
"Akhirnya selesai juga kan!" Nanda tersenyum bangga melihat meja yang tadinya sangat kotor, kini sudah bersih mengkilap seperti sediakala.
"Kalau gitu pulang sana, udah malem juga!" usir Heaven yang sedang memakan buah apel di samping Gala.
"Tunggu bentar napa bos, pegel badan gue abis bersih-bersih!" balas Nanda lalu merebahkan tubuhnya memenuhi sofa.
"Pegel kayak abis nguli aja lo!" sahut Gala tidak habis pikir.
"KAK BANTUIN GUE DONG...!"
Suara panggilan dari Handa yang sedang memberi makan Jaka terdengar jelas di ruangan sebelah. Nanda yang sedang merebahkan diri langsung beranjak mendudukkan dirinya, menatap kedua sahabatnya dengan bingung. "KENAPA NDA...?" tanyanya berteriak.
"BANTUIN GUE!" balas Handa lagi.
"Gal, bantuin tuh!" titah Nanda.
Gala yang masih memasang wajah datar kini menatap Nanda dengan bingung. "Kenapa gue?"
"Ya elah Gal, kan cuma lo yang nganggur. Gue capek, Kenzo sama Agam juga belom balik lagi cuci muka!"
Akhirnya dengan tak minat Gala melangkahkan kaki menuju ruangan di mana Handa berada. Sementara Heaven masih sibuk dengan makanannya dan Nanda kembali merebahkan diri. Sesampainya di ruangan yang dituju, Gala mengernyit melihat Handa sedang berjongkok di depan kamar mandi bersama Jaka.
"Kenapa?" tanya Gala datar.
Handa yang sedang sibuk mengelus kucing, sempat tersentak mendengar suara Gala yang muncul secara tiba-tiba. "Eh kenapa Kak Gala yang ke sini?" tanyanya.
"Terus maunya siapa? Agam lagi bersihin muka!" jawab Gala seolah tau apa yang diinginkan gadis di hadapannya.
"Ish bukan gitu, gue manggil Kak Heaven!" Handa tersenyum kaku, lalu menunjuk ke arah pojokan kamar mandi yang terdapat gundukan aesthetic berwarna coklat. "Emang Kak Gala mau bersihin?" tanyanya.
Masih dengan wajah datarnya, Gala melihat ke arah yang ditunjuk Handa. Cowok itu terdiam sejenak, memahami benda padat berwarna coklat yang ternyata adalah... kotoran kucing. "HEAV, URUSAN LO NIH!" teriaknya tiba-tiba.
Handa yang sedang menggendong Jaka seketika terkekeh, memang siapa juga yang mau membuang kotoran kucing, apalagi posisinya berada di pojok kamar mandi.
Tidak menunggu lama, Heaven datang bersama Nanda dengan raut wajah penasaran sekaligus kesal. "Kenapa sih Gal, pake teriak-teriak segala?" tanyanya.
"Tugas lo tuh sebagai bapak!" Gala menunjuk kamar mandi menggunakan dagu, kemudian pergi meninggalkan ruangan dengan santainya.
"Anjir, tai Bos!" ucap Nanda heboh. Setelah melihat gundukan berwarna coklat yang ditunjukkan Gala sebelumnya.
"Bhahaha... nasib babu kucing, sabar Boss!" Masih dengan tawanya Nanda menepuk bahu Heaven yang sedang tercengang melihat pemandangan bukit terpendek di dunia itu.
"Anjing emang tuh kucing!" ucap Heaven dengan wajah yang mulai memerah dan tangan terkepal geram. "Gue kata apa, bener kan bokernya sembarangan!" geramnya.
"Dia ngambek kayaknya, gara-gara nggak dikasih makan dari tadi!" ucap Handa menyela.
__ADS_1
"Sabar Bos, sebagai bapak yang baik harus sabar ngurus anak! Itung-itung buat belajar!"
"Belajar nenekmu salto! Mana mungkin gue punya anak jelek kayak Joko, mana tukang berak sembarangan lagi!" Kesal melihat wajah menyebalkan Jaka, Heaven mendelik tajam pada kucing yang masih berada di gendongan Handa sejak tadi.
"Pffttt bhahaha... makan tuh tai kucing!" Tawa Nanda sekali lagi pecah karena tidak mampu menahannya kekonyolan itu. Nyatanya tidak semudah itu memelihara kucing seperti Joko yang selalu semena-mena, padahal di kamar mandi itu sudah disiapkan tempat tersendiri untuk membuang hajat. Menyebalkan memang. "Makanya kalau mau adopsi anak itu yang penurut, kayak Mayang sama Juan nya gue!"
"Bacot lo, pergi sana!" usir Heaven, "Bantuin enggak, rusuh doang iya!"
Karena tidak ingin mendapat amukan singa yang sedang naik darah, Nanda segera kabur meninggalkan ruangan khusus milik Jaka. Begitu juga dengan Handa yang langsung pergi membawa Jaka, sebelum Heaven berubah pikiran dan malah menyuruh dirinya untuk membersihkan kotoran kucing itu.
"Emang kucing sialan, udah tukang tidur, tukang makan, beraknya banyak, sembarangan lagi. Bikin kerjaan aja!" Dengan berat hati Heaven mengambil serok pasir, untuk segera membersihkan kotoran kucing itu.
Sementara di ruang tamu, kini semua orang tengah mentertawakan nasib Heaven yang sedang membersihkan kotoran kucing. Namun tidak bagi Gala yang sejak tadi masih berjibaku dengan ponsel di tangannya. Seolah kelucuan itu tidak mampu meruntuhkan lapisan paling kaku di pipi cowok itu.
"Itu kucing gemes banget sih, pengen gue tendang lama-lama!" ucap Agam. Melihat Jaka yang sedang berada di pangkuan Handa, entah mengapa membuatnya merasa sedikit kesal.
"Coba Nda, gue pengen liat!" Nanda yang penasaran kini beranjak hendak mengambil alih Jaka, namun secara tiba-tiba kucing itu menunjukkan reaksi tidak biasa membuat semua orang seketika syok melihatnya.
"Anjir, jelek banget!" ucap Kenzo lalu tertawa ngakak.
"Kucing sialan, ngejek gue lo ya!" ucap Nanda setengah kesal. Ia kembali duduk di tempatnya, karena ternyata Jaka tidak mau disentuh olehnya sedikitpun.
"Aura negatif Kak Nanda muncul kali, makanya Jaka nggak mau ikut!" ucap Handa yang masih mengelus kepala Jaka.
"Sama!" sahut Agam yang sejak tadi masih menatap Jaka dengan penuh permusuhan.
"Enaknya di apain tuh kucing?" tanya Nanda seraya berpikir. Seketika sebuah ide jahat melintas di otaknya, cowok itu langsung mengambil sesuatu di dalam tasnya.
"Sikat Nan, tuh kucing nggak ada ramah-ramahnya sama orang!" balas Agam.
"Jangan macem-macem Kak, ini kucingnya Zia kalau lo lupa!" Handa seketika melotot melihat benda yang dikeluarkan Nanda dari dalam tasnya, sambil menerka-nerka apa yang akan mereka bertiga lakukan pada Jaka.
"Mau kucingnya Zia kek, Neneknya Zia, Buyutnya Zia, Moyangnya Zia kek, nggak perduli gue!"
"Agam, Kenzo! Pegangin tuh kucing!" titah Nanda dengan senyum jahat yang masih tersungging di bibirnya.
"Kalian mau ngapain?" tanya Handa mulai was-was.
Tanpa banyak bertanya lagi, Kenzo dan Agam langsung mengambil paksa Jaka dari pangkuan Handa. Mengeksekusi kucing menyebalkan itu agar duduk diam di sofa. Beberapa kali Jaka mengeong keras, karena sudah tidak bisa bergerak dengan leluasa setelah tubuhnya terkunci oleh empat tangan besar milik Agam dan Kenzo. Sementara di hadapannya sudah ada Nanda dengan senyum jahatnya, sedang membuka lipstik yang masih tertutup sempurna.
Meong...
"Pegangin yang bener!" protes Nanda yang sedikit kesulitan melancarkan aksinya.
"Bentar-bentar, nih kucing barbar banget!" ucap Agam sambil menenangkan kucing yang sedang memberontak itu, "Zo yang bener pegangnya!"
__ADS_1
"Ini udah bener bego, emang kucingnya aja yang banyak tingkah!" ucap Kenzo yang masih mengunci pergerakan Jaka, "Buruan Nan elah, keburu kabur nih kucing!"
"Bentar-bentar, sabar. Tinggal dikit lagi nih!"
"Alisnya kurang tebel, nyet!" protes Kenzo.
"Sabar dulu dong!"
Di saat tiga cowok itu sibuk mendandani Jaka menggunakan make up ala kadarnya, lain halnya dengan Handa dan Gala yang hanya mampu tercengang melihat pemandangan konyol di hadapannya. Masih tidak habis pikir bagaimana bisa mereka mengerjai seekor kucing dengan memberikan make up menggunakan lipstik dan sebuah spidol berwarna hitam. Tawa mereka seketika pecah melihat Nanda hampir selesai mendandani Jaka yang kini sudah sangat pasrah dengan nasibnya.
"Bhahaha... bengek gue!" ucap Agam sambil tertawa terpingkal-pingkal.
"Ntar dulu, ada yang kurang!" Nanda dengan tawa jahatnya kembali membuka spidol, lalu memberikan sebuah titik hitam di samping hidung Jaka sebagai tahi lalat.
"Pindahin dulu ke meja, mau gue poto bentar!" Nanda mengeluarkan ponselnya, membuka kamera lalu mengarahkannya pada Jaka yang sudah sangat memprihatikan.
"Tungu bentar, ada yang kurang!" Kenzo menyela, lalu menekuk kedua telinga Jaka ke belakang.
"Bhahaha nggak kuat gue, jelek banget!" Agam tertawa ngakak.
Cekrek
Cekrek
Cekrek
"Bhahaha bengek gue!" ucap Nanda setelah berhasil mengambil foto Jaka.
Kenzo dan Agam yang melihat hal itu seketika semakin ngakak, begitu juga dengan Handa yang tengah mencoba untuk tidak kelepasan dalam tawanya. Heaven yang baru datang pun sedikit terheran melihat teman-temannya sedang tertawa, entah menertawakan apa.
"Kalian ngapain?" Suara Heaven yang terdengar datar seketika menghentikan tawa mereka. Nanda yang mengira Heaven akan marah langsung menutupi Jaka yang wajahnya masih dilapisi makeup hasil keterampilan tangannya.
"Eh nggak ada apa-apa Bos!" ucap Nanda masih berusaha menahan tawanya.
"Boong lo, minggir!" Heaven yang semakin penasaran langsung mendekat dan menyingkirkan Nanda yang menghalangi pandangannya. Seketika ia terkejut melihat penampakan alien di hadapannya, terlihat Jaka dengan wajah tertekan sedang menatap dirinya seolah meminta pertolongan. Seketika tawa Heaven pecah, merasa dendamnya sudah terbalaskan melihat kondisi Jaka saat ini.
"Makhluk apaan nih, jelek banget!" ucapannya heboh, "Hahaha rasain lo! Joko, Joko!"
*********
Satu kata buat Jaka? 😂
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...
__ADS_1