Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 136


__ADS_3

Putra membayar dan mengambil makanan pesanannya.


Melihat tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan, Vera menghembuskan napasnya lega.


"Akhirnya, aku bisa makan dengan tenang." gumam Vera menutup tirai jendela lagi dan duduk di tempat semula.


Putra membuka pintu lalu meletakkan makanan pesanannya di atas meja.


"Sudah siap! Mari kita makan!" ujar Putra membuka satu persatu makanan pesanannya.


"Wah, kelihatannya enak sekali, put!" ucap Vera saat menatap beberapa menu sarapan paginya. "Aku pasti kenyang makan makanan segini banyaknya."


"Kita makan sama-sama. Kalau kurang, aku akan pesankan lagi!"


"Jelas kurang! Tapi aku tidak boleh makan terlalu banyak. Bisa gendut, nanti!" jawab Vera mencicipi gorengannya.


"Makan nasi dulu, baru gorengan! Perutmu belum di isi, loh!"


"Aku mau gorengan, Put! Nasinya nanti lagi!" jawab Vera memasukkan gorengannya ke dalam mulut.


"Cukup, Ver! Letakkan gorengan itu. Sekarang, kamu makan nasi! Aku sudah pesankan nasi untukmu. Cepat di makan! Setelah itu, kamu langsung mandi." titah Putra yang mendapat gelengan kecil dari Vera.


"Tidak mau, Put! Aku mau makan gorengan. Gorengan itu enak! Kembalikan gorengan ku!" kesal Vera merebut gorengan yang baru saja di ambil paksa oleh pria di hadapannya.


"Ver! Jangan nakal! Aku melakukan semua ini demi kebaikanmu. Kamu mau, perutmu sakit? Ayolah, makan nasinya dulu! Gorengannya nanti lagi!"


"Ya begini saja. Aku makan nasi lalu pakai gorengan. Sudah bereskan!" tawar Vera sambil mengatupkan kedua tangannya di dada. "Please! Aku mau gorengan. Kamu tahu tidak? Selama di sana, aku sama sekali tidak memakan gorengan. Pasti enak nih, makan gorengan sambil makan nasi! Kamu bisa coba juga, Put!" rayu Vera lagi.


"Tidak! Tidak boleh! Sekarang, kamu minum susssu dulu! Aku juga pesankan untukmu. Aku mau, daya tahan tubuhmu tetap terjaga, aku tidak mau kamu sakit saat bersamaku. Apalagi, kamu baru saja mengalami keguguran. Pasti, pikiran dan otakmu sedang tidak karuan kan? Walaupun, kamu bilang, kalau kamu ikhlas, tapi aku tidak bisa percaya begitu saja. Rasa sedih itu pasti ada! Sekarang, kamu makan nasi. Setelah itu, baru makan gorengan. Ingat, hanya satu gorengan tidak boleh lebih!" ucap Putra panjang lebar.


"Satu?" gumam Vera yang mendapat anggukan kecil dari pria di hadapannya.


"Iya, satu! Sekarang, minum su su mu dulu!" titah Putra menyodorkan su su kotak yang masih tertutup rapat.


"Kamu tidak perlu perduli padaku, Put! Aku minum air putih saja! Dan su su itu untukmu!" tolak Vera.


"Vera sayang, aku sedang serius. Aku beli dua! Dan ini untuk kita berdua. Kamu harus minum su su ini. Jangan sampai kamu sakit!" titah Putra.


"Huh! Baiklah, tapi terimakasih loh! Kamu mau repot-repot mencemaskan kesehatanku. Padahal kita bukan siapa-siapa!"


"Kamu adalah kekasihku!" jawab putra yang mendapat gelengan kecil dari Vera.

__ADS_1


"Aku bukan kekasihmu, Put! Hubungan kita sudah berakhir. Dan aku sudah menikah! Aku sudah menikah!" ucap Vera meminum su su nya.


"Okeh. Untuk sekarang, memang kita bukan siapa-siapa. Tapi, akan ada saatnya kita akan menjadi pasangan kekasih seperti dulu!"


"Itu tidak mungkin, Put!" jawab Vera kesal.


"Bagimu tidak mungkin. Tapi bagiku sangat memungkinkan! Ya, sudah. Dari pada kita berdebat. Lebih baik, kita makan! Katamu, kamu sudah lapar, kan? Yuk, kita makan!" titah putra.


Vera memicingkan matanya tak suka, dia mengambil roti tawar yang baru saja di pesan oleh putra bersama makanan lain.


"Aku tidak napsu makan! Aku mau makan roti saja!" ketus Vera.


Mendengar ucapan dari Vera, putra menghembuskan napasnya kasar. Dia memakan sarapan paginya sambil sesekali melirik sekilas ke arah Vera.


Vera memakan rotinya dengan lahap. Dia mengurungkan niatnya untuk memakan sarapan pagi yang di pesankan oleh pria di hadapannya.


Setelah memakan dua lembar roti tawar, Vera beranjak berdiri. Dia berjalan dan masuk ke dalam kamarnya.


Brak!


Pintu kamar tertutup dengan keras membuat putra yang sedang memakan sarapan paginya sedikit terkejut.


Di dalam kamar, Vera mendengus kesal. Perutnya yang baru saja di isi tiba-tiba berbunyi dan meminta makan lagi.


"Jangan bunyi terus! Aku sudah makan dua roti tawar! Bunyinya nanti lagi!" titah Vera mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah membereskan sisa sarapan paginya. Putra langsung masuk ke kamar. Segera dia menghubungi anak buahnya yang tidak bejus menjalankan tugasnya.


Sedangkan di satu sisi. Dave telah sampai tepat di halaman rumah yang sangat mewah dan luas.


"Kau yakin ini rumah kakaknya Vera?" tanya Excel memastikan.


"Iya, aku sangat yakin sekali. Karena aku pernah ke sini!" jawab Dave melihat keadaan rumah yang sepi.


"Wow, aku tidak menyangka, kalau kakaknya Vera berasal dari keluarga yang kaya raya. Rumahnya saja luas dan mewah. Pasti perusahaannya sangat banyak!" puji Excel takjub.


"Diamlah! Semua ini milik suaminya Zena. Kau tidak tahu, seberapa jahat dan kejamnya suaminya Zena. Sebelum, Steven mencintai Zena. Dia selalu menyiksa dan memperlakukan Zena dengan tidak wajar."


"Kau tidak bohong kan, Dave? Bukankah, mereka seharusnya saling mencintai? Jika tidak saling mencintai dari awal, kenapa mereka menikah?" tanya Excel penasaran.


"Karena terpaksa." jawab Dave singkat. Perlahan kakinya melangkah menuju pintu utama rumah yang di huni oleh keluarga Steven dan Zena.

__ADS_1


Tok ...


Tok ....


"Kamu sudah buat janji dengan Zena, Dave? Kalau belum, aku takut yang keluar suaminya. Dan dia tidak mengenali kita?" bisik Excel yang bersembunyi di belakang tubuh Dave.


"Kau kenapa bersembunyi." tanya Dave.


"Aku takut, Dave! Aku takut yang keluar suaminya. Dan suaminya menuduh kita macam-macam. Sebaiknya, aku bersembunyi saja di belakangmu." bisik Excel.


"Seharusnya, tugas seorang sekertaris itu--"


"Hust, Dave! Kita sedang di luar kantor. Dan aku bukan sekertarismu. Aku adalah sahabat, saudara yang paling perhatian dan penyayang. Setelah selesai bertamu. Kita mampir lagi ke taman itu, ya? Aku mau beli bakso lagi! Semoga saja, tidak mengantri. Karena aku mau beli 5 porsi untukku sendiri!" ucap Excel.


Tok ...


Tok ...


"Bunyikan saja bel nya!" titah Excel membuat Dave memencet bel yang berada di atasnya.


Ting ...


Tong ....


"Kemungkinan mereka sedang pergi, atau mereka sedang berlibur atau--"


"Diamlah! Jangan membuatku kesal!" ketus Dave memencet bel rumah Zena lagi.


Ting ...


Tong ....


"Tunggu sebentar!" teriak orang dari dalam rumah.


"Ada orangnya Dave! Aku dengar suara teriakannya!" bisik Excel.


"Aku juga mendengar teriakkan dari dalam." jawab Dave lalu melihat pintu terbuka.


Krek!


Pintu terbuka dari dalam.

__ADS_1


__ADS_2