Heavanna

Heavanna
160. Extra Part 09. Kebahagiaan


__ADS_3

Heaven masih mengikuti Zia, membiarkan tangannya digenggam begitu erat. Atmosfer di sekitarnya seakan kian menggelap, tersirat akan kekesalan, kekecewaan, kecemburuan, dan kemarahan Zia. Langkah gadis itu masih cepat, sampai tiba-tiba ia berhenti tepat di tengah lapangan. Dan berakhir, tangan Heaven terlepas dari genggaman.


"Kenapa dilepas? Masih marah?"


Pertanyaan konyol yang muncul di waktu yang tidak tepat. Jelas-jelas Zia sedang kesal sekarang. Bayangan pertengkaran dengan Hara saja masih mengusik pikiran Zia. Namun dengan bodoh, masih sempat-sempatnya Heaven menanyakan hal tersebut.


"Kak Heaven kenapa bohong?"


Ngeri! Wajah Zia sedatar karya cipta Madame Tussauds. Ah tidak, mungkin sekarang lebih mirip peran Severus Snape dalan serial Harry Potter. Dingin dan galak. Tapi Anna kan cewek? Heaven merutuki kebodohannya. Fokusnya hanya pada tatapan Zia, tajamnya bagai pisau daging yang siap mencincang habis tubuh Heaven.


"Maaf!"


Pukulan keras mendarat di perut Heaven, sesaat setelah kata maaf terucap. Mata Heaven terpejam sesaat, sambil memegangi perutnya. Hanya pura-pura sakit sebenarnya. Pukulannya memang tidak begitu kuat, tapi entah mengapa, rasa sakitnya ada dan itu seakan menusuk ke relung hati Heaven.


"Jahat! Kenapa harus boong sih, Kak?"


Kini pukulannya beralih pada dada, Zia sangat kecewa. Memang perempuan mana yang tidak akan kecewa setelah mendapati kebohongan pacarnya? Cairan bening mulai tergenang di pelupuk mata. Heaven belum menjelaskan semuanya, tapi seakan berat bagi Zia untuk mendengar.


"Kenapa harus bohong, hah?" Zia masih tidak habis pikir. "Kalo emang mau bohong, pinter dikit lah! Lo boleh bohongin gue sebanyak apapun, tapi jangan biarkan gue sampai tau! Gue kecewa sama lo!"


Heaven menangkap tangan Zia, ketika gadis itu hendak pergi meninggalkannya. "Na, tunggu! Semua nggak seperti yang lo pikirin."


"Lepas!"


Heaven bergeming, walaupun Zia masih berusaha melepaskan diri. Hanya karena Hara, hubungannya dengan Zia jadi merenggang. Niat yang awalnya hanya menolong, justru menjadi boomerang yang bisa menghancurkan hubungannya. Heaven tidak bisa diam begitu saja. Meskipun sekarang ia merasa seperti orang bodoh, yang bisa dengan mudah diperdaya.


"Tadinya gue emang ada urusan sama yang lain, tapi tiba-tiba Hara bilang sakitnya kambuh. Hugo nggak sekolah di sini, dan sekarang cuma ada gue, Gala, Nanda sama Agam di sini. Nggak ada pilihan lain. Mau nggak mau, kita harus anterin dia."


Sebelumnya Heaven memang sudah berencana pergi bersama teman-temannya, ada hal yang harus dilakukan. Namun saat akan pergi, Nanda mendapat panggilan dari Hara. Katanya sakit kepalanya kambuh, dan sudah tidak ada siapapun di kelasnya. Namun saat datang, Heaven dan teman-temannya malah tidak menemukan keberadaan gadis itu.


"Urusan apa?"


Raut wajahnya masih sangat datar, tapi dari nada ucapannya, terdengar emosi Zia sudah sedikit mereda. Zia sangat penasaran, urusan sepenting apa sih hingga membuat Heaven memilih meninggalkan dirinya? Soal Hara, ia sudah memakluminya. Setelah pertengkaran tadi, sudah bisa ditebak lah bagaimana nekatnya Hara, demi bisa merebut Heaven.

__ADS_1


"Kamu percaya kan sama aku?" Hening. Heaven tidak patah, walau Zia enggan menjawab pertanyaannya. "Ikut aku!"


Heaven meraih tangan Zia, lalu mengajaknya menuju parkiran. Tadinya ia ingin membuat kejutan untuk Zia. Seperti rencana sebelumnya, Heaven ingin melamar Zia. Keinginan untuk menikahi gadis itu sudah tak terbendung, apalagi setelah semua yang terjadi pada hubungannya.


Terdengar konyol memang. Keinginan cowok 18 tahun untuk segera menikahi sang kekasih. Semua orang pasti akan menganggap gila, atau ini hanya main-main belaka. Tapi Heaven serius, duarius malah. Ia sudah sangat siap menjadi seorang suami. Ia siap bertanggungjawab atas kehidupan Zia kedepannya.


Mobil melaju meninggalkan area sekolah, sesaat setelah Heaven memastikan Zia duduk dengan nyaman di sampingnya. Keheningan masih menyertai keduanya. Jangankan memandang, bahkan berpegangan tangan saja Zia tidak mau. Ternyata keseringan memegang tangan Zia saat menyetir bisa membuat Heaven uring-uringan, karena sekarang ia tidak mendapatkan kesempatan itu barang sejenak.


Zia masih melipat tangannya, ketika mobil berhenti di dekat sebuah danau. Tidak terasa, perjalanan memakan waktu hampir satu jam. Pikiran Zia yang masih berkecamuk mengalihkan perhatiannya. Bahkan selama perjalanan, keduanya hanya saling diam membisu.


Di dekat danau, terdapat banyak tangkai bunga amarilis yang masih berserakan. Terdapat kerangka panggung kecil, dan papan besar yang masih bersandar di salah satu pohon besar. Pertanyaannya, untuk apa semua ini?


Zia berbalik, menatap Heaven dengan penuh pertanyaan. "Apa ini?"


Heaven malu untuk menjawabnya. Masa iya, mau mengatakan semua ini adalah kejutan untuk Zia. Oh no! Alih-alih disebut kejutan, semua ini malah lebih cocok disebut tempat terbengkalai. Rangkaian bunga amarilis yang akan dibentuk love bahkan belum selesai. Gala yang sebelumnya menyarankan. Karena sama seperti Handa, Zia juga menyukai bunga amarilis. Meskipun Jaka jauh lebih disukainya.


"Tadinya ...." Dengan ragu, Heaven mengeluarkan kotak merah kecil yang ia simpan di dalam saku celana. "Tadinya, aku mau kasih kejutan buat kamu. Tapi ...."


Gagal! Semuanya sudah gagal. Padahal tadi Heaven dan teman-temannya hendak menyelesaikan semuanya sampai sore hari. Dan malamnya, Heaven baru akan mengajak Zia ke tempat ini. Menggunakan gaun indah dan setelah jas rapi, pasti akan sangat sempurna. Namun yang terjadi, kini mereka malah menggunakan seragam sekolah. Dan yang lebih parah, tempat kejutan itu belum sepenuhnya siap.


"Tapi gagal!" Raut kekecewaan terukir di wajah Heaven.


"Emang Kak Heaven mau kasih apa?" Tatapan Zia melembut, dan itu menumbuhkan keberanian di hati Heaven.


"Mungkin ini akan jadi kejutan paling gagal sedunia, tapi aku nggak bisa melewatkan kesempatan ini." Heaven menekuk salah satu kakinya, lalu membuka kotak kecil itu di hadapan Zia. "Zianna Azkia, will you marry me?"


Zia terkejut, tangannya perlahan bergerak menutup mulutnya yang terbuka. Apa ia tidak salah dengar? Heaven baru saja melamarnya? Cincin berkilau, menyadarkan Zia dari keterkejutan. Heaven masih menunggu, berharap Zia mau menerima di tengah kejutan yang sebagian sudah gagal itu.


"No!" kata Zia. "Aku nggak bisa!"


Seketika Heaven menunduk, lemas. Sudah ia duga sebelumnya, Zia pasti akan menolak. Memang gadis mana yang mau menerima lamaran di tempat seburuk ini? Tidak ada romantisnya sama sekali.


"Ok, aku paham!" Heaven beranjak dengan lesu. Tentu saja ia kecewa. Lain kali ia akan melamar Zia di tempat yang jauh lebih indah. Agar gadis itu tidak berani menolak seperti ini.

__ADS_1


"Kak Heaven nggak mau tau, alasan aku menolak?"


"Aku sudah tau! Memang siapa yang mau dilamar di tempat seperti ini?" ucapnya lesu.


Zia terkekeh. "Lain kali cari tempat yang lebih bagus. Lagipula kita masih sekolah, kenapa buru-buru sekali?"


Masih banyak cita-cita yang ingin dicapai. Zia tidak ingin terburu-buru untuk menikah. Meskipun cintanya pada Heaven sudah begitu besar. Jika boleh dikatakan, ada sedikit rasa sakit di hatinya ketika menolak Heaven tadi. Karena sampai kapanpun, Zia tidak mungkin bisa menolak cinta Heaven.


"Karena aku nggak mau kehilangan kamu!" Heaven mendekat, meraih tangan Zia dan menciumnya.


"Aku nggak akan tinggalin Kak Heaven!"


"Jadi aku beneran ditolak?" Masih ada rasa kecewa, meskipun Zia tidak akan meninggalkannya setelah ini.


"Bukan ditolak, aku bakal terima Kak Heaven kalau sudah waktunya!"


Senyum lembut terukir di bibir Zia, dan itu berhasil menghilangkan sebagian rasa kecewa di hati Heaven. Usianya masih 18 tahun. Masih banyak perjalanan dan penantian yang harus mereka alami. Dan mereka siap menjalani itu semua.


Berawal dari paksaan, berjalan dengan banyak rintangan dan berakhir dengan kebahagiaan. Heaven menarik Zia dalam pelukan. Memory masa lalu kembali berputar, saat pertama kali Zia bertemu dengan Heaven. Dan saat Heaven memaksa Zia untuk menjadi pacarannya. Keduanya hanya tersenyum saat mengingat masa-masa itu.


Sementara di sisi lain, teman-teman sedang mengawasi keduanya. Mereka tidak tahu, apakah Zia menerima lamaran itu atau tidak. Lagipula sama saja. Menerima atau tidak, mereka akan tetap senang dengan hasilnya. Toh mereka yakin, Heavanna tidak akan pernah terpisahkan.


Kata Gala, Heaven memang suka seenaknya sendiri, tapi rasa cintanya pada Zia mampu meluluhkan keegoisannya dan mengubah sifatnya. Lain kali mungkin Gala akan mencobanya, menjadi cowok dingin yang egois. Sama seperti Heaven, ia juga ingin memiliki cintanya. Memiliki Handa yang kini duduk di dekat Icha.


Di sebelahnya, Agam pun berpendapat sama. Meyakini, Heaven mampu melindungi Zia. Bukan seperti dirinya yang hanya bisa mengecewakan Handa, menyakitinya tanpa sadar dan itu membuatnya semakin dirundung rasa bersalah. Melihat Handa yang kini tersenyum saja sudah cukup membuatnya bahagia, dan menghilangkan sedikit rasa bersalahnya.


Dan Handa? Ia ikut bahagia dengan kebahagiaan sepupunya, Zianna. Meskipun kebimbangan masih terselip di hatinya. Kembali bersama atau lupakan saja Agam? Menjomblo bersama Icha mungkin alternatif terbaik untuknya. Icha yang polos-polos bego akan sedikit menghibur kegalauannya. Meski seringkali Handa dibuat naik darah dengan tingkahnya.


Kata Icha, bukan lagi tentang Heavanna. Karena baginya, hanya Gala yang terbaik!


Sementara kata Nanda, Heavanna adalah couple goals favoritnya. Heavanna garis keras pokoknya. Dia si playboy happy yang tidak bisa mendapatkan hati Chindy. Karena perbedaan keyakinan. Dua Tuhan memang tidak bisa menyatu dalam satu hati. Dan Chindy adalah gadis pertama yang berani menolaknya mentah-mentah.


Kenzo? Tidak semua orang bisa melupakan cinta pertama dengan mudah. Tapi yakinlah, semua akan berakhir bahagia. Selalu ada kata perpisahan dibalik pertemuan. Bersama atau tidak, hidup akan terus berjalan. Waktu yang akan menyembuhkan dan waktu juga yang akan berperan dalam menemukan kebahagiaan.

__ADS_1


🎀🎀🎀


...Sampai bertemu di karya Author Smiling27 selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2