
"Lo nggak marah Heav?" tanya Nanda. Melihat Heaven sejak tadi masih saja mentertawakan keadaan Joko yang wajahnya masih terlapisi make up, bahkan dengan teganya cowok itu sempat menjitak pelan kepala kucing malang itu tadi.
Heaven yang masih tertawa kini menatap Nanda dengan wajah santainya. "Ngapain gue marah, justru tadinya gue pengen buang tuh Joko ke jalanan. Biar nggak ngerepotin orang aja kerjaannya!"
"Wah ciri-ciri calon bapak durhaka, harus dilaporin nih ke Bu bos!" ucap Nanda menggebu.
Mendengar hal itu Heaven langsung melotot tajam pada Nanda yang kini menyengir lebar setelah merasa mendapatkan sinyal ancaman. "Berani lapor, jangan harap lo bisa pulang dalam keadaan utuh!" ancamnya.
"Ampun Bos, bercanda kok. Galak amat, kayak kalkun beranak!" celetuk Nanda menunjukkan dua jarinya.
"Kalian mau sampai kapan di sini?" Heaven menaikan satu alisnya, menatap semua teman-temannya yang masih duduk santai di sofa hingga sekarang.
"Bentar dulu napa Heav, baru juga jam sembilan malam!" ucap Nanda.
"Baru matamu? Ini udah malem bego, waktunya gue istirahat!" sahut Heaven. Memang benar sejak kemarin ia kurang beristirahat karena harus menemani Zia yang terkadang mengigau dalam tidurnya. Setelah menanyakan apa penyebabnya pada calon mertua, Heaven kini tahu apa yang membuat Zia memiliki trauma berat hingga kondisinya seperti ini setelah kejadian kemarin.
"Iya kita pulang!" ucap Nanda sambil beranjak memakai jaket miliknya.
"Nda, lo pulang sama siapa?" tanya Agam yang juga tengah memakai jaketnya.
"Gue udah dijemput sama supir Kak. Bentar lagi kayaknya nyampe!" jawab Handa dengan hati berbunga-bunga. Setelah sekian lama akhirnya Agam kembali menanyakan hal itu padanya, seperti yang dilakukan saat mereka masih pacaran dulu. Meski tidak mengantarkannya pulang, namun sebenarnya Handa sangat menyukai perhatian kecil semacam ini dari Agam.
"Ok! Hati-hati di jalan!" Agam mengulas senyum tipis, "Heav, kita pulang dulu. Awas lo, yang bener jagain anak orang!"
"Jangan macem-macem Bos, inget masih sekolah!" Ledek Nanda kemudian berlari kabur, sebelum mendapatkan amukan dari Heaven yang sudah mendelik tajam.
Setelah melakukan perpisahan ala cowok, Kenzo, Gala, Agam dan Nanda segera pergi meninggalkan apartemen. Kini hanya tinggal Handa yang masih duduk di tempatnya, sementara Heaven sedang pergi ke kamar untuk memeriksa keadaan Zia sejenak.
__ADS_1
"Lho, kok lo masih di sini?" Heaven yang baru saja kembali hendak menuju dapur, malah terhenti melihat Handa yang masih berada di tempatnya sambil bermain ponsel.
"Ish sabar sih, supir gue belom dateng!"
"Buruan, ntar keburu malem bahaya!" ucap Heaven kemudian pergi menuju dapur.
"Kak kalau mau makan, gue udah siapin sate di meja makan. Buat besok pagi mending lo beli online aja, makanannya udah dihabisin sama temen-temen lo tadi!" ucap Handa mengiringi kepergian Heaven menuju dapur.
"OK!" teriak Heaven menjawab.
Sesampainya di dapur, Heaven membuka lemari pendingin untuk mengambil minuman. Sejak tadi ia sudah merasa haus, namun belum sempat minum karena sibuk menertawakan nasib Jaka. Entah mengapa sejak awal pertemuan, ia begitu membenci Jaka sampai mendarah daging. Padahal sejak dulu ia sama sekali tidak peduli dengan tingkah menyebalkan atau menggemaskan hewan peliharaan lainnya, sangat berbeda dengan perilaku Jaka yang maunya selalu ia benci sampai seumur hidup.
Selesai dengan minumannya, Heaven meletakkan gelas di wastafel lalu kembali ke ruang tengah. Terlihat pencahayaan ruangan sudah temaram, beberapa lampu sudah dimatikan, pertanda bahwa Handa sudah pulang sejak tadi. Suasana sudah mulai sunyi, bahkan Jaka pun sudah kembali ke kandangnya. Heaven menghela nafasnya panjang, lalu merebahkan diri di atas sofa dengan harapan malam ini bisa tidur lebih nyenyak.
Prang...
"Zianna!" Heaven berlari menghampiri Zia yang ternyata sedang meringkuk di sisi ranjang, gadis itu tengah menangis sambil meracau tidak jelas.
"Bukan, bukan aku. Jangan mendekat, jangan mendekat!" teriak Zia yang tengah berusaha menyembunyikan diri.
"Anna ini gue!" Tanpa pikir panjang Heaven langsung meraih tangan Zia, namun ternyata hal itu malah membuat Zia semakin menjerit dan meracau tidak jelas.
"Nggak, itu bukan aku. Bukan aku, aku nggak sengaja. Pergi pergi pergi aaaa...."
"Na, sadar Na. Ini gue... Heaven!" Melihatnya yang semakin tidak terkendali, Heaven dengan cepat menangkap wajah Zia. "BUKA MATA LO, INI GUE HEAVEN!" ucapnya dengan suara meninggi.
Masih dengan rasa takut Zia mencoba membuka matanya, wajahnya sudah basah di banjiri oleh air mata. Sangat sulit baginya menghilangkan bayang-bayang masa lalu yang mengerikan itu, bahkan suara gelas yang tidak sengaja terjatuh tadi masih menggema di telinganya. Gadis itu kembali menitikkan air mata, setelah melihat Heaven berada di hadapannya. Tanpa pikir panjang ia langsung membenturkan tubuhnya, memeluk Heaven dengan sangat erat seolah tidak ingin ditinggal sendirian lagi.
__ADS_1
"Maafin gue! Harusnya gue nggak ninggalin lo tadi!" ucap Heaven sambil mengelus puncak kepala Zia. "Tenang ya, gue janji nggak akan ninggalin lo lagi kayak tadi!"
Tidak ada jawaban apapun dari Zia, sambil menangis ia masih memeluk tubuh Heaven dengan begitu erat. Heaven yang mengerti pun hanya diam, membiarkan Zia untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Tangannya masih bergerak mengelus punggung gadis yang masih berada dalam dekapannya, sambil menunggu saat-saat di mana Zia mulai merasa tenang. Hingga beberapa menit berlalu, Zia yang mulai merasa tenang dengan perlahan melonggarkan pelukannya.
"Udah, jangan nangis lagi! Ada gue di sini!" ucap Heaven sambil mengusap wajah Zia yang masih basah.
Lagi dan lagi tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Zia, hanya tangannya saja yang beralih menggenggam tangan Heaven dengan erat. Gadis itu sedang merasakan takut, setelah menyadari dirinya berada di dalam kamar seorang diri sebelumnya. Melihat semburat ketakutan yang masih terlihat jelas di wajah Zia membuat Heaven sedikit merasa bersalah, namun ia mencoba tersenyum untuk sekedar meyakinkan Zia bahwa dirinya tidak akan pergi ke mana-mana lagi.
"Ya udah, tidur lagi yuk!"
Perlahan Heaven mengajak Zia untuk berdiri, lalu menuntunnya untuk naik ke atas ranjang. Dengan patuh gadis itu menurut, merebahkan tubuhnya tanpa mau melepaskan pegangannya pada tangan kanan Heaven. Dengan sedikit kesulitan Heaven menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuh gadis itu, tapi siapa sangka setelahnya dengan ragu Zia melepaskan pegangan tangannya.
"Kenapa masih liatin, gue ganteng ya?" tanya Heaven sambil terkekeh.
Melihat Zia yang masih saja menatap dirinya, Heaven beranjak duduk di samping gadis itu. Menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Setidaknya hal itu ia lakukan agar Zia mau memejamkan matanya. Karena merasa bosan, Heaven pun memainkan ponselnya sambil mengusap kepala gadis yang tidur di sampingnya dengan telaten. Hingga beberapa menit kemudian akhirnya gadis itu mulai memejamkan mata, dan mulai terlelap dalam tidurnya dengan tenang.
Gue nggak yakin apa gue bisa bikin lo sembuh dalam beberapa hari, seperti apa yang dikatakan Daddy lo!
Heaven menatap dalam diam Zia yang sudah terlelap dalam tidurnya, pikirannya kembali teringat dengan kata-kata Daddy Zion saat di panggilan telepon sebelumnya. Mereka memang sempat berbicara melalui panggilan suara di rumah sakit kemarin. Tidak bisa dipungkiri sejak kemarin pikiran Heaven selalu dipenuhi oleh kata-kata yang cukup membuatnya tersadar akan kenyataan. Tersadar bahwa sampai sekarang memang dirinya tidak tahu apapun tentang gadis yang dicintainya.
Saat sakit seperti ini, Anna akan mencari tempat yang paling nyaman. Jika memang dia nyaman bersamamu, maka kondisinya akan membaik dalam dua hari ke depan, seperti saat bersamaku. Tapi jika tidak, mungkin dia memang belum menemukan kenyamanan itu dalam dirimu!
Sampai sekarang memang baru terhitung dua hari, namun tetap saja kenyataan itu malah membuat Heaven semakin merasa pesimis. Sangat tidak yakin jika dirinya bisa membuat Zia sembuh dengan cepat, seperti yang biasa Zia alami saat bersama orang-orang terkasihnya.
*********
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...
__ADS_1