Heavanna

Heavanna
81. RIBUT LAGI


__ADS_3

Setelah dua hari di rawat di rumah sakit, kini Zia sudah berada di apartemen miliknya. Kondisinya memang sudah mulai membaik, meski gadis itu masih belum mau berbicara dengan siapapun. Memang sangat sulit mengajak Zia berbicara dalam kondisi seperti ini, bahkan ketika Heaven dan teman-temannya mengajak bicara dan bercanda pun gadis itu sama sekali tidak menanggapinya. Pandangannya tetap kosong seolah tengah berseteru dengan pikirannya sendiri, sehingga candaan konyol para sahabat Heaven pun sama sekali tidak berpengaruh padanya.


Ketika sedang terbangun dari tidurnya, Zia selalu melamun hingga terkadang tanpa sadar air mata menetes membasahi pipinya. Heaven dengan telaten akan mengusap air mata itu, lalu mencoba mengajaknya berbicara meski tidak ada tanggapan sama sekali. Tanpa rasa lelah ia selalu menemani dan mengawasi gadisnya yang sedang sakit. Begitu juga dengan Handa yang sejak kemarin selalu berada di dekat Zia setelah pulang sekolah, karena sebelumnya Uncle Zion sudah mewanti-wanti semuanya untuk tidak meninggalkan Zia seorang diri.


Kini gadis itu sedang menyandarkan tubuhnya di atas ranjang, dengan pandangan menerawang ke televisi besar yang menampilkan serial kartun tidak jauh di hadapannya. Di sampingnya masih ada Handa yang sejak tadi masih setia memegangi tangannya, karena sedang bergantian dengan Heaven yang tengah membersihkan diri di kamar mandi. Demi menjaga Zia, cowok itu bahkan sampai tidak masuk sekolah selama dua hari ini. Mungkin juga akan izin sampai Zia benar-benar sembuh dari sakitnya.


"Zi, cepet sembuh ya. Gue nggak suka liat lo kayak gini!" Handa menatap penuh harap, sambil menempelkan tangannya pada kening Zia yang ternyata masih saja panas seperti sebelumnya.


"Gimana, masih demam?" tanya Heaven yang baru datang dengan rambut setengah basah.


Handa hanya mengangguk pasrah, karena tidak tahu lagi bagaimana caranya membuat Zia agar cepat sembuh seperti sediakala. "Lo nggak makan dulu Kak? Dari pagi lo belum makan lho!"


"Lo nggak pulang Nda? Ini udah malem lho!" Bukannya menjawab, Heaven malah berniat mengusir Handa dan teman-temannya yang tadi sejak sore masih ada di apartemen milik Zia.


"Baru juga jam delapan malem, udah main ngusir aja!" sungut Handa.


"Justru itu, nggak bagus buat cewek pulang malem-malem!" ucap Heaven, lalu mendudukkan diri di sofa yang letaknya tidak jauh ranjang milik Zia.


"Ish kenapa sih pengen banget liat gue pulang sekarang, mau macem-macem lo ya sama Zia?"


"Kalau iya kenapa?" tanya Heaven. Sedikit tidak suka mendengar ucapan Handa yang terlalu melantur ke mana-mana, lagipula mana mungkin ia macam-macam di saat kondisi Zia yang belum sepenuhnya pulih.


"Gue laporin lo ke Daddy nya Zia!"


"Laporin aja, gue nggak takut!"


Heaven memasang wajah menantang, karena memang itu yang ia inginkan. Melihat orangtuanya Zia mendatangi dirinya, kalau perlu detik ini juga. Jika boleh dikatakan, sebenarnya Heaven kesal pada keluarganya Zia yang malah tidak datang di saat kondisi seperti ini. Padahal Zia sangat membutuhkan kehadiran keluarganya saat ini, tapi apa boleh buat jika keadaan mereka memang sedang tidak memungkinkan untuk datang. Heaven sendiri belum tahu apa yang membuat calon mertuanya itu sampai tidak bisa datang dalam lima hari ke depan.


"Dasar cowok nyebelin, arogan, pemaksa, maunya menang sendiri lagi!"


Handa mencibir pedas, menatap cowok itu dengan penuh permusuhan. Sebenarnya ia ingin sekali menjaga Zia saat ini, tapi apalah daya ketika Heaven yang pemaksa sudah mengatakan akan menemani Zia tanpa mau dibantah oleh siapapun. Cowok itu benar-benar tidak ingin meninggalkan Zia apapun yang terjadi, apalagi setelah mengetahui tidak ada satupun dari anggota keluarga Zia yang datang untuk menjaganya. Handa pun tidak bisa mencegahnya karena Uncle Zion sudah memberinya izin.


"Lo ngantuk Zi?" tanya Handa. Melihat Zia yang tiba-tiba beranjak merebahkan diri, dengan segera ia membantu merapikan bantal, lalu menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuh gadis itu.


"Dah tidur yang nyenyak ya, selamat malam!" ucap Handa. Posisinya masih memegang tangan Zia, dengan salah satu tangan sibuk mengelus puncak kepala gadis yang kini sudah memejamkan matanya.


Setelah beberapa menit berlalu, pegangan tangan Zia sudah mulai terlepas. Deru nafasnya sudah mulai pelan dan teratur, pertanda bahwa gadis itu sudah terlelap dalam tidurnya. Handa mulai beranjak dari ranjang lalu mendekatkan boneka beruang besar di samping gadis itu dengan perlahan, agar gerakannya tidak membangunkannya yang baru saja tertidur.


"Udah tidur?" tanya Heaven dengan suara lirih.


"Iya, gue mau keluar dulu! Jangan macem-macem!" Handa mendelik memperingatkan, kemudian pergi keluar dari kamar.


Sejenak Heaven menatap Zia yang sedang tertidur, karena tidak ingin mengganggu ia kemudian mengikuti Handa keluar dari kamar. Semua teman-temannya masih berkumpul di ruang tamu, sedang bergurau santai sambil menikmati cemilan. Ketika sampai di ruang tamu, Handa bahkan sampai tercengang melihat pemandangan tidak biasa di depan matanya.


"Tunggu tunggu, kenapa cuma gue doang!" protes Agam yang sudah dikunci pergerakannya oleh Kenzo.

__ADS_1


"Ya kan cuma lo yang nggak masuk!" jawab Nanda yang sudah bersiap mencoret wajah Agam menggunakan lipstik.


"Anjir, kacang lo juga nggak masuk tadi!"


"Masuk bego, udah gue telen tuh kacang. Makanya liat, nggak percaya tanya aja noh sama Gala!" balas Nanda yang langsung mendapat anggukan dari Gala.


"Ah bohong lo Gal, curang lo semua!" protes Agam sambil memberontak.


"Mau ke mana nggak bisa, diem nggak lo. Nanggung nih, tinggal dikit doang juga!"


Nanda memutar lipstik sampai sedikit memanjang, lalu mengaplikasikannya ke bagian wajah Agam yang belum tersentuh lipstik. Setelah puas mencoret, Nanda langsung tertawa penuh kemenangan begitu juga dengan Kenzo. Keduanya memang sengaja mengerjai Agam sejak tadi, dan beruntungnya Gala yang biasanya tidak suka ikut campur pun kali ini juga mendukung perbuatan laknat mereka untuk mengerjai Agam.


"Udah udah ah, males gue!" dengus Agam kesal. "Heran gue, lo cowok tapi mainannya lipstik!"


"Daripada main anu?"


"Anu apa tuh?" sahut Kenzo tersenyum jenaka.


"Salon-salonan!" balas Nanda terkekeh.


"Emang gila lo bedua!" ucap Agam kesal.


"Lah kan gue udah bilang, ini lipstik punyanya Dinda!" jawab Nanda sambil menunjukkan lipstik berwarna silver.


"Eh bukan punya Dinda kayaknya, punya siapa ya?" Nanda menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Punya Nita kayaknya deh, apa punya Dila ya?"


Plakk


"Emang gila lo!" Agam yang geram tanpa basa-basi langsung memukul kepala Nanda, "Gini nih resikonya kalau kebanyakan koleksi, pusing sendiri kan lo!"


"Iri? Bilang mblo!" balas Nanda dengan air muka songongnya.


"Astaga, kalian ngapain sih?" Handa yang masih tercengang kini mengeluarkan suaranya, sangat tidak habis pikir melihat kelakuan kakak kelasnya yang aneh bin ajaib itu.


"Eh Bos, udah di sini aja!" Nanda menyengir lebar melihat Heaven sudah memasang wajah dingin, tanpa menghiraukan pertanyaan Handa sebelumnya.


"Kok bisa sih jadi berantakan gini? Baru juga ditinggal bentar!" ucap Handa lagi. Namun kali ini dengan nada setengah meninggi, saking kesalnya melihat ruangan berantakan sudah seperti kapal pecah. Kulit kacang dan bungkus makanan berserakan di atas meja, dan jangan lupakan wajah ketiga cowok itu yang sudah di penuhi warna merah lipstik.


"Ya elah Nda, ini mah biasa kali. Santai aja!" sahut Nanda lalu menyandarkan tubuhnya dengan santai pada sofa.


"Santai pala lo, awas aja kalau nggak dibersihin!" Bukan Handa, melainkan Heaven yang sudah mengepalkan tangannya dengan pandangan penuh ancaman.


"Eh tenang Bos, tenang. Santai, kita bersihin kok!" ucap Nanda sambil mendorong kedua sahabatnya untuk membantu membersihkan kulit kacang yang sudah berserakan itu.


"Buruan, abis itu pulang lo semua. Ganggu!" ucap Heaven kemudian menjatuhkan pantatnya di samping Gala.

__ADS_1


"Ganggu? Mau ngapain emang lo?" tanya Nanda heboh, "Jangan macem-macem Bos, kasian anak orang. Jangan dianuin dulu!"


Seketika Heaven melotot tajam. "Anuin pala lo penyok, gue masih waras!"


"Hehe ampun Bos, canda!" Nanda menyengir lebar, sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan.


"Buruan bersihin, abis itu pulang!" titah Heaven.


"Iya! Nggak sabaran amat sih, Pak Mamat aja sabar!" ucap Nanda sambil memasukkan sisa sampah ke dalam plastik.


"Siapa Pak Mamat?" tanya Agam bingung.


"Tukang gorengan yang kumisnya bercabang!" jawab Nanda asal, "Kepo banget sih lo!"


"Gue pikir dia masuk list gebetan lo!" balas Agam sekenanya.


Seketika Nanda membulatkan matanya tidak terima. "Lo pikir gue gay?"


"Lah lo kan suka mangkal di pinggir jembatan kalau malem!" jawab Agam sambil terkekeh.


"Mana ada anjim!" kesal Nanda.


"Kemaren gue liat lo nyimpen daster ungu di lemari!"


"Wah parah lo Nan, mangkal kok nggak bilang-bilang sih. Tahan sampe berapa jam tuh?" sahut Kenzo heboh.


Nanda melotot tajam, tidak terima mendapat tuduhan tak berperasaan itu. "Nggak usah ngaco, itu daster nyokap gue! Gue nggak belok!"


"Ya elah Nan, tinggal ngaku aja apa susahnya sih!" ledek Agam.


"Diem lo, udah dibilangin itu daster nyokap gue juga." Nanda semakin kesal, kenapa juga pembantu rumah tangganya harus salah meletakkan baju milik Mama kemarin. Dan itu pun tepat saat sahabat laknatnya datang menginap di rumahnya, menyebalkan sekali bukan.


"Pfftttt... nggak kebayang gue, secantik apa kalau Nanda lagi cosplay tengah malem!" ucap Kenzo kemudian tertawa ngakak.


"Bacot, nggak ada adabnya lo sama orang tua!"


"Udah-udah, kenapa jadi pada berantem lagi!" Suara Handa kembali terdengar, melerai pembicaraan kedua cowok yang masih saja adu mulut. Gadis itu hanya mampu menggelengkan kepalanya tidak habis pikir, lalu mendudukkan diri di sofa yang masih kosong. Namun baru berapa detik duduk, ia baru tersadar akan sesuatu yang sejak tadi dilupakan olehnya dan oleh semua orang-orang di sana.


"ASTAGA, SI JAKA BELUM DIKASIH MAKAN DARI TADI!"


*********


Duh Jaka yang malang, belum dikasih makan 😂


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2