
"Mas Dave, bangun! Aku laper!" teriak Vera keras.
Mendengar suara teriakan di kamarnya, perlahan kelopak matanya terbuka, "Bisa diam! Aku lelah!" ketus Dave meraih bantal guling dan memeluknya.
"Terserah Mas Dave! Aku mau pergi!" ketus Vera, kemudian berjalan keluar kamar dan menuruni anak tangga.
Setelah sampai di lantai dasar, Vera berusaha membuka pintu caffe yang tidak terkunci, "Aku akan pergi, dan beli makanan untukku sendiri!" gumam Vera merogoh ponselnya di tas.
Setelah mendapatkan ponselnya, Vera memencet angka dan menempelkan benda pipih itu di telinga.
"Hallo Lord, ada di mana?" tanya Vera setelah panggilannya terhubung oleh anak buah suaminya.
"Ada apa Nyonya? saya sedang dalam perjalanan ke caffe," jawab Lord.
"Aku tunggu. Mas Dave memintaku menelfonmu untuk mengantarkanku membeli makanan kesukaanku," ucap Vera, "Aku berada di depan caffe Mas Dave. Dan aku sendiri di sini," sambungnya lagi.
"Kemana Tuan Dave, Nyonya? bukankah Tuan bersama Nyonya?"
"Dia, em ... baru saja pergi, katanya ada keperluan mendadak. Jadi, antarkan aku Lord," ujar Vera meyakinkan anak buah suaminya.
"Tuan tidak bicara apapun pada saya, Nyonya? Jangan-jangan Nyonya sedang berbohong?" tebak Lord membuat Vera gugup.
"Em, a-aku tidak berani berbohong padamu. Kalau tidak percaya, kamu bisa telfon Mas Dave," jawab Vera terbata-bata.
"Baiklah, 5 menit lagi saya sampai. Nyonya bisa menunggu di depan Caffe Tuan," ucap Lord.
"Hem ... aku tunggu, tepat waktu! on the time (Ontime!)" jawab Vera setelah itu mengakhiri panggilannya.
Setelah panggilannya berakhir, Vera menjatuhkan bokongnya di kursi depan caffe, tak sengaja matanya tertuju pada mobil suaminya yang terparkir di depan caffe.
"Aduhh bagaimana kalau Lord datang dan melihat mobil Mas Dave, bisa-bisa aku ketahuan bohong. Aku harus menyembunyikan mobil itu, tapi dimana? gumam Vera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju mobil suaminya, " Vera, kenapa jadi orang terlalu bodoh. Mana ada mobil bisa disembunyikan. Aku harus melakukan cara lain, tapi apa?" gumam Vera berjalan mondar mandir mencari ide.
"Ah, aku tahu. Lebih baik, aku tutupi mobil Mas Dave dengan mantel mobil yang berada di dal caffe, lalu aku berjalan sedikit menjauh, agar Lord tidak melihat mobil ini. Setelah itu, beres! Tapi aku harus cepat, karena Lord sudah mau sampai," gumam Vera berlari memasuki caffe dan mengambil mantel mobil yang pernah dia lihat di laci bawah meja.
__ADS_1
Setelah mendapatkan barang yang dicari, Vera berlari keluar dan membungkus mobil itu dengan mantelnya.
"Sudah beres, waktunya aku makan. Aku laper, dan selamat tinggal Mas Dave, jangan nangis bila bangun tak ada aku!" ejek Vera berjalan beberapa meter dari caffe suaminya.
Di saat Vera berjalan, dari kejauhan dia bisa melihat mobil anak buah suaminya, "Ah, itu dia mobil Lord. Aku harus mencegahnya dari sini," gumam Vera berlari dan merentangkan kedua tangannya di tengah jalan membuat Lord yang tengah melaju kencang harus mengerem mendadak.
"Aaaa ... Lord, kau terkutuk!" pekik Vera di saat mobil Lord tak mau berhenti.
Ciiitt .....
Mobil berhenti tepat di depan Vera tanpa adanya sedikit jarak.
"Nyonya, Nyonya tidak apa-apa?" tanya Lord yang baru saja keluar dari mobilnya dengan cemas.
Perlahan Vera membuka matanya dan melihat dirinya baik-baik saja.
"A-aku, aku masih hidup?" gumam Vera saat melihat tubuhnya yang utuh tanpa sedikit luka.
"Iya Nyonya masih hidup, Nyonya baik-baik saja kan? Tidak ada yang terluka kan? tanya Lord setelah berada di hadapan Vera.
"Bukan Nyonya saja, saya juga merasakan yang sama. Jantung saya hampir copot saat Nyonya tiba-tiba berdiri di tengah jalan," jawab Lord kemudian berjalan menuju pintu belakang.
"Hei, sudah berani denganku? Ingat aku adalah istri Mas Dave," ketus Vera, "Sekarang, antarkan aku ke restoran favoritmu," sambungnya lagi.
"Favorit saya? memangnya, untuk apa kita kesana?"
"Pakai tanya," ucap Vera menghembuskan napasnya kasar, "Menurutmu, kalau kita ke restoran kita akan melakukan apa? Tidur?" tanya Vera kesal.
"Bukan, memalukan sekali jika kita tidur di restoran,'
"Gunanya kita pergi ke restoran untuk--"
"Bisa bicaranya sambil jalan Lord? Aku lapar. Dengar cacing-cacingku sudah demo. Apa tidak kasihan dengan cacingku?" potong Vera kesal.
__ADS_1
"Tapi Nyonya, saya harus memastikan kondisi Caffe, saya juga harus meminta izin pada Tuan,"
"Tidak usah, Tuan mu sedang pergi. Bukankah sewaktu di telfon, aku sudah memberitahu?"
"Cepat, Lord! atau aku mengadu pada Mas Dave, sekarang juga. Dan aku pastikan, kamu akan di pecat!" ancam Vera.
"Baiklah, tapi kenapa harus ke restoran favorit saya? Kenapa kita tidak pergi ke restoran favorit Tuan atau Nyonya?" tanya Lord yang belum percaya sepenuhnya.
"Aduh Lord, banyak pertanyaan banget! Aku laper. Mau ke restoran favoritmu atau aku, itu sama saja. Kita sama-sama makan, kan!" geram Vera.
"Em ... kalau begitu, kita pergi ke restoran favorit Tuan saja Nyonya," ucap Lord menutup pintu belakang mobil dan berjalan memutari memasuki pintu bagian kemudi.
'Jika aku makan di tempat favorit Mas Dave, pasti Mas Dave sangat mudah mencariku. Bisa-bisa aku belum selesai makan, Mas Dave sudah datang lalu menyeretku pulang,' gumam Vera dalam hati.
"Jangan Lord. Makanan di restoran favorit Mas Dave tidak enak. Tidak cocok dengan lidahku. Maka dari itu, aku mau mencoba mencicipi makanan di restoran favoritmu," ucap Vera.
"Baiklah, saya akan bicara dulu dengan Tuan, saya takut ... Tuan akan mencemaskan Nyonya," ujar Lord mengambil ponselnya yang berada di dashboard mobil.
"Jangan! Aku bilang jangan, ya jangan!" teriak Vera, kemudian menutup mulutnya, "Maafkan aku Lord. Maksudku seperti ini, lebih baik kita menghubungi Mas Dave setelah kita sampai. Aku takut, Mas Dave sedang rapat penting atau dia sedang sibuk. Aku melihatnya terburu-buru saat pergi,"
"Begitu Nyonya? tapi Nyonya tidak bohong kan?" tanya Lord memastikan.
"Tidak, aku tidak mungkin bohong urusan Mas Dave, kau tahu sendirikan ... bagaimana Mas Dave sangat sangat menjagaku sampai-sampai aku dikurung di sangkar emas," ucap Vera membuat Lord sedikit mempercayainya.
"Okeh, kali ini ... saya harap, Nyonya tidak berbohong,"
'Mau berbohong atau tidak. Jika, urusan makanan aku tidak bisa menahannya terlalu lama. Berhubung semua uang jajanku di pegang oleh Lord, jadi dengan terpaksa aku membohongi mu,' gumam Vera dalam hati.
"Cepat jalan Lord!" titah Vera.
"Nyonya benar tidak berbohong kan?" ucap Lord memastikan.
"Ya ampun Lord. Kalau aku berbohong, makananku jatuh tanpa sisa," ujar Vera kesal, 'Ets, tunggu dulu. Jika Tuhan mengabulkan ucapanku. Aku tidak bisa makan, dong? Ah, aku tarik lagi semua ucapanku. Jika aku berbohong, maka aku akan mendapat banyak makanan,' gumam Vera dalam hati.
__ADS_1
Bersambungš