
'Ternyata, enak juga mengerjai istri sendiri. Aku akan terus seperti ini, sampai dia benar-benar menyesali perbuatannya,' gumam Dave dalam hati sambil terkekeh.
"Mas, jangan marah," titab Vera yang tetap duduk.
"Hei, aku tahu, kau sedang merayuku, bukan? kau sedang patah hati dan kau ingin melampiaskannya padaku."
"Mas Dave, kalau bicara nusuk banget. Aku serius,"
"Ya okeh, aku memang sedang patah hati. Bahkan setengah jiwa dan semangatku seperti hilang ntah kemana. Tapi, kan aku khilaf Mas, aku mau berusaha sedikit demi sedikit mencintai Mas Dave. Jika semua meninggalkanku, lalu aku bagaimana?"
"Aku takut, Mas Dave mengusirku dan aku menjadi gembel dadakan. Itu tidak lucu bukan?" gumam Vera membuat Dave menggelengkan kepalanya.
'Dasar! aku pikir dia benar-benar tulus, ternyata hanya takut miskin saja.' gumam Dave dalam hati.
"Oh, jadi harta yang kau pikirkan?"
"Tenang saja, setelah aku menikah kita semua akan tinggal satu atap, dan aku akan bagi--"
"No, aku menolak keras! aku tidak mau! enak saja, tinggal satu atap. Ini hati, hati juga bisa sakit, Mas! Ya kali, setiap hari aku harus melihatmu bermesraan dengan maduku, bisa-bisa aku mati berdiri!" potong Vera dengan ketus.
"Memangnya apa masalahmu!"
"Mungkin ucapanmu itu cocok untuk orang yang saling mencintai," jawab Dave membuat Vera menggelengkan kepala.
"Mas Dave, Mas Dave ... walaupun kita tidak saling mencintai, tapi mau bagaimanapun melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain, itu rasanya sakit banget! aku tidak mau! enak saja, Mas Dave bermesraan dengan wanita lain, dan aku? aku kesepian!"
"Tunggu dulu? siapa yang kesepian?"
"Kan ada Excel dan Bibi?" jawab Dave semakin bahagia saat melihat istrinya merajuk tak jelas.
"Mas Excel? apa Mas Dave akan memperkenalkan aku sebagai istri Mas Excel kepada wanita itu?" tanya Vera, kini matanya menatap wajah Dave yang tampan.
"Em ... mungkin itu ide yang bagus," jawab Dave mengacak-acak rambut istrinya.
"Sudah ayo masuk, sampai kapan kita akan terus di mobil! bukankah sudah aku bilang, pekerjaanku sangat banyak?"
__ADS_1
"Aku tidak mau masuk Mas,"
"Tapi, aku akan memikirkan ucapan Mas Dave. Mungkin saja Mas Excel mau menampungku di saat Mas Dave mencampakkanku nanti," ujar Vera membuat Dave mematung.
"Kita lihat saja nanti. Jika dia mau menampungmu, berarti kau wanita beruntung." jawab Dave.
Di saat Dave merayu istrinya agar ikut turun dan menunggunya di ruangannya, tiba-tiba dering ponsel Dave berbunyi dan melihatkan nama Excel di layar ponselnya.
"Hem, ada apa?" tanya Dave setelah menggeser dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Cepat kemari! jangan melakukan hal bodoh di dalam mobil. Memangnya aku tidak memantaumu, hah!" gerutu Excel membuat Dave mengedarkan pandangannya dan melihat sekretaris sekaligus sahabatnya berdiri di dekat pintu masuk ruang bawah tanahnya.
"Kenapa Mas?" tanya Vera saat melihat mata suaminya berkeliaran.
"Aku akan masuk. Tunggulah dan jangan mengintipku lagi, atau aku doakan tidak laku seumur hidup, mau!"
"Sialaan! Ucapan adalah doa. Aku tampan dan aku akan membuktikan bahwa doamu tida akan terkabul!" gerutu Excel mematikan panggilannya, kemudian masuk ke dalam kantor.
"Siapa yang kamu doakan tidak laku seumur hidup Mas?" tanya Vera setelah suaminya memasukkan ponselnya ke saku celana kainnya.
"Ya sudah Mas, tapi sebentar saja ya. Setelah selesai kita pulang, aku mau tidur. Mata pandaku sudah mulai terlihat, dan aku akan memberikan masker untuk merawat kulitku ini," ujar Vera membuka pintu mobil dan turun.
Melihat kelaku istrinya yang tidak pernah berubah, membuat Dave menggelengkan kepalanya.
'Beruntung aku kaya, jadi aku bisa menghidupinya dengan layak. Jika tidak, mungkin dia sudah kabur dan memilih bersama pria brenggsseek itu. Aku akan membuatnya perlahan berubah,' batin Dave mengikuti langkah kaki istrinya yang sudah berjalan lebih dulu.
Setelah sampai di ruangan Dave, Vera langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang. Kakinya dia luruskan agar otot-ototnya yang kaku bisa melemas kembali.
"Ahh enaknya bersantai sambil rebahan seperti ini Mas, aku tidak menyangka, ternyata sofamu sangat nyaman," ujar Vera, dia berusaha melupakan persoalan suaminya yang akan menikah lagi.
"Tidurlah di ruang pribadiku. Aku tidak mau ada klien atau staff lain yang masuk ke ruanganku dan melihat cara tidurmu yang tidak benar," titah Dave melepas jas nya dan menggantungkannya di kursi kebesarannya.
"Memang cara tidurku seperti apa Mas? apa selama ini, kamu terganggu saat tidur denganku?" tanya Vera polos.
'Astaga, bagaimana cara aku menjelaskan,' gumam Dave dalam hati.
__ADS_1
"Kau lihat pakaianmu? apa kau pikir, kau akan nyaman tertidur menggunakan dress selutut di sofa? bagaimana ... jika ada Staff lain atau Excel yang melihat dress mu terbuka?" ujar Dave membuat Vera bangkit dari tidurnya.
"Mas Dave ternyata diam-diam suka memperhatikanku. Aku senang deh, mendapat perhatian darimu, Mas!" ucap Vera berjalan menuju kamar pribadi suaminya.
'Dia benar-benar aneh, pagi tadi aku melihatnya menangis, di mobil, dia menciumku dan tiba-tiba bersedih, dan sekarang? dia tersenyum dan berusaha menggodaku. Memangnya, dia mempunyai berapa kepribadian?' gumam Dave dalam hati.
"Mas, bangunkan aku setelah kamu selesai bekerja. Jangan tinggalkan aku sendiri di sini," seru Vera sebelum pintu kamar tertutup.
"Hem ...."
Sudah satu jam Dave berkutat di depan layar komputernya, dan Vera sudah tertidur tenang di dalam kamar pribadinya.
Terdengar bunyi ketukan pintu dari luar ruangan membuat Dave mengerutkan keningnya.
"Masuk!" lirih Dave takut membangunkan istrinya yang tertidur pulas.
Setelah mendapat jawaban dari dalam ruangan, El membuka pintu dan masuk kedalam ruangan sahabatnya.
"Hei, Dave!" seru El membuat Dave terkejut.
"El, untuk apa kau datang kemari?" tanya Dave beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan ke arah sofa dan mengambil tas milik istrinya yang tertinggal.
"Milik siapa Dave? apa ada seseorang di sini selain kita?" tanya El saat melihat totebag hitam yang berada ditangan sahabatnya.
"Bukan siapa-siapa, El. Oh iya, ada apa kamu kesini? seharusnya kamu memberitahukanku dulu! dan di mana Excel? biasanya dia yang--"
"Aku juga tidak tahu, dia ada di mana. Di depan tidak ada orang, maka dari itu aku mengetuk ruanganmu,"
"Dan aku kemari untuk memberikan ini padamu. Aku tahu, kau belum makan siang kan?" tanya El meletakkan satu bungkus makanan yang dibawanya.
"Memangnya, sudah jam makan siang?" tanya Dave melihat jam di pergelangan tangannya.
"Astaga, aku tidak tahu," sambungnya lagi.
Bersambungš
__ADS_1