
"Ceraikan aku dulu, baru menikah! sudah berapa kali aku ucapkan, aku tidak mau di madu, Mas!" kesal Vera.
"Dan, aku sudah pernah bilang, jika aku tidak mau menceraikan mu!" ujar Dave
"Mas! kamu benar-benar laki-laki egois! aku benci kamu! turunkan aku di sini! cepat turunkan!" titah Vera berusaha membuka pintu mobil yang terkunci.
"Mas! Berhenti!" teriaknya lagi.
"Diam! setelah sampai, aku akan menurunkanmu!" ujar Dave.
"Tapi aku mau turun, Mas! aku benci kamu! kamu tega mengkhianati ku, kamu tega memintaku untuk menyaksikan mu menikah dengan wanita lain, aku benci kamu, Mas!" ujar Vera memukul lengan suaminya berulang kali.
"Hentikan Ver! kita bisa mati. Jangan ganggu aku!" titah Dave meraih tangan istrinya menggunakan salah satu tangannya.
"Aku benci kamu, Mas!" teriak Vera tanpa menghentikan pukulan itu.
"Untuk apa kamu membenciku! ingat ... apa yang selama ini kau lakukan di belakangku? coba kau ingat-ingat kembali!" ujar Dave membuat Vera terdiam. Tangannya sudah dia tarik kedalam pangkuannya.
"Maafkan aku, Mas. Aku bersalah," ucap Vera menundukkan kepalanya, "Sekali lagi, maafkan aku, Mas!"
__ADS_1
"Untuk apa meminta maaf? semuanya sudah terlambat. Tidak ada yang bisa diperbaiki lagi," jawab Dave, ekor matanya melirik sekilas istrinya yang sedang menangis.
"Aku minta maaf, Mas! kesalahanku memang besar, tapi ... aku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi," ujar Vera menghapus air matanya.
"Sudahlah, jangan menangis lagi. Aku tidak akan mempercayaimu lagi, sudah beberapa kali kamu mengucapkan kata maaf dan janji. Tapi selalu saja kau abaikan pengampunanku!"
"Aku berjanji, Mas. Sumpah, aku khilaf," titah Vera, wajahnya menatap suaminya yang fokus menyetir, "Okeh, aku akan melakukan apapun untuk menebus semua kesalahan ku. Aku sangat bodoh mempercayai pria seperti Putra, aku salah Mas, maafkan aku," pinta Vera.
"Lupakan semuanya. Sebaiknya kita turun," ucap Dave setelah mobilnya memasuki parkiran kantor.
"Mas, kamu belum menjawab pertanyaanku. Kamu mau kan, memaafkanku?" tanya Vera saat melihat suaminya melepaskan sabuk pengaman.
"Kita turun!"
"Apa yang perlu dijawab, semuanya sudah jelas, Ver! kita turun dan temani aku bekerja di kantor," titah Dave meraih dan melepas sabuk pengaman istrinya.
Cup!
Vera mendaratkan kecupan hangat di ujung hidung suaminya, "Aku minta maaf," sambungnya lagi, tangannya mulai melingkar di pinggang Dave.
__ADS_1
'Apa ini trikmu? Sudah berapa kali aku termakan dengan trik palsumu itu. Dan sekarang, aku tidak akan termakan trikmu sampai kau benar-benar dinyatakan hamil anakku,' gumam Dave dalam hati.
'Aku benar-benar nyaman berada di dekatmu, Mas. Maafkan aku yang telah membuatmu kecewa. Sekarang aku tahu, kamu menyayangiku dengan tulus, walaupun hatimu bukan untukku. Aku menyayangimu, Mas,' batin Vera mengeratkan pelukannya.
"Ayo kita turun. Apa kau mau membangunkan juniorku di sini, hem?" goda Dave berusaha melepaskan tubuhnya dari Vera.
"Mas, maafkan aku ya, aku benar-benar khilaf."
"Aku sudah memaafkan mu, sebaiknya kita turun," titah Dave setelah melepas sabuk pengaman istrinya.
"Mas janji, Mas tidak akan menikah dengan wanita itu?"
"Aku tidak mau di madu Mas." ucap Vera.
"Ayo kita turun. Pekerjaan ku masih banyak, dan kita tidak bisa mengulur waktu di sini. Excel pasti mencariku!"
"Mas," cegah Vera menarik lengan suaminya, "A-aku tidak mau lagi kehilangan hikss ... hikss ... keluargaku sudah tiada, Putra sudah membohongiku, dan sekarang ... aku harus berbagi suami. Aku tidak sanggup Mas," ucap Vera diiringi isak tangisnya.
"Mas!"
__ADS_1
"Turun!"
Bersambungš