Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Episode 14


__ADS_3

"Jangan bilang pernikahanmu itu, pernikahan balas dendam?" tanya Excel tak percaya, "Tapi bukankah pernikahan itu terjadi karena permintaan tante Tesa yang sudah menabrak dan menewaskan semua keluarganya? Pantas dia sedikit mirip dengan wajah orang yang kamu cintai," sambung Excel menghentikan mobilnya karena lampu berwarna merah.


"Ya begitulah. Aku bukan tipe pria yang kejam, yang bisa menyiksa sadis wanitanya sendiri. Tapi aku sedang memperdalam Ilmu kekejaman agar wanita itu tidak bersikap sesuka hatinya. Sifatnya yang kekanak-kanakan membuatnya susah diatur. Lagipula dia sudah mempunyai kekasih dan kekasihnya meninggalkannya entah kemana," ucap Dave.


"Lalu, jika kekasihnya datang, kamu akan menyerahkannya pada kekasihnya?" tanya Excel penasaran.


"Bodoh, jika aku belum puas menyiksanya, maka tidak akan pernah aku melepaskannya. Dan aku juga takut, jika aku melepaskannya, Ibu akan di masukan ke penjara atas tuduhan kecelakaan itu,"


"Sebaiknya, kau buatlah perjanjian dengannya. Perjanjian yang menguntungkan untukmu," saran Excel menjalankan mobilnya lagi.


"Akan ku pikirkan lagi. Lebih baik kita ke kantor saja Cel, sudah lama aku tidak menginjakkan kakiku di kantor," titah Dave yang di setujui Excel.


"Baik boss, sekarang tersenyumlah. Kau boleh melakukan apapun asalkan kau bahagia," ujar Excel.


Di rumah, tepatnya di kamar Vera dan Dave yang sangat luas terlihat Vera sedang mencari pakaiannya yang cocok untuk digunakan hari pertamanya ke kampus besok.


"Tidak ada pakaianku yang bagus. Masa aku harus menggunakan pakaian ini dan itu setiap ke kampus. Pasti mereka semua tidak mau berteman denganku, secara kan ... kampus itu sangat elite," gumam Vera melemparkan pakaian yang dipengangnya menuju kasur.


"Apa aku meminta pada Mas ... Mas siap ya? tadi aku sempat dengan supir tampan itu memanggil nama suamiku, eh bukan suami tapi pria jahat yang telah merenggut nyawa anakku," ujar Vera menutup koper dan berjalan keluar kamar.


"Maaf Nyonya, Nyonya mau kemana?" tanya bodyguard yang menjaga pintu kamar Vera.


"Aku mau bertemu dengan tante Tesa," jawab Vera tersenyum, dia melihat penampilan bodyguard penjaga pintu dari ujung kepala sampai bawah kaki.


"Maaf, Nyonya besar Tesa sudah tidak tinggal di sini lagi. Dia sudah kembali ke rumahnya," jawab bodyguard itu.


"Apa?" pekik Vera, "Tidak mungkin, dia pernah bilang padaku. Jika dia, akan menemaniku tinggal di sini," ucap Vera tak percaya.

__ADS_1


"Maaf Nyonya saya tidak tahu untuk masalah itu," jawabnya lagi, "Lebih baik Nyonya masuk ke kamar, karena saya mendapat tugas untuk melarang Nyonya keluar kamar, dan urusan makan ... biar Bibi yang mengantarkannya," ucap bodyguard yang biasanya dipanggil Lord.


"Kenapa bisa? Apa maksudnya aku tidak boleh keluar kamar. Aku di sini istri dari pemilik rumah ini, dan kau tidak bisa melarangku!" kesal Vera melangkahkan kakinya selangkah.


"Nyonya," cegah Lord yang sudah menghadangnya, "Ikuti perintah saya, atau--" Lord memperlihatkan pisau lipat yang berada di saku celananya, "Jika Nyonya masih menyayangi nyawa Nyonya, masuklah dan jangan pernah mengunci kamar. Karena sewaktu-waktu Tuan bisa pulang," sambung Lord lagi.


Vera yang melihat pisau lipat yang putih mulus pun memundurkan langkahnya, dia menatap sekilas bodyguard di hadapannya, "Apa-apaan ini, kenapa kau mengancamku. Seharusnya tidak ada yang boleh membawa benda tajam masuk ke dalam rumah," ucap Vera punggungnya menabrak pintu kamarnya, "Menjauhlah, aku akan masuk ke kamar," titahnya lagi saat Lord bergeming.


"Masuklah, dan jangan mencoba-coba untuk kabur, karena Nyonya tidak pernah tahu di luar rekan-rekan saya membawa barang yang lebih berbahaya dari barang yang saya bawa," ucap Lord, wajahnya yang dingin dan tegas membuat bulu kuduk Vera merinding.


"A-apa maksudmu? Barang berbahaya? Apa ada salah mereka ada yang membawa pistol atau bom?" tanya Vera asal.


Melihat Nyonya mudanya ketakutan, di dalam hati Lord terkekeh. Dia menganggukan kepalanya membuat nyali Vera semakin menciut.


'Kenapa keluarga ini sangat aneh, mana bisa kabur jika caranya seperti ini,' gumam Vera dalam hati. Dia berjalan mundur dan menutup pintunya dengan hati-hati karena tak ingin membuat Lord yang sedang berjaga di depan pintunya marah.


Setelah 10 menit menguatkan diri, akhirnya Vera berusaha membuka pintu kamarnya dengan pelan.


Krek ...


Pintu kamar terbuka, Vera keluar dengan senyum kakunya.


"Nyo--" ucapan Lord terhenti saat Vera menggerakkan tangannya.


"Hust ... aku tidak ingin keluar kamar. Tapi, aku ingin menanyakan sesuatu yang penting, ini menyangkut hidup dan matiku," ucap Vera melebih-lebihkan ucapannya.


Mendengar kata menyangkut hidup dan mati Nyonya mudanya membuat Lord mengerutkan keningnya heran, "Ada apa Nyonya?" tanya Lord saat melihat senyum manis Vera.

__ADS_1


"Emm ... bilang pada Mas .... Mas siapa yah, aku lupa namanya," ucap Vera berfikir, "Oh iya, nama suamiku siapa?" tanya Vera saat tidak menemukan jawaban di otaknya.


"Tuan Dave," jawab Lord singkat.


"Oh nama unik seperti sabun Dave, hehehe ...," ucap Vera.


"Sabun Dave?" ulang Lord semenit kemudian mereka tertawa bersama.


...Hahahaha .... ...


Melihat Nyonya mudanya tertawa, Lord langsung menghentikan tawanya. Dia memasang wajah kaku dan dinginnya lagi di depan Vera.


"Memangnya ada apa dengan Tuan?" tanya Lord saat berhasil mengontrol dirinya.


"Emm, bilang pada Mas Dave, jika aku tidak mempunyai pakaian yang layak untuk dipakai ke kampus besok. Jadi, aku bolehkan keluar untuk berbelanja, lagipula aku jenuh di sini," pinta Vera memohon.


"Biar saya tanyakan dulu. Anda tunggu di sini," titah Lord mengambil ponsel dan mengetikkan sesuatu pada Excel yang diketahui sahabat sekaligus sekertaris Tuan nya.


"Sedang saya tanyakan," ucap Lord, "Dan sedang dibalas oleh sekertarisnya," jawabnya lagi


"Cepat sekali," ucap Vera tak percaya.


"Sekertarisnya bilang, Nyonya tidak perlu membeli pakaian baru. Karena sekertaris Tuan Dave yang akan membelikannya," ucap Dave membaca sebuah pesan dari Excel, "Lebih baik, Nyonya masuk ke kamar lagi, dan selamat beristirahat," sambung Lord memasukan ponselnya.


"Bagaimana bisa, seleraku dengannya berbeda. Dan aku belum pernah bertemu dengan sekertarisnya, mungkin saja ... selera sekertarisnya itu pakaian zaman dulu bukan zaman kekinian seperti seleraku," protes Vera, "Bilang pada sekertarisnya, tidak perlu repot-repot, aku akan membelinya sendiri," titah Vera pada bodyguardnya, "Jika boleh, berikan nomor sekertaris dan Mas Dave, aku yang akan bicara sendiri," ujar Vera kesal.


"Maaf, keputusan sekertaris Tuan Dave tidak bisa dibantah. Karena itu merupakan keputusan mutlak dari Tuan Dave sendiri," ujar Lord, "Lebih baik Nyonya masuk ke kamar, atau saya akan--"

__ADS_1


Bersambung😘


__ADS_2