusik, Heaven menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh. Tapi percuma saja, baru berapa detik bunyi itu berhenti kini sudah terdengar kembali di telinganya.
Dengan gerakan malas Heaven mengambil ponsel di atas nakas, membuka sedikit matanya lalu menggeser icon hijau tanpa melihat siapa yang menelepon. Ia sudah menduga kalau itu pasti tidak lain adalah salah satu sahabatnya.
"Apaan?" tanya Heaven dengan mata yang masih terpejam dan suara khas bangun tidur.
"Assalamualaikum dengan kediaman Galvander, bisa bicara dengan Heaven Ars-"
"Bacot! Cepetan mau ngomong apa!"
"Santai bos santai! Kita mau ke rumah Kenzo nih, mau fight ring. Lo mau ikut nggak?"
"Nggak!"
Fyi, di rumah Kenzo memang tersedia tempat pelatihan bela diri dan alat-alat olahraga lainnya, karena sejak dulu Tante Shena sangat menyukai olahraga yang cukup menguras tenaga.
"Oh ya udah!"
"Cuma itu doang?"
"Iya! Lo baru bangun tidur?"
"Iya, kenapa?"
"Nggak papa, gue cuma kasian aja sama Zia!"
"Zia kenapa?" Mendengar nama gadisnya, Heaven seketika membuka matanya lalu mendudukkan diri.
"Punya calon suami pemalas kayak lo!"
Tut
Telepon diputuskan secara sepihak, Heaven menggeram kesal.
"Nanda sialan!"
Melempar ponselnya asal, Heaven kembali menjatuhkan diri di atas ranjang. Memejamkan mata, namun sedetik kemudian Heaven melompat dari ranjang menuju kamar mandi. Lima belas menit berlalu, Heaven keluar dengan tubuh yang lebih segar dan handuk kecil yang melilit di pinggangnya.
Heaven berjalan menuju ranjang, mencari ponsel yang telah dilempar tadi. Setelah ketemu ia langsung mendial nomor gadisnya. Hingga beberapa kali panggilan belum juga Zia mengangkat, namun Heaven tidak pantang menyerah. Ia terus menghubungi nomor Zia, hingga akhirnya terdengar suara perempuan di seberang telepon.
"Halo!"
"Siap-siap gue jemput lo tiga puluh menit lagi!"
"Hah?"
"Gue jemput tiga puluh menit lagi, Anna!"
"Mau ngapain?"
"Jalan!"
"Tap-tapi gue lagi nggak di apart!"
Terdengar suara ramai di seberang telepon, Heaven mengernyit. "Lo di mana?"
"Gue lagi di rumahnya Handa. Eh maksudnya, gue lagi di pasar sama Handa!"
"Jangan bohong!"
"Gu-gue... nggak bohong kok!"
"Kenapa lo nggak izin dulu ke gue?"
"Ngapain musti izin? Kayak mau pindahan aja!"
"Lo pacar gue Anna, dan lo harus izin ke gue dulu kalo mau pergi! Gue udah bilang kan kemaren!"
__ADS_1
"Kan baru jadi pacar belom jadi suami!"
"Ok kalau itu yang lo mau! Gue nikahin lo besok!"
"Nggak mau!"
"Ck lo di pasar mana, gue jemput sekarang!"
"Hah jemput? Nggak perlu, gue juga udah mau selesai kok!"
"Jangan bohong Anna! Lo lagi di mana sekarang?"
"Gue... lagi di pasar, pasar ikan hias sama Handa! Lo nggak usah ke sini!"
"Gue jemput lo sekarang!"
Tut
Heaven menatap ponsel di tangan seraya berpikir, sedikit curiga dengan apa yang Zia katakan. Hatinya mengatakan bahwa saat ini Zia sedang berbohong, tapi kalau di rumah Handa rasanya tidak mungkin. Agam yang sebagai pacarnya saja tidak tahu di mana rumah Handa. Bahkan orang tua Handa saja tidak pernah di ketahui.
Sedangkan Icha sahabat lamanya, berdasarkan informasi dari Agam juga belum pernah datang ke rumah Handa. Tidak mau berpikir panjang, Heaven langsung menuju walk in closet. Hubungan Handa dan Zia mulai sedikit mencurigakan baginya, mungkin ia akan mencari tahu kebenarannya nanti.
*********
Heaven Arsenio Lo di mana, gue udah di dalem pasar!
^^^Zianna Azkia Lagi milih ikan, tunggu bentar!^^^
Heaven mengedarkan pandangan, mencari sosok Zia di tengah keramaian. Banyaknya orang membuat Heaven sedikit kesulitan. Belum lagi dengan ibu-ibu penjual yang kerap kali curi-curi pandang padanya. Ah itu membuatnya semakin frustasi, membayangkan bagaimana jika Zia diperlakukan sama oleh para bapak penjual ikan di seluruh pasar.
Heaven tidak suka dengan situasi seperti ini, tapi demi gadisnya ia rela melakukan semua ini. Dari arah depan terlihat Zia berlari ke arahnya bersama Handa. Hal itu semakin membuatnya curiga. Zia dan Handa berhenti di hadapan Heaven dengan nafas terengah, wajah Handa terlihat sedikit sembap seperti habis menangis.
"Lama! Ayo pergi!" Heaven menggenggam tangan Zia, hendak mengajaknya pergi dari tempat ramai itu.
"Eits tunggu dulu, gue belum dapet ikannya!" cegah Handa ikut menarik tangan Zia.
"Belum dapet?" Heaven menatap kedua cewek itu bergantian, dan hanya di jawab dengan gelengan. "Dari tadi lo berdua ngapain? Ngitungin penjual ikan?" gerutunya.
"Jolie?" Heaven mengernyit tidak mengerti.
"Jolie nya mati, sekarang lagi cari kembarannya!" ucap Zia menjelaskan. Bukannya paham, Heaven malah semakin tidak mengerti. Siapa Jolie itu, dan mengapa mencarinya di pasar ikan. Apa mungkin Jolie itu... penjual ikan?
"Jolie itu ikan kesayangan Handa yang baru mati tadi!" Zia kembali menjelaskan, melihat ketidakpahaman di wajah Heaven.
Dari arah belakang Heaven, Raffa datang menenteng plastik packing berisi ikan koki yang warnanya sama persis seperti Jolie. Raffa melangkah dengan penuh percaya diri mendekati Handa, seolah baru saja menemukan harta karun besar-besaran.
"Kak, nih Jalie yang lo mau!" Raffa menunjukkan Jolie kw di hadapan Handa.
"Jolie, bukan Jalie!" koreksi Handa sambil menerima ikan koki yang di berikan Raffa.
"Iya deh, mau Jolie mau Jalie terserah lo!" ucap Raffa malas beradu mulut lagi, "Udah ya gue mau pulang!"
"Raffa?!" Heaven mengerutkan kening setelah memastikan cowok di hadapannya itu adalah Raffa, salah satu orang yang di cap sebagai musuhnya Clopster. Dan apa tadi? Raffa memanggil Handa dengan sebutan Kakak.
Raffa terkejut melihat Heaven ada di sebelahnya, namun sedetik kemudian ia menunjukkan cengirannya. "Eh ada Heaven di sini!"
Satu detik, dua detik Raffa masih berada di tempatnya, namun pada detik ketiga Raffa berlari menjauh dengan sekuat tenaga. Melihat hal itu Heaven tidak tinggal diam, dan segera mengejar Raffa sebelum menghilang ditelan keramaian.
"Sorry Heav, itu bukan gue!" pekik Raffa sambil berlari.
Baru beberapa meter berlari, Heaven sudah berhasil menarik kerah baju Raffa dari belakang. Kondisi pasar yang ramai sangat memudahkan Heaven menangkap rivalnya itu. "Mau ke mana lo?" delik Heaven.
"Sumpah Heav, itu bukan gue. Gue difitnes, eh difitnah maksudnya!" ucap Raffa membela diri.
"Kalau bukan lo, kenapa kabur?"
"Ah nanti temen-temen lo pukulin gue lagi, kayak waktu itu!"
"Gue sendirian! Gue juga nggak bakal pukulin lo, kalau lo mau jelasin semuanya!" jelas Heaven. "Ikut gue!"
*********
__ADS_1
"Nda, lo kenapa diem aja?" tanya Zia hati-hati. Melihat Handa yang sedang sangat kalem, memasang wajah yang masih ditekuk sejak tadi.
"Tau! bukannya udah gue beliin tuh si Jali kw keluaran terbaru?" sahut Raffa sembari memakan kentang goreng.
"Jolie, bukan Jali!" koreksi Handa menahan kesal. Selalu saja Raffa salah menyebut ikan kesayangannya sejak dulu. Entah itu sengaja atau tidak, tetap saja Handa tidak suka. "Gue nggak suka sama ikannya!" lanjutnya.
"Kenapa emangnya? Itu kan udah mirip sama Jolie!" Raffa menunjuk ikan yang ia letakan di atas meja tepat di depan Handa.
"Nggak mirip ih, masa Jolie kerempeng gitu! Kaya nggak pernah di kasih makan aja!" kesal Handa.
"Ya ntar lo rawat dia biar chubby kayak Jolie!" saran Zia.
"Lo tuh ya, nggak ada bersyukurnya sama sekali! Udah bagus gue temuin kembarannya!" geram Raffa.
"Pokoknya nggak mau, Jolie itu cantik bikin gemes. Nggak kerempeng kayak gini!" Handa mengambil ikan itu, lalu meletakkannya di hadapan Raffa sambil bersungut-sungut kesal.
Raffa yang melihatnya jadi ikutan kesal dengan sikap kekanakan kakaknya. "Ya udah kalau lo nggak mau, biar gue geprek tuh Jolie kw sampe gepeng!"
Mendengar ancaman Raffa, Handa segera mengambil kembali ikan malang itu. "Ish nggak berperikeikanan banget si jadi orang!" sinis Handa. Sedangkan Raffa sudah tidak memedulikan lagi ucapan kakaknya, jengah mungkin.
Heaven merebut jus jeruk dari tangan Raffa, menatap datar cowok tengil yang kini menunjukkan reaksi kesal. Sudah sejak tadi Heaven menunggu Raffa menjelaskan sesuatu, tapi Raffa malah sibuk mengemil sambil ribut dengan Handa. Setelah dari pasar tadi, Heaven memang mengajak Zia singgah di restoran untuk makan siang. Tentunya Handa dan Raffa juga ikut.
"Jelasin masalahnya sekarang!" Heaven berkata tanpa mengembalikan jus jeruk milik Raffa.
Raffa menghela nafas, sebenarnya ia malas membahas kejadian beberapa minggu yang lalu. Kejadian yang membuatnya harus kehilangan muka gantengnya selama beberapa hari, juga harus kehilangan orang yang sudah ia anggap sebagai sahabat.
"Gue dijebak sama Hugo! Waktu sebelum balapan Hugo nyuruh gue tukeran baju sama motor, karena dia temen gue ya udah, gue nurut aja!" Raffa menjeda ucapannya, "Temen-temen lo salah paham, bukan gue yang nyuri tuh motor. Ngapain juga gue nyuri, duit gue banyak!"
"Bukan itu yang mau gue bahas, masalah motor taruhan yang hilang itu gue nggak peduli. Yang gue pengen tau siapa yang bikin rem motor temen gue blong?" kesal Heaven, "Untung aja temen gue nggak papa, kalo kenapa-napa udah gue sikat lo!"
"Ya itu dia gue nggak tahu, udah lama gue cari Hugo buat minta penjelasan! Tapi nggak tahu pergi ke mana dia!" Raffa mengepalkan tangan, geram.
"Emang Hugo siapa?" tanya Zia menyela.
"Anak SMA Kartika, lo nggak mungkin tahu!" jawab Raffa.
Handa yang mendengarnya merasa geram, tangannya tergerak menjewer telinga Raffa. "Heh! Lo kan masih SMP ngapain kumpulnya sama anak SMA, mana ikutan balapan liar lagi. Gue bilangin Ayah lo ya, biar nggak dibolehin bawa motor lagi!"
"Aw aw sakit Kak, kuping gue!" Raffa memegang tangan Handa agar mau melepaskan telinganya, sebelum ia menjadi elf jadi-jadian.
"Makanya jadi anak tuh yang nurut, durhaka mulu lo jadi manusia!" kesal Handa sambil melepas telinga Raffa dengan kasar.
"Namanya juga anak cowok, mana cocok kalau main congklak di rumah!"
"Jadi lo adiknya Handa? Dan apa tadi Handa bilang, lo masih SMP?" untuk kesekian kalinya Heaven terkejut dengan kebenaran tentang Raffa.
Memejamkan mata merutuki kebodohan, Handa lupa kalau di sini masih ada Heaven. Kalau terus begini pasti sedikit demi sedikit Heaven akan tahu tentang keluarganya.
"Lebih tepatnya masih kelas tiga SMP!" cengir Raffa.
"Sialan! Jadi lo masih bocah?" umpat Heaven terkejut. "Pantes aja lo dikadalin sama Hugo!"
"Lo tahu siapa Hugo, Heav?" tanya Raffa.
"Pake Kak, gue lebih tua dari lo!" protes Heaven mendelik.
Raffa menghela nafas, memutar bola matanya malas. "Iya iya, Kak Heaven!"
"Bagus!" Heaven menarik sudut bibirnya sebelah, "Hugo itu anak Gorized, dia lagi di rumah sakit kalau lo pengen tahu!"
"Di rumah sakit? Emang sakit apaan dia?" tanya Raffa yang terkejut.
"Cari tahu aja sendiri!" Heaven beranjak berdiri, lalu menggandeng tangan Zia. "Ayo pulang!" ajaknya.
"Eh tunggu!" Tidak memedulikan ucapan Zia, Heaven terus menariknya keluar dari restoran menuju mobil.
*********
Jolie kw setor wajah.
__ADS_1