
"Tidak mau, Mas. Jangan paksa aku!" kesal Vera.
"Ayo, Ver... ikut aku! Aku akan mengantarkanmu pulang!" titah Putra.
"Tidak mau, aku mau di sini saja. Aku mau menemani suamiku." tolak Vera.
Melihat kondisi awan dan hujan yang semakin deras. Dave menggenggam tangan istrinya, "Pulanglah dengan Putra. Aku mempercayaimu!" titah Dave.
"Mas, kamu sadar, kan? Apa yang kamu ucapkan tadi, kamu sadar?" tanya Vera tak percaya.
"Iya, aku sadar, Ver. Aku tidak mungkin membiarkanmu hujan-hujanan. Apalagi kondisimu sedang hamil muda. Wajahmu juga sudah pucat! Pulanglah bersama Putra!" titah Dave.
"Aku tidak mau, Mas. Kalau aku pulang sama Putra, lalu bagaimana denganmu? Aku tidak bisa membiarkan suamiku hujan-hujanan karena ulahku!"
"Pergilah. Lagi pula di sini tidak ada pedagang ketoprak. Caffe tradisional yang di depan komplek sudah tutup. Jadi, pergilah! Jangan memperdulikan aku!"
"Ayo, Ver. Ikut aku! Suamimu sudah mengizinkanmu." ajak Putra.
'Aku harus pilih apa? Tidak mungkin, aku ikut putra dan meninggalkan Mas Dave sendiri di sini. Apalagi kondisi hujan yang begitu deras.' batin Vera.
"Ver! Ayo, jangan melamun!"
"Pergilah!" titah Dave.
"Ya sudah. Aku ikut Putra. Kamu tunggu di sini. Setelah aku sampai, aku akan meminta Mas Excel untuk menjemputmu!" titah Vera.
Mendengar ucapan Vera. Ke dua sudut bibir putra tertarik sempurna. 'Akhirnya, aku bisa berduaan dengan Vera. Kali ini, kamu akan jatuh ke dalam pelukanku. Dan satu hal lagi, aku akan membawamu pergi jauh!' batin Putra.
Vera turun dari sepeda, dia berjalan masuk ke dalam mobil putra.
__ADS_1
"Mas, aku janji!" pekik Vera setelah masuk ke dalam mobil.
Dave mengangguk. Dia menatap kepergian istrinya.
Setelah kepergian istrinya, Dave menjatuhkan sepedanya, "Aku harap, dia benar-benar menempati ucapannya untuk membawamu pulang, Ver!" gumam Dave yang tak sengaja melihat dari kejauhan mobil Excel.
Mobil Excel berhenti tepat di dekat Dave. "Dave masuklah. Dan di mana Vera?" tanya Excel saat melihat Dave seorang diri.
"Dia sudah pergi!" ucap Dave berjalan masuk ke dalam mobil Excel.
"Pergi? Kamu pesankan taksi untuknya?" tanya Excel.
"Dia pergi dengan putra. Sekarang, kau ikuti mobil pria itu. Aku mau mengambil istriku!"
"Lah, kenapa kamu mengizinkan istrimu pergi dengan pria lain, Dave? Apalagi kondisi istrimu sedang hamil muda. Dan yang membawanya adalah pria yang tergila-gila dengan istrimu?" tanya Excel menjalankan mobilnya mencari mobil putra.
"Semua itu karena kau! Kau lah yang penyebabnya. Kenapa ponselmu tidak bisa di hubungi, ha!" pekik Dave emosi.
Sedangkan di satu sisi. Vera menatap pepohonan di pinggir jalan sambil memikirkan nasib suaminya yang kedinginan karena hujan.
"Ver, ada apa? Kamu masih memikirkan suamimu, itu?" tanya Putra.
"Menurutmu bagaimana?" ketus Vera.
"Biarlah. Suamimu kan seorang laki-laki. Dan laki-laki harus kuat. Sebaiknya, kita pulang. Tapi, aku tidak akan memulangkanmu ke rumah suamimu. Melainkan, aku akan memulangkanmu ke rumahku!" titah putra membuat Vera seketika menatap pria yang tengah menyetir mobilnya.
"Apa! Bawa aku pulang ke rumahku! Aku mau meminta Mas Excel untuk menjemput Mas Dave! Cepat, Put!" rengek Vera.
"Itu tidak akan terjadi, sayang. Kamu sudah menjadi kekasihku lagi. Jadi, mulai sekarang ... kamu tinggal bersamaku! Aku janji, aku akan melindungimu, merawatmu dan menyayangimu seperti aku menyayangi nyawaku sendiri. Kamu yang tenang, ya!" titah Putra mengusap rambut Vera.
__ADS_1
"Lepaskan tanganmu dari rambutku, Put! Dan antarkan aku pulang. Aku tidak mau ikut denganmu! Cepat!" pekik Vera.
"Sayang, terima nasibmu, ya! Kamu tidak perlu takut, karena aku bukan orang jahat. Aku adalah orang yang sangat mencintaimu!"
"Dasar giila! Turunkan aku di depan!"
"Tidak akan terjadi. Aku sudah bersusah payah membujuk dan menyakinkan suamimu agar kamu mau ikut denganku. Dan sekarang ... kamu minta, aku turunkan kamu? Tidak mungkin, Ver!" jawab Putra.
"Dasar pria tidak waras! Aku menyesal sudah ikut denganmu. Sekarang, bawa aku pulang ke rumah suamiku juga. Dan mulai detik ini juga, aku tidak mau berhubungan denganmu. Aku putuskan untuk memutus hubungan pertemanan atau apalah darimu! Lebih baik, pernikahanku terbongkar dari pada harus mempunyai kekasih sepertimu!" pekik Vera.
"Sayang. Jangan seperti ini, dong. Kita ini saling mencintai. Dan kita sudah berhubungan sangat lama. Apa kamu yakin, mau memutuskan hubungan kita dan memilih pria itu, Pria yang belum tentu tulus mencintaimu?"
"Biar saja. Mau dia tulus atau tidak. Itu bukan urusanmu. Sekarang, turunkan aku, atau aku akan berteriak!" pekik Vera.
"Silahkan berteriak, tidak ada yang mau menolongmu. Apalagi dengan kondisi hujan lebat. Silahkan!" tantang putra.
'Aduh, aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin berdiam diri saja di mobil. Aku tidak mau ikut dengannya!' batin Vera memikirkan cara sejenak untuk kabur. "Turunkan aku, atau aku akan lompat dari mobil ini!" ancam Vera.
Putra yang mendengar ancaman dari wanita di sampingnya pun terkekeh. "Hahaha ... silahkan saja, Ver. Kalau kamu lompat dari mobil ini. Berarti, kamu tidak menyayangi calon anak yang ada di dalam perutmu, iya?" ejek Putra.
'Oh iya, aku lupa kalau aku hamil. Lalu, aku harus bagaimana? Aku tidak mau berdiam diri dan pasrah!' batin Vera, ekor matanya tak sengaja menatap mobil Excel yang tengah berada di belakangnya, 'Itu mobil Mas Excel. Apa dia tahu, kalau aku dalam bahaya? Mas, tolong aku!' batin Vera mengeluarkan tangannya dari kaca pintu mobil.
"Mau apa kamu, Ver!" tanya Putra.
"Mau apa? Aku mau melihat kondisi di luar. Apa masih hujan atau tidak. Jika hujannya sudah reda, aku akan lompat. Dan siap-siap saja untuk kehilanganku!" ketus Vera, "Apa kamu pikir, aku takut dengan ucapanmu? Aku tidak memikirkan calon anakku. Biarkan aku dan calon anakku matti!" Sambungnya lagi yang tanpa sadar membuat emosi Putra muncul.
"Aku tidak suka kamu mengucapkan kata itu!" ucap putra dengan nada dinginnya.
"Kenapa? Kamu takut aku mati?" ejek Vera, lalu melambaikan tangannya di depan kaca spion luar mobil berharap Excel melihat lambaian tangannya. 'Semoga saja, Mas Excel paham dengan kode ku!' batin Vera.
__ADS_1
Sedangkan di satu sisi, Excel dan Dave melihat tangan Vera yang melambai. "Kira-kira mereka sedang apa? Kenapa Vera melambaikan tangan?" gumam Dave.
"Aku tidak tahu. Tapi, bukankah ini salah jalur. Seharusnya, jika mau ke rumahmu, kita ambil kiri!" titah Excel. "Fix, istrimu di culik! Kita harus selamatkan istrimu!"