
"Tapi jika aku angkat, pasti respon pertama dari Mas Dave langsung marah-marah. Apalagi aku mengangkat telfon dari ponsel Lord,"
"Maafkan aku Mas, tapi aku mau bersenang-senang. Aku rela mendapatkan hukumam setelah ini, see you my husband," gumam vera, kemudian mematikan ponsel milik Lord.
"Bagaimana Nyonya? Apa kata Tuan? kita di suruh kembali?" tanya Lord setelah gagal mendapatkan boneka incaran istri Tuanya.
"Mana ada, kata Mas Dave kita harus memanfaatkan waktu kita sebaik mungkin. Karena mulai besok, aku sudah tidak boleh keluar, dan Mas Dave memintamu untuk menemaniku, karena pekerjaan Mas Dave yang terlalu banyak," jawab Vera tersenyum manis.
"Tuan tidak menitipkan pesan untuk kita?"
"Em, Mas Dave menitipkan pesan, agar kita pulangnya tidak terlalu larut. Ayo Lord, cepat ambilkan boneka itu untukku! Setelah itu, kita nonton. Aku mau kita nonton horor, Lord. Pasti seru," ujad Vera antusias.
"Tidak bisa Nyonya. Jika kita nonton, maka kita akan pulang larut malam."
"Tapi aku mau nonton horor Lord. Aku mau nonton, atau aku bilang ke Mas Dave kalau kamu--"
"Baik Nyonya, kita nonton. Sekarang juga, kita nonton," potong Lord.
Di sisi lain, terlihat Dave yang sedang menahan kesal di dalam rumah. Setiap perjalanannya menuju rumah, dia sudah berulang kali menghubungi istri dan anak buahnya, tapi mereka seperti sengaja tidak mengangkat telfon darinya.
"Kemana mereka! Aku yakin, Lord bersama Vera. Tapi kemana? Dan tumben sekali, Lord susah dihubungi. Apa telah terjadi sesuatu pada mereka?" gumam Dave menjatuhkan bokongnya di sofa.
"Ada apa Dave? Kenapa cemas sekali?" tanya Excel yang baru saja datang dengan membawa segelas jus jambu kesukaannya.
"Tidak ada apa-apa," ketus Dave mengambil paksa jus yang berada di genggaman sahabatnya.
"Eh, itu minumanku. Jangan diminum!" teriak Excel.
"Kau buat lagi. Aku haus!" ketus Dave menyeruput jus jambu itu sampai tandas.
"Kau gila ya, aku sudah susah payah membuat jus itu. Dan kau ... kau dengan mudahnya menghabiskan jus itu. Pokoknya aku tidak terima, aku mau ... kau buatkan lagi untukku! Atau, aku teriak dan meminta pada istrimu untuk membuatkanku jus!" ancam Excel.
"Silahkan saja, teriak sampai tenggorokanmu kering. Dia tidak ada di rumah, dan aku tidak tahu kemana dia!"
"Apa! Kau tidak tahu kemana perginya istrimu? Sungguh terlalu. Kau suami macam apa, Dave! Aku yakin, istrimu itu sedang bersama selingkuhannya," ucap Excel membuat Dave melototkan matanya.
"Tidak mungkin, dia sedang bersama Lord. Aku yakin itu, karena mereka berdua tidak bisa dihubungi."
"Ah itu, Jangan-jangan mereka mempunyai hubungan di belakangmu?" ujar Excel asal.
__ADS_1
"Hei, jangan menuduh, jika tidak ada bukti!" ketus Dave beranjak dari tempat duduknya.
"Dave! Siapa yang menuduh. Aku berbicara fakta. Kau selalu membuat mereka bersama. Bisa jadi kan, mereka memulai hubungan di belakangmu. Buktinya, mereka berdua tidak bisa dihubungi. Coba, kamu lacak keberadaan istrimu melalui ponselnya," ujar Excel membuat Dave menjatuhkan bokongnya lagi di sofa.
"Kau, kau lacak lah keberadaan Lord. Ponsel Vera mati, kita tidak bisa melacak keberadaan mereka melakukan ponsel Vera." titah Dave memberikan nomer ponsel Lord pada Excel.
"Kenapa harus aku? Sekarang, aku bukan bawahanmu lagi. Sekarang kita sahabat. Tidak seharusnya, sahabat me--"
"Cepatlah! Jangan banyak bicara!" titah Dave.
"Okeh, tunggu sebentar." ucap Excel, kemudian mengambil laptopnya dan memulai aksinya melacak titik terakhir keberadaan anak buah sahabatnya.
10 menit, jari Excel menari di papan keyboard. Dan 10 menit sudah, Dave menatap laptop milik Excel.
"Cepat! pekerjaanmu sangat lambat!" ketus Dave yang tak sabar.
"Tunggu, kita tinggal tunggu saja," jawab Excel tak kalah ketus.
Setelah menunggu 5 menit, akhirnya Excel berhasil melacak titik terakhir keberadaan ponsel Lord.
"Di Mall? Mereka di Mall?" gumam Excel membuat Dave menatap lekat laptop milik sahabatnya.
"Aku tidak bohong. Ponsel Lord berada di Mall, dan ini bergerak! Mereka menuju tempat bioskop!"
"Ini tidak mungkin," gumam Dave lirih.
"Tidak mungkin bagaimana, Dave! Coba kau lihat!" titah Excel kesal, "Jadi, mereka mempunyai hubungan di belakangmu, Dave! lucu sekali. Jangan salahkan mereka, salahkan saja kau! Kau yang tidak bejus mengurus istri, hahaha ... ada-ada saja, istri majikan berselingkuh dengan bodyguardnya. Trending topik di kantor Dave!" ejek Excel sambil tertawa.
"Kau gila ya! pikiranmu terlalu jauh. Tidak mungkin, Lord mengkhianatiku. Aku tahu, dia setia."
"Iya dia setia, tapi istrimu? di kampus saja, istrimu bisa berselingkuh, apalagi--"
"Lebih baik tutup mulutmu. Aku akan pergi ke kamar!" seru Dave kemudian beranjak dari tempat duduknya.
'Dave! Dave! dari dulu, kamu tidak pernah berubah. Alih-alih menyusul istrimu di Mall, kau justru menunggunya di kamar. Pasti setelah ini, kau akan membuat hal yang tidak terduga lagi,' gumam Excel dalam hati.
'Apa benar yang dikatakan Excel. Kalau mereka mempunyai hubungan khusus di belakangku? Aku tidak boleh mempercayainya sebelum ada bukti yang jelas,' gumam Dave dalam hati.
Setelah 2 jam menonton bioskop, Vera dan Lord keluar dari ruangan bioskop itu dengan ketakutan.
__ADS_1
"Lord, aku takut. Tubuhku merinding karena hantu di film itu menakutkan," ucap Vera melingkarkan tangannya di lengan Lord.
"Nyonya, jangan seperti ini. Saya tidak mau, ada kesalahpahaman antara saya dan Tuan Dave," ujar Lord berusaha melepaskan rangkulan tangan istri Tuanya.
"Aku takut Lord!"
"Kalau takut, jangan menonton film horor!"
"Tapi, aku penasaran, Lord!" ketus Vera.
"Kalau penasaran, jangan takut!" jawab Lord tak kalah ketus.
"Jangan salahkan aku. Tiba-tiba ketakutan itu datang sendiri!"
"Ya, usir saja Nyonya," jawab Lord.
"Ah sudahlah, berbicara denganmu tidak akan ada akhirnya. Sekarang kita mau--"
"Kita pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tuan Dave pasti sudah menunggu Nyonya di rumah," potong Lord cepat.
'Pulang? Aku pulang? berarti, aku akan-- Ah, tidak mau. Aku belum siap menerima hukuman dari Mas Dave,' gumam Vera dalam hati.
"Em, aku lapar. Kita beli makan dulu. Setelah itu, baru kita pulang." ujar Vera.
"Nyonya, apa Nyonya tidak kenyang. Setiap dua jam sekali Nyonya makan," ucap Lord, "Saya lelah, Nyonya," sambungnya lagi.
"Ayo Lord. Aku masih lapar," rengek Vera.
'Aku akan pulang larut malam. Dengan begitu, Mas Dave pasti sudah tidur. Jadi, aku aman,' gumam Vera dalam hati.
"Tapi Nyonya--"
"Ayo Lord. Kasihanilah aku, Aku benar-benar lapar," ujar Vera memegang perutnya.
"Baiklah Nyonya,"
"Kita mampir ke caffe yang searah dengan jalan pulang," titah Lord pasrah.
"Ah Lord, makasih!" teriak Vera kemudian memeluk Lord erat.
__ADS_1
Bersambungš