
Mentari pagi mulai menampakkan cahayanya. Di dalam kamar berdesain scandinavian itu, Icha masih terlelap dalam tidurnya. Pengaruh obat tidur yang semalam diberikan padanya masih bekerja dengan sangat baik hingga detik ini. Gadis itu bahkan tidak terbangun ketika seseorang masuk ke dalam kamarnya, dan mulai mendekati dirinya.
"Maafin Kakak, Cha. Tidak seharusnya kamu mengalami semua ini."
Cakra mengusap surai rambut adiknya, air mata yang biasanya mampu ia tahan seketika meluncur bebas membasahi pipi. Dengan kasar ia mengusapnya. Tidak, dirinya tidak boleh lemah dalam menghadapi semua masalah yang terjadi. Dalam hidupnya, masih ada Icha yang harus ia jaga. Cakra kembali mensugesti dirinya.
"Cha, bangun Cha!" panggil Cakra lirih.
Beberapa kali Cakra mencoba membangunkan adiknya, menepuk dan menggoyangkan punggung Icha. Namun, gadis itu masih saja terlelap. Cakra menyadari, Icha masih dalam pengaruh obat tidur yang telah diberikan olehnya semalam. Sampai detik ini, sebenarnya Cakra masih sangat marah akan hal itu.
Akan tetapi ia tidak memiliki pilihan lain, ia tidak ingin melihat Icha melihat perbuatan keji Papanya. Jika dibiarkan saja, Cakra yakin Icha akan memiliki trauma berat, sama seperti dirinya. Karena itu sejak dulu ia benar-benar melindungi Icha, menjaganya dari amukan Rico yang begitu menggila.
"Icha, bangun Cha. Kita harus pergi dari sini sekarang! Kakak nggak mau lagi liat kamu kayak gini!" ucap Cakra sambil menepuk pipi Icha.
Setelah cukup lama mempertimbangkan segalanya, Cakra dengan mantap memutuskan hendak diam-diam pergi dari kediamannya. Membiarkan seluruh harta peninggalan keluarga Mama jatuh ke tangan orang yang salah. Cukup sampai di sini Cakra bertahan, ia tidak ingin lagi melihat Icha menderita karena perlakuan Rico.
"Maafin Kakak karena udah banyak bohong sama kamu, Cha! Tapi mulai sekarang Kakak janji bakal bikin kehidupan kita lebih baik kedepannya."
Melihatnya yang tidak kunjung bangun, Cakra akhirnya meraih paksa tubuh Icha, menggendongnya ala bridal style. Waktu sudah semakin siang, Cakra tidak ingin kepergiannya kali ini ketahuan oleh Rico. Jika sampai itu terjadi lagi, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Rico pada dirinya dan Icha. Percobaan kabur dari rumah ini memang bukan untuk yang pertama kalinya bagi Cakra, dan selama kegagalan itu, ia dan Icha pasti akan selalu mendapatkan hukuman berat dari Rico.
"Sabar Cha, Kakak janji bakal bikin kamu bahagia!" kata Cakra sembari melangkahkan kakinya pelan.
"AAAA TOLOOONNNGGGG... ICHA MAU DICULIK WEWE GOMBEL, TOLONG!" Dalam gendongan, tiba-tiba Icha berteriak sambil memberontak.
"Ssstttt Icha!" Baru berapa kali Cakra melangkahkan kakinya, tiba-tiba terdengar teriakan dari Icha yang membuatnya terkejut. Terlihat dalam gendongan, Icha kini sedang menutup kedua matanya karena takut.
"TOLONG, ICHA NGGAK MAU DICULIK WEWE GOMBEL! ICHA NGGAK MAU JADI JELEK! ICHA JUGA BUKAN MAKANAN, ICHA BUKAN MAKANAN. TOLONG!" racau Icha tidak jelas.
"Sssttt Icha, diem Cha. Ini Kakak! Bukan wewe gombel!" Cakra mencoba menenangkan. "Jangan berisik, buka matanya. Liat baik-baik, ini Kakak bukan wewe gombel!"
Perlahan Icha membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya, membuka salah satu matanya mengintip. Pandangannya menangkap wajah Kakaknya sedang menatap padanya, barulah Icha menyengir lebar menyadarinya.
"Kak Cakra? Icha kira tadi wewe gombel mau nyulik Icha!" kata Icha.
"Kamu mimpi buruk lagi?"
Icha menganggukkan kepalanya. "Icha mimpi mau diculik sama wewe gombel, dibawa terbang tinggi banget tadi!" jawabnya.
"Rasanya tuh mirip banget kayak yang Icha rasain sekarang!" lanjutnya heboh.
Cakra hanya mampu menghela nafas sambil memejamkan mata, adiknya ini benar-benar sangat polos. Sampai apa yang dirasakannya tadi ia anggap hanyalah sebuah mimpi. Tapi dengan kepolosan Icha, setidaknya Cakra tidak perlu merasa terbebani. Selama ini memang Cakra yang telah membuat Icha seperti ini, mendidiknya selayaknya gadis kecil yang masih polos dan tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
Tidak ada cara lain, Cakra melakukan semua itu karena untuk melindungi Icha. Membuatnya menjadi gadis polos dan bodoh agar tidak dimanfaatkan oleh Papa Rico, Cakra tidak ingin nasib Icha sama seperti dirinya. Itulah kenapa hingga sampai detik ini Icha masih sangat kekanak-kanakan di usianya yang sudah memasuki tujuh belas tahun.
"Kak Cakra kok malah diem sih?" tanya Icha bingung.
"Terus Kakak harus ngomong apa?"
"Kak Cakra ngapain gendong Icha? Icha kan bukan anak kecil!" ucap Icha sambil turun dari gendongan.
"Kakak kira kamu pingsan tadi, makanya mau Kakak bawa ke rumah sakit. Abisnya kamu nggak bangun-bangun Kakak panggil-panggil!" jawab Cakra bohong.
Seketika Icha memegang perutnya, mendengar kata rumah sakit membuat Icha jadi teringat ketika terakhir kali dirinya mendapat operasi usus buntu. "Icha sehat kok, Icha nggak mau ke rumah sakit. Nanti perut Icha bolong lagi!" tolaknya sambil mencebikan bibir.
"Memang siapa yang mau bolongin perut kamu hm?" tanya Cakra menggeleng.
"Dokter!" jawab Icha sembari berlalu, hendak kembali ke ranjang.
"Heh kamu mau ke mana?" cegah Cakra meraih tangannya.
"Icha mau ke sekolah, udah siang!"
"Hari ini nggak usah sekolah ya, Kakak mau ajak kamu jalan-jalan. Kamu mau nggak?" tanya Cakra berbohong.
"Jalan-jalan? Tapi Icha kan harus sekolah, kemarin aja Icha udah nggak sekolah!" jawab Icha.
"Sekarang kan hari libur Icha, tenang aja Kakak udah atur semuanya!" kata Cakra.
"Beneran? Kak Cakra nggak boong kan?" tanya Icha mulai merasa senang. Kapan lagi ia bisa jalan-jalan bersama keluarganya seperti ini.
Cakra menggelengkan kepalanya. "Nggak sayang, Kakak nggak bohong kok. Ya udah ayok pergi!" ajaknya.
"Hah? Sekarang?" tanya Icha bingung.
"Iya sekarang, masa tahun depan!"
"Tapi Icha kan belum mandi, belum ganti baju juga!"
Cakra menepuk jidatnya, ia baru ingat Icha belum mandi sejak tadi. "Sudahlah, nggak perlu mandi. Kamu bawa beberapa pakaian saja, nanti kita ketinggalan pesawat."
"Pesawat? Emangnya kita mau ke mana Kak, kok pake naik pesawat?" tanya Icha bingung.
"Kita mau jalan-jalan jauh, ayok buruan Kakak bantu kamu siap-siap!" Tidak ada waktu lagi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Icha, Cakra dengan cepat mengambil beberapa baju milik adiknya dan memasukkannya ke dalam tas.
__ADS_1
"Tapi Kak, apa Papa juga ikut jalan-jalan?"
"Nggak, Papa nggak ikut. Cuma kita berdua, cepet kamu ganti baju!" jawab Cakra sambil mendorong Icha.
Icha menatap baju yang diberikan Kakaknya, hampir saja ia terjatuh karena dorongan itu tadi. Baru kali ini ia melihat Kak Cakra bersikap kasar seperti ini. Icha sedikit merasa aneh akan hal itu. Namun, ia tidak mau memusingkannya dan segera menuju kamar mandi. Mungkin karena gugup, Kak Cakra jadi tidak sengaja melakukan itu semua.
Beberapa menit berlalu, Icha sudah keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih segar. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Cakra langsung menarik tangan Icha menuju keluar sambil menenteng tas berisi pakaian milik Icha. Sambil mengedarkan pandangannya, Cakra melangkah dengan sangat hati-hati. Tidak lupa ia mengambil kunci mobil yang sudah ia siapkan sejak semalam.
"Kak---"
"Sssttt jangan banyak bertanya, ikuti aja Kakak!" lirih Cakra memperingatkan adiknya. "Ayo!"
Bak kerbau dicucuk hidungnya, Icha langsung menuruti perintah Kakaknya. Mengikuti langkahnya menuju pintu utama, meskipun masih banyak pertanyaan dalam benaknya. Sesampainya di mobil, Cakra langsung mendorong Icha masuk.
"Kak Cakra kenapa sih, kok kasar banget sama Icha!" protes Icha setelah duduk di samping pengemudi.
"Maaf Cha, Kakak nggak sengaja. Kakak buru-buru," jawab Cakra sambil menutup pintunya. Cakra berjalan memutari mobil dengan langkah cepat. Jangan sampai ia ketahuan oleh Papa Rico, karena itu akan sangat berbahaya bagi keduanya.
"MAU KE MANA KALIAN BERDUA?"
Cakra tersentak saat akan memasuki mobil. Dari arah pintu utama, terlihat Papa Rico tengah tertatih-tatih berjalan hendak menghampiri. Pria itu tidak bisa berjalan dengan baik karena semalam kakinya terluka akibat kesalahannya sendiri. Saat mengamuk semalam, ia tidak sengaja menginjak pecahan kaca yang sudah berserakan di lantai. Saat itu Rico memang tidak sedang mengenakan alas kaki apapun.
Karena itu Cakra mengambil kesempatan ini agar bisa pergi tanpa ketahuan, tapi sayangnya rencananya tidak sepenuhnya berhasil. Ia sudah ketahuan oleh Rico, tampaknya efek obat tidur yang diberikan olehnya sudah tidak bekerja. Tanpa pikir panjang, Cakra masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas meninggalkan Rico yang terjatuh di depan pintu sambil memegangi kepalanya yang terasa pening.
"ANAK SIALAN, AWAS SAJA KALIAN! JANGAN HARAP KALIAN BISA KABUR DARIKU!"
🎀🎀🎀
Maaf baru sempat up, othor keteteran mau mudik 😅
Sambil menunggu Heavanna up, mampir dulu yuk ke karya keren di bawah ini.
Judul : My Crazy Lady
Napen : R. Angela
Hanna, seorang gadis bertubuh besar dan berpenampilan tidak menarik, selalu tidak dianggap dan tersisihkan oleh ibu dan juga saudaranya, begitupun dengan orang-orang disekitarnya. Hingga keadaan berbalik, orang-orang yang dulu mencemoohnya kini mencoba mengambil hatinya, begitu juga dengan pria yang dulu sangat membencinya. "Kau harus menjadi duchess of Claymore, suka atau pun tidak!" - Alexander Davlin Claymore, Duke of Claymore - "Bukan kah kau tidak suka dengan gadis berlemak yang suka meneteskan air liurnya saat melihat makanan?" - Lady Hanna Jhonson - Tidak cukup dihina, Hanna pun menjadi taruhan oleh teman-temannya dan juga pria yang sangat dia sukai. Hingga suatu hari, Hanna tersedot masuk ke dalam novel yang sedang dia baca, dan menjadi pemeran utama yang hidupnya juga sama menyedihkannya. Merasa mendapat kesempatan kedua, Hanna mencoba mengubah takdir nya, dengan melawan siapa saja yang ingi menyingkirkan nya
Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻
__ADS_1