
"Beli roti. Apa kamu mau membelikan roti bulananku? Dan aku, sekalian ingin menggantinya," lirih Vera yang berusaha membuat anak buah suaminya percaya.
'Bulanan? Ah, sekarang aku tahu. Aku tidak mungkin membeli barang itu, bagaimana ... jika karyawan apoteknya wanita. Bisa gengsi,' batin Lord.
Setelah menimang-nimang, akhirnya Lord mengizinkan istri Tuan nya membeli barang tersebut seorang diri, "Baiklah, saya tunggu di sini. Tapi, Nyonya jangan coba-coba kabur, atau saya akan mengikuti Nyonya sampai dalam toilet," ancam Lord.
"Siap, siapa juga yang mau kabur. Aku sudah mendapatkan kebebasan dan aku harus merayakan kebebasan itu bersamamu, Lord. Setelah kita sampai kampus, aku akan traktir kamu makan sepuasnya di kantin kampus, okeh?" jawab Vera mengedipkan salah satu matanya, kemudian membuka pintu mobil dan turun dari mobil.
Sebelum Vera melangkahkan kakinya, Vera sempat melambaikan tangannya pada Lord.
"Hai, tunggu sebentar saja," ucap Vera menarik kedua sudut bibirnya ke atas.
Melihat Nyonya mudanya bahagia, tiba-tiba pikiran Lord menjadi cemas.
"Nyonya, anda tidak berbohong padaku kan?" tanya Lord memastikan.
Vera membungkukkan badannya agar dapat melihat wajah anak buah suaminya, "Memangnya, jika aku kabur. Aku akan kabur kemana, Lord? Semua uang jajanku, kamu yang pegang. Oh iya, berikan aku beberapa lembar dollar. Aku ingin membeli roti," titah Vera, tangannya menengadah pada Lord.
Dengan sigap, Lord meraih dompet dan mengambil beberapa dollar untuk Nyonya mudanya.
"Ini Nyonya, jika ada sisa. Lebih baik anda simpan," icap Lord.
"Waahh terimakasih, tunggu sebentar," teriak Vera kemudian berjalan meninggal mobil Lord.
'Akhirnya aku bisa membeli pil KB itu. Aku tidak mau hamil anaknya. Aku tidak mau,' batin Vera memanyunkan bibirnya saat mengingat sang suami mengerjainya.
"Aku tidak yakin, jika aku akan dipungut oleh suamiku selamanya. Aku takut, dia hanya memanfaatkan ku saja," gumam Vera membuka pintu apotek.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai apotek dengan ramah.
"Mbak, saya mau membeli pil KB. Di sini menjual pil KB kan?" tanya Vera.
"Ada, mau berapa strips?"
"Satu aja Mbak," jawab Vera, yang tidak sengaja melihat kaca di depannya. Seketika wajah Vera tersenyum, dia mengambil ponselnya dan berselfie ria di kaca apotek.
Tanpa sengaja pandanganya melihat sosok anak buah suaminya yang sedang mengintip dari luar apotek, "Rupanya, dia tidak percaya denganku," gumam Vera.
__ADS_1
"Ini Mbak," titah pegawai apotek yang memberikan satu strip pil KB.
"Oh iya, sekalian pembaluutnya satu, Mbak," ujar Vera menatap wajah Lord dari pantulan cermin.
"Ini, Mbak. Semua totalnya--"
"Ini, aku berikan lebih. Tapi, jika ada seseorang yang bertanya tentangku, Mbak tolong beritahu, jika aku hanya membeli pemballuut saja," pintar Vera menyodorkan semua uang yang diberikan oleh Lord.
"Ta-tapi, Mbak?"
"Mau tidak?" ucap Vera menaik turunkan alisnya, "Jika tidak mau, aku tidak jadi beli," sambungnya lagi.
Setelah menimang-nimang ucapan Vera, akhirnya pegawai itu menganggukkan kepalanya dan menerima uang sogokan dari Vera.
"Ingat, jika ada seseorang yang bertanya, aku membeli apa, kamu bisa jawab ...?"
"Mbak membeli pemballlut," jawab pegawai apotek tersenyum manis kemudian memasukkan uang itu ke dalam saku celananya.
"Bagus. Oh iya, aku sekalian membeli satu botol air mineral," titah Vera mengambil satu botol mineral yang berada di hadapannya, kemudian memasukkan ke dalam tas.
"Aku numpang toilet. Di sini ada toilet kan?" tanya Vera.
"Terimakasih."
Dari luar kaca apotek, Lord yang melihat istri Tuan nya pergi pun segera menghampiri pegawai apotek dan memastikan istri Tuan nya membeli pembaluut.
"Maaf, sedang cari apa?" tanya pegawai apotek pada Lord.
"Tidak, saya tidak mencari apapun. Saya hanya ingin bertanya, wanita yang tadi ada di sini, kemana ya?" tanya Lord.
"Oh, Mbak nya sedang di toilet. Mas bisa tunggu di kursi dekat pintu," titah pegawai apotek.
"Tunggu dulu. Saya belum selesai berbicara," cegah Lord saat melihat kepergian pegawai apotek.
"Ada apa lagi Mas?"
"Saya hanya ingin memastikan, apa benar, wanita itu membeli pembaluut?" tanya Lord lirih. Pandangannya berulang kali menatap arah kamar mandi.
__ADS_1
"Memangnya, urusan Mas apa? Apa Mas suami dari Mbak itu? Atau Mas, seorang penjahat yang ingin mencelakai Mbak tadi?" tanya pegawai cantik apotek curiga.
"Eh ... jangan asal bicara! Saya bukan orang jahat, dan saya tidak ada niatan untuk mencelakai wanita itu. Justru, saya bodyguard atau pengawal yang menjaga dan melindungi wanita itu setiap saat. Cepat katakan, apa yang dibeli wanita itu?" ucap Lord menatap tajam wanita di hadapannya.
"Pembaluut, Mbak itu membeli pembaluut. Dan mungkin saja, Mbak itu ... sedang mengganti pembaluut nya di kamar mandi," jawab pegawai apotek tersebut.
'Syukurlah, ternyata Nyonya tidak berbohong. Lebih baik, aku tunggu di mobil saja,' batin Lord memberikan beberapa lembar dollar pada pegawai apotek.
"Ini untukmu, jangan katakan kehadiranku ini, apalagi sampai memberitahukan semua pertanyaan ku," ucap Lord.
'Ya Tuhan, mimpi apa ... aku semalam. Aku bisa mendapatkan uang yang banyak dari dua orang itu. Rejeki anak baik,' batin pegawai apotek.
"Terimakasih," ujar pegawai apotek yang memasukkan uangnya ke dalam saku.
Sebelum Lord benar-benar pergi, tiba-tiba Vera muncul dari balik tembok. Dan memergoki Lord yang sedang berdebat dengan pegawai Apotek nya.
"Lord? Ada apa? Sudah aku bilang, tunggu aku di mobil," ucap Vera.
"Nyonya!"
"Maaf Nyonya, saya hanya ingin memastikan keadaan Nyonya, karena Nyonya--"
"Karena apa? Bukankah, aku bicara ... aku tidak akan kabur. Atau, kau tidak percaya dengan ucapanku?" timpal Vera berjalan melewati Lord.
"Tidak Nyonya, maafkan saya. Saya hanya khawatir dengan keadaan Nyonya. Saya takut terjadi sesuatu pada Nyonya," elak Lord cepat.
"Ya sudah, sebaiknya kita pergi. Aku akan telat, jika mendengar semua alasanmu, Lord."
"Terimakasih Mbak, sudah mau menolong saya," ucap Vera di angguki pegawai Apotek nya.
"Sama-sama," jawab pegawai Apotek.
Kemudian Vera berjalan keluar Apotek diikuti oleh Lord di belakangnya.
Tanpa Lord ketahui, kedua sudut bibir Vera tertarik ke atas, dia menampilkan senyum manisnya, karena berhasil mengelabui anak buah suaminya.
'Akhirnya, aku bisa meminum pil itu. Dan aku tidak akan khawatir, aku tidak akan hamil anaknya. Lebih baik, aku mencari pria yang mau menerima aku apa adanya. Atau aku ... kembali saja dengan Putra, kita berdua saling mencintai. Dan Putra, pasti akan menerima semua kekurangan ku,' batin Vera menghentikan langkahnya, menunggu Lord, membukakan pintu mobil untuknya.
__ADS_1
"Silahkan Nyonya," titah Lord saat pintu mobil terbuka.
Bersambung 😘