Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 134


__ADS_3

"Aku tidak suka di bohongi, Put! Jangan coba-coba membohongiku!" kesal Vera.


"Siapa yang membohongimu, Ver! Kamu bisa lihat sendirikan? Aku membawa ini untukmu!" jawab putra memperlihatkan paper bag yang berisi pakaian ganti untuknya.


"Ya, sudah! Cepat berikan! Aku tidak mau membuka pintu kamarku lebar-lebar. Aku takut, ada setan datang!" kesal Vera.


"Vera! Vera! maaf ya, kalau sudah membuatmu takut. Ini aku berikan paper bag nya!" ucap putra memberikan paper bag.


Vera menerima bungkusan paper bag tersebut. "Terimakasih!" ujar Vera menutup pintu kamarnya lagi.


'Aku tidak boleh gegabah. Vera yang sekarang, bukan Vera yang dulu. Dia sedikit susah di taklukan. Aku harus menggunakan cara cantik untuk menaklukkan hatinya lagi!' batin putra berjalan masuk menuju kamarnya.


Sedangkan di dalam kamar. Vera langsung mengeluarkan pakaian gantinya yang baru. "Kamu pikir, kamu bisa mengelabuiku, Put! Tidak akan! Kamu tidak bisa mengelabuiku." gumam Vera memakai pakaiannya kembali.


Setelah memakai pakaiannya, Vera langsung merebahkan tubuhnya. "Uh! Enak sekali! Akhirnya, perutku kenyang dan aku bisa tidur dengan nyenyak! Akhirnya, anak ibu bisa makan enak, ya, sayang!" gumamnya lagi sambil mengusap perutnya yang rata, "Tumbuhlah dengan baik di dalam perut ibu! Ibu janji, ibu akan menjagamu!"


Setelah mencuci piring dan sendok. Excel berlari menuju ruang tamu.


"Ada apa? Kenapa berlari?" tanya Dave meletakkan ponselnya ke atas meja. "Mana piringnya! Aku lapar! Kau beli dua, kan?" tanyanya lagi.


"Hem, aku memang beli dua. Tapi itu untuk aku semua, bukan untukmu!" ketus Excel.


"Tenang, kalau kurang ... kamu bisa datangi penjual bakso itu. Suruh dia lewat rumah ini setiap pagi!" jawab Dave menuangkan bakso dan kuahnya.


"Hem, kau yang bayar!" jawab Excel, "Tapi makanan ini memang enak, Dave! Banyak yang beli 3 atau 4. Maka dari itu, aku coba beli dua. Dan ternyata, aku harus menerima kenya pahit. Aku harus membaginya bersamamu!" kesal Excel.


"Berbagi itu Indah! Sudah, jangan di permasalahkan. Aku mau makan! Setelah itu, kita harus pergi lagi!"

__ADS_1


"Bicara soal Vera. Sewaktu kita di taman. Aku sempat melihat sosok yang mirip sekali dengan Vera!"


"Di taman?" tanya Dave memastikan pendengarannya lagi.


"Iya, di taman!"


"Jangan berhalusinasi! Jika benar Vera ada di negara ini, dia tidak mungkin ada di taman, Cel! Ingat, dia sedang di culik! Mana ada penculik mau membawa korbannya keluar rumah. Apalagi ke taman. Kalau korbannya kabur, bagaimana?" jawab Dave yang mendapat anggukan kecil dari Excel.


"Benar juga. Aku pun berpikir sama sepertimu. Maka dari itu, aku tidak mau memberitahukanmu. Aku takut, sewaktu aku sedang mengantri, kau hilang karena mengejar wanita itu. Dan aku bisa tersesat! Aku tidak tahu, jalanan di kota ini!" ujar Excel menyeruput kuah baksonya.


'Aku juga melihat hal yang sama. Aku melihat punggung yang mirip sekali dengan Vera. Dari segi rambut belakangnya. Entah kenapa, aku rasa ... itu Vera. Padahal, banyak orang yang memiliki punggung dan rambut yang sama! Tapi semua itu tidak mungkin. Putra tidak mungkin membawa Vera ke tempat keramaian seperti taman. Bisa saja Vera berteriak meminta tolong!' batin Dave.


"Dave, jangan bilang, kau memikirkan semua ucapanku tadi, ya? Jangan melamun. Sebaiknya, kita makan! Kalau kau mendadak tidak napsu makan, kamu bisa bilang ke aku! Biar aku yang menghabiskan makananmu!" ujar Excel membuyarkan lamunan Dave.


"Memangnya perutmu saja yang lapar! Perutku juga lapar! Asal kau tahu, aku tidak pernah memikirkan setiap ucapanmu, itu! Aku justru sedang berpikir, wanita mana yang mau bersamamu! Aku tidak yakin, kau mendapatkan pendamping hidup yang sempurna!"


"Aku juga tidak pernah meminta pendamping hidup yang sempurna, Dave! Yang aku harapkan dari pasangan hidupku nanti, hanya satu. Yaitu mau menerima setiap kekurangan dan kelebihanku! Kita sama-sama berusaha menjadi yang terbaik di mata pasangan kita masing-masing. Tidak perlu menjadi sosok yang sempurna di mata orang lain. Karena banyak di sekeliling kita yang tidak suka dengan kita. Lebih tepatnya, iri!" jawab Excel lalu menyeruput kuah baksonya. "Lama kelamaan makanan ini pedas, Dave! Di mana sisa minum tadi? Aku minta sedikit!" pinta Excel.


"Minumlah! Jangan sampai otakmu kembali bermasalah!" titah Dave.


Excel membuka tutup botol plastik itu dan meneguknya sampai setengah botol.


"Otakku bermasalah?" gumam Excel meletakkan botol minumnya di atas meja. "Otakmu yang bermasalah! Setiap hari, hanya ada Vera, Vera dan Vera! Sampai-sampai dokter El, kau abaikan!" ketus Excel.


"El?" gumam Dave menatap wajah pria di sampingnya, "Aku lupa memberi kabar ke El kalau kita pergi!" sambungnya lagi.


"Untuk apa kamu memberi kabar dia, ha! Dia bukan siapa-siapa mu! Jangan mencari masalah baru di saat istrimu hilang!" kesal Excel.

__ADS_1


"Siapa yang mencari masalah, hem? Aku hanya bercerita, kalau aku lupa memberi kabar El. Sudah itu saja!"


"Tapi, menurutku, kamu tidak perlu memberi kabar ke El tentang kepergianmu. Aku tidak mau, tiba-tiba dia datang ke sini!"


"Aku tahu, aku juga memikirkan hal yang sama. Kau tenang saja."


Waktu terus berputar. Tak terasa esok pagi sudah tiba. Gemercik air dari luar kamar, membuat Vera tersadar, jika dirinya sudah tidur terlalu lama.


"Astaga, aku ketiduran sampai pagi? Aduh, makananku!" pekik Vera turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar.


Krek!


Pintu terbuka. Vera keluar kamar dengan tergesa-gesa.


"Ver, kamu mau ngapain?" tanya Putra saat melihat Vera tengah berlari menuju dapur.


"Makananku, Put! Makananku!" jawab Vera lalu membuka pintu kulkas. "Di mana makananku, put! Kenapa tidak ada? Jangan bilang, kamu makan semua makananku!" tuduh Vera.


"Siapa yang mau makan makananmu, Ver! Makananmu sudah basi. Dan baru saja aku keluar untuk membuang makanan basi itu!" jawab Putra.


Mendengar ucapan putra, seketika tubuh Vera melemas. "Ya Tuhan, padahal aku sengaja menyimpannya buat persediaanku kalau aku lapar!" gumam Vera kecewa.


putra berjalan beberapa langkah menghampiri Vera. "Sudah, jangan bersedih. Aku sudah memesankan makanan yang baru untukmu!" titah putra.


'Makanan baru? Aku takut, kalau makanan itu ada racunnya.' batin Vera. "Kamu pesan di mana, Put? Kenapa, bukan kita sendiri yang beli?" lirih Vera.


"Memangnya kenapa? Mau kita yang beli atau bukan, itu sama saja!"

__ADS_1


'Beda, jika aku yang beli sendiri. Aku bisa memastikan kalau makanan itu higenis dan bebas racun. Tapi kalau kamu yang pesan, aku tidak yakin ... aku masih takut!' batin Vera.


"Ver, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Putra sambil mengusap ke dua pundak teman wanitanya.


__ADS_2