
Setelah pasrah dan turun dari Taksi. Vera berjalan menuju rumah yang akan dia tempati bersama pria yang tega menculiknya.
Sedangkan di satu sisi. Dave telah mengerahkan semua anak buahnya. Bahkan, dirinya mencoba menemui tiap tempat yang di yakini anak buahnya, sebagai tempat persembunyian Putra.
Raut wajah frustrasi dan kecewa sangat tercetak jelas di wajahnya. Membuat Excel yang melihatnya menjadi tak tega.
"Dave! Aku tahu, kita belum menemukan titik terang istrimu. Tapi kamu bisa bersabar. Kita pasti bisa menemukannya!" titah Excel.
"Aku tidak tahu, dia sedang apa dan sudah makan atau belum. Aku mencemaskan mereka." lirih Dave menyenderkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"Kita tunggu anak buahmu lagi. Sekarang, kau istirahat dulu!" titah Excel.
"Aku tidak bisa bersikap santai di saat wanita yang sedang mengandung anakku hilang!"
"Baiklah. Aku minta Bibi buatkan makanan untukmu. Aku tidak mau, kamu jatuh sakit." rayu Excel lagi.
"Aku tidak lapar! Yang aku pikirkan adalah Vera dan calon anakku!" gumam Dave lirih.
"Kamu sudah mencoba menghubungi kakak dari Vera? Siapa tahu, Vera ada di sana?" tanya Excel yang mendapat gelengan kecil dari sahabatnya.
"Menurutmu? Jika Vera ada di sana, aku sangat lega. Tapi jika dia tidak ada di sana. Apa yang harus aku katakan pada Kakaknya? Lagi pula, jika dia ada di sana. Pasti Zena memberi kabar ke aku. Apalagi, Vera pergi bersama Putra. Pria yang jelas-jelas bukan suaminya!"
"Lalu apa yang ingin kau lakukan. Jika pencarian di negara ini tidak membawa hasil?" tanya Excel.
"Aku akan pergi ke tempat asal Vera. Dan aku akan coba mencarinya di sana. Kau jaga perusahaan serta caffe milikku di sini!" titah Dave beranjak berdiri. "Aku mau istirahat. Kau juga harus beristirahat. Hari sudah malam!" sambungnya lagi.
"Semoga tidurmu nyenyak, Dave!" ucap Excel.
Dave melangkahkan kakinya menaiki tangga. Di saat Dave sudah menaiki anak tangga, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar rumahnya.
"Siapa?" tanya Dave pada Excel.
"Aku tidak tahu. Aku akan mengeceknya!" jawab Excel.
"Tidak perlu, biar aku saja yang mengeceknya. Siapa tahu, yang datang Vera!" ujar Dave kembali menuruni anak tangga dan berjalan menuju pintu utama.
__ADS_1
Krek ...
Pintu terbuka. Dan Dave melihat sosok wanita sedang berdiri di depannya sambil menenteng satu paper bag.
"Ada apa kau ke sini?" tanya Dave pada El.
"Aku mau mengantar ini untukmu, Dave!" ujar El memperlihatkan paper bag nya.
"Pulanglah. Aku sedang malas menerima tamu!" ketus Dave.
"Dave, kau kenapa, Hem? Kenapa raut wajahmu seperti orang frustrasi. Apa ada masalah di kantor atau di caffe? Kamu bisa ceritakan semua masalahmu padaku!" titah El menerobos masuk.
"Hei, aku bilang pulang, bukan masuk ke dalam rumahku!" pekik Dave yang tak suka.
"Aku tidak akan pulang, sebelum kamu menjelaskan apa yang terjadi denganmu! Kita ini sahabat Dave, dan gunanya sahabat itu ... saling membantu. Katakan, siapa tahu, aku bisa membantumu!" titah El lalu melihat Excel yang tak jauh darinya
Excel berjalan beberapa langkah ke arah Dave. "Dave, kamu bisa istirahat. Serahkan semua urusan wanita ini padaku." titah Excel membuat El yang mendengarnya tak suka.
"Kedatanganku ke sini, untuk memberikan ini pada sahabatku bukan orang yang menumpang di rumah sahabatku!" sindir El.
"Kamu kenapa, Dave? Apa yang kamu rasakan. Biar aku cek! Kamu duduk dulu!" titah El.
"Aku tidak apa-apa. Dan aku hanya butuh istirahat. Kamu bisa pulang, biarkan aku istirahat!" ujar Dave.
"Tapi, Dave! Wajahmu pucat, aku takut terjadi sesuatu padamu!"
"Tapi aku tidak butuh perhatianmu, El! Jangan membuatku pusing! Dan jangan membuatku marah! Sekarang, kau bisa pergi dari rumahku. Jangan membuat masalah yang muncul semakin banyak! Aku capek!" pekik Dave.
"Pulanglah. Dave sedang berduka. Kau tidak bisa menghibur atau menemui Dave sekarang." titah Excel dengan nada lembut.
"Memangnya, ada apa dengan Dave?" tanya El lirih.
"Pulanglah!" titah Dave.
"Ikuti saja perintah Dave! Istrinya sedang hilang. Dan pikirannya semakin tidak waras saat tidak menemukan titik terang keberadaan istrinya." jawab Excel.
__ADS_1
"Apa? Istri Dave hilang? Wanita itu hilang? Bukankah tadi, kalian baru saja me--"
"Pergilah! Jangan banyak bertanya atau Dave semakin marah padamu!" ujar Excel membuat El menatap sekilas pria yang sedang memegang kepalanya.
"Okeh, demi Dave, aku pulang! Tapi, kamu jaga Dave! Jika terjadi sesuatu dengannya langsung telfon atau beri kabar aku, okeh! Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan Dave!" ujar El.
"Iya, sekarang kau pergi!" titah Excel.
"Aku pulang, Dave!" ujar El melangkahkan kakinya keluar rumah.
Setelah pergi dari kediaman Dave. El tersenyum tipis. 'Aku tidak salah dengar? Wanita itu hilang! Bukankah, ini kesempatan bagiku. Aku bisa mendekati Dave kapan pun aku mau! Kau sangat pintar dan cerdik, El. Tanpa aku musnahkan, ternyata wanita itu sudah takut lebih dulu dan lebih memilih untuk hilang dari muka bumi ini. Tapi kira-kira kemana wanita itu hilang? Aku jadi penasaran. Apa wanita itu di culik atau dia frustrasi karena hamil anak Dave? Aku harus menyelidikinya!' batin El.
Sedangkan di satu sisi. Vera menutup rapat kamar tidurnya. Dia menjatuhkan pantatnya di tepi ranjang.
"Aku tidak punya ponsel. Bagaimana caraku menghubungi Mas Dave?' batin Vera menatap pemandangan malam dari kaca jendela rumahnya.
Tok ...
Tok ....
"Vera sayang! Aku belikan makan malam untukmu. Sebaiknya, kita makan dulu, yuk! Setelah itu, kamu bisa tidur dengan nyenyak!" titah Putra sambil mengetuk pintu kamar Vera.
"Aku tidak lapar. Kamu bisa makan makanan itu sendiri!" ketus Vera dari dalam kamar.
"Ver, ayo dong! Kamu sedang hamil! Kamu tidak mungkin membiarkan anak yang ada di dalam perutmu kelaparan. Sekarang, kamu keluar dan makan makanan yang sudah aku beli!" titah Putra, "Aku tidak mau kamu sakit, sayang!" sambungnya lagi.
"Aku tidak mau makan. Biarkan aku kelaparan! Biarkan aku maati." ketus Vera.
"Okeh, kalau kamu tidak mau keluar dari kamar. Maka dengan terpaksa, aku akan dobrak pintu kamarmu. Aku tidak mau kamu sakit!" ancam Putra.
"Silahkan. Aku mau tidur!"
"Okeh, kalau kamu menantang ucapanku. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, jika pintu kamarmu rusak. Aku bisa leluasa untuk--"
Krek!
__ADS_1
Pintu kamar Vera terbuka dari dalam. "Kamu tidak perlu mengancamku. Aku tidak takut dengan ancamanmu!" ketus Vera