
"Kau, kau berani membantahku ha! Ganti atasanmu. Aku tidak suka melihatmu memakai pakaian seperti itu, sangat menganggu pemandangan mataku," ketus Dave memasukkan ponselnya ke dalam jas.
"Huh!" Vera menghembuskan nafasnya kasar, dia berjalan menuju koper dan mengeluarkan semua pakaiannya, "Semua pakaianku kan seperti ini, jika aku mengganggu pemandangannya maka tutuplah matanya dengan kacamata," gerutu Vera lirih.
Setelah berganti pakaian dengan dress berwarna navy di atas lutut tanpa lengan, Vera kembali mengajak suaminya, "Aku sudah siap," ucap Vera duduk di meja riasnya.
Dave melirik sekilas penampilan istrinya, lalu menyenderkan tubuhnya di sofa, kakinya sudah terangkat dan di pangku kaki satunya, "Kau, kau ingin mendaftar kuliah atau bermain hah!" ucap Dave membuat Vera kesal, "Ganti pakaianmu!" titah Dave pada Vera.
Vera menghembuskan nafas lalu bangkit dari duduknya, dia berjalan membuka koper dan mengambil satu bajunya lagi yang menurutnya cocok, 'Sebenarnya dia sedang mempermainkan ku atau bagaimana si! Jangan-jangan ucapan yang ingin mendaftarkanku kuliah hanya omong kosongnya saja,' batin Vera berjalan kamar mandi.
Setelah selesai mengganti pakaiannya, dia keluar dan menghampiri suaminya yang sedang berkutat di laptopnya, "Mas, sudah," ucap Vera berdiri di depan pintu kamar mandi.
Dave melambaikan tangannya agar istrinya mendekat dengan mata tertuju pada laptop, seakan mengerti arti lambaian tangan suaminya, Vera berjalan dan berdiri di hadapan suaminya.
"Sudah Mas," ucap Vera setelah sampai di depan suaminya.
Dave menatap sekilas penampilan istrinya dari ujung kaki sampai ujung rambut, kaos oblong berwarna hitam dan celana jeans pendek memperlihatkan paha putih mulus Vera membuat Dave menelan salivanya dengan susah.
"Ga--" ucapan Dave terpotong oleh Vera.
"Aku sudah tidak mempunyai pakaian Mas, aku kemari hanya berlibur. Dan aku hanya membawa sedikit pakaian, kalau tidak percaya ... Mas bisa lihat barang-barang di koperku," ucap Vera menahan kesal, dia harus berpura-pura tetap tersenyum di depan suaminya.
'Benar juga apa yang dikatakan wanita ini, semalam El juga sudah membongkar koper miliknya dan tidak ada satupun pakaian yang layak pakai. Semua pakaiannya seperti kekurangan bahan,' batin Dave menutup laptopnya dan meletakkannya di atas sofa.
"Ikut aku!" titah Dave berjalan meninggalkan Vera di belakang,
Vera mengambil tas dan ponselnya lalu berjalan mengikuti suaminya keluar kamar, terlihat beberapa anak buah suaminya sedang menjaga pintu kamar dan setiap sudut rumah suaminya.
'Kemungkinan berapa jumlah anak buahnya ya? Kenapa banyak sekali?' batin Vera menuruni setiap anak tangga dengan pandangan yang selalu mengedar ke seluruh penjuru ruangan.
"Selamat pagi Tuan, Nyonya," ucap Bi Tuti, saat melihat majikannya menuruni anak tangga.
__ADS_1
Terlalu fokus pada rumah suaminya, Vera tak sengaja mengabaikan ucapan selamat pagi dari ketua pelayan dan dia tidak menyadari jika suaminya sudah berhenti dan berbincang dengan ketua pelayannya
Bugh!
Tubuh Vera tanpa sengaja menabrak tubuh Dave, membuat Dave kehilangan keseimbangan dan menabrak ketua pelayan.
Vera terkikik sesaat saat melihat suami dan ketua pelayan itu terjatuh ke lantai. Setelah itu, dia berusaha membantu Bi Tuti untuk berdiri kemudian membantu suaminya.
"Ma-maafkan aku Mas, aku tidak tahu jika Mas berhenti," ucap Vera memasang wajah melasnya walaupun di dalam hati dia sangat senang saat melihat kecerobohannya tadi.
"Maafkan aku Bi," ucapnya lagi menatap ketua pelayan.
"Tidak apa-apa Nyonya," jawab Bi Tuti, "Tuan, maafkan saya, saya--" ucapan Bi Tuti terhenti saat melihat lambaian tangan Dave yang menyuruhnya pergi.
"Pergi! Ini bukan kesalahanmu!" ucap Dave.
"Baik Tuan," jawab Bi Tuti memberi hormat dan memutar tubuhnya pergi dari hadapan majikannya.
Melihat kepergian suaminya, akhirnya Vera bisa bernapas lega. Sekali lagi dia terkikik saat mengingat ekspresi suaminya yang terjatuh menindihi tubuh Bi Tuti, 'Hitung-hitung, ini hiburan pertamaku setelah dua hari ini aku di berikan tangisan olehnya,' batin Vera berjalan mengikuti suaminya..
"Masuk!" seru Dave pada Vera.
Vera berjalan menuju bangku depan, dia tidak berniat duduk berdampingan dengan suaminya.
Tokk ...
Tokk ...
"Buka Pak!" ucap Vera pada pria tampan yang duduk di bangku kemudi, "Eh salah maksudku bukak Kak!" ulangnya lagi saat melihat pria muda seumurannya yang berada di bangku kemudi.
Excel melirik sekilas kaca spion mobilnya menatap Dave, Pria yang sudah dianggap sebagai sahabatnya. Tak melihat reaksi dari wajah Dave, Excel langsung memerintahkan istri dari sahabatnya untuk duduk di bangku belakang bersama dengan Dave.
__ADS_1
"Silahkan Nyonya duduk di bangku belakang," ucap Excel menutup kaca mobilnya.
"Tung--" ucapan Vera terhenti saat melihat kaca mobil tertutup, seketika emosinya muncul. Dia membuka pintu belakang dan menutupnya dengan keras.
'Mengapa tidak ada pria yang ramah dan baik hati di sini!' batin Vera saat melihat perlakuan menyebalkan dari supir tampan.
Mobil yang ditumpangi Dave, akhirnya berjalan membelah jalanan yang sangat luas. Tak ada kemacetan seperti kota kelahiran Vera yang berada di Indonesia memudahkan Excel mengendarai mobil dengan cepat dan leluasa.
30 menit sudah mereka membelah jalanan yang luas. Tak ada satupun kata yang keluar dari mulut Dave atau Vera. Mereka seperti orang yang sedang membisu.
"Kita sudah sampai," titah Excel saat mobilnya sudah berada di parkiran kampus khusu pengunjung.
Vera melihat bangunan yang begitu tinggi, luas dan lebar. Dia juga melihat banyak sekali mahasiswa yang sedang melakukan aktivitas di sekitar kampus.
Mata Vera berbinar, "Ini nyata kan? Aku tidak sedang bermimpi kan?" tanya Vera tak percaya, "Terimakasih, sekali lagi aku ucapkan terimakasih," ucap Vera berjingkrak dan reflek memeluk Dave.
"Jangan sentuh aku! Lebih baik, kau turun!" pekik Dave mendorong tubuh Vera.
"Ma-maaf Mas, aku tidak sengaja. Hari ini aku benar-benar bahagia, terimakasih Mas," jawab Vera membuka mobilnya dan turun.
"Cell, kau tunggulah di mobil," ujar Dave di setujui Excel.
"Santai, sekarang urus saja istrimu itu. Lain kali, jangan bersikap kejam padanya. Didiklah istrimu dengan benar," ucap Excel menasehati Dave.
"Hahaha, memangnya aku sekejam itu?"
"Bersikap baik pada orang jahat sepertinya? Kita akan ditindas dan di anggap sebagai pria lemah. Jadi, bersikap baik itu harus dengan orang yang tepat," ucap Dave membuka pintu lalu keluar.
"Ingat, setelah turun dari ranjang, kau bukan siapa-siapaku. Jadi, bersikaplah selayaknya teman bukan musuh," bisik Dave lalu berjalan masuk kampus.
'Benar-benar jahat. Tapi secara tidak langsung ini menguntungkanku, tidak ada yang tahu jika aku sudah menikah,' batin Vera.
__ADS_1
Bersambungš