Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Episode 10


__ADS_3

"Lepaskan aku, aku harus kuliah. Sudah lama aku tidak masuk kampus," ucap Vera menghentikan langkah suaminya.


"Oh, kuliah? Untuk apa kuliah? Membenarkan attitude mu atau ingin memperdalam ilmu untuk memudahkanmu menutupi kejahatanmu?" ejek Dave, lalu membuka dan keluar kamar.


"Walaupun aku jahat, tapi ... aku masih mempunyai hati nurani. Tidak sepertimu, yang terlihat baik tetapi hatinya seperti iblis," gumam Vera mengibaskan selimut dan menurunkan kakinya dari ranjang.


'Aku sudah kehilangan semuanya, aku baru saja kehilangan keluarga ku, dan sekarang aku di kabarkan keguguran. Semua ini karena keluarga ini. Keluarga yang jahat, keluarga yang keji!' gumam Vera dalam hati. Dia memegang perutnya.


Setelah turun dari ranjang, Vera melihat kondisi di luar rumah dari balik kaca jendela yang besar. Terlihat beberapa anak buah suaminya berjaga di bawah jendela membuat Vera menutup tirai panjang jendelanya.


Tak ingin terlalu larut dalam kesedihan, Vera berjalan menuju kamar mandi. Dia ingin membersihkan tubuhnya karena terasa lengket akibat ulah suaminya semalam.


Berendam air hangat di pagi hari, membuat tubuh Vera terasa segar. Sudah 30 menit, Vera berendam dan dia tidak ingin menyudahinya walaupun tangan dan tubuhnya sudah menggigil.


Di ruangan kerja yang berada di dalam rumah. Memudahkan Dave untuk menenangkan diri. Terlihat sebuah layar yang menampilkan beberapa gambar dari setiap sudut ruangan.


Sedang terfokuskan di titik sudut kamarnya. Ya, itu adalah Dave. Dia sedang melihat dan memikirkan cara untuk membalaskan semua perbuatan jahat yang dilakukan istrinya terutama terhadap wanita yang dia cintai dan menutupi kehamilannya dari pria lain.


'Permainan sudah di mulai, dan kini ... aku tahu, aku harus berbuat apa padamu, hahaha ...,' gumam Dave dalam hati. Dia mengetuk jarinya berulang kali ke meja kerjanya.


"Enaknya aku teruskan ke mana? Aku tidak mungkin menyiksanya di atas ranjang. Dia bisa kebal," ujar Dave menyenderkan tubuhnya di punggung kursi.

__ADS_1


Setelah lama berkutat dalam pikirannya. Akhirnya Dave beranjak dari tempat duduknya. Membuka pintu dan keluar menuju kamarnya. lebih tepat, kamar Dave dan Vera.


Krek ...


Pintu terbuka, Dave melangkahkan kakinya dengan lebar agar memasuki kamarnya yang sangat luas. Salah satu sudut bibirnya terangkat saat melihat wanita yang dia cari sedang duduk di tepi ranjang.


"Lepaskan aku!" sarapan kata di pagi hari untuk Dave dari istrinya.


Melihat pria jahat yang sudah menjadi suaminya sedang berjalan menghampirinya, Vera bangkit dan berjalan menuju kaca besar yang tertutup tirai korden panjang dan lebar.


Memalingkan wajah agar tidak terlihat sedih, itulah yang sekarang dilakukan Vera. Dia tidak mau suami jahatnya melihat kesedihan dan air matanya. Vera pikir, jika suaminya melihat kesedihan di raut wajahnya, dia akan mengejeknya dan mungkin lebih parahnya dia akan berpesta untuk kemenangannya, 'Aku benci pria seperti mu!' gumam Vera dalam hati.


"Kenapa diam! Di mana suaramu itu? Atau ... suaramu sudah dihabiskan untuk menangis," ejek Dave mendudukan bokongnya di tepi ranjang dengan pandangan fokus menatap tubuh Vera dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Vera sama sekali tidak ingin membalas setiap ucapan suaminya. Dia lebih memilih melamun memikirkan kekasihnya, Putra yang sampai saat ini belum ada kabar.


'Aku harap suatu hari nanti, aku bisa bertemu denganmu Put, aku membutuhkan tempat untuk bercerita. Rumah utamaku sudah hilang karena kecelakaan tragis. Dan kini, aku pikir rumah keduaku, rumah terbaik yang ibu amanahkan, tapi ... itu semua di luar dugaanku. Aku dipaksa menikah oleh orang yang tidak aku kenal. Mungkin jika aku berada di negaraku, aku bisa meminta pertolongan pada semua teman-temanku, tapi situasinya berbeda. Dan semua sudah terjadi. Aku harap, suatu hari nanti ... aku bisa bertemu dan berbagi cerita padamu,' gumam Vera perlahan membuka tirai jendelanya.


"Lepaskan aku, beri aku kebebasan sedikit saja," pinta Vera setelah tersadar dari lamunannya, "Tolong!" sambungnya lagi sambil menatap wajah suaminya, "Kedua orang tuaku menginginkan masa depan yang cerah untukku. Aku di kuliahkan di kampus ternama dan aku tidak bisa menyia-nyiakan perjuangan kedua orang tuaku. Izinkan aku kembali ke negaraku dan melanjutkan kuliahku sampai tamat, aku tidak bisa mundur karena sudah semester 4," ucap Vera kemudian menekuk lututnya dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Air mata yang di tahan akhirnya lolos juga dari pelupuk mata Vera, "Aku moohon padamu," sambungnya lagi memohon.


Salah satu sudut bibir Dave terangkat, dia bangkit dan melewati tubuh Vera yang sedang berlutut di hadapannya.

__ADS_1


"Ucapan mu membuatku iba, Nyonya. Tapi, berkacalah sebelum berbicara ... apakah ucapan mu itu sudah sesuai dengan perbuatan mu atau belum?" sindir Dave, "Tapi kau tenang saja, aku akan menuruti semua permintaan mu itu, waahh ... bukankah aku sangat berbaik hati, aku mengizinkan mu kuliah, seharusnya mulai saat ini, kau lebih patuh padaku," ujar Dave memuji dirinya sendiri.


Mendengar jawaban dari Dave, Vera yang sedang menangis pun menghentikan tangisannya. Dia memutar tubuhnya agar menghadap pria yang sedang berdiri menatap keindahan sekeliling rumahnya.


"Terimakasih, aku akan berkemas untuk pulang. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih," ucap Vera menghapus air matanya lalu tersenyum manis.


"Hahaha ... memangnya siapa yang akan memulangkanmu hah! Aku akan mendaftarkan mu kuliah di negara ini, bisa-bisa jika kau pulang ke negaramu, kau mengadu pada Zena tentang semua perbuatanku," ujar Dave, "Sekarang ikut aku! Aku akan mengurus semua kuliah mu, ganti pakaianmu!" titah Dave hendak meninggalkan istrinya sendiri di kamar.


"Ta-tapi, aku tidak begitu pintar dalam berbahasa," jawab Vera bohong.


"Memangnya aku peduli. Jika kau ingin meneruskan kuliah, lebih baik turuti perintahku, jika tidak ... ya sudah, karena aku tidak mempunyai banyak waktu untuk meladeni wanita seperti mu!" ucap Dave santai. Dia menghentikan langkahnya dan duduk di sofa.


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan mengganti bajuku," jawab Vera, 'Tidak apa-apa aku mengikuti semua perintahnya dulu, mungkin setelah ini aku bisa menemukan celah untuk kabur darinya. Aku tidak mau terjebak di sangkar emas yang seperti neraka ini lama-lama,' batin Vera berdiri dari sujudnya dan berjalan menuju kopernya.


Setelah menunggu 10 menit, akhirnya Vera sudah mengubah penampilannya dengan sempurna, kaos putih ketat dan rok berwarna pink di atas lutut serta polesan make up natural menambah kecantikan yang dipancarkan Vera.


"Aku sudah siap," ucap Vera berdiri di hadapan suaminya yang sedang mengotak-atik ponselnya.


Rambut panjangnya yang di kucir kuda dengan poni menutupi dahinya yang terluka karena ulah suaminya membuat penampilan gadis ini terlihat begitu menggemaskan di mata Dave.


"Ganti pakaianmu!" ucap Dave membuat senyum Vera memudar.

__ADS_1


"Apa maksud Mas, aku sudah rapih," jawab Vera tak sengaja membantah.


Bersambung😘


__ADS_2