Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Episode 21


__ADS_3

'Selama aku hidup, baru pertama kali aku mengganti sprei dan selimut kamarku sendiri,' batin Vera menjatuhkan sprei kotornya di lantai. Lalu dia berjalan menuju pintu kamar mandi.


Tokk ...


Tokk ...


"Mas, di mana letak sprei barunya?" ucap Vera sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Mas!" teriaknya lagi saat tidak mendengar sahutan dari suaminya.


'Ahh aku cari saja di lemari Mas Dave,' batin Vera berjalan dan membuka lemari Dave. Terlihat beberapa sekat untuk menata pakaian milik Dave.


"Lumayan juga, penataannya sangat rapih. Pakaian kerja dan pakaian santai di letakkan di tempat terpisah. Aku suka," gumam Vera lalu mencari sprei baru.


Setelah beberapa menit mencari sprei, akhirnya Vera menemukan sprei itu di lemari bagian bawah.


"Memangnya apa susahnya mencari dan tidak bertanya menyusahkanku ha!" seru Dave yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang dengan tetesan air yang berasal dari rambut basahnya.


Bukan hal pertama kali, Vera melihat pemandangan yang memanjakan matanya. Sewaktu menjadi kekasih Putra, Vera pun pernah melihat kekasihnya keluar kamar mandi dengan tubuh polos ditutupi handuk.


"Aku sudah menemukannya," jawab Vera memalingkan wajahnya.


Dave memicingkan matanya saat melihat istrinya kesusahan dalam memasang sprei, "Dasar tidak berguna. Apa hobimu hanya bermain sampai-sampai memasang sprei saja kamu tidak bisa!" ketus Dave menghampiri dan membantu Vera yang kesusahan.


"Aku belum pernah memasang sprei Mas,"


"Lebih baik panggil Bibi saja! Lihat cara memasangmu saja sudah salah," ucap Dave.


'Huh! Aku kira, Mas Dave mau membantuku memasang sprei ini, ternyata hanya ingin memancing emosiku saja!' batin Vera turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar memanggil ketua pelayan.


'Seharusnya Ibu lebih seleksi memilihkan istri untukku. Jika sudah seperti ini, mau tidak mau tekanan darahku terus naik,' batin Dave berjalan menuju sofa, 'Niat hati ingin membantunya tapi setelah melihat caranya salah, aku jadi malas,' sambungnya.


Setelah memanggil Bi Tuti, Vera kembali menuju kamarnya.


"Kata Bibi, setelah menyelesaikan cuci piringnya di dapur, dia akan kemari Mas. Aku mau merapihkan semua pakaian baruku," ujar Vera mengambil semua paper bag yang berada di samping sofa.


"Hem ...,"

__ADS_1


Tokk ...


Tokk ...


"Permisi Nyonya, Tuan," ucap Bi Tuti mengetuk luar pintu kamar Dave dan Vera.


"Cepat bukak!" titah Dave saat melihat istrinya berjalan menuju kopernya.


"Tapi tanganku Mas--" Vera memperlihatkan tangannya yang dipenuhi paper bag.


"Kau mau melawanku!"


"Tidak-tidak, aku akan membukanya." jawab Vera pasrah, dia meletakkan paper bag di samping koper lalu berjalan menuju pintu kamarnya, 'Lihat saja jarakku dan dia dengan pintu, lebih dekat dia. Tapi kenapa harus aku yang membukakan pintunya, padahal dia tidak sibuk,' batin Vera menahan kesal.


Krek ...


Pintu terbuka. Vera memerintahkan ketua pelayan itu untuk masuk ke kamarnya.


"Bi, tolong ganti sprei kamarku ya. Aku mau membereskan pakaian baruku," ucap Vera tersenyum manis.


"Rapihkan sekalian Bi," titah Dave menghentikan pergerakan jarinya dan melirik sekilas pada ketua pelayannya.


"Baik Tuan,"


Setelah selesai merapihkan ranjang milik bossnya, Bi Tuti mengatakan bahwa makan malam sudah siap.


"Sudah Tuan. Oh iya, makan malam sudah siap. Dan den Excel sudah menunggu di bawah," titah Bi Tuti membuat Steven menatapnya.


"Bukankah dia bilang mau pulang Bi? Kenapa dia masih di sini?" tanya Dave meletakkan ponselnya dia sofa dan beranjak keluar meninggalkan Vera dan Bi Tuti di kamarnya.


"Maaf Nyonya, saya permisi ...," ucap Bi Tuti memberi hormat lalu berjalan keluar kamar.


Setelah semuanya pergi dan tersisa hanya dirinya sendiri. Vera berniat ingin membersihkan tubuhnya karena sedari siang tubuhnya belum menyentuh air sama sekali.


"Aku mau mandi dulu. Biar Mas Dave dan Mas Excel menyantap makan malamnya dulu. Bukankah seperti biasa, aku tidak diperbolehkan sarapan di meja makan bersama lainnya," ucap Vera monolog. Dia berjalan dan memasuki kamar mandinya sambil membawa pakaian ganti untuknya.


Sudah menghabiskan waktu 30 menit untuk Vera berendam di air hangatnya. Tubuhnya terasa lebih segar saat menghirup aroma vanilla yang melekat pada tubuhnya.

__ADS_1


"Aaahhh rasanya lebih segar dan lebih bersemangat. Aku tidak sabar menunggu esok. Aku tidak sabar bebas dari tempat ini. Selamat datang kebebasan dan selamat jalan kesedihan," ucap Vera keluar kamar mandi dengan pakaian tidurnya.


Matanya mencari sesuatu saat menyadari tidak ada nampan berisi makanan untuk dia santap.


"Di mana makan malamku? Apa Bibi lupa memberikan makan malam untukku?" ujar Vera matanya mencari nampan di sekeliling kamarnya, "Aku tidak salah lihat kan? Ini sudah jam 9 malam dan waktu makan malam pun sudah habis. Apa ini ada hubungannya dengan Mas Dave? Aduh, cacing-cacingku sudah berdemo. Lebih baik aku turun saja," titah Vera keluar kamar, dia berjalan menuruni setiap anak tangga dan sampai di lantai dasar dengan cepat.


"Nyonya, kami sudah menunggu anda dari tadi," ujar Excel saat melihat kedatangan istri sahabatnya.


"Kalian menungguku? Aku fikir--" ucapan Vera terhenti saat melihat tatapan tajam dari suaminya.


"Aku lapar, lebih baik ...sekarang kita makan," ujar Dave membalikkan piringnya.


"Biar aku ambilkan Mas," titah Vera meraih centong dan mengambil nasi untuk suaminya.


"Ini buat Mas Excel," lanjut Vera mengambil nasi untuk sekertaris suaminya.


"Terimakasih Nyonya," jawab Excel menerima nasi yang diberikan Vera.


"Mas, mau makan pakai apa? Daging atau-"


"Aku bisa mengmabilnya sendiri. Lebih baik kamu duduk dan diam, aku tidak suka keributan di meja makan," timpal Dave cepat membuat Vera terdiam. Dia menjatuhkan bokongnya di kursi samping suaminya.


"Aaahhh aku ingin cepat-cepat menikah, saat melihatmu dilayani oleh istri tercinta," gurau Excel membuat Dave tersedak minumannya.


Uhuukk ...


Mata Dave melotot tajam pria di depannya, "Makan makananmu! Jangan sampai aku usir kamu sebelum kamu menghabiskan makananmu," ancam Dave membuat Excel terkekeh.


"Tante Mika menyuruhku untuk tinggal di sini bersamamu lagi, tapi aku menolaknya," ujar Excel menyuapkan nasi pertamanya, "Aku tidak ingin mengganggu waktu kalian," sambungnya lagi.


"Bagaimana rasanya malam pertama dalam keadaan sah?" tanya Excel membuat Vera tersedak makanannya.


"Kau bisa pergi dari sini," ujar Dave mengusir sahabatnya.


"Baiklah aku akan pergi setelah makananku habis. Tapi besok aku memutuskan untuk kembali ke rumah ini dan tinggal bersama kalian. Siapa tahu, setelah aku tinggal bersama kalian, jodohku akan datang," ucap Excel tersenyum senang.


Bersambung😘

__ADS_1


__ADS_2