
"Jangan mengumpatku Cel!" seru Dave berjalan menuju dokter El.
Krekeetttt ...
Kursi di geser oleh Dave dan menyadarkan El yang sedang sibuk mencocokkan hasil diskusinya dengan rekan kerjanya.
"Kata Alexa, kamu menungguku. Ada apa?" tanya Dave mendudukkan bokongnya di kursi depan El.
"Aku pikir, kamu tidak akan datang Dave," sindir El, "Aku sudah mengirim pesan, tapi tidak dibalas olehmu," sambungnya lagi meminum kopi pesenannya.
"Aku sibuk, dan aku tidak punya banyak waktu untuk mengecek ponselku. Aku juga kemari karena tidak sengaja, memangnya ada hal apa?" ucap Dave menutup laptop El secara paksa membuat mata El melotot tajam, bahkan jari yang sedang menari di keyboard sudah terhimpit.
"Dave, jangan mulai. Aku tidak mencarimu, Alexa yang berbohong. Sebenarnya aku hanya ingin bersantai di sini," ucap El bohong.
"Sudah dua jam kamu di sini El, dan kamu bilang bersantai? Memangnya jiwa dokter sepertimu bisa bersantai hem?" ucap Dave, "Ada apa mencariku?" lanjutnya lagi.
"Huh! Aku cuma mau menanyakan kabar wanita itu, secara tidak langsung akulah yang menangani kejadian malam itu. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada wanita itu," ujar El membuka laptop dan mengetik sesuatu di keyboardnya.
Melihat pandangan temannya menuju laptop, segera Dave menutup laptop itu lagi, tapi di cegah langsung oleh El.
"Dave, aku mau menyimpan file dulu. Aku tidak mau berjam-jam di sini tidak membuahkan hasil," ucap El kesal, dia menarik laptop dan menyimpan data yang baru dia buat lalu mematikan laptopnya
"Wanita itu baik-baik saja. Bahkan sekarang dia sudah beraktivitas seperti biasa. Kamu tidak perlu khawatir El," jawab Dave memakan ketang goreng milik teman wanitanya.
"Baguslah, aku menjadi tenang. Semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkan kondisi wanita itu, kalau boleh tahu siapa nama wanita itu?" tanya El penasaran, dia mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya fokus pada bibir Dave yang ingin berbicara.
"Tidak perlu tahu siapa nama wanita itu, ini semua tidak ada hubungannya dengamu El," Jawa Dave membuat tubuh El lemas.
"Huh!" hembusan kasar terdengar jelas di telinga Dave.
"Tidak asik, sudah main rahasia-rahasiaan denganku," ketus El.
"Boss, minumnya," titah Alexa yang baru saja datang membawa secangkir kopi untuk Dave.
"Letakkan di atas meja. Dan gratiskan makanan yang dipesan El, aku percayakan Caffe padamu," ucap Dave.
__ADS_1
"Baik boss, kalau begitu saya permisi," ujar Alexa pergi.
Setelah kepergian karyawannya, Dave meminum kopi hangatnya, "Maafkan aku El, aku tidak bisa berlama-lama di sini. Ada sesuatu yang harus aku urus," ucap Dave meletakkan kopi itu di atas meja.
"Dave, tunggu," ucap El saat Dave bangkit dari duduknya, "Aku boleh ikut denganmu? Mobilku dibawa adikku kampus dan aku kesini menggunakan taksi," ucap El memasukkan laptopnya ke dalam tas, "Boleh ya Dave, kita kan teman dan gunanya teman adalah saling menolong," sambungnya lagi membuat Dave terkekeh.
"Ayo, aku antar kamu pulang dengan selamat," titah Dave merangkul mesra pundak temannya.
Mereka berjalan menuju Excel yang sedang berbincang dengan Alexa. Alunan lagu klasik membuat suasana di Caffe Dave terasa tenang dan nyaman.
"Kita antarkan El dulu, baru kita pulang," ucap Dave pada Excel.
Excel yang sedang meminum kopinya pun tersedak saat mendengar ucapan dari sahabatnya.
Uhukk ...
Uhukkk ....
"Bicara apa kamu Dave?" ucap Excel pura-pura tuli. 'Bukankah sudah aku tekankan berulang kali, Berhati-hatilah dengan dokter itu. Tapi kenapa kamu selalu mengabaikan ucapanku Dave. Terkadang feeling ku itu benar' gumam Excel dalam hati.
"Alexa jaga Caffe, bilang saja kamu wakil owner di sini. Aku mempercayai semuanya padamu," titah Dave yang di angguki Alexa.
"Titip salam rinduku untuk Nana, boss," ucap Alexa membuat dokter El mengernyitkan keningnya.
'Siapa Nana, apa mungkin Nana itu wanita yang bersama Dave tadi malam?' batin El heran.
"Baik, nanti aku sampaikan," jawab Dave.
***
"Dave, siapa Nana?" tanya El penasaran saat berada di dalam mobil.
"Dia wanita yang aku--" ucapan Dave terhenti saat Excel menghentikan mobilnya mendadak.
"Ada apa Cel?" tanya Dave lagi.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, aku hampir menabrak kucing yang berlari di depan mobil kita," ucap Excel berbohong. Dia menatap sekilas wanita yang berada di samping sahabatnya.
"Ya sudah, cepat jalan!" titah Dave membuat Excel menancapkan gasnya lagi.
Hening,
Tak ada pembicaraan antara ketiga orang yang berada di dalam mobil, Excel yang fokus pada jalanan, Dave yang memfokuskan matanya pada ipadanya dan El yang fokus melamun.
Sampai di mana saat El tersadar, dia melihat sebuah paper bag berwarna pink yang sangat cantik di dekat Dave.
"Apa kamu membelikan wanita itu hadiah?" tanya El menghentikan jari Dave yang menari di layar ponselnya.
"Aku tidak tahu arti ucapanmu itu," ucap Dave melirik sekilas temannya lalu melanjutkan aktivitas jarinya yang menari.
"Aku lihat paper bag di sampingmu, pasti untuk wanita itu?" tanya El, "Kamu baru mengenalnya dan sudah memberikan hadiah untuknya, sedangkan aku? Aku dan dia sama-sama berstatus teman di matamu Dave," ucap El membuat Dave mematikan ponselnya. Dia menatap wajah teman wanitanya ini.
"Kamu bicara apa El, jika kamu mau ... ambilah, aku tidak sengaja melihat gaun itu di dinding kaca, lalu aku membelinya. Dan aku juga tidak tahu akan memberikannya pada siapa," jawab Dave mengambil paper bag berisi gaun pilihannya, "Mungkin sangat cocok jika dipakai olehmu. Hitung-hitung, ini hadiah karena kamu sudah mau membantuku tadi malam," sambungnya lagi.
Mata El berbinar, dia mengambil paper bag yang diberikan Dave, "Ini benar untukku?" tanyanya sekali lagi.
"Jika kamu menyukainya, ambilah."
"Aku pasti sangat menyukainya, terimakasih Dave, kamu memang teman terbaikku," ucap El berjingkrak ria, dia memeluk paper bag pemberian Dave.
"Baguslah, tidak sia-sia aku membelinya," ucap Dave tersenyum.
"Terimakasih Dave, tapi benar kan, ini tidak ada pemiliknya? Aku takut jika kamu membohongiku," ucap El melihat isi paper bag itu.
"Belum ada, jika sudah ada pun kalau kamu menyukainya, akan kuberikan padamu El, kamu temanku sejak kecil dan aku akan memberikan semua hal yang kamu suka, karena itu gunanya teman," ucap Dave, "Aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri El,"
El terpaku, dia menghamburkan dirinya ke pelukan Dave, "Aku terharu karena ucapanmu Dave," ucap El memeluk erat Dave.
Tanpa ingin membalas pelukan teman wanitanya, Dave justru berpura-pura sesak bernafas, "Jangan seperti ini, kamu bisa membunuhku El, aku sulit bernapas," ucap Dave membuat El melepaskan pelukannya.
Bersambungš
__ADS_1