Heavanna

Heavanna
49. MENEMANI ZIA


__ADS_3

"Udah sih Kak, jangan marah-marah mulu!"


Setelah menutup pintu tadi, Heaven masih terus menggerutu mengumpat Nanda yang begitu menyebalkan menurutnya. Zia yang sedang sakit kepala, semakin sakit tidak karuan mendengar ocehannya. Kalau boleh, ingin sekali Zia menyumpal mulutnya yang terus berbicara itu dengan sepatu miliknya sampai terdiam. Niatnya datang ke UKS untuk beristirahat jadi gagal, setelah kedatangan cowok menyebalkan itu.


Heaven menghentikan ucapannya, menyadari telah mengganggu waktu istirahat Zia. Meski dalam hati masih mengumpat Nanda yang telah berbicara seenak jidat. Sahabatnya yang satu itu memang tidak ada akhlaknya sama sekali, Heaven menduga otaknya mungkin hanya ada secuil. Tidak ingin membuat keributan lagi, Heaven memilih mengambil roti coklat di dalam kantong yang diberikan Handa tadi.


"Lo belum makan kan?" Heaven membuka bungkus roti isi coklat itu, lalu memberikannya kepada Zia.


"Makasih!" Dengan senang hati Zia menerimanya, memang sejak tadi perutnya sudah menahan lapar. Apalagi pagi ini dirinya belum sempat sarapan, karena ia sedang tidak berselera dengan makanan. "Kak Heaven udah makan?" tanyanya.


Heaven menggelengkan kepala, karena memang belum sempat makan tadi. Ia mengambil botol air mineral, membuka penutup lalu meletakkannya di meja dekat ranjang setelah memasukkan sedotan ke dalamnya, agar memudahkan Zia minum nanti. "Kenapa, lo mau bagi makanannya?" tanyanya sambil tersenyum jenaka.


"Ish bukan gitu! Kalau Kak Heaven belum makan, ya udah ke kantin aja. Nanti kelaperan lagi!" ucap Zia seraya mengusir, "Lagian gue juga nggak papa kok!" lanjutnya.


Bukan Zia tidak nyaman berduaan dengan Heaven di dalam ruangan itu, ia hanya tidak ingin Heaven kelaparan saat jam pelajaran nanti hanya karena memilih untuk menemani dirinya dan mengabaikan makan siangnya.


"Udah nggak usah banyak omong, cepetan makan!" kata Heaven.


Zia menatap roti yang sudah berada di tangannya, rasanya sedikit tidak enak makan sendirian di hadapan cowok itu. Tapi kalau Zia membaginya, bisa saja Heaven kepedean nantinya.


"Kenapa, lo nggak suka rotinya?" tanya Heaven melihat Zia yang hanya diam memandangi roti itu.


"Ini rasa apa?" Tidak ingin Heaven tahu kegundahannya, Zia memilih bertanya meskipun sudah tahu rasa dari roti itu dengan sekali melihatnya.


"Coklat!" jawab Heaven, "Udah cepetan makan, nanti keburu expired!"


Zia mendengus, mana mungkin roti yang baru dibuka bisa langsung kadaluarsa begitu saja. Ada ada saja cowok aneh satu itu. Tidak ingin berlama-lama, Zia mulai memakan roti itu tanpa memedulikan Heaven yang duduk diam di kursi sebelah ranjang.


"Enak juga!" Zia mengunyah roti sambil manggut-manggut, "Rasanya kayak... coklat!" cengirnya.


"Ya kan emang coklat!" Heaven menggeleng melihat kelakuan Zia, tapi sudahlah, terserah gadis itu saja mau bicara apa. Tidak ingin mengganggu Zia yang sedang makan, Heaven membuka ponsel untuk menyibukkan diri. Sambil sesekali melirik Zia yang sedang sibuk dengan makanannya.


"Udah ah, kenyang!" Zia mengambil minuman di atas meja, mengabaikan rotinya yang hanya tersisa sedikit di tangannya.


Mendengar ucapan gadisnya, Heaven yang sedang sibuk bermain ponsel beralih menatap Zia. "Abisin, tinggal dikit doang juga!" titahnya melihat roti yang tinggal seberapa gigit itu.


"Nggak mau, udah kenyang!" Zia hendak membuang roti itu ketempat sampah, namun segera di cegah oleh Heaven dengan memegang tangannya.


"Abisin Anna!"


"Zia, bukan Anna!" koreksi Zia, "Gue udah kenyang!" ia mengerucutkan bibirnya sedikit kesal.

__ADS_1


"Pantes aja lo kerempeng gitu, makannya aja dikit banget!" cibir Heaven.


"Apa! Kerempeng?" Zia syok mendengar ucapan Heaven, tubuhnya yang masuk kategori ideal itu baru saja dibilang kerempeng.


"Gue nggak kerempeng! Nggak liat apa badan udah body goals gini!" Zia membalas dengan wajah penuh kesombongan, karena sangat kesal dengan ucapan Heaven sebelumnya.


"Body goals apaan, kerempeng gitu! Kayak kurang gizi!" cibir Heaven lagi.


"KAK HEAVEN, BUKAN KEREMPENG IH!" Zia memekik tidak terima, jika bisa ingin sekali Zia menguncir mulut Heaven agar berhenti mengatai dirinya lagi.


Heaven mengusap telinganya yang tiba-tiba berdengung setelah mendengar pekikan Zia yang begitu memekakkan telinga. "Nggak usah teriak-teriak, gue nggak budek. Kayak bagus aja suara lo!"


"Biarin, lo ngeselin!" Zia mengalihkan pandangannya tidak ingin lagi menatap cowok menyebalkan itu. Heran saja, mengapa Heaven selalu berhasil menghina dirinya.


Menyadari gadisnya mulai marah, Heaven beranjak duduk di samping Zia. Memegang kedua bahunya agar menatap ke arahnya. "Nggak usah ngambek, jelek!" ucapnnya.


"Biarin, emang gue jelek!" ucap Zia masih tidak ingin menatap cowok di hadapannya.


"Kalau ngomong tuh lihat orangnya, nggak sopan kayak gitu!" Heaven mencoba mengalihkan wajah Zia agar kembali menatapnya, namun sedikit sulit karena gadis itu langsung menepis tangannya.


"Nggak usah pegang-pegang, gue jelek!"


Heaven sangat ingin tertawa melihat tingkah Zia yang sedang merajuk itu, menurutnya gadis itu sangat lucu. "Mau lihat gue atau gue cium lo sampe mampus?" ancamnya.


"Kok diem?" tanya Heaven melihat Zia hanya mengerucutkan bibirnya. "Jangan ngambek mulu, lo ca-"


"Jelek kan, iya udah nggak usah diperjelas lagi!" sela Zia dengan nada kesal. Sebelum Heaven selesai mengatakan hal menyakitkan lagi, akan lebih baik dirinya sendiri yang mengatakannya.


"Nggak mau lagi ngomong sama Kak Heaven. Kak Heaven jahat, ngeselin, nyebelen, bikin enek, banyak omong, tukang nyinyir, udah gitu jelek lagi! Pake bilang gue jelek segala, siapa yang lebih jelek coba. Kak Heaven aja yang gantengnya di bawah rata-rata, makanya nggak tahu cewek cantik dan ideal itu kayak apa!" celotehnya penuh dendam.


Heaven terkekeh mendengar celotehan Zia, lalu mengacak rambut gadis itu dengan gemas. "Iya deh, puas-puasin lo ngehina gue!" ujarnya mengalah.


"Jangan ngambek mulu, ntar cantiknya hilang!" Daripada melihat Zia semakin sakit nantinya, lebih baik Heaven menghentikan perdebatan itu. Heaven mengarahkan tangan Zia ke depan mulut, lalu memakan roti itu dengan cepat. Setelahnya ia kembali ke tempat duduknya yang semula, kemudian mengambil ponselnya lagi.


Zia membulatkan mata, terkejut dengan apa yang di lakukan Heaven. Cowok itu baru saja memakan roti bekasnya tanpa rasa jijik sama sekali. "Kok di makan?" protesnya melihat Heaven tengah mengunyah sambil berkutat dengan ponsel.


"Katanya lo kenyang!" ucap Heaven setelah menelan habis rotinya.


"Ya... ya tap-tapi nggak gitu juga!" ucap Zia terdengar seperti gumaman.


"Daripada dibuang, kan sayang!" ujar Heaven, "Gue nggak mau sayang sama roti, sayangnya cukup sama lo aja!"

__ADS_1


"Bulshit."


Heaven menatap Zia sejenak, kemudian kembali menatap ponselnya. "Minumnya dong!" pintanya dengan masih menatap layar ponsel.


"Ambil aja sendiri, punya tangan buat apa?" Zia enggan mengambil minuman, meski tahu Heaven tengah sibuk dengan ponselnya. Ia masih kesal dengan apa yang Heaven katakan sebelumnya, tapi tidak dipungkiri ia cukup tersentak saat cowok itu mengatakan sayang padanya.


Heaven menatap Zia lalu menunjukkan layar ponsel yang menyala, menegaskan bahwa kedua tangannya tengah sibuk dengan game yang sedang dimainkannya. Zia memutar bola matanya malas, dengan tak minat mengambilkan minum untuk Heaven. Membantunya memegang botol sampai Heaven selesai dengan minumnya, lalu meletakkan kembali ke tempat asalnya.


"Makasih sayang!" Heaven mengulas senyum manis di bibirnya.


Zia terpaku mendengar Heaven memanggilnya sayang, ditambah dengan senyum manis yang merekah memperindah garis wajahnya. Ah Zia mulai tidak terkendali, kenapa Heaven begitu tampan setelah mengatakan hal itu. Dan apa itu? Senyumannya sangat mengganggu kesehatan. Jantungnya kini mulai berpacu dengan cepat. Ayolah, siapapun tolong jauhkan dirinya dari pria semacam Heaven. Zia sedang tidak ingin bermain-main dengan perasaan lagi untuk saat ini.


"Hm!" balas Zia hanya dengan sebuah deheman.


Daripada kembali beradu mulut, lebih baik Zia merebahkan diri membiarkan Heaven sibuk dengan gamenya. Lama terdiam Zia yang terbawa suasana kini mulai tertidur, Heaven tetap membiarkannya meski tahu jam istirahat sebentar lagi akan selesai. Setidaknya Zia bisa beristirahat selama beberapa waktu agar tubuhnya jauh lebih baik nantinya.


Hingga sekitar satu jam berlalu, Zia yang sudah puas tidur kini mulai membuka matanya perlahan. Dapat di rasakan tubuhnya sudah lebih baik dari sebelumnya. Zia mengedarkan pandangannya melihat sekeliling. Tidak di sangka Heaven masih setia menunggunya, duduk santai dengan salah satu kaki yang menumpang di kaki lainnya. Cowok itu masih sibuk bermain ponsel, hingga tidak menyadari bahwa Zia sudah terbangun dari tidurnya.


"Kak Heaven?" panggil Zia dengan suara serak.


"Hm?" Heaven mendongak menyadari namanya di panggil oleh Zia, "Udah bangun?" tanyanya dengan lembut sambil memasukkan ponsel ke salam saku.


"Kak Heaven kok masih di sini?"


"Gimana, udah mendingan?" tanya Heaven tanpa menjawab pertanyaan Zia sebelumnya.


Zia mengangguk menjawab pertanyaan Heaven, pandangannya beralih menatap sekitar. Gadis itu masih belum sadar sepenuhnya setelah tidur selama sekitar satu jam. "Udah berapa menit gue tidur?" tanyanya.


"Eum mungkin satu jam lebih!" ujar Heaven yang tidak terlalu memperhatikan jam.


"Apa! Satu jam?" Zia terkejut hingga membulatkan matanya, tidak menyangka bisa tidur selama itu. Ia mengira dirinya hanya tidur selama beberapa menit saja tadi. "Kenapa nggak dibangunin?" tanyanya.


"Biar cukup istirahatnya, gue udah bilang ke Handa buat minta izin ke guru lo tadi!"


"Tapi tetep aja ketinggalan pelajaran!"


"Ketinggalan satu jam pelajaran nggak bikin lo bego kali!" ucap Heaven, "Udah ayok gue anterin, atau lo masih mau di sini?"


Sontak Zia menggeleng cepat, lalu turun dari ranjang dan segera memakai sepatunya kembali. Zia tidak ingin ketinggalan pelajaran lagi, atau ia akan menyalin materi lebih banyak nantinya. Heaven masih setia menunggu Zia selesai memakai sepatu. Setelah selesai ia mengantarkan Zia sampai ke depan kelas, lalu kembali ke kelasnya setelah memastikan Zia baik-baik saja.


*********

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😇...


...Sampai bertemu lagi di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2