
"Zi, itu Kak Heaven lagi ngapain?"
Zia menoleh ke arah yang ditunjuk Handa. Terlihat Heaven sedang menahan tubuh Rexie yang sepertinya hendak terjatuh. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi posisi mereka yang terlalu menempel itu sukses membuat Zia merasa kesal. Semua siswa yang melihat keduanya pun kini saling berbisik, karena posisi mereka membuat beberapa orang salah paham.
"Wah belum apa-apa udah beraksi aja dia!" celetuk Handa seraya bertepuk tangan.
Zia mengepalkan kedua tangannya, deru nafasnya sedikit cepat, giginya saling gemeretak menahan emosi yang muncul setelah melihat pemandangan langka itu. Bagaimana seorang Heaven yang katanya tidak pernah mau dekat dengan gadis lain selain dirinya, kini malah tengah bersentuhan dengan Rexie dalam posisi yang tidak biasa.
"Mau sampai kapan lo diem aja?" tanya Handa.
Namun, belum sempat Handa melanjutkan ucapannya, Zia sudah lebih dulu melangkahkan kaki dengan pasti menuju dua orang yang telah membuatnya kesal sejadi-jadinya. Handa hanya tersenyum tipis, membiarkan Zia menyelesaikan masalahnya tanpa ingin ikut campur. Sementara Icha hanya diam, penasaran dengan apa yang akan dilakukan Zia nanti.
"Lo nggak papa kan, sorry gue nggak liat tadi!"
Kini terdengar suara Heaven yang sedang berbicara dengan Rexie. Zia mempercepat langkahnya, dengan sengaja ia berjalan menerobos dari tengah untuk memisahkan keduanya yang masih berdiri dalam jarak yang cukup dekat. Gadis itu menghentikan langkahnya setelah berhasil memisahkan keduanya, memaksakan senyumnya lalu membalikkan badan.
"Aw sshhhh Zia kalo jalan pelan-pelan dong," ucap Rexie sambil memegangi bahunya yang terasa sakit karena senggolan Zia yang terlalu keras.
"Sorry, gue nggak sengaja!" Zia memasang wajah penuh sesal.
Heaven mengernyit heran melihat raut wajah Zia yang terkesan dipaksakan. "Kenapa lagi lo, Na?" tanya Heaven.
"Lain kali kalau mau PDKT jangan di tengah jalan, ganggu orang lewat!" ketus Zia lalu berjalan cepat meninggalkan keduanya.
Heaven mengernyit tidak mengerti, sedetik kemudian ia baru paham dengan apa yang dikatakan Zia. Heaven berlari mengejar Zia, meninggalkan Rexie yang kini berdiri dalam kebingungannya. "Na, lo salah paham!" ucapnya.
Zia terus berjalan cepat tanpa menghiraukan teriakan Heaven yang memanggil namanya. Ia masih sangat kesal melihat apa yang dilakukan Heaven tadi. Padahal setahu dirinya, Heaven tidak pernah mau dekat dengan cewek manapun.
Tapi, apa yang dilihatnya tadi sangat terbalik dengan rumor yang sering muncul di sekolah tentang Heaven. Masih tidak habis pikir juga, bagaimana bisa dalam waktu beberapa jam saja, Rexie sudah mampu membuat Heaven terjebak dalam permainannya.
"Na, dengerin gue. Lo kenapa sih?" Heaven meraih tangan Zia, untuk menghentikan langkahnya.
"Kak Heaven yang kenapa?" Gadis itu menatap Heaven dengan penuh kesal, "Ngapain pelukan di tempat umum?"
"Siapa yang pelukan? Gue nggak pelukan!" kilah Heaven cepat, "Gue cuma bantu dia tadi!" lanjutnya.
"Bantuin apa sampe peluk-peluk gitu? Mau nyari kesempatan?" omel Zia masih dengan rasa kesalnya.
Melihatnya yang hendak pergi lagi, Heaven kembali menarik tangan Zia. "Dengerin gue dulu, lo salah paham!"
Zia memejamkan matanya, menahan kekesalan luar biasa. "Salah paham dari mananya? Semua orang juga tahu kalau Kak Heaven peluk dia tadi!"
"Gue nggak peluk dia! Gue cuma nggak sengaja nabrak dia tadi, dia mau jatuh dan tangan gue refleks bantu dia. Salahnya di mana?" tanya Heaven tidak mengerti.
__ADS_1
"Salahnya kenapa harus dia?" tanya Zia dengan nada setengah meninggi saking kesalnya.
"Maksud lo apa?" tanya Heaven tidak paham. Sejak tadi pagi ia sudah sangat penasaran ada hubungan apa antara Zia dan Rexie, namun ketika ditanya Zia pasti tidak akan menjawabnya.
"Udahlah, gue males berdebat!" Zia melangkahkan kakinya hendak pergi, namun kembali terhenti karena Heaven menahannya.
"Lo mau ke mana, kita belum selesai!" ucap Heaven dengan penuh penekanan.
"Mau beli es krim, pusing lama-lama ngomong sama Kak Heaven!" jawab Zia.
"Es krim lagi?" Heaven memasang air muka tidak suka, "Nggak boleh, tadi pagi lo udah abis dua. Dan sekarang lo mau makan lagi? Jangan harap!"
"Nggak peduli, lepasin tangan gue!" Zia mengibaskan tangan agar bisa terlepas dari cengkeraman Heaven. Namun, yang terjadi Heaven malah semakin mengeratkan cengkramannya.
"Setidaknya jelasin dulu, ada hubungan apa lo sama anak baru itu?" tanya Heaven dengan penuh penekanan.
"Kak please, jangan paksa gue." Zia menatap dengan mata berkaca-kaca, selain rasa sakit di pergelangan tangannya, Zia juga masih merasakan sakit di hatinya. "Kalau lo mau deketin dia, terserah. Tapi setidaknya jauhin gue dulu, gue capek!"
Sungguh, Zia tidak ingin mengatakan hal itu. Namun, kejadian masa lalu membuatnya kembali tersadar. Akan lebih baik ia kehilangan cowok itu dari sekarang, sebelum rasa dalam hati semakin mendalam. Zia hanya tidak ingin kembali kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupnya, untuk kedua kalinya.
"Jaga omongan lo!" Heaven kembali mencengkram erat tangan Zia, lalu membawanya masuk ke dalam pelukan. "Gue nggak akan pernah jauhin lo sampai kapanpun!" ucapnya dengan penuh penekanan dan penuh kepastian.
Zia hanya diam saja, membiarkan Heaven memeluk tubuhnya sampai puas. Jika memberontak pun akan percuma, bahkan pelukan itu semakin lama semakin terasa erat menurutnya. Namun tidak berselang lama, ia baru menyadari sedang berada di mana saat ini. "Kak lepasin, gue nggak bisa napas!"
"Lo kenapa sih Na, aneh banget!" kesal Heaven karena belum puas memeluk gadis itu.
"Nggak liat kita lagi di mana?" Mata Zia melotot lebar, lalu menunjuk ke beberapa siswa yang baru melintas. "Malu kali diliatin orang!" ucapnya.
"Berarti kalo di tempat sepi nggak malu dong!" Heaven menyeringai penuh arti.
"Ya nggak gitu juga, ih mau ngapain?" Zia tersentak saat tiba-tiba Heaven menarik tangannya, hendak membawanya pergi entah ke mana.
"Mau ngebongkar otak lo, biar gue bisa tau isinya!" celetuk Heaven asal.
"Ih mana bisa?" Zia memegangi kepalanya, masih mencoba menyamakan langkahnya dengan langkah lebar kaki Heaven.
"Lo belum makan dari pagi, ntar perut lo sakit!" uacap Heaven.
"Gue nggak laper!" tolak Zia.
"Nurut, atau lo yang gue makan!" ancam Heaven sejenak menghentikan langkahnya.
Sorot mata tajam itu berhasil membuat Zia langsung kicep, mulutnya seketika terkunci dengan mata mengerjap beberapa kali. "Emang Kak Heaven pernah makan orang?" tanyanya hati-hati.
__ADS_1
"Lo mau coba?" tanya Heaven menantang.
"Coba apaan?"
"Mau gue makan sekarang atau nanti?" tanya Heaven dengan seringai di bibir.
Zia menelan salivanya dengan kasar. Meski belum mengerti apa yang di maksud dengan kata makan oleh Heaven, tapi ia sudah bisa merasakan sinyal bahaya di dalam kata-kata nya tadi.
"Kak Heaven ngomong apa sih?" Zia menepis tangan cowok itu, lalu berjalan mendahului dengan perasaan gugup.
Heaven hanya terkekeh melihat raut ketakutan yang tampak di permukaan wajah Zia tadi. Sebenarnya ia hanya bercanda saat mengatakannya tadi, agar gadisnya yang sangat penurut itu mau mendengarkan dirinya.
"Pelan-pelan jalannya, kayak dikejar setan aja lo!" ucap Heaven setelah menyamakan langkahnya.
"Lah kan emang iya, lebih serem dari setan malahan!" celetuk Zia tanpa pikir panjang.
"Ngomong apa tadi? Coba ulangi?" Heaven memasang wajah datar penuh ancaman, bisa-bisanya gadis itu mengatakan dirinya lebih menyeramkan daripada setan.
"Ngomong apa? Perasaan nggak ngomong apa-apa!" kilah Zia memasang muka tidak tahu.
Melihat wajah Zia yang terkesan tidak bersalah, Heaven jadi merasa gemas sendiri. "Gue makan juga lo Na, Na!"
🎀🎀🎀
Mampir juga yuk ke karya keren temenku yang satu ini, ceritanya seru lho. Jangan lupa mampir ya!
Judul: PURA-PURA MISKIN
Author: Momoy Dandelion
Blurb:
Pura-pura menjadi orang miskin malah mempertemukan Ruby dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan sombong bernama Melvin.
Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."
"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."
Belum tahu saja mereka kalau orang yang sedang dihina juga anak seorang pengusaha besar.
🎀🎀🎀
Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻
__ADS_1