Heavanna

Heavanna
155. Extra Part 04. Breaking News


__ADS_3

Sepanjang sore, Heaven bergulir di atas ranjang dengan pikiran berkelana. TV di dalam kamar masih menyala. Heaven beranjak duduk di tengah ranjang. Tidak lama, ia kembali membanting tubuhnya hingga telentang. Begitu seterusnya, entah sudah berapa kali ia melakukannya.


Resah, rasanya ingin membanting seluruh benda di dalam kamar. Sudah satu jam Heaven menanti balasan pesan dari Zia. Gadis itu masih enggan memberikan kabar kejelasan. Jelas saja, mereka masih marahan. Meski bukan Heaven yang marah, melainkan Zia.


Kalau seperti ini terus, bisa gila nantinya. Heaven jadi teringat ucapan Handa. Haruskah menikahi Zia saja? Tinggal berjauhan sangat tidak ramah untuknya, apalagi jika Zia sedang marah seperti ini.


"Okeh! Gue bakal nikahin lo secepatnya!"


Berkata dengan mantap dan tidak bisa ditunda lagi. Heaven beranjak keluar, mencari keberadaan orangtuanya. Untuk apa lagi kalau bukan meminta restu. Terdengar lucu memang. Tapi kali ini, Heaven benar-benar serius.


"MAH, PAH!"


Pandangannya mengedar, menyapu seisi mansion yang masih bisa dijangkau. Mama Garnis tersentak saat Heaven menepuk pundaknya. Wanita itu sedang serius dengan televisi super besar yang menampilkan drama terpopuler tahun ini.


"Mah, aku mau bicara!" tegas Heaven. "Papa mana?"


"Mau bicara apa? Papa, belum pulang dong!" Jam di layar ponsel masih menunjukkan pukul tiga, tentu saja suaminya belum pulang dari kantor. "Mau bicara apa memangnya?"


"Aku mau nikah!" Heaven berbicara tanpa ragu.


"Hah?"


"Sama Zia!"


"Hah?"


"Secepatnya!"


"Apa?"


Bola mata ibunya tidak berkedip, sampai ketika Heaven menjentikkan jari tepat di depan wajahnya. "Aku mau nikah, sama Zia, secepatnya!"


Matanya mengerjap dua kali, Garnis masih dalam keterkejutannya. "K-kamu mau nikah?"


"Ya nggak bisa! Kamu kan masih sekolah, mana bisa nikah?" Usianya saja masih delapan belas tahun, mana mungkin Garnis mengizinkannya untuk menikah. Apalagi, hanya Heaven penerus keluarga Galvander. Ekhm lebih jelasnya, hanya Heaven pewaris satu-satunya yang akan memegang seluruh aset keluarga Galvander.


"Nggak ada yang nggak bisa bagi Heaven Arsenio. Kalo aku bilang mau nikah, berarti tandanya pernikahan itu harus terjadi!" Cowok itu masih tetap dalam pendiriannya, sifat ini mengingatkan Garnis pada sang suami. Tidak ayahnya, tidak anaknya, semua sama aja.


"Ya nggak bisa gitu dong sayang, tunggu kamu lulus sekolah dulu. Kalo kamu nikah sekarang, yang ada nanti dikeluarin dari sekolah. Memangnya kamu mau?" Setidaknya hanya alasan itu yang ada dalam pikiran Garnis sekarang, disaat pikirannya masih terdistraksi dengan kata nikah. Ibu mana yang tidak terkejut? Bayi yang dulu ia timang, kini tiba-tiba meminta untuk dinikahkan. Secepat itu?


"Siapa yang berani keluarin aku dari sekolah?" Heaven bertanya menantang. Tidak mungkin ada yang berani mengusik dirinya, apalagi dengan backgroundnya yang berasal dari keluarga terpandang.


"Ada apa sih memangnya? Kenapa tiba-tiba minta nikah gini?" tanya Garnis tidak habis pikir.


"Karena aku mau Zianna!"


Perdebatan itu, di ruang keluarga yang tadinya hanya terdengar suara tv menyala. Kalau sudah seperti ini, semua maid biasanya memilih menguping dibalik tembok. Tidak ada yang berani ikut campur, termasuk kepala maid. Mereka takut, tapi juga penasaran dengan apa yang sedang terjadi.


"Kalo mertua kamu nggak setuju?" sanggah Garnis. "Kamu masih terlalu kecil, sayang."


"Tapi aku sudah siap! Aku nggak peduli mereka setuju atau nggak, pokoknya aku mau nikahin Zia secepatnya! Dan Mama sama Papa harus setuju, titik!"


Garnis menggeleng kecil, sudut pandangnya masih tertuju pada Heaven yang langsung melenggang pergi. Kalau sudah seperti ini, mau tidak mau Garnis harus membicarakannya dengan sang suami. Sebagai seorang ibu, ia sangat paham bagaimana nekatnya seorang Heaven.

__ADS_1


**********


Suasana markas Clopster sedikit hening, sangat berbeda dari hari biasanya. Padahal, masih ada beberapa anak yang berkumpul di sana. Bunyi ketukan tangan terdengar merdu bak alunan musik pengantar tidur. Nanda menguap begitu lebar hingga engsel rahangnya serasa bergeser.


"Eh buset, itu mulut apa rahang kudanil? Lebarnya melebihi lapangan golf!"


Aldi menggeleng heran, kemudian melemparkan kulit kacang tepat pada Nanda. Beruntung sembilan nyawa Nanda sudah terkumpul semua, jika tidak, mungkin kulit kacang itu sudah mendarat sempurna di dalam mulutnya.


"Ngantuk banget gue. Si Agam mana sih nggak balik-balik? Penasaran gue, diterima apa nggak ya sama Handa!"


Sudah setengah jam yang lalu sejak kepergian Agam, anak-anak itu hanya memakan cemilan sambil rebahan. Sampah-sampah makanan sudah berserakan di atas meja, satu pemandangan yang paling dibenci Gala. Biasanya cowok itu akan langsung membersihkan, tapi nyatanya tidak untuk kali ini.


Gala masih tidur telentang dalam diam di pojok ruangan. Matanya menatap langit-langit markas yang kian meredup, seredup suasana hatinya. Agam sedang memperjuangkan cintanya pada Handa. Sementara dirinya? Bahkan tidak ada satupun yang tahu tentang perasaannya itu.


"Kalo menurut gue," Aldi mengelus dagu, berpikir keras. "Dari yang gue lihat, kayaknya Handa masih suka sama Agam."


"Gue setuju, secara, dari kemarin tuh cewek mau-mau aja kalo diajak jalan sama Agam!" ucap Nanda. Ia memang beberapa kali memergoki Handa dan Agam sedang jalan berdua, entah itu di mall, di taman atau di tempat-tempat menarik lainnya.


"Tapi gue nggak yakin kalo Handa bakal mau diajak balikan," ucap Aldi.


"Why?" tanya Nanda heran. Aldi hanya mengendikan bahu. "Kalo menurut lo, Gal?"


"Bukan urusan gue!" jawab Gala cepat.


"Ah lo mah nggak asik!" Nanda mendengus kecewa, Gala memang tidak pernah mau ikut campur jika berurusan dengan yang namanya perempuan.


Sementara di samping Gala, Heaven masih sibuk menatap ponsel. Bukan sedang menunggu pesan dari Zia lagi, cowok itu hanya sedang bermain game untuk mengalihkan perhatiannya dari Zia barang sejenak. Gala saja masih terheran-heran dengan tingkah Heaven.


"Boss?"


"Sssstttt...."


Seketika semua orang meletakkan jari di depan mulut, seraya mendelik ke arah Nanda. Berani sekali cowok itu hendak memanggil Heaven yang baru bisa tenang setelah mengobrak-abrik seisi markas. Bahkan Gala yang berada di sampingnya saja tidak berani menyenggolnya. Bukan karena Gala takut, ia hanya tidak mau terjadi hal buruk pada sepupunya itu.


"Sialan! Kalah lagi, bangk*!" Heaven berteriak kesal. Sebuah pesan yang baru masuk membuatnya kalah dalam bermain game.


"Lo masih chatan sama Hara?" tanya Gala. Ia memang sempat melihat ada pesan masuk di layar ponsel Heaven tadi.


"Lo tau sendiri, kemaren dia masuk rumah sakit lagi gara-gara gue! Kalo bukan karena itu, gue juga ogah kali berhubungan sama tuh cewek!"


Kemarin, Heaven memang tidak sengaja memukul kepala Hara ketika anak Clopster tawuran di jalanan. Saat itu, Heaven juga tidak tahu kalau Hara sudah sadar dari koma dan berada ditengah perkelahian itu. Masih sama seperti sebelum koma, Hara selalu datang jika Heaven dan teman-temannya berada dalam masalah.


"Kurang-kurangin lo berhubungan sama dia, gimanapun juga lo udah punya Zia," ucap Gala serius.


"Gue tau!" Heaven berdecak kesal. Gara-gara meladeni Hara, ia jadi bertengkar dengan Zia. "Tapi gimanapun juga gue harus pastiin kalo dia nggak kenapa-kenapa karena pukulan gue. Dia baru sadar dari koma, gue nggak mau otaknya makin geser karena pukulan gue."


"Emang dokter bilang apa kemaren?" tanya Gala.


Heaven mengendikan bahu. "Nggak tau, gue duluan pulang karena udah ada Hugo kemaren. Sama anak-anak lain juga."


"Tapi, dari kemaren dia selalu ngeluh sakit kepala ke gue. Gue juga nggak tau dia dapet nomor gue dari mana." Heaven berkata dengan lesu, kemudian membuka pesan yang baru masuk dari Hara.


Kak?

__ADS_1


Tadi kepala aku sakit lagi, tapi sekarang udah mendingan sih.


Kak Heaven lagi di mana?


Oh iya, nanti malem aku sama Kak Hugo mau check up lagi. Udah janji sama Dokter.


"BODO AMAT, ANJING!" Heaven berteriak kesal, mengagetkan semua orang di sana. Ingin rasanya ia membanting ponsel dan menggantinya dengan yang baru.


"Sabar Boss, sabar. Jangan ngamuk lagi plis! Betis gue masih ngilu, masa iya harus beresin markas lagi!" keluh Nanda seraya memohon. "Kalo mau ngamuk lagi, tunggu kita pulang dulu aja, ok!"


Bukannya tenang, Heaven justru semakin dibuat marah mendengar ucapan tidak penting Nanda. Jika tidak ada Gala, mungkin ia sudah melempar cowok tengil itu ke atas genteng. Apalagi ia juga masih kesal dengan Nanda yang hampir mencium Zia di restoran tadi siang.


"Udahlah Heav, nggak ada gunanya juga lo ngamuk di sini!" cegah Gala dengan tenang. "Dan lo, Nanda! Mending lo diem, nggak sadar apa mulut lo itu banyak bubuk mesiunya?"


"Anjrit bubuk mesiu, lo kira gue petasan banting?" sewot Nanda tak terima.


"Lah, bukannya kembang api?" sahut Aldi lalu tertawa ngakak.


"Yee diem lo pocong salto! Gue getok juga nih anu lo!" ancam Nanda dengan kesal.


"Dih, anu apaan anjir?" Aldi mengernyit aneh.


"Itu lho! Anumu yang ada anunya, yang bentuknya kayak anu, terus di atasnya ada semacam anu dan kalo dipegang anunya jadi makin anu, ciaaaaahh!" Nanda tertawa ngakak dengan ucapnya sendiri, berbeda dengan beberapa sahabatnya yang justru hanya melongo tidak mengerti. Hanya ada beberapa yang paham dengan ucapannya, karena mereka satu pemikiran dengan Nanda.


"Lo ngomong apa sih, prik banget anjir!" Taufik menggeleng tidak mengerti, cowok itu memang cukup polos jika dibanding teman-teman lainnya.


"Nan, ngomong sekali lagi, gue tendang anu lo biar bengkak nggak bisa berdiri!" ancam Gala. Ia sudah cukup lelah mendengar celotehan sahabatnya yang sangat tidak berfaedah itu.


"Lo paham Gal, anu apaan sih?" tanya Taufik polos.


"Bacot! Banyak tanya lo!" bentak Gala marah.


"Njir, Gala ngamuk!"


Seketika semua orang mengalihkan pandangan dan mulai membubarkan diri. Tatapan tajam mata Gala membuat mereka menciut. Gala memang jarang sekali marah, tapi kemarahan Gala sangat dihindari oleh semua anak-anak Clopster. Beberapa diantaranya ada yang memilih pergi, sementara Nanda dan Aldi memilih menyalakan televisi agar terhindar dari amukan Gala.


Breaking News!


Akibat rem blong, sebuah mobil pribadi menabrak truk bermuatan pasir tiga belas kubik di pertigaan jalan mawar dua. Akibatnya, mobil terguling sejauh tujuh meter dan meledak di tempat. Supir truk berhasil selamat, namun supir mobil pribadi dan dua penumpang lainnya dinyatakan meninggal dunia.


Mata Nanda membulat sempurna, ia sangat tahu pemilik mobil pribadi yang sedang disiarkan di berita televisi itu. "Guys guys, liat! Itu bukannya mobil Tante Shena?"


"Apaan apaan?" Semua orang seketika berkumpul dan melihat ke arah televisi.


"Lo yakin, Nan?" tanya Gala memastikan.


"Iya gue yakin banget, dulu gue pernah naik mobil itu bareng Tante Shena sama Kenzo!" jawab Nanda dengan mantap. "Kalo emang bener, berati?"


"KENZO!"


🎀🎀🎀


...Sampai bertemu di Ex part Heavanna selanjutnya 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2