Heavanna

Heavanna
53. BALAP MOTOR


__ADS_3

"Dateng lo Heav, katanya nggak pengen ikut balapan?" tanya Nanda. Melihat Heaven baru saja turun dari motor sport miliknya bersama Gala. Suasana yang cukup ramai di malam itu, mengharuskan Nanda berbicara dengan nada tinggi agar terdengar lebih jelas.


"Bosen gue di rumah!"


"Lah katanya udah ada janji sama Zia?" tanya Agam heran.


"Siapa bilang?" Heaven menaikan alisnya, "Gue nggak mau ganggu dia melem-malem gini, paling juga udah tidur."


"Wih si bos perhatian banget sih jadi cowok, jadi pengen ekhem!" Nanda menowel-nowel lengan Heaven dengan tatapan menggoda dan bibir bawahnya yang sengaja di gigit sexy, membuat si empunya tangan melotot lebar merasa ingin menampol wajah cowok itu.


"Jijik setan! Ngapain sih lo gitu, bikin gue mau muntah aja!" Heaven menepis tangan yang masih menowel lengannya, ia masih cukup waras untuk tidak menyukai sesama jenis. Jeruk makan jeruk? Bahkan membayangkan saja Heaven tidak pernah.


"Ya siapa tau aja lo suka sama wajah gue yang tampan paripurna ini!" ujar Nanda dengan senyum menggoda tersungging di bibirnya.


"Najis!"


"Nimbang ngaku aja susah amat," Nanda menaik-turunkan alisnya seraya tersenyum jenaka, "Bos?"


"Apa lagi?" Heaven melirik malas cowok yang tengah memasang air muka imut di sampingnya.


"Minta cepek dong, buat beli bensin." Nanda mengedipkan kedua matanya cepat seraya tersenyum, mencoba membujuk satu-satunya teman yang paling royal di antara yang lain.


"Dih, uang bensin aja minta lo! Pacar aja bejibun, duit kagak ada!" cibir Agam.


"Yang penting happy, nggak jadi sad boy kayak lo!" balas Nanda memasang air muka mengejek. Membuat Agam terdiam dan mengumpat dalam hati, dasar temen setan nggak ada akhlak.


"Gue nggak ada seratus ribu, sepuluh ribu mau?"


"Ya elah bos, mana cukup ceban doang. Paling juga dapet setetes!" protes Nanda.


"Bodo!" Heaven merogoh saku jaketnya, mencari uang yang di maksud. Namun bukannya uang sepuluh ribu malah uang logam seribu rupiah yang berada di tangannya saat ini.

__ADS_1


"Lo nggak mau ceban kan? Seribu nih seribu!" Heaven menyerahkan uang itu pada Nanda, tanpa melihat wajah masam cowok di hadapannya itu.


"Ya elah bos, pelit amat sih. Seribu doang buat beli rokok juga nggak mungkin dapet! Yang ada putungnya doang!" protes Nanda lagi.


"Udah Nan, terima aja nasib lo. Emang udah saatnya lo jalan kaki ke rumah!" sahut Agam tergelak menatap uang seribu rupiah di tangan Nanda.


"Tenang aja Nan, ada gue kok! Gue bantuin nanti!" Kenzo menepuk bahu Nanda, mencoba menguatkan sahabatnya dari nasib sial yang menimpanya hari ini. Kenzo dan Agam memang tahu kalau saat ini Nanda sedang dihukum oleh Ibunya, karena apalagi kalau bukan gara-gara tingkah laku Nanda yang suka ceroboh. Ibunya Nanda kesal lantaran putranya selalu saja sembarangan berpacaran dengan semua anak perempuan, hingga semua teman-teman Ibunya marah karena mengetahui Nanda telah mempermainkan putri mereka.


"Lo mau bantuin gue beliin bensin?" tanya Nanda sedikit antusias.


"Gue bantuin doa, biar lo cepet sampe rumah." Kenzo tergelak setelah mengucapkan kata yang sangat menyebalkan itu, bahkan Nanda sudah memasang wajah penuh kekesalan menatap cowok berbaju hitam itu.


"Sabar Nan, sabar. Belum saatnya!" Nanda mengelus dadanya, mensugesti dirinya dengan kata sabar.


"Belum saatnya? Emang mau ngapain lo?" tanya Kenzo setelah puas tertawa.


"Bunuh lo!"


"Heav, rival lo udah dateng tuh!" ucap Kenzo menginterupsi semuanya. Menunjuk pada Regha yang baru datang bersama teman-temannya menggunakan motor sport masing-masing.


Heaven menunggu Regha yang tengah berjalan menghampiri, dengan memasang wajah datarnya. Cowok itu berhenti di hadapan Heaven, lalu menyerahkan selembar cek bernilai hampir mencapai satu milyar. "Taruhan gue malam ini!" ucapnya.


"Gue nggak mau. Di sini gue mau adu skill, bukan mau cari uang!" Heaven menolak taruhan bernilai fantastis itu bukan karena tidak mampu. Uang Heaven bahkan jauh lebih banyak di banding nilai taruhan itu, namun untuk apa uang sebanyak itu dihamburkan hanya untuk permainan seperti ini.


Regha tergelak mendengar penolakan dari cowok bertubuh tinggi di hadapannya, bahkan tubuhnya sedikit lebih tinggi dari tubuhnya sendiri. "Kenapa, lo nggak mampu?" desisnya.


Heaven masih memasang wajah santai, seolah tidak terpengaruh dengan ucapan menohok cowok di hadapannya. Namun tidak dengan para sahabatnya yang sudah menahan kesal ingin segera menampol wajah menyebalkan milik Regha, apalagi ditambah dengan tawa ejekan dari orang-orang di belakang cowok itu. Ah membuat yang tadinya kesal kini menjadi semakin kesal saja.


"Lo mau taruhan apa?" tanya Regha mempersilakan. Kali ini ia membiarkan Heaven menentukan sendiri taruh apa yang diinginkannya, asalkan itu menguntungkan baginya.


"Motor!"

__ADS_1


"Oke!" Regha menyetujui dengan mudah taruhan motor masing-masing seperti yang di inginkan Heaven, kemudian melenggang pergi untuk menyiapkan segalanya.


"Lo serius Heav, motor lo kan mahal?" tanya Nanda memastikan. Mengetahui harga motor Heaven yang cukup fantastis meskipun belum mencapai angka satu miliar seperti yang diinginkan Regha sebelumnya . Heaven yang ditanya hanya mengangguk mantap, sikapnya nampak seolah tidak terbebani sama sekali.


"Apa bedanya sama taruhan tadi?" tanya Nanda tidak habis pikir.


"Tenang aja, kalau kalah tinggal beli yang baru!" Heaven menjawab dengan nada santai, kemudian berjalan pergi untuk segera mempersiapkan diri karena balapan akan segera di mulai.


Sepuluh menit berlalu semua sudah siap dengan posisinya. Heaven dan Regha juga sudah menyalakan motornya, begitu juga seorang perempuan cantik sudah berdiri di depan membawa sebuah kain. Tinggal menunggu hitungan selesai, kedua motor itu akan melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan.


"Three."


"Two."


"One."


Heaven dan Regha langsung tancap gas motornya secepat mungkin. Posisi kali ini dipimpin oleh Heaven yang melaju cukup jauh di depan, sementara Regha masih terus mengejar berusaha untuk menyalip lawan. Heaven berhasil melewati tikungan pertama dengan mudahnya, namun tanpa di duga Regha menyusul dari belakang dan berhasil menyalip kecepatan laju motonya.


Tidak ingin kalah, Heaven semakin menarik gas hingga kecepatannya naik dua tingkat lebih tinggi. Ketika hampir mencapai tikungan ke dua Heaven berhasil memimpin kembali, dengan Regha yang kini tertinggal jauh di belakang.


Pada tikungan kedua Heaven kembali berhasil melewatinya dengan sukses tanpa kendala, dan terus melajukan motornya dengan kecepatan tinggi agar tidak kecolongan lagi. Namun pandangan Heaven tidak sengaja menangkap seorang gadis yang sedang berjalan seorang diri di pinggir jalan, sambil celingukan ke sana kemari seperti mencari sesuatu.


Mata elang Heaven menyorot dengan tajam, untuk memastikan bahwa penglihatannya memang tidak salah. Ternyata gadis dengan penampilan kusut itu adalah...


Zianna?


**********


...Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😇...


...Sampai bertemu lagi di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2