
Setelah insiden pertengkaran di depan perpustakaan, keenam cewek yang bersangkutan tadi dipanggil ke ruang BK. Seperti biasa mereka mendapatkan ceramah yang cukup panjang, serta peringatan untuk tidak lagi membuat keributan di sekolah. Bukan hanya itu mereka juga diperintahkan untuk saling meminta maaf satu sama lain, tentu saja mereka tidak mau. Tapi karena ancaman dari guru BK yang katanya akan memberikan hukuman lebih berat, akhirnya mereka mau saling meminta maaf meski itu tidak dengan hati yang ikhlas.
Kini sudah hampir satu jam Zia, Handa, Icha, Angel, Sarah dan Dela membersihkan taman yang dipenuhi dengan dedaunan yang sudah rontok. Berulang kali mereka terlihat mengeluh, mengumpat dan marah-marah tidak jelas karena tidak bisa menyapu menggunakan sapu lidi. Mereka yang notabenenya berasal dari keluarga kaya, harus merasakan betapa lelahnya membersihkan taman penuh dedaunan kering itu. Menyapu bukanlah hal yang biasa mereka lakukan, tapi hari ini mau tidak mau mereka harus melakukannya.
"Aargghh... gue nggak mau nyapu lagi!" Angel melempar sapu yang sejak tadi dipegangnya ke sembarang arah, hingga tidak sengaja mengenai kaki Handa.
Handa melirik sapu yang kini terbujur di bawah kakinya, lalu beralih melirik tajam Angel yang sudah berani menganggu dirinya lagi. "Maksud lo apa!"
"Ups sorry, sengaja!" Angel memasang dibuat seolah menyesal namun sedetik kemudian ia tertawa diikuti kedua sahabatnya.
"Udah Nda, nggak usah diladenin. Lo mau hukumannya lebih lama lagi?"
Menyadari sepupunya mulai terpancing permainan Angel, Zia dengan segera menahannya sebelum guru yang sedang mengawasi mereka datang mendekat. Handa mengepalkan tangannya geram, masih menatap Angel dan kedua sahabatnya dengan tajam. Dia melirik ke bawah, sapu itu masih tergeletak malang melintang di depan sepatu berwarna hitam miliknya. Senyum kelicikan tersungging di bibirnya, Handa dengan cepat menendang sapu itu hingga melayang dan tepat mendarat mengenai ketiga gadis menyebalkan itu.
"Aw sshhh... gila lo ya!" ucap Angel marah.
"Ups sorry, gue nggak sengaja wlee!" Handa menjulurkan lidahnya, kemudian berlalu meninggalkan ketiga gadis yang tengah mengepalkan tangan menahan marah.
"Awas aja lo nanti!" ancam Angel. Namun Handa hanya menunjukkan senyum mengejek, kemudian mendekat pada Icha yang sedang duduk mencabuti rumput.
"Cha, pegangin plastik sampahnya. Biar gue yang masukin pelan-pelan!" ucap Zia yang sudah berhasil mengumpulkan dedaunan kering itu menjadi satu.
"Kapan sih selesainya, Icha capek tau!" gerutu Icha. Membawa kantong plastik ke dekat Zia, lalu kembali terduduk malas dengan tangan memegangi kantong, agar memudahkan Zia memasukkan semua daun kering itu.
"Capek apaan lo, dari tadi diem aja kayak penonton lo bilang capek!" kesal Handa. Sejak setengah jam yang lalu Icha hanya duduk santai sembari mencabuti rumput lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik, padahal yang diperintahkan oleh guru adalah membersihkan dedaunan kering yang berserakan di taman.
"Handa nggak lihat apa, dari tadi Icha tuh udah bersihin rumput!"
"Kita di sini bukan buat bersihin rumput Icha, tapi bersihin daun tuh masih banyak!" geram Handa sembari menunjuk dedaunan yang masih berserakan mengotori taman.
"Terus ngapain Icha bersihin rumput dari tadi?" Icha menatap sekeliling dengan kening berkerut, dan salah satu tangan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Pake nanya ke gue lagi, makanya kalau ada orang ngomong itu dengerin!" sarkas Handa.
"Jadi percuma dong Icha bersihin rumput dari tadi?"
__ADS_1
"Ya iyalah Icha, lo itu... arghh tau ah. Terserah lo!" Handa yang sudah tidak ingin menanggapi sahabatnya yang lemot itu kemudian mengambil sapu untuk melanjutkan kembali hukumannya yang belum juga selesai.
"Kalian kenapa sih demen banget ribut?" Zia menggeleng heran melihat kedua sahabatnya terus saja meributkan sesuatu yang tidak penting.
"Sampai kapan sih hukumannya selesai, gue udah haus!" gerutu Handa merasakan pasokan air dalam tubuhnya mulai mengering.
"Sama, Icha juga." Icha menghembuskan nafas lelah sambil mencebikan bibir bawahnya.
"Buat lo bertiga!"
Baru saja tiga gadis itu mengeluh kehausan, secara tiba-tiba tiga botol minuman dingin rasa apel yang cukup menggiurkan muncul di hadapan mereka. Sontak ketiganya mendongak, penasaran dengan siapa yang berani membawa minuman itu. Padahal saat ini masih ada guru yang sedang mengawasi mereka, hanya untuk berjaga-jaga kalau keenam murid yang masih bermusuhan itu akan kembali bertengkar.
"Kak Gala sama Kak Heaven ngapain di sini?" tanya ketiga gadis itu terkejut bersamaan.
"Ambil!" kata Heaven.
"Emang nggak papa?" Zia mengedarkan pandangannya mencari guru yang sejak tadi mengawasi mereka dari jauh, namun ternyata sudah tidak ada siapapun selain para siswa yang sedang dihukum di sana. Tidak salah lagi, pasti ini semua ulah Heaven dan Gala yang sudah berhasil membuat Pak Rudi pergi meninggalkan taman. Meski Zia tidak tahu bagaimana caranya, tapi melihat raut wajah Heaven yang terkesan santai membuatnya semakin curiga.
"Pak Rudi udah pergi," ucap Gala. Menyadari masih ada keraguan di wajah ketiga gadis itu, ia kembali menyodorkan botol minum itu lebih mendekati Handa dan Icha.
"Ta-tapi...."
"Udah nggak usah tapi-tapian, kalian duduk aja dulu!" ucap Heaven lebih ke memerintah.
"Pasti Kak Heaven kan yang udah bikin Pak Rudi pergi?" tanya Zia penuh selidik.
Heaven menatap Zia dengan senyum tipis tersungging di bibirnya, kemudian mengendikan bahunya cuek. "Mana gue tau Pak Rudi ke mana!"
"Bohong!"
Heaven yang tadinya sedikit membungkuk karena akan menyapu kini menegakkan tubuhnya, menatap Zia sambil menghela nafas. Masih tidak mengerti mengapa gadisnya itu tidak bisa percaya dengan kata-katanya, meskipun ia sudah jujur sekalipun. "Nggak bohong sayang!" bisiknya.
"Kak!" Zia membulatkan matanya mendengar Heaven memanggilnya sayang, tangannya secara refleks memukul dada cowok itu. Setelah mengedarkan pandangannya, Zia menghela nafas lega karena ternyata teman-temannya tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan Heaven. Mau diletakkan di mana wajahnya nanti, di saat-saat seperti ini masih sempat-sempatnya Heaven bercanda.
Sementara di belakang sana, nampak Agam tengah berdiri mematung membawa tiga botol minuman dingin. Melihat Handa sudah menerima minuman dari Gala membuat hatinya sedikit ngilu, merasa kalah cepat membantu gadis yang dicintainya. Cowok itu kembali berjalan mendekat, namun bukan menuju Handa dan teman-temannya, melainkan menuju Dela dan kedua sahabatnya yang memang belum memiliki minuman untuk menghilangkan dahaga mereka.
__ADS_1
Sorry Nda, gue emang cowok nggak berguna. Bahkan buat minta maaf aja gue nggak berani, gue nyesel udah bentak lo tadi! -gumam Agam dalam hati.
Angel yang sejak tadi diam menahan marah kini berinisiatif mendekati Heaven, sambil berharap cowok itu akan sedikit memperhatikan dirinya juga. Namun langkahnya terhenti, karena Agam sudah lebih dulu datang dan menyerahkan minuman yang dibawanya pada ketiga gadis itu. Dari kejauhan Handa hanya mampu menatap dalam diam, kemudian mengalihkan pandangannya untuk mengurangi sedikit rasa sakit di hatinya yang tiba-tiba muncul.
Kenapa minuman itu bukan buat gue, Kak? Apa gue yang terlalu berharap? Gue pengen lo balik badan sekedar liat keadaan gue sekarang!"
"Minggir! Nanda ganteng, saudaranya Tom Holland mau lewat!" Nanda yang baru datang bersama Kenzo langsung menyenggol bahu Heaven, lalu dengan percaya dirinya merangkul bahu Zia dan Handa yang memang berdiri berdampingan sebelumnya.
"Ih Kak Nanda apaan sih!" protes Zia dan Handa bersamaan.
Sontak hal itu membuat Heaven dan Gala melototkan matanya tajam, tidak terima melihat Nanda dengan seenak jidat merangkul kedua gadis itu.
"Nantang malaikat maut nih bocah!" ucap Kenzo lirih. Setelah melihat tatapan membunuh dari Heaven dan Gala yang ditujukan pada Nanda.
"Nanda!" Heaven menggeram dengan sorot mata tajam, rahangnya mengeras diselimuti amarah. Melihat hal itu Nanda dengan perlahan melepaskan rangkulannya sambil tersenyum kaku, namun Heaven masih tetap menatapnya dengan tajam. Tatapan itu membuatnya tidak mampu berkutik lagi, Nanda menelan salivanya dengan kasar menyadari sinyal bahaya yang akan datang.
"Masih punya nyawa berapa lo?" tanya Heaven sambil meregangkan otot-otot tangannya.
"A-anu Bos, nggak sengaja sumpah. Tangan gue keseleo tadi!" Nanda memberingsut mundur, lalu bersembunyi dibelakang Zia mencari perlindungan dari amukan serigala lapar yang tengah mengincar dirinya.
"Berani lo sentuh cewek gue lagi, gue potong tangan lo!" geram Heaven sembari menarik Zia untuk mendekat padanya.
"Kak ih, nggak baik tau ngomong kayak gitu! Lagian Kak Nanda cuma bercanda kok!" ucap Zia mencoba membantu Nanda dari amukan Heaven.
"Betul tuh, sensi amat sih Bos. Zia aja nggak masalah!" Nanda langsung menunjukkan cengirannya, melihat Heaven kembali menatap tajam dirinya.
"Ngomong sekali lagi, gue masukin lo ke pantat kebo!" ancam Heaven masih dengan emosi yang meluap-luap.
"Ampun bang jago!" ledek Nanda kemudian berlari menjauh. Lebih baik ia segera pergi, atau ancaman Heaven tadi benar-benar akan menjadi kenyataan. Semua orang hanya menggeleng melihat kelakuan bocah aneh itu. Dalam keadaan seperti ini masih sempat-sempatnya dia memancing kemarahan Heaven.
*********
Apa ada yang nungguin aku? (Ngayal)😅.Maaf ya baru sempet up. Mohon pengertiannya ya pren! 😁
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...
__ADS_1